Lupa

I

Baru-baru ini Desa Luhur digegerkan dengan datangnya salah satu penduduknya yang bernama Rohman Hendraiana. Rohman, beberapa bulan kebelakang tidak berada di desa, dia melancong pergi ke kota. Alasan bisnis, itu yang di sampaikan kepada para warga yang bertanya kenapa ia pergi. Benar atau tidak, yang jelas dia sudah pulang, sekarang membawa dua bungkusan yang lumayan cukup besar untuk ukuran kampung.

Seluruh warga berdecak kagum melihat Rohman yang menenteng bungkusan itu dengan bangga, seakan-akan dia baru saja pulang dari luar negeri. Warga tak tahan ingin gegas melihat isi bungkusan itu serta mendapatkan ceritanya. Anak-anak berlarian mengelilingi Rohman, berlenggang, yang lebih mirip dengan tontonan…ya, seperti pagelaran topeng monyet.

Keluarganya menyambut dengan ceria dan sedikit tinggi hati, istrinya seolah-olah ingin berkata kepada seluruh warga “lihat…! Suamiku baru datang dari kota!” Rohman hanya tersenyum sombong. “Pak Rohman, sudah pulang ya…katanya baru datang dari kota? Wah dapat uang banyak nih” Kurniawan menyapa. Kurniawan adalah salah satu warga Luhur yang jarang kelihatan di desa, dia lebih banyak mengahabiskan waktunya di desa Irama. Konon katanya dia sedang mendekati seorang gadis desa itu; Tree Rahayuni namanya.

“ah nggak kok… ya cukuplah, untuk beberapa hari kedepan dengan tidak usah bekerja terlalu payah…ngomong-ngomong pak Kurniawan selama ini kemana saja, jarang kelihatan…masih sibuk ya”. Kurniawan yang merasa obrolan ini kurang enak, kemudian pamit pergi. Kini seluruh warga sudah mulai tenang. Giliran istrinya yang bertanya kepada Rohman yang sejak dari tadi kepengen tahu isi dari bungkusan itu.

“buka ya pak…bungkusannya? Ibu penasaran”

“ya buka saja…”jawab Rohman sembari santai, merebahkan letihnya. Istrinya, Titin, membuka bungkusan yang pertama “wah…bapak tumben beli buku, hebat lagi judulnya; Logika Agama. Apaan sih artinya?” Titin bertanya dengan keheranan. Rohman menjawab “bapak juga nggak tahu apa artinya bu”

“lalu kenapa bapak beli buku ini, kalau tidak tahu artinya”
“ya…’kan waktu itu bapak kebetulan lewat saja. Ada toko buku banyak orang yang mengerumuninya. Kelihatannya toko buku ini laris. Kalau nggak salah Malayasari nama toko bukunya. Bapak ikutan masuk, ternyata ada buku itu; pengarangnya itu bernama…siapa itu bu. Bapak lupa lagi”
“em…gimana sih ini dibacanya…em kurais shihab”
“ya itu dia, bapak kira pengarangnya teman bapak dulu. Si Sihab itu lo bu? Sihabuddin. Tukang ojek di depan. Makanya bapak heran, kok si Sihab bisa buat buku, bagus lagi judulnya; Logika Agama. Bapak penasaran jadi bapak beli buku itu, eh ternyata si Sihab ini orang Sulawesi Selatan. Bapak ketipu”
“Ya…bapak-bapak, makanya kalau beli-bali itu tanya-tanya dulu”
Titin mengeluarkan lagi barang yang ada di dalamnya
“wah bapak beli baju…bagus ya”
“nah bu, kalau baju itu. Bapak yakin nggak ketipu. Soalnya murah, cuman dua puluh ribu”
“tapi seperti ibu kenal dengan baju seperti ini…oh ya pak! Baju ini mirip bajunya. Siapa itu, salah satu warga di desa Luhur. Ah ibu lupa namanya. Tadi berapa belinya”
“Dua puluh ribu…”
“wah bapak ketipu lagi, dulu dia beli dua, cuman tiga puluh ribu. Jadi satunya lima belas ribu. Wah bapak ini kaya orang kaya aja, beli nggak ditawar-tawar”
“ya sudahlah bu…jangan dikeluarin lagi. Bapak jadi malu, bapak datang ke kota ternyata jadi bahan tipuan, emang orang kota penipu semua”
“kalau sendal ini…”
“itu juga sama bu…bapak ketipu! Waktu itu bapak mau jum’atan di mesjid Mujahidin. Mesjid besar bu. Bapak beli sendal itu harganya murah cuman lima belas ribu. Tanpa pikir panjang, langsung beli saja. Eh ternyata…tak jauh dari situ malah lebih murah bu, sepuluh ribu ditambah dengan sol. Bapak ketipu lagi. Bapak kapok ke kota lagi”

