Cinta Malu

Saya kira Samson adalah makhluk pemalu yang paling biadab di muka bumi ini di galaksi ini, yang bahkan karena malunya planet pluto pun mengundurkan diri dari tataran bima sakti. Lebih pemalu dari putri malu, putri malu hanya akan merunduk kalau tetapi samson lebih dari itu dengan sekali pandangan saja dia akan tertungkul malu. Saya dan teman-teman menjadi sangat penasaran; apakah rasa malunya itu didapat dari faktor gen, hereditas maksudnya keturunan. Tetapi ah … nggak mungkin. Maka tesis pertama ini gagal sebab, pernah kami melihat keluarganya, semuanya biasa-biasa saja, tidak ada yang mempunyai rasa malu sebiadab Samson, bahkan keluarganya dianggap sebagai penggerak dalam setiap kegiatan di masyarakat.

Adiknya lelakinya pada waktu perayaan kemerdekaan tujuh belas agustus menjadi koordinator dan hampir menguruskan segalanya dari awal sampai akhir. Kakak perempuannya meski sedikit pemalu tetapi hal itu sangat wajar sebab dia adalah perempuan dan tentunya standarisasi pemalu antara perempuan dan lelaki berbeda. Ayahnya, apalagi, pernah menjabat sebagai ketua RW dan kepala sekolah. Adik yang satunya lagi, perempuan, tidak bisa digolongkan sebagai pemalu sebab sangat lincah dan pintar bergaul, setidaknya memiliki karakter yang sangat supel. Maka penelitian pertama, kami tolak mentah-mentah

Tetapi Samson, analisis kami mengatakan bahwa ia adalah ketergelinciran sejarah. Tetapi hal itu tidak kuat maka turunlah tesis kedua bahwa rasa malunya itu didapat dari lingkungannya. Dengan asumsi yang sangat dasar, bahwa karakter seseorang dibangun dari dua faktor; intern dan ekstern. Keturunan adalah Intern dan itu kurang valid. Sekarang kedua lingkungan, faktor ekstern. Dan kawan tahu, anehnya lagi lingkungan dimana Samson tinggal tidak berpretensi membuat dia menjadi seorang pemalu. Kami jadi bingung, tidak mungkin bukan? Masa kami harus meneliti genealogi sosial-hostoris Samson.

Karena rasa malunya itu sudah mencapai tingkat yang paling tinggi, high voltage. Maka kami sering membantunya. Dan lebih coba serius dalam menanganinya, seakan kami adalah sekumpulan peneliti psiko-sosial yang paling yahud. Seperti team bedah yang harus secara hati-hati menangani pasiennya, tetapi celakanya ternyata kebalikannya, malah kamilah yang sering dibantunya. Aneh ‘kan! Malah kami yang sering diberi masukan oleh Samson. Dan tak jarang asumsi dan ramalannya memang benar, pembacaannya terhadap realitas sosial bisa dibilang cukup tajam dan menukik.

Begini, meski dia seorang pemalu, tetapi kalau masalah pemikiran, masalah perkuliahan dan semua hal tetek bengek yang berhubungan dengan teori dia sangat jago. Seakan-akan ubun-ubunya sudah ditiup arwah Aristoteles. Seolah-olah tiap malam dia berdiskusi dengan tokoh-tokoh besar. Kulihat sampai larut malam dia tenggelam dalam membaca karya-karya tokoh besar, Marx, Sartre, Tolstoy, Chekov untuk menyebutkan sedikit saja tokoh yang sering berbicara kepadanya. Makanya dia sangat spesial bagi kami semua.

Oleh karena itu kami menjulukinya Samson. Pertamanya sih sebagai guyonan saja, melihat tubuhnya yang besar dan kemampuan intelektualitasnya yang cukup lumayan di atas rata-rata. Maka secara ironis kami memanggilnya Samson. Orang besar yang sangat lemah. Sebagai tanda penghargaan dari kami semua. Bahkan sampai sekarang kami lupa nama aslinya siapa.Untungnya dia nya itu bukan tipe temperamental, nggak gampang marah. Jadi meski kami hina sedemikian rupa, laklak dasar, malah makin mulia dia nya sendiri.

