DAMRI dan Potret Sosial Masyarakat Menengah ke Bawah

DAMRI dan Potret Sosial Masyarakat Menengah ke Bawah

Pagi itu setelah kurang lebih sepuluh menit bis DAMRI, jurusan trayek Kalapa-Tanjung Sari, yang saya tunggu akhirnya datang juga. Saya naik berbarengan dengan dua orang penjual—yang satu penjual kamus bahasa inggris bergambar untuk anak satunya lagi penjual pematik api atau bensin—dan seorang pengamen. Saya duduk di bangku paling belakang.

Tak selang beberapa lama penjual, yang tadi naik bersama saya, langsung maju ke depan dekat dengan sopir dan mulai mempromosikan barang dagangannya. Setelah berbicara tentang kelebihan dan manfaat dari barang dagangannya, penjual itu kemudian membagikannya ke seluruh penumpang yang ada di dalam bis kota itu.

Sembari menunggu para penumpang melihat-lihat barang dagangannya itu penjual tadi bicara dengan penjual yang satunya lagi, obrolan para pedagang, dia mengatakan setelah dia naik-turun sepuluh DAMRI hanya satu buah buku yang laku. Tak kalah sengit, penjual yang belum mendapat gilirannya berjualan, menambahkan bahwa sedari kemarin barang dagangnya belum ada satupun yang laku. Akhirnya mereka berdua mengeluhkan betapa susahnya mencari uang untuk hidup ini.

Selepas kedua penjual itu mendapatkan kesempatannya berdagang, yang saat itu saya lihat memang benar tak satupun dari penumpang yang membeli barang dagangan mereka, kini giliran pengamen yang “menjual” suaranya. Pengamen itupun rampung menyanyikan dua buah lagu alakadarnya dan di akhir “konsernya” itu dia mengeluarkan sebuah kantung khusus untuk menampung “angpau” dari para penumpang.

Sejarah DAMRI

Lantas apakah sebenarnya kepanjangan dari DAMRI itu sendiri? Mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu. Bagi kebanyakan orang, terutama pengguna jasa bis DAMRI, pengetahuan tentang kepanjangan DAMRI, sejarah perkembangannya mungkin dirasa tidak lebih penting ketimbang mengetahui DAMRI apa yang melewati jalan Asia Afrika, Otista, Pungkur, Dewi Sartika atau setiap jam berapa saja DAMRI jurusan Kebon Kalapa-Tanjung Sari berhenti.
Mengetahui (atau tidak mengetahui) kepanjangan DAMRI memang tidak akan menyebabkan apa-apa. Tetapi tahukah Anda bahwa singkatan DAMRI itu sendiri berasal dari tahun 1946 dan tidak pernah berubah sampai sekarang.

Sekira tahun 1943, terdapat dua usaha angkutan di jaman pendudukan Jepang pertama bernama JAWA UNYU ZIGYOSHA yang mengkhususkan diri pada angkutan barang dengan truk, gerobak/cikar dan kedua bernama ZIDOSHA SOKYOKU yang melayani angkutan penumpang dengan kendaraan bermotor/bus.

Baru pada tahun 1945, setelah Indonesia merdeka, dibawah pengelolaan Kementrian Perhoeboengan RI, JAWA UNYU ZIGYOSHA berubah nama menjadi “Djawatan Pengangkoetan” untuk angkutan barang dan ZIDOSHA SOKYOKU beralih menjadi “Djawatan Angkutan Darat” untuk angkutan penumpang.

Pada tanggal 25 November 1946, kedua jawatan itu kemudian digabungkan berdasarkan Makloemat Menteri Perhoeboengan RI No.01/DAM/46 dan dibentuklah “Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia” yang kemudian disingkat DAMRI, dengan tugas utama menyelenggarakan pengangkutan darat dengan bus, truk, dan angkutan bermotor lainnya.