* * *

Pagi itu Rohman bangun tidur, buru-buru dia pergi ke wc. Karena kebiasaannya kalau bangun tidur langsung pengen buang air besar. Mules, katanya. Hal ini wajar saja, karena kondisi desa Luhur ini terhitung dingin. Rohman melesat seperti peluru masuk ke wc. Tak lama kemudian Rohman keluar lagi, berdiri kebingungan di depan pintu wc seperti ada yang tertinggal dalam pikirannya. Masuk lagi. Keluar lagi. Tambah bingung, dahinya mengkerut seperti mengingat-ngingat sesuatu. Tapi apa? Rohman sendiri tidak tahu. Akhirnya masuk lagi. Dan keluar lagi.

Kini dia sedang duduk di depan teras merenung, memikirkan hal yang terjadi di pagi hari. Lalu ia bertanya kepada istrinya “bu…kalau ibu di wc, suka ngapain aja”
“ah bapak ini ada-ada saja, kok nanya yang gituan sih”
“betul bu, ya dijawab dong. Ibu kalau di wc ngapain saja?”
“ya…banyak pak. Nyuci baju, nyuci piring. Mandi. Kencing. Buang air besar… Dan yang lainnya”
“oh ya bu…kalau mau mengeluarkan kotoran. Namanya buang air basar ya bu”
“ih bapak datang dari kota jadi sinting ya. Ya iyalah..emangnya kenapa?”
“bu kalau buang air besar itu, kaya gimana sih caranya”
“udahlah pak! Ibu banyak kerjaan. Jangan kaya orang bego gitu. Bapak itu sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi yang belum bisa buang air besar. Jangan nanya yang aneh-anehlah”
“ih…bu tapi ini benar…”
“ibu mau pergi ke pasar pak, buat beli masakan untuk makan siang nanti. Udah jangan nanya yang aneh-aneh”
Titin pergi, Rohman ditinggal. Rohman mondar-mandir di rumah sendirian, bingung memikirkan bagaimana caranya buang air besar. Sementara perutnya ingin mengeluarkan sesuatu, tapi Rohman lupa bagaimana caranya. “Aduh…kaya gimana ya. Masa lupa. Coba diingat-ingat” Rohman bergumam. Dia pergi lagi ke wc, melihat-lihat siapa tahu ada inspirasi, tapi nihil! Rohman mencoba buka celana, tapi tetap tak ingat.

Pintu diketuk. Rohman bersegera datang dan membuka pintu.