Aku sendiri sudah mengenal Samson sejak dari dulu. Semenjak SD sampai sekarang tingkat perkuliahan, yang kata orang sebagai mahasiswa. Maha dari segala siswa, paradoks nggak sih, maha tapi siswa. Jadi meskipun maha tetap juga siswa, belum mandiri. Atau paling tidak sok mandiri.

Selidik punya selidik, ternyata dari sekian penyebab rasa malunya, Samson memiliki rasa malu paling besar terhadap perempuan dan itulah kelemahan dari Samson kami. Kalau Samson betawi yang dimainkan Benyamin S memiliki kelemahan dari keteknya, kalau Samson asli memiliki kelemahan dari rambutnya. Maka Samson kami kelemahannya adalah perempuan. Meskipun diakui atau tidak kita adalah samson-samosn kecil. Kita adalah julius-julius modern. Kita adalah bonaparte-bonaparte kampungan, yang akhirnya secara ekstrim aku deklamasikan: kita adalah adam-adam yang terhempas dari surga abadi. Kita yang sering memilki kelemahan yang sama; perempuan.

Tetapi rasa malu Samson lebih terlaknat. Kami sering minder kalau melihat perempuan yang memang cantik valid, tetapi samson tidak pandang bulu, sangat adil dan demokrasi sekaligus egaliter. Dari perempuan yang nilainya enam sampai sepuluh koma lima, Samson merasa malu untuk ngobrol dengannya. Rasa malunya itu terlihat dari kecanggungan berbicaranya, kekikukkannya tingkahnya. Pendeknya Samson sangat malu kalau berada di depan perempuan. Salah tingkah. Dan hal ini berlaku bagi seluruh perempuan yang tercipta di dunia. Sialan! Kami sebagai seorang lelaki merasa malu, dan rendah. Paling tidak, sok jantan sedikitlah kalau di depan perempuan, begitulah prinsip kami. Jadi pejantan tangguh, begitu Erros bilang.

Karakter pemalunya ini disempurnakan oleh Samson sendiri, dengan jarangnya dia berbicara. Namun berbeda sekali kalau berbicara masalah yang lain, sekali berbicara perihal teori anu, walah panjangnya nggak ketulungan. Seperti yang tidak habis-habisnya saja, seperti pustakawan dengan pintar dan lihai mulutnya membicarakan berbagai macam buku sebagai referensi, seolah dia adalah pelari marathon wacana melesat meninggal kan lawannya. Dia adalah komputer pentium yang sangat canggih dalam mengakses ilmu pengetahuan. Dia adalah musisi kata-kata yang bisa merangkai teori apapun untuk memandang permasalahan apapun juga. Dia adalah montir pengetahuan.

Kalau sedang berdiskusi argumennya lancar seperti penyanyi yang melagukan nyanyi kesukaannya, ibarat tukang tukang bangunan yang bisa memprediksikan biaya untuk bahan-bahannya. Begitulah, kami juga merasa kewalahan menghadapinya. Oleh karena itu, kami mengadakan rapat dan sepakat untuk tidak berbicara masalah yang serius didepannya. Atau hal yang berbau teori kami singkirkan dan hapuskan kalau sudah berada di depannya. Tidak adak hak interpelasi dalam hal ini. Konsensus pertama kalau ada yang menanyakan permasalahan serius yang ada hubungannya dengan buku syarat pertama sudah terdesak jika tidak akan diberikan memorandum, sebuah peringatan keras. .

