Kepada Haoriyani

Kepada
Haoriyani
di
Tempat

“Orang seperti saya tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi.
Dan saya akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu !!”

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ini bulan adalah ramadhan dan ini hari kita sedang melaksanakan ibadah shaum seperti halnya tahun kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Ironisnya, memang setiap tahun kita melaksanakan ibadah shaum tetapi apakah pemaknaan terhadap shaum terus bertambah, sama atau malah mungkin berkurang. Sehingga setiap tahunnya ibadah shaum hanya sebatas rutinitas formal keagamaan yang mesti dengan segera ditunaikan, dituntaskan dan di gugurkan setelah kemudian dihempaskan. Tak ada bekas. Tak ada lagi. Tak ada apa-apa. Ramadhan berubah menjadi penjara!
Tapi sayang, kali ini saya tidak akan membahas perihal ramadhan. Saya serahkan tugas itu kepada para ustad-ustad, para ulama-ulama, para ‘ikhwan-ikhwan’ singkatnya para ‘malaikat kecil’ yang bertebaran di bumi yang memiliki hafalan ayatnya cukup banyak. Dengan giat berkoar di atas mimbar sekalipun tidak menjamin apa yang dikatakannya [akan] bisa dilakukannya.
Dian, suatu kejutan bukan mendapatkan kabar lagi dari saya, Tedi Taufiqrahman!
Selanjutnya, saya ingin membicarakan terlebih dahulu perihal hadiah dalam arti yang sebenarnya. Saya hanya berbagi informasi, takut belum mendapatkannya.
Pada dasarnya hadiah, bagi saya pribadi, adalah bentuk reifikasi dari perasaan. Konkretisasi dari beberapa perasaan yang abstrak, belum mendapatkan nama. Konsep reifikasi ini terpengaruh oleh logika-positivisme. Logika positivisme adalah salah satu arus besar pemikiran filsafat zaman modern yang mempunyai kredo logico-hypotetico-verifikasi.
Konseptualisasi ini merebak ketika Renaissance berlangsung. Terlebih setelah lahirnya Rasionalisme Rene Descartes (lahir di La Haye-Touraine 31 Maret 1596), dengan jargon fenomenalnya cogito ergo sum’ atau je pense donc je suis. Saya berpikir maka saya ada! Zaman pencerahan, dimana akal budi, nalar mendapat peran dan stabilitas permenungan yang mapan. Salah satu ajarannya adalah bahwa kebenaran itu terukur, teruji dan terbukti. Sekarang, anggaplah bahwa perasaan itu adalah kebenaran. Jikalau diandaikan, mengikuti alur logika positivisme ini. Syarat kebenaran itu mesti terukur, teruji dan terbukti. Kesimpulannya perasaan mesti terukur, teruji dan terbukti. Begitu proses rasionalisasinya. Lantas, bagaimana caranya utuk mengukur perasaan, menguji perasaan, membuktikan perasaan. Perasaan ‘kan abstrak? Tidak terlihat. Bersifat ruh bagaimana untuk membuktikannya. Ini sama saja dengan usaha membuktikan Tuhan.
Untuk membuat reifikasi perasaan ini, maka salah satu upayanya adalah membincangkan dua dimensi; dimensi ruang dan waktu. Untuk membuat perasaan terbukti kita serahkan pada dimensi ruang sedangkan urusan teruji dan terukur masalah dimensi waktu yang akan membahasnya. Berbicara mengenai dimensi waktu ada beberapa alternatif yang mau tak mau mesti kita lewati; awal-pertengahan-akhir, sebelum-sementara-sesudah yang kemudian mengkerucut menjadi dua bahasan besar yaitu abadi dan temporal. Sedangkan mengenai dimensi ruang sudah sangat jelas konsep Aristoteleslah yang dipakai yaitu esensi dan aksidensi.
Nah, hadiah adalah bentuk pembuktian perasaan pada dimensi ruang. Hadiah pada uumumnya adalah sebuah barang, pemberian yang nyata, real dan konkret, terlepas barang apa itu namanya. Sehingga kita tidak akan mendengar ucapan “saya hadiahkan perasaan ini padamu” sebab dalam kata “hadiah” ternyata diam-diam bersembunyi kekonkretan yang menunjukkan pada sebuah barang. Secara tidak langsung dengan hadiah, perasaan kita telah terbukti. Karena perasaan yang tadinya abstrak terwakilkan dalam sebuah barang; coklat, bunga, baju, mobil, buku Taj Mahal dan lainnya
Setelah itu mengenai dimensi waktu, hal ini terkait dengan pengukuran dan pengujian perasaan. Bagaimana caranya penguji perasaan dan mengukurnya. Tunggu aja “waktu” habis, berarti kiamat! karena waktu dunia akhirnya adalah kiamat. Awalnya lahir dan pertengahannya adalah hidup. Untuk mengukur dan mengujinya tergantung waktu berlalu; apakah perasaan ini akan tetap, berkurang atau bertambah tergantung dengan waktu.
Berkait dengan waktu, di luar konteks pembahasan hadiah dalam ontologinya. Hadiah mempunyai saat pemberiannya yang kita kenal dengan momen. Momen pemberian hadiah bisa berbagai macam kesempatan bisa ketika mendapatkan kebaikan, ketika senang, ketika sedang sakit, tetapi dari sekian banyak momen ada. Satu momen yang sering dijadikan orang-orang pas untuk memberikan hadiah yaitu hari lahir yang biasa dikenal dengan sebutan hari ulang tahun.
Momen kelahiranlah yang sering dipakai orang untuk mengucapkan perasaannya dalam bentuk hadiah. Pertanyaannya kenapa di hari kelahiran? Ada beberapa alasan hari kelahiran dijadikan momen. Pertama kelahiran adalah momen dimana seluruh umat manusia mempunyai-nya dan oleh karena itu momen ini dianggap bisa menyatukan seluruh umat manusia, kedua untuk menunjukkan intensitas perhatian seseorang terhadap seseorang lainnya lagi untuk menunjukkan perasaan bahwa kau berarti bagi aku. Begitulah hadiah dalam perjalanan identitasnya. Semoga tidak mendapatkan kekeliruan.
Dalam Islam, hadiah diartikan sebagai pemberian cuma-cuma dari seseorang dan tidak dinamakan infaq atau shodaqoh, tetapi bukan berarti tidak digolongkan mendapat pahala. Tetap saja pemberian hadiah adalah ibadah untuk menguatkan tali silaturahmi.