“eh pak…Tono ” nama aslinya Muhammad Antonio Iksan, tapi lebih sering disebut dengan nama Tono. Bapak Tono adalah sekretaris bapak Rusman, RT desa Luhur. “tumben, ada keperluan apa nih pak Tono. Masuk…silahkan duduk”
“gini pak, saya mau mengantarkan undangan buat pertemuan. Nanti malam. Katanya ada kegiatan Rt”
“kegiatan apa, kok nggak biasanya ada acara”
“ya biasalah, masa jabatan pak Rusman ‘kan sebentar lagi. Jadi dia mau memaksimalkan kegiatan yang belum terlaksana. Kali ini ada ada diskusi ”
“oh ya…saya pasti datang”
“itu saja, saya pamit dulu pak Rohman, masih banyak undangan yang belum tersebar…”
“kalau nggak keberatan saya mau ngobol sebentar. Ini penting. Soal hidup dan mati” mendengar perkataan ini pak Tono kaget dan langsung duduk kembali.
“ada apa pak Rohman?” tanyanya penasaran.
“gini…lo pak, saya mau tanya persoalan yang sangat sederhana. Namun penting, pak Tono jangan kaget ya…?” pak Tono mendekati pak Rohman sebab suaranya makin mengencil seakan-akan sangat rahasia, seperti agen CIA saling memberitahu kode rahasia. “Iya ada apa?” bisik pa Tono.
“Saya Cuma ingin tanya bagaimana caranya buang air besar?”
…………………..
“pak Rohman, saya pamit dulu. Ditunggu kehadirannya nanti malam”
“tapi pak, pak tono belum menjawab pertanyaan saya”
“pak Rohman, bapak berumur lebih dari dua puluh tahun. Dalam keadaan bapak sekarang ini, mustahillah bapak lupa bagaimana caranya buang air besar. Bapak sudah melewati beberapa fase dalam perkembangan. Malahan bapak sekarang sudah menikah, melakukan hubungan seksual saja yang tidak belajar bapak bisa melakukannya. Apalagi ini, aktivitas yang tidak memerlukan partner. Kita ini, sekarang hidup di zaman modern, peradaban maju. Orang sudah bisa memprediksi kematian. Sangat tidak masuk akal, kalau bapak tidak tahu caranya”

Pak tono pamit keluar. Pak Rohman tersentak dengan perkataan yang baru diucapkan oleh pak tono. Dia memaki dalam hatinya. Iya memang saya akui kita hidup di zaman modern. Orang sudah bisa pergi ke bulan. Teknologi makin canggih, tapi…tapi toh memang saya benar-benar lupa bagaimana caranya melakukannya. Kenapa saya harus bohong. Seperti yang tidak pernah mengalami lupa saja. Kalau lupa hal yang manusiawi, maka bisa saja kalau saya lupa mengenai buang air besar. Setiap orang pernah lupa, lupa membawa pulpen, lupa membawa uang, lupa membawa sepatu, lupa membawa cangkul, maka tak ubahnya dengan lupa-lupa itu. Sekarang aku lupa bagaimana caranya buang air besar. Dasar orang sok berpendidikkan.