Kenapa? Karena kalau sudah begitu kami cuma kambing congek saja, eksistensi kami tergerus oleh Samson sendiri. Maka obrolan paling menjadi primadona ketika ada Samson adalah obrolan mengenai perempuan dan jauhnya seks. Pokoknya all about girl and women. Kami merasa bangga, menang dan serasa di atas angin melihat Samson nggak ikutan ngobrol perihal perempuan. Samson Cuma senyum-senyum saja, bibirnya terkunci rapat dan hanya mendengarkan. Dan kami tenang. Selamat.

* * *

“bud, bagaimana kabarnya cewekmu sekarang? Masih yang kemarin” Awan memulai penyiksaan terhadap Samson. Dan kami tinggal merespon dan menyiapkan perangkatnya saja. Aku langsung menyambar.

“oh udah nggak dong! Cewek satu udah basi. Lelaki tuh gampang kalau milih cewek. Benar nggak Son?” aku arahkan langsung peluru ke subjek eksekusi.

Samson menjawab dengan senyum. Dan itulah yang kami harapkan kami semua tertawa lebar. Samson juga tidak merasa terganggu dengan guyonan seperti itu. Kelihatannya dia juga menikmatinya, tahulah! Prinsip paling jitu dalam menghina, mengejek orang adalah cari kelemahan paling lemah sehingga lawan tidak bisa berkutik akhirnya terjungkal! Dan kami lakukan berkali-kali terhadap Samson. It work!

Tanpa seni diplomasi Angga meneruskan obrolan itu dan langsung ke titik ekstrim. Memang Angga nggak suka basa basi. Meski dia duduk di fisipol spesialisasi politik tetapi untuk hal ginian dia to the point “Son apa kamu nggak ada niat cari pacar, apa?” sebelum Samson merespon pertanyaan sudah aku disambar.

“Pertanyaannya mungkin harus dirubah ‘Ngga. Bukan ada niat cari pacar atau nggak tapi Samson suka tidak sama cewek. Jangan-jangan dia nggak suka lagi” kami menang! Seperti pemain sepakbola yang memenangkan piala dunia, dalam masing hati-hati kami bersorak riang. Ibarat pemenang aktor terbaik kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada setiap orang yang telah membantu diiringi tepukan riuh penonton. Dan itu menambah daftar kemenangan kami sedangkan Samson sudah tidak bisa menjawab. Cuma geleng-geleng kepala.

Dan itu adalah ritual saral kami ketika berkumpul bersama. Kami menikmatinya tak ada yang merasa disakiti, sekalipun Samson. Karena dia seakan mengerti apa yang kami lakukan hanya sekedar pelepas lelah, penambah suasana akrab. Dan setiap kami akan mengalami hal seperti itu. Untuk urusan perempuan Samson selalu menjadi tumbal. Untuk urusan akademis Awan selalu menjadi korban pembantaian kami semua. Urusan keuangan kami serahkan kepada Angga. Sedangkan aku, hanya menjadi pengamat dan menjadi tumbal sampingan ketika mereka kehabisan tenaga.

Hari yang sangat cerah pada pagi menuju siang itu. Matahari seakan tersenyum melihat ulah-ulah kami yang kekanakan. Secangkir kopi selalu menemani pembicaraan ringan ini. Rokok selalu menghiasa tangan awan dalam setiap obrolan. Awan termasuk perokok berat. Dan itulah bukan yang dilakukan seorang seniman. Mencari inspirasi dari kepulan asap rokok yang berkejaran dengan doa setiap insan menuju langit ketujuh.

Berbicara langit ketujuh, kawan. Pernahkah kamu percaya atau masihkah percaya dengan bidadari yang disiapkan oleh Tuhan yang dipingit di dalam labirin-labirin suci. Nah ternyata ada bidadari yang tersesat turun ke bumi mencari fakultas sastra. Kemudian kami kenal dia bidadari itu dengan nama dengan nama Andini Hawa Nida Madestia. Nama yang sangat indah sekaligus unik. Bidadari itu datang menghampiri kami berempat. Berjalan ringan. Ayu, sederhana, tenang, elegan nggak neko-neko.Dan kami pun terjatuh, mengikuti Napoleon, Julius, Romeo, Adam

* * *

“maaf mas, mengganggu sebentar” Meski kadang kami sedikit culas dan genit terhadap perempuan tetapi itu dibelakang dan lihat-lihat dulu gadis mana yang kami candai. Begini-begini juga kami pengagum Maria Magdalena.

