Kepada Tuhan

Kepada
Tuhan, yang Maha Entah
di
tempat

Tuhan, izinkan aku mengutip sebuah sajak—dari seseorang yang terbuang—untuk membuka istirahku denganmu;

Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namaMu
biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Kini lewat kata-kata yang akan kurangkai dengan noda dan penyesalan akan kuhamburkan segala luka pedihku di hadapanMu. Tuhan inilah segala keluh kesahku selama 24 tahun lebih aku hidup di dunia yang telah Kau ciptakan.

Tuhan, sungguh benar aku ingin menangis di hadapanMu, di pundakMu. Tapi bagaimana caranya?? Engkau jauh, tak terduga. Maha Entah. Engkau sendiri tahu aku manusia rindu asa rindu rupa. Aku hanya bisa mengadu pada yang ada sedang pada tiada aku hanya bisa menerawang.

Ampuni ku bila sempat terpikir bahwa Kau tiada. Kau Maha Ada, tapi dimana? Entahlah, hanya engkau yang tahu. Beginilah masalah makhluk yang kau ciptakan yang bernama manusia. Tak bisa keluar dari sangkar ruang dan waktu. Mana aku bisa menjamahMu sedangkan Kau melampaui ruang dan waktu. Kita berada di ruang dan waktu yang berbeda. Tapi sungguh, menurut pemikiranku yang sempit dan hina, bukankah Kau yang telah menciptakan sangkar ruang dan waktu yang melingkariku, bisakah Kau singkapkan sementara sangkar itu agar kita bisa bertemu. Sungguh aku merinduiMu, banyak yang ingin kukeluhkan kepadaMu.

Tuhan, Kau tahu betapa keras dunia yang kau ciptakan ini. Dengan dalih mempertahankan hidup manusia bisa melakukan apa saja, melakukan perbuatan yang sungguh-sungguh telah Kau larang. Tetapi betapapun kerasnya kehidupan di dunia ini, manusia tak kunjung mau meninggalkannya. Apa sebab? Entahlah, aku juga bingung. Kadang aku berpikir kalau hidup sudah tidak bisa dipertahankan mengapa begitu ngotot untuk terus mempertahankannya. Kenapa akhirnya manusia begitu pengin hidup.

Sesungguhnya menurut pengamatanku, manusia sudah kehilangan alasan untuk mempertahankan hidup. Mereka bertarung sesama manusia lain memperebutkan cara untuk mempertahankan hidup sedang alasan kenapa mereka melakukan semua itu hanya sedikit yang tahu. Padahal, menurutku, itu yang paling penting.

Kenapa kita mesti mempertahankan hidup??

***

Tuhan, begitu banyak surat-surat yang telah Kau kirimkan untukku, berjuta-juta ayat yang Kau maksudkan untuku namun tak kunjung jua aku bisa membacanya. Begitu banyak bukti tanda kebesaranMu tapi belum mampu aku mempercayainya dengan tempurung kepalaku yang selalu mengungguli logika dan retorika.

Telah datang para nabi, para rasulMu yang mengingatkan dan memberi pedoman berkehidupan tapi tak jua aku bisa menjalankannya karena kuanggap tidak sesuai dengan zamanku berada. Aku masih mempercayai ungkapan bahwa kita adalah anak zamannya. Mungkin tata kehidupan di zamanku berada begini adanya.

Tuhan, jujur kukatakan memang aku murtad kepadaMu dengan selalu mempertanyakan keberadaanMu, meneliti diriMu dalam arti yang lebih eksistensial. Memang aku durhaka kepadaMu sebab sempat aku tak pernah mempercayaiMu, bahwa kitalah yang menentukan hidup kita di dunia ini dan Kau memang ada tetapi tidak ada kaitannya dengan segala pilihan tindakan kita. Namun kutahu itu semua keliru. Di saat aku tak memiliki tempat berlabuh, sebab manusia jarang yang bisa dipercaya untuk menyembuh, aku kembali kepadamu, kepada siapa lagi aku bersimpuh?