Pak Rohman tidak tenang, perasaannya mulai tidak enak. Ada aktivitas yang seharusnya dilakukan tapi ternyata tidak dilakukan; buang air besar. Dia keluar. Menenangkan pikiran, berharap itu hanya mimpi saja. Dia bertemu dengan mas Sastro Aziz Dahlan.
“mas Sastro, mau pergi kemana?”
“oh nggak, Cuma cari angin”
Mereka berdua duduk di pekarangan. Berteduh di bawah pohon rindang. “mas sastro, saya mau tanya. Mungkin mas satsro bisa menanggapinya dengan arif. Apakah hal yang wajar kalau manusia lupa”
“tentu saja pak Rohman, manusia kan tempatnya lupa. Tidak ada manusia yang sempurna. Nabi juga pernah lupa. Maka ditegur oleh Allah, turunlah surat a’basa. Memangnya kenapa menanyakan hal seperti itu”
“kalau begitu masalahnya saya tenang. Gini lo mas, tapi saya takut mempermainkan bapak dengan pertanyaan saya”
“ah itu ‘kan perkiraan bapak, coba aja dulu. Mungkin saya bisa merespon permasalahan pak Rohman”
“sebenarnya sederhana, tadi pagi biasanya saya buang air besar. Tapi ternyata tidak, karena saya lupa bagaimana cara buang air besar. Saya sudah coba mengingat-ngingatnya, tapi nihil. Seratus persen saya lupa. Saya bertanya kepada pak Tono katanya tidak masuk akal kalau saya lupa mengenai cara buang air besar, karena saya sudah dewasa. Katanya lagi, hubungan seksual saja yang tidak memerlukan partner kita bisa, apalagi ini buang air besar, benar-benar tak masuk diakal. Tapi setiap orang ‘kan bisa lupa, misalnya lupa membawa pulpen ke sekolah, lupa membawa cangkul ke sawah…nabi juga pernah lupa bukan? Kenapa ketika saya lupa cara membuang air besar malah tidak diterima. Itu tidak adilkan pak?”
“Wah kalau begitu permasalahanya, memang tak lazim. Gini saya luruskan dulu, pak Rohman jangan membawa-bawa nabi dalam urusan ini. Kalau lupa membawa pulpen, cangkul, dompet, kantong itu hal yang wajar sebab…”
“sebab kenapa?” pak Rohman memotong
“sebab…ya sebab orang-orang pernah mengalaminya”
“oh jadi, kalau orang-orang banyak mengalaminya maka disebut hal yang wajar. Hal yang benar dan semua orang memakluminya dan tidak disebut sinting, edan. Tetapi ketika sedikit orang yang mengalaminya itu disebutkan tidak wajar, tidak lazim dan tidak benar, maka orangnya disebut edan, sinting, goblok! Kenapa mesti begitu, apakah tidak mungkin untuk lupa cara buang air besar. Apakah itu hal yang tidak masuk akal?
“ya…gini lo pak Rohman. Kalau orang lupa bawa pulpen, bawa cangkul, bawa dompet itu hal yang wajar karena mungkin cangkul, pulpen. Itu adalah barang yang ada di luar kita”
“maksudnya apa?”
“maksudnya itu barang fisik, sekarang saya tanya kepada pak Rohman; bagaimana kalau orang-orang lupa apa itu keadilan, kebahagiaan, kesedihan, cinta dan perasaan abstrak lainya. Lalu, bagaimana kalau orang-orang lupa; bagaimana caranya tidur, makan, minum, berdiri, duduk. Parahnya lagi, bagaimana kalau orang-orang lupa bahwa mereka adalah orang bukan binatang?Coba pak Rohman bayangkan apa yang terjadi?”
“ya…kalau orang lupa tentang keadilan, mungkin mereka akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, mereka akan merampas harta milik rakyat, mereka akan korupsi. Seperti bapak SU itu. Kalau orang lupa bagaimana caranya tidur orang tidak akan tidur, berarti malam hari mereka akan berkeliaran. Kalau orang lupa bahwa mereka orang, mereka akan berperilaku seperti binatang. Tidak punya malu. Mungkin mereka tidak pakai baju, anggota badan mereka kemana-mana. Karena tidak punya rasa malu. Wah kasihan juga ya mas …nanti mereka bisa masuk angin”
“betul bukan…?”
“iya juga pak sastro, tapi bukan berarti hal itu tidak bisa terjadi ‘kan? Bukan berarti hal itu tidak masuk akal? Bukan berarti, orang tidak akan lupa mengenai keadilan, lupa tentang kebahagiaan , lupa tidur, lupa cara makan, lupa cara buang air besar. Dan lupa bahwa mereka orang bukan binatang. Betul bukan? ”
“Iya juga…sih, tapi…”
Tiba-tiba ada suara di belakang yang menyapa, “maaf pak Rohman menggangu…bisa bicara sama mas Sastro nya sebentar” tanya ibu Endah.
“oh…maaf bu Endah kirain siapa, silahkan. Pak sastro saya pamit dulu…oh ya nanti datang ke rumah pak rt katanya ada diskusi” pak Rohman pergi sementara pak sastro masih terpikirkan mengenai percakapan tadi.
“benar juga ya…”
“benar apanya mas, benar kalau kita mau nikah minggu depan…?
“wah kamu ngawur aja…”
“habis benar apanya…?
“ah nggak…”

* * *

Malam itu sebagian warga desa Luhur sudah berkumpul; bapak Ruman, pak tono, ustadz sonjaya, pak taufik, jang ghafur, pak yuki agustin, pak iqbal, jang abdul, jang toni, ibu imas, ibu siti, ibu muzdalifah. Mereka bercengkrama masing-masing. Pak Rusman bertanya kepada yang datang membuka pembicaraan formal, itung-itung pemanasan buat presentasi. “kalau pak budi hamid, kemana ya…?Sudah jarang kelihatan di desa ini”. Ustadz sonjaya menjawab “kalau nggak salah, dia masih sibuk mengurus….apa gitu, di desa Irama”.
“Oh…kalau pak Kurniawan, masih di desa Irama?”
“katanya dia akan datang malam ini”
Tak kunjung lama, pak Kurniawan datang.
“itu dia orang yang dibicarakan…” timpal pak tono. Kemudian pak Rusman bertanya kepada pak tono “gimana pak ton, apakah undangan untuk RT desa Irama sudah sampai”
“sudah pak, katanya pak Purnomo Sidik akan datang malam ini”
“pak riyadi dan pak bambang sudah di hubungi”
“sudah..sedang dijemput sama mas satro”
Susul menyusul warga Luhur dan para undangan datang. Diskusi dimulai, membahas perihal al qur’an dalam pandangan sastra.