Angga bergerak paling cepat, naluri oportunisnya sangat berjalan, sementara awan seperti halnya seniman dan sastrawan lainnya hanya bermain dalam ruang mayanya menggulung kata-kata. Lain dengan mereka berdua samson menatap tajam seperti halnya ilmuwan yang menemukan objek baru, aku juga sempat bertanya apakah pikrannya bertukai teori atau rasanya malah meluap-luap. Entahlah yang jelas aku sama terkesima melihat perempuan ini, bidadari ini, peri tak bersayap ini. Kami kami bergumam kamilah pemujamu. “oh iya mba, lurus aja sekitar empat ruangan belok ke kiri nah paling ujung itu fakultas sastra. Emangnya, mba baru ya disini?”

“oh iya, saya mahasiwi baru”

“pantas, kebetulan saya juga di fakultas sastra” gilanya angga pembual paling hebat dalam hal apapun tapi anehnya yang dibohongi malah percaya. Angga melanjutkan manuvernya. “Nama saya Angga dan ini teman saya semuanya ” Angga mengenalkan kami semua. Memang Angga tipe lelaki penebar pesona. Jadi tak jarang perempuan yang lengket kepadanya.

“nama saya Andini Hawa Nida Madestia, panggil saja nida” setelah mengucap terimakasih dan Nida pun pergi.

Nah disaat itulah. Jantung salah seorang teman kami berhenti sejenak. Mati suri. Ada yang dipaksa tercerabut dari akarnya. Kalau zaman dahulu Zulaikha terpesona melihat nabi yusuf namun sekarang kebalikannya. Itulah hari yang kami ketahui bahwa ada yang merampok teman kami dari keawasannya dari dunianya. Teman kami adalah Samson. Si perkasa telah menemukan delilahnya yang kemudian merubah Samson selamanya.

Semenjak pertemuannya itu Samson merasa tertarik terhadap Nida. Samson sering melamunkan diri, meski itu bukan hal yang biasa tetapi kami juga nggak bodo-bodo amat! Bisa membedakan mana yang sedang merenungkan materialisme dan mana yang bukan, mana yang memikirkan negra ini mana yang bukan. Itu bisa terlihat dari wajahnya. Soalnya setiap dari kami pernah merasakan hal itu dan mungkin baru bagi Samson, baginya adalah perdana. Dan sebagai orang yang berpengalaman, kami bisa memakluminya. Tatapannya kosong, dan seolah berkhayal. Sekarang Samson lebih banyak membaca buku-buku roman. Di Bawah Lindungan Ka’bah, Hamka; Ayat-Ayat Cinta, El Shirazy; Anna Karenina, Tolstoy dan lain sebagainya.

Kami masih belum curiga bahwa Samson menyukai Nida hingga pada satu hari kami melihat keganjilan dalam paras Samson. Saat itu Angga membicarakan perihal Nida yang meminta bantuannya untuk membuat makalah tentang teori sastra indonesia zaman modern. Dasar Angga yang sok tebar pesona, menyanggupinya saja. Dan dia nya sendiri sekrang yang sedang kewalahan.