Tugas ini pulalah yang menjadikan semangat Kesejarahan DAMRI yang telah memainkan peranan aktif dalam kiprah perjuangan mempertahankan kemerdekaan melawan agresi Belanda di Jawa.

Pada tahun 1961, terjadi peralihan status DAMRI menjadi Badan Pimpinan Umum Perusahaan Negara (BPUPN) berdasarkan PP No.233 Tahun 1961, yang kemudian pada tahun 1965 BPUPN dihapus dan DAMRI ditetapkan menjadi Perusahaan Negara (PN).

Tahun 1982, DAMRI beralih status menjadi Perusahaan Umum (PERUM) berdasarkan PP No.30 Tahun 1984, selanjutnya dengan PP No. 31 Tahun 2002, hingga saat ini. PERUM DAMRI diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan jasa angkutan umum untuk penumpang dan atau barang di atas jalan dengan kendaraan bermotor.

DAMRI pada awal berdirinya merupakan kepanjangan dari Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia” dengan tugas utama menyelenggarakan angkutan orang dan barang diatas jalan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Namun dalam perjalannya DAMRI telah menjadi nama bagi sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjalankan tugas operator angkutan baik orang maupun barang dengan menggunakan bus dan truk.

DAMRI pada saat ini merupakan sebuah perusahaan angkutan darat yang tersebar hampir diseluruh wilayah Republik Indonesia. DAMRI menyelenggarakan angkutan baik dalam kota, antar kota, bandara, travel, maupun angkutan paket. Bahkan telah merambah kepada angkutan lintas negara yang dimulai dengan angkutan lintas negara Pontianak-Kucing (Malaysia). Dalam waktu dekat ini, DAMRI akan menapakkan pelayanannya di negara Brunei Darussalam yang akan segera disusul dengan membuka pelayanan ke Papua New Guinea dan Timor Leste. (dikutip dalam http://www.damri.co.id)

Terimakasih DAMRI

Biasanya di dalam bis kota ini—atau bis-bis lainnya yang berkelas ekonomi bukan eksekutif—kondisi yang saya gambarkan diatas sudah tak asing lagi untuk ditemui. Dimana bis tidak hanya disesaki oleh penumpang melainkan juga pengamen, pedagang asongan, penjaja Koran atau bahkan pengemis. Dengan kondisi seperti ini, biasanya kondektur mesti rela menunggu aksi mereka sampai selesai atau mendahului mereka untuk menagih ongkosnya.

Kendati dengan pelbagai macam keterbatasan—kondisi mobil yang kurang begitu prima, jam angkutan yang terbatas, keterbatasan tempat duduk sehingga ketika tempat duduk sudah terpenuhi (tetapi) penumpang lain (mesti) rela berdiri—keberadaan dan kedatangan bis DAMRI sungguh sangat ditunggu dan membantu di tengah kondisi perekonomian yang sangat sulit ini.
Kebanyakan para pengguna jasa bis DAMRI berasal dari golongan masyarakat menengah ke bawah seperti mahasiswa, para pedagang dan lain sebagainya dikarenakan tarif yang dikenakannya (dengan memperhitungkan jarak yang ditempuh) masih tergolong sangat murah.
Kehidupan dalam bis DAMRI hanya salah satu potret dari sekian banyak potret sosial masyarakat yang patut dicermati.

Sesungguhnya, hemat penulis, andaikata para pemimpin ingin tahu bagaimana kondisi sebenarnya masyarakat yang dipimpinnya maka naiklah DAMRI, rasakan sendiri, berpura-puralah menjadi “rakyat biasa” tanpa pengawal—seperti yang dulu pernah dilakukan Umar bin Khattab sewaktu menjadi khalifah—dan belajarlah darinya. Belajarlah dari mereka bagaimana cara mereka mempertahankan hidup, mengais rezeki hanya dengan menjual bensin, buku, permen atau yang lainnya.

Wallahu a’lam bish showab

Penulis pengguna setia jasa bis DAMRI dan penggiat Sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s