* * *

Acara diskusi usai. Mas Sastro mendekati pak Rusman ” pak Rusman…bisa bicara sebentar…”. Tegur mas sastro “oh ya…ada apa, mas? Sepertinya ada masalah yang serius?”
“…kalau dibilang serius sih tidak juga, tapi cukup membingungkan. Bapak tahu bapak Rohman hendraiana”
“Rohman yang sering tertipu kalau membeli, Rohman yang…”
“ya itu dia, persis pak, Rohman hendraiana, suaminya bu titin itu. Dia tidak datang bukan? Pada acara barusan.”
“oh…benar. Memangnya ada masalah apa”
“pada tadi pagi, kami tak sengaja ngobrol. Dia menanyakan tentang perihal lupa. Kemudian saya jawab sebisanya. Buntutnya dia menyatakan bahwa ia lupa mengenai cara buang air besar”
“hah….! Apa saya tidak salah dengar…!?! Mana ada orang yang lupa cara buang air besar. Tidak masuk akal!! Mas sastro jangan bicara yang aneh-aneh”
“dengarin dulu pak, memang awalnya saya menganggapnya demikian tetapi ternyata memang itu terjadi pak. Jelasnya begini; pertama-tama saya terangin bahwa lupa cara buang air besar itu hal yang sama sekali mustahil, tetapi dia malah berkata, bukan berarti hal yang mustahil itu tidak bakalan terjadi. Hal itu masuk akal juga sih pak, misalnya saja zaman dahulu belum terpikirkan berbicara dengan orang jauh. Tetapi setelah ditemukan telepon oleh Bell semuanya menjadi serba mudah. Dahulu orang pergi ke bulan dianggap cerita ghaib tapi sekarang kebuktian to pak?”
“ya itu ‘kan masalah teknologi, nggak bisa disamain dengan orang yang lupa buang air besar. Kalau mahasiswa bilang jangan digeneralisir”
“nggak kok pak, gini saya sebutkan lagi misal yang paling ekstrim, contoh yang paling mustahil terjadi kepada bapak Rohman; misalnya bagaimana kalau orang lupa bahwa dia ‘orang’, lupa tentang keadilan, tentang kebahagiaan. Dia malah menjawab; kalau orang lupa bahwa dia orang ya…mungkin nggak punya malu. Terus kalau orang lupa tentang keadilan dia akan mengambil hak orang lain; korupsi. Kalau kita lihat keadaan sekarang hal itu sudah terjadi, orang-orang sudah nggak punya rasa malu lagi, dengan berani mereka berpose bugil, pakai baju tapi telanjang. Para birokrat dengan enak mengambil hak milik orang lain. Bukankah itu terjadi sekarang. Coba bapak pikir…”
“iya juga…ya. Tapi…permasalahnya apa memang benar ada orang lupa cara buang air besar.”
“saya kira bapak sebagai seorang pemimpin desa luhur ini harus cepat mengambil keputusan segera sebelum terlambat. Hal ini bisa mengganggu stabilitas warga lain”
“iya saya pikir-pikir dulu…”