“Waduh bud! Aku kadung menyanggupinya lagi. Gimana ya, mana aku tahu tentang segala macam teori sastra zaman modern”
“kenapa nggak tanya awan saja?”tukasku
“sudah, tapi lebih baik tanya sama si sam”
“kalau begitu, udah minta bantuang sama si Sam saja. Itu ‘kan rekomendasi dari Awan. Paling tidak cukup dua hari juga beres”
“sekarang dia nya dimana? Dasar anak buku! Nyangsang dimana lagi, kalau sedang butuh nggak nongol-nongol” Angga mengumpat tak karuan, seketika itu awan datang.
“hei…Wan lihat si Sam nggak?”
“sebentar lagi dia kesini, emang ada apa?”
“teori sastra … “belum lagi Angga melanjutkan, awan langsung menjawab.
“dasar! Kalau mau jadi Don Juan, jangan kagok dong! Bingung sendiri ‘kan?”
“sinting lu!” semua kelakar. Tak kunjung lama Samson datang. Dan Angga pun mulai berkilah. Tanpa banyak basa-basi sang diplomat langsung menodong Samson.
“gini Sam,aku mau minta tolong nih” Sam menjawab dengan senyum.
“wah, kamu jangan senyum doang dong! Kamu ini lagunya sudah kaya bintang iklan pasta gigi saja!”
“iya boleh, ada apa”
“Aku mau minta bantuan, tolong buatin makalah tentang teori sastra Indonesia zaman modern ya”
“lho itu ‘kan mata kuliah semester satu?” Kami; Aku, Awan, Angga saling bertatapan dan sepakat untuk dengan segera membungkam dan memotong mulutnya. Sebab kalau tidak, bisa berjam-jam dia membicarakan hal ini, dan disambung esoknya lagi, lagi dan lagi. Maka daripada kami harus menerima siksaan penderitaan yang berkepanjangan lebih baik kami cepat bertindak.
“udah deh! Mau nggak” Angga mengambil komando. Dan kami terselamatkan! Sekalipun kurang menyukai cara yang dilakukannya. Tetapi apa boleh buat peperangan membutuhkan komandan dan kami serahkan semuanya kepada Angga.
“… buat kapan?”
“besok”
“mmmhh besok. Boleh tahu buat siapa…”

Semuanya hening sebentar, aku menjawab.

“Annida”

Seakan gerhana dalam diri samson dan terang dengan nama Nida.

Disaat itulah, kami melihat wajah Samson yang sedikit mencurigakan. Kami pun mulai melakukan praduga tak bersalah, penyelidikan. Naluri seorang intelegensia cinta mulai terpanggil. Satu persatu kami menyusun tesis-tesis berdasarkan fakta dan data yang ada. Dan ternyata valid. Samson menyukai Annida! Indikasi pertama adalah; makalah yang di buat oleh Samson tebelnya minta ampun, nggak biasanya. Melebihi standar makalah di universitas kami. Bahkan kami kira, itu adalah proposal skripsi yang dibuat oleh semester karatan. Gila! Dua puluh tujuh halaman, spasi satu, margin semua dua, kertas legal, referensi tiga puluh tujuh, empat rujukan primer bahasa inggris.

Setelah Sam, Memberikannya kepada kami, maka mata kami terbelalak. Kaget dan sedikit kesal pada Sam. Akhirnya dengan sangat terpaksa kami bertiga berusaha mengedit yang tidak perlu, takut-takutnya dosen malah curiga sama Annida, kasihan juga dia. Bukannya meringankan dan terbantu, akhirnya kami harus membaca menghubungkan, mereduksi bahkan mengadai tulisan yang lain. Sebab Samson membuat makalah satu bab ke bab lainnya mempunyai kaitan sehingga itu merepotkan kami. Kami pangkas habis-habisan menjadi lima belas halaman tetapi marginnya sama yang beda hanya kertasnya menjadi A 4. Sebenarnya tulisan itu pincang jika dipotong tetapi apa boleh buat, ketimbang nida mendapat damprat dari dosennya, lebih baik kami melakukan antisipasi.

“Gila! Serius amat si sam!” Awan membuka black propaganda dan akhirnya kejahatan Samson sudah tercium. Kami berkesimpulan bahwa memang dia menyukai Nida. Alasan pertama, sudah jelas, alasan kedua, makin jelas, alasan ketiga tak usah dibahas.