* * *

Perasaan adalah milik semua makhluk bernafas di muka bumi ini. Persasaan dalam hal mendapatkan bentuk konkretnya salah satunya dengan hadiah. Perasaan adalah segumpal asap yang berkumpul dari asa-asa. Perasaaan bersifat abstrak yang oleh Hegel disebut Geist. Sebagaimana asap dan air, bersifat mengisi ruang dan mewaktu. Kalau asap atau air diisikan ke dalam wadah, cangkir atau cawan yang berbentuk prisma maka ia akan mengikutinya karena air mempunyai hukum tergantung berat massa dan jenisnya begitu hukum ini berlaku pada bentuk bentuk rasa lain.
Perasaan tidak hanya dimiliki manusia tetapi tumbuhan hewan, gunung, planet, dan lainya hanya. Kalaupun gunung tidak mempunyai perasaan mengapa dalam al Qur’an gunung bertasbih jadi gunung juga memiliki perasaan dalam dirinya sendiri. Akan tetapi perasan gunung tidak sama dengan apa yang dimiliki oleh manusia, perasaan manusia unik dikarenakan manusia memiliki akal sedang kan lainnya tidak. Sehingga manusia bisa membentuk kebudayaan. Dan membangun peradaban.
Perasaan pada dasarnya hanya satu, tetapi karena manusia adalah makhluk yang berinteraksi dengan manusia lainnya maka secara tidak langsung perasaan manusia akan mempola memilih bentuk-bentuk dalam struktur sosial maka dikenalah dengan status–role. Misalnya saya mempunyai status sebagai mahasiswa berarti peran yang harus dijalankan adalah kuliah, berdiskusi. Status dan peran lainya seperti orang tua-anak, mahasiswa-dosen, majikan- pelayan.
Keindahan, kegelisahan, penderitaan, kasih sayang, keadilan, tanggung jawab, harapan dan lainnya adalah sejumput perasaan yang kalaupun memasuki status dan peran perasaan itu akan mempola dan mendapatkan bentuk yang berbeda.
Kasih sayang seorang ibu kepada anak akan berbeda dengan kasih sayang seorang bapak kepada ibu. Tanggung jawab seorang mahasiswa tentu berbeda dengan tanggung jawab buruh kepada majikannya. Meski semuanya didasari oleh satu perasaan yang sama.
Terimalah buku ini sebagai hadiah dari saya. Semoga bermanfaat.

* * *
Dian, saya mempunyai janji, atau lebih tepatnya ikrar kepada diri sendiri untuk membuat novel tentang kisahku dengan mu; Dian Handayani. Tetapi dengan berbagai macam kendala dan halangan akhirnya novel itu belum juga rampung-rampung. Mari saya sebutkan kenapa saya ingin membuat novel. Selain merangkum sejarah juga sebagai usaha katarsisasi diri dari gumulan berbagai macam teori-teori bangsat yang hanya menjadi singa di buku tetapi tidak dalam laku. Adalah usaha penggorokkan leher diri sendiri bahkan orang lain dari wacana-wacana yang terlontar balik dari beberapa cendekia yang kadang biadab hebat dalam eksistensi tetapi tidak dalam arti. Adalah usaha menyelam lebih dalam bahkan sampai tenggelam sebagai wujud pemahaman sendiri terhadap orang lain.
Sebagai obat bagi kepedihan yang dipendam beberapa tahun kebelakang, atas jeritan dan erangan yang menumpuk seperti burung gagak mencari korban kematian, seperti layang elang yang terbang menembus angkasa dengan sayap terjaring. Adalah upaya penelanjangan hingga bugil dari realitas yang penuh dengan gumpalan asap kebohongan, yang penuh dengan seluruh kepalsuan baik dari tubuh dan ruh.
Sampai sekarang tahap penggarapan novel itu hanya bisa sampai pada rangkuman sejarah yang lebih bersifat otobioghraphis. Sehingga alurnya bersifat monologis, menceritakan berbagai macam kejadian. Belum layak dibaca sebagai sebuah novel, saya lebih sepakat untuk menyebutnya sebagai catatan pengakuan.
Akhirnya saya tak ingin berkata-kata lagi. Sudi kiranya Dian meluangkan waktu untuk membaca naskah yang saya kirimkan ini. Anggaplah naskah yang saya kirimkan ini sebagai prawacana untuk novel yang saya buat. Dan tunggulah tahun depan persis pada tanggal yang sama ada kiriman novel karanganku.
Terakhir, semoga bahagia dengan pasanganmu. Selamat hari jadi!

Terimakasih.

“Jangan satukan hidupmu dengan hidupku
Ini juga kutulis di laut tak bernama”

Bandung 04, Oktober 2006
09:37

Wassalam

te. Ditaufiqrahman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s