* * *

Hari berganti, jam berdetak. Satu persatu warga mulai mengetahui tentang keberadaan Rohman Hendraiana yang lupa cara buang air besar. Rohman yang sudah tidak kuat menahan rasa bingungnya, kadang-kadang berteriak seperti orang gila. Kadang lari-lari, makan sambal sebanyak-banyaknya, makan cabe yang ditanam para warga, makan buah yang masih mentah dan makan apa saja, berharap bisa mengingatkanya cara buang air besar. Bukannya berhasil, Rohman malah muntah-muntah tak karuan dan pingsan.
Kejadian ini terdengar sampai telinga Pak Rusman. Lantas, pak Rusman menghubungi pak tono sekretarisnya untuk mengadakan musyawarah dadakan berhubung banyak juga warga yang memprotes keberadaan pak Rohman yang dianggap setengah gila.
“apakah tidak belebihan pak? Saya kira masalah ini bisa selesai dengan waktu”
“ya…tapi cepat atau lambat tergantung kita yang menentukan. Yang penting undang seluruh warga…”

………………

Sidang dimulai. Pak Rusman berbicara
“selamat malam bapak-bapak dan ibu-ibu. Sekiranya bapak dan ibu sudah memaklumi kenapa diadakannya pertemuan ini. Salah seorang kerabat dan warga desa luhur mengalami hal yang sangat aneh. Pak Rohman hendraiana lupa cara buang air besar, hal ini berimbas kepada kondisi psikologisnya. Dia terguncang dan terancam stress. Memang, secara akal sehat penyakit lupa seperti ini baru terjadi di desa luhur ini dan baru kita dengar. Kita mengetahui orang yang lupa ingatan tetapi tidak sampai lupa cara buang air besar. Saya minta warga memberikan pendapat dan solusinya mengenai kasus ini”. Pak taufik angkat bicara ” saya kira kita telusuri kenapa pak Rohman bisa lupa buang air besar ini”
“tapi hal itu akan membutuhkan waktu yang lama sekali” sanggah bu imas
“betul kita membutuhkan solusi yang praktis dan cepat untuk mengatasi masalah ini” bu siti menguatkan
“apakah ada kaitanya dengan datangnya pak Rohman dari kota?” tanya pak yuki
“saya kira bisa saja, tetapi masa iya sekarang ada virus lupa buang air besar” pak tono menimpali
“kalaupun iya, mungkin virus itu bukan berupa fisik tetapi seperti hipnotis…” tambah pak iqbal
“maksudnya bagaimana? Mana mungkin di kota ada yang menghipnotis pak Rohman supaya lupa buang air besar” bu mudzdalifah keheranan.
“bagaimana mas sastro, ada pendapat lain?”
“gini saja bagaimana kalau…ini saran saya saja. Bagaimana kalau kita coba gunakan tenaga psikiater, alasannya bisa saja kelupaannya itu dikarenakan sebab psikis yang terganggu sehingga menghentikan beberapa saraf dan membuat ia lupa. Singkatnya ada ketegangan saraf yang membuat ia tergoncang.”
“bagus… ide yang bagus. Brilian!!!” gumam jang Ghafur.
“bagus, tapi bagaimana kalau pak Rohman tersinggung dengan saran itu. Otomatis, kita telah mengganggap pak Rohman gila, bukan?” sergah pak tono
“iya, kita jangan malah membuatnya makin tersiksa, kita mesti mempertimbangkan perasaannya juga” timbang bu mudzdalifah
“bagaimana mas satro?” tanya pak Rusman
“saya yang atur semua itu, saya jamin rencana ini berhasil”
Semua warga menganggukkan kepala, pak Rusman mengambil kesimpulan mereka setuju. Sidang selesai keputusan didapat. Pak Rohman mesti berkonsultasi ke psikiater.

* * *

Pagi itu. Pak Rohman sudah berada di lapang tidak memakai baju. Berlari-lari, istrinya bu titin sudah kewalahan mengawasinya. Mas sastro mendekatinya “pak Rohman, bagaimana kabarnya?”
“Baik, ada mas. Mas sastro pasti menganggap saya sudah gila. Tapi apa daya mas, saya sudah bingung dengan keadaan ini. Saya merasa ada yang tidak lengkap dalam diri saya”
“saya memaklumi keadaan pak Rohman, saya juga memberi pengertian terhadap para warga yang bertanya kepada saya. Tapi kalau saya terus menjawab pertanyaan itu, saya kira tidak menyelesaikan masalahnya. Hemat saya, pak Rohman lah yang mesti menyelesaikan masalah ini”
“bagaimana caranya mas”
“entahlah mungkin pak Rohman mempunyai saran?”
“mas sastro ini bagaimana, saya yang bingung malah meminta saran dari saya.”
“saya mau memberi saran, tapi takut pak Rohman tersinggung…”
“memang sarannya apa…?”
“saya mengusulkan pak Rohman berkonsultasi ke psikiater terdekat…”
“jadi menurut mas sastro saya ini gila…!”
“bukan begitu…tapi alangkah lebih baiknya kalau kekesalan pak Rohman di luapkan pada tempat yang tepat. Ini demi kebaikan pak Rohman juga”
“baiklah saya akan mempertimbangkan usul itu”