“gila wan, mending aku buat sendiri saja. Aku begadang buat memangkas,eh susah juga. Sialan juga ini Samson”

“tapi aku curiga lho sama si sam…” aku mulai membuka rapat para ksatria erros.
“emang gimana, kayaknya si sam…” tanya Awan memastikan
“benar bud, aku juga berpikiran kearah sana, sepertinya si Sam tertarik sama Annida”
“tunggu dulu” Angga menyela sok kritis “kenapa kalian bisa menyimpulkan hal yang seperti itu, pandangan kalian tidak berlandaskan asumsi yang jelas kurang dan argumentatif. Kita ini insan akademik gunakan kultur ilmiah dong”kami semua memandang Angga dan serempak bertanya
“dari mana kamu bisa mendapatkan kata-kata itu”
“si gila Samson memakai bahasa itu dalam makalahnya!” kami semua tertawa

Hasil rapat aksidental memutuskan bahwa memang Samson menyukai annida dengan berbagai argumen yang ada, dan kami sepakat membentuk team sukes buat Samson. Angga sebagai koordinator, awan bagian jaringan dan informasi sedang aku bagian diplomasi humas.

Rapat diadakan lagi kami membuat agenda dan scheduling, supaya pergerakan kami terarah, tersusun secara sistematis dan terukur. Tiap seminggu sekali kami mengadakan evaluasi, dan hasilnya makin hari makin memuaskan. Minggu ketiga kami merekomendasikan Samson untuk mengajukan proposal. Secara hitung-hitungan diatas kertas semuanya sudah beres dan kans Samson besar. Tapi masalahnya, bagaimana mengkomunikasikan dengan si gila buku itu. Dan tugas itu kami serahkan kepada Budi, yaitu aku sendiri.

* * *

“Sam, kamu setuju nggak dengan pendapat bahwa salah satu biang keladi adam memakan buah khuldi bukan karena diganggu sama iblis saja tetapi hawa juga ikut andil”

“wah aku harus hati-hati Bud! Sebab begini, kalaulah aku menyebutkan iya berarti aku mengkhianati prinsip-prinsip gender yang aku tahu. Dengan kata lain kita sangat merendahkan martabat seorang perempuan dengan mengalungkan gelar sebagai seorang penggoda. Tetapi di sisi lain, kalau kita membaca sejarah, katakanlah Julius Caesar, Napoleon Bonaparte. Kemudian dalam peradaban, kenapa Taj Mahal didirikan.

Dalam tradisi sunda ada yang disebut dengan Sangkuriang. Jadi kalau menurut saya itu sangat kontekstual…dan bla…bla….bla…” pada titik ini aku sudah mengalami kebosanan, jenuh dan sebagai prolog itu belum cukup. Nantinya dia akan masuk ke dalam kacamata metodologi tertentu dan pindah membandingkan dengan pandangan lain. Tetapi aku sedikit tahu diajarkan oleh Angga bahwa prinsip dasar dalam diplomasi adalah dengar dan tunggu. Diplomasi menuntut kesabaran.

Tetapi aku bukan nabi yang sabar menunggu orang sampai tiga hari. Dan aku bukan becket yang akan menunggu godot seumur hidupnya. Tunggu? Sialan! Teman-teman menjebakku dalam ritual ini. Disaat timingnya sudah tepat aku langsung masuk. Menyelusup,

“kalau begitu bagaimana pandanganmu terhadap perempuan?” ujarku dalam. Samson berdiam lama kemudian dia berkata menyitir puisi Rako Prijanto.

“perempuan datang atas nama cinta…” pada pertanyaan ini samson mulai mencium bau kecurigaan yang tersembunyi dan langsung bertanya

“kenapa kamu tanyakan hal itu, kamu ‘kan jurusan sosiologi?” aku langsung menghantam dengan sekali pukulan dan sebenarnya ini adalah pertaruhan.

“ah nggak … Nida Sam..” wajah Samson mulai menunjukan ekspresi yang sama ketika Angga menyebutkannya.