Tuhan, kini aku REMUK !!!. Hilang tanpa bentuk.

Sungguh Kau tidak akan pernah bangga menciptakan manusia seperti aku bahkan kau akan menyesal pernah menciptakan manusia seperti aku. Tapi karena Kematian tak kunjung menjemputku maka aku berkesimpulan Kau tidak seperti itu, oleh karena itu kini aku sedang dalam perjalanan membuat arti untuk kehidupan yang telah Kau berikan kepadaku.

Tuhan, aku berpikiran, kehidupan yang saya jalani ini pada arti yang sebenarnya bukan aku yang menginginkan. Aku tak pernah memintaMu untuk menghidupkanku. Bahkan aku juga belum ada. Aku kira ini permasalahan yang akan kubicarakan denganMu mengerucut pada esksitensi hidup.

Darwin mengatakan hidup itu berevolusi—aku kira perkataan dia banyak benarnya juga—tapi aku tak sampai mempercayai bahwa manusia adalah hasil dari evolusi kera.
Pada titik ini, Darwin memang benar bahwa hidup berevolusi, yakni berkembang. Oleh karena itu aku juga mempercayai bahwa dalam hidup manusia pasti akan mengalami struggle-nya sendiri-sendiri. Dengan demikian muncullah hukum kedua yakni dalam perjalanan kehidupannya manusia selalu dalam keadaan survival of the fittest, yakni mempertahankan kehidupannya. Dan fatwa absolut terakhir dari Darwin adalah yang kuat akan menang dalam pertarungannya itu. Yang kuat yang akan bertahan hidup.

Seperti itulah kerangka kehidupan di dunia ini. Semua orang saling memburu untuk segera mempertahankan kehidupannya. Setiap orang bekerja siang dan malam, orang tua menyekolahkan anak-anaknya, ada orang yang berjualan bahkan ada yang melacurkan diri, merampok sampai membunuh hanya untuk petahanan hidupnya.
Tuhan, begitu keras kehidupan yang aku lihat ini.

Kini minyak tanah langka karena pemerintah sedang mengalihkannya ke gas elpiji namun celakanya lagi gas elpiji juga susah di dapatkan karena permintaan melonjak. Setiap tahun perguruan tinggi mengeluarkan lulusannya tetapi sebaliknya lowongan pekerjaan bukan bertambah malah semakin sulit. Kriminalitas setiap hari seolah tak absen dari pelakunya. Aku kira semua manusia yang ada di dunia ini memiliki pikiran sama yakni mempertahankan kehidupannya dengan pelbagai macam cara, halal atau tidak, baik atau tidak.

Nyata Tuhan, aku melihatnya dengan sangat nyata! Namun sangat sedikit sekali aku perhatikan manusia tahu kenapa dia mesti mempertahankan hidupnya. Aku menulis surat ini kepadaMu, bukan berarti aku tahu. Justru aku sama sekali tidak tahu dan ingin langsung menanyakanNya kepadaMu yang telah menciptakanku.
Buat apa Kau menciptakanku?

***

Tuhan, ampuni aku. Sungguh fatal krisis kepercayaanku, aku hampir tak percaya dengan semua perkataan ustad, kendati itu memang benar pesan darimu tetapi seharusnya Kau tahu bagaimana citra penyeruMu itu di zamanku. Sungguh aku lebih percaya dari orang bodo yang tidak mengaku ustad, orang kampung yang tidak berpendidikan, dari tukang bubur yang jauh dari kegelimangan harta dengan kejernihan pikirannya mereka dapat mengatakan kebenaran dengan kebersahajaan. Aku lebih mempercayai petuah bijak dari orang yang mengalami penderitaan ketimbang ustad yang bayarannya sudah di tarif. Sungguh maaf cercaanku terhadap pada penyeruMu itu.

Tuhan, aku memang orang yang sering abai terhadapMu. Tapi sungguh jauh dalam lubuk hati tertancap kerinduan yang sangat biadab kepadaMu. Di duniaku kini perihalMu hanya sebuah perspektif.

Wassalam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s