“emang kenapa dengan dia…?” sangat penasaran aku tahu betul sangat penasaran! Dalam hati aku tahu itu dengan begini aku bisa mengendalikan situasi. Prinsip dalam diplomasi yang selanjutnya pura-pura bodoh kemudian tikam.

“gini, Sam. Dia memintaku untuk membuat tulisan tentang gender. Tetapi aku nggak punya bahannya, ya kali aja dengan gobrol dengan kamu aku bisa mendapat inspirasi” aku melihat Sam sudah masuk dalam perangkapku. Ha haha..ha cinta memang membuat orang tolol dan konyol. Pekikku dalam hati. He hehe tinggal menjalankan manuver asmara selanjutnya yaitu membunyikan HP. Pura-pura dapat pesan dari Nida.

Titit…tit Pura-pura membaca pesan.

“wah kebetulan Sam, bagaimana kalau kamu ikut saya ke kosannya besok. Ini ‘Nida ngesms (tentunya tak ku tunjukan pesannya, karena memang tidak ada pesan dari Nida. Awan yang mengsms) Dia mau mendiskusikannya dulu. Bagaimana sam?”dia terpengkur lama sekali, dan mulai menunjukan paras yang… aneh! Sekali lagi aneh dan sangat picisan.

“emm baik, tapi bareng sama kamu ya?”
“ya iyalah …”

Rencana berhasil! Target lumpuh. Tinggal mengurus Nida dan itu bagian Angga. Kuanggap sudah beres. Kawan, kalau urusan cewe aku sangat percaya sama Angga.

Hari H. Aku dan Sam,pergi ke kosannya. Sam tidak curiga sedikitpun. Aku hanya tertawa dalam hati saja. Dan berkata hai Arjuna! Jadilah pejantan tangguh!

Pintu dibuka. Nida keluar, memang sangat anggun, cantik sudah tentu, elegan santun dan sederhana, itulah yang paling penting dan sangat memikat.

“wah … silahkan duduk. Sebentar ya saya ke dalam dulu bawa air … “dalam hati aku bertanya. Apa yang Angga katakan kepada Nida ya? Apa alasan kami datang ke kosannya hingga dia sangat santun dan tahu kedatangan kami.

Aksi dimulai. Teleponku berdering, pura-pura dari teman lama sangat mendesak di tunggu di kampus.

“wah… bagaimana, tetapi … ” telepon pura-pura diputus.
“Sam … saya mesti ke kampus dulu sebentar, gimana ya mendesak! Kamu tunggu saja di sini ok?” Sam tak menjawab. Dari wajahnya kulihat paras yang mengkhawatirkan seolah tentara amerika menghadapi perang vietnam. Dia menjadi salah tingkah. Aku berdosa telah mempermainkannya. Tapi bagaimana lagi kawan, aku hanya ingin membantunya saja. Aku tahu dia sangat pengertian sebagai seorang teman. Dan kalaupun proyek ini terbongkar kami tahu apa yang akan dilakukannya terhadap kami dan sudah siap dengan berbagai resiko. Seorang itu mesti sanggup menanggung segala resiko dari tindakannya. Betul!

“ya … tapi bud, jangan lama ya…”dengan sangat terpaksa pantatnya berubah menjadi lahar panas. Aku menghilang dari penglihatan Samson dan bergabung dengan teman yang lain di tempat persembunyian. Melihat aksi Samson. Nida datang membawa minuman dan beberapa makanan kecil. Kemudian duduk. Kami bertiga melihat dari kejauhan. Samson kelihatan sudah gerah! Dalam pikirannya berteriak TOLONG!!! Tubuhnya mengisyaratkan tanda-tanda SMS [save my soul]

Hp sengaja kami matikan, takut dia menghubungi salah satu diantara kami. Kami bertiga hanya bisa berdoa untukmu teman. Kamu malu karena cinta atau malah mencintai malu. Ini untuk masa depanmu.

AYO BERJUANG…TEMAN !! SEMANGAT !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s