* * *
Situasi desa mulai bisa seperti biasa, aman dan tenteram sebab pak Rohman mulai disibukkan konsultasi kepada psikiater. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hingga pada satu hari garam mulai asin, gula masih manis. Dan kopi tak enak kalau tidak pakai gula, begitupun sayur tidak akan sedap kalau tidak pakai asin.
“sial…! Sudah tiga kali berjanji, dia tidak pernah datang” maki pak Rohman. “kenapa lo pak? Kok marah-marah kaya begitu” tanya bu titin
“coba bayangin sama ibu…pak Deden sudah janji tiga kali sama bapak tapi dia tidak pernah datang?”
“pak deden siapa? Bapak tukang konsultasi itu bukan…?”
“iya si tukang pskiater….!!! Bapak datang ke sana bukan terbang bu…?!?Pakai ongkos, meluangkan waktu buat bekerja dan mengorbankan hal yang lain… dasar orang tak tahu diri. Biarin bapak nggak jadi konsultasi saja. Malas!!”
“terserah bapak sajalah…yang jelas kita bisa hidup tenteram dan bapak nggak uring-uringan”
Pak Rohman mulai keluar rumah lagi, seperti biasa lagi. Dia lari-lari, makan yang aneh-aneh tapi anehnya lagi dia jarang sakit sekalipun sudah seminggu dia tidak buang air besar. Aneh bukan? Tapi begitulah keadaanya. Saat ini dia sedang menyantap rujak…mas sastro menyapanya dari kejauhan. “pak Rohman…bagaimana kabarnya..?”
“baik…seperti biasa mas…”
“bagaimana konsultasinya berjalan lancar? Sudah ada kemajuan..?”
“Kemajuan apa, orang yang diajak konsultasinya nggak pernah datang”
“jadi sekarang bagaimana…”
“Ya, seperti biasa. Berusaha sendiri untuk mengingat cara buang air besar. Orang lain tidak bisa diandalin!”
Mas satro berpikir sejenak. “pak Rohman sekarang ada acara nggak…?”
“memangnya ada apa…?”
“kalau nggak mari ikut saya, mungkin ada yang bisa kita kerjakan untuk mengobati penyakit lupa pak Rohman”
Pak Rohman membayar segera rujak yang dimakannya. “mari mas…!” sahut pak Rohman semangat. Mereka berdua tiba di tepi wc umum yang di dekatnya ada sungai. Kebiasaan di kampung sungai adalah tempat alternatif buat buang hajat ketika emrgency
“sekarang mau apa…”tanya pak Rohman keheranan
“sebentar pak Rohman…” mas sastro melihat sekeliling.
“nah lihat…kakek tua itu” mas sastro menunjuk
“ya kakek itu…bukan?”pak Rohman memastikan
“betul kakek itu…sekarang pak Rohman amati cermat-cermat apa yang akan dilakukannya. Dan sebutkan kepada saya”
“ah mas ini kurang kerjaan apa ?!?” bentak pak Rohman
“bukan…begitu. Ini akan membatu pak Rohman, percaya sama saya. Tolong lakukan apa yang saya suruh”
“ok lah… kakek itu membuka sarung…kemudian melorotkan celana dalamnya. Jongkok…ehm mengeluarkan sesuatu yang aneh dan menjijikan. Mas sastro, saya baru tahu kalau ada barang yang menjijikkan dalam tubuh manusia”
“nah sekarang saya tanya dia sedang apa…?”
“oh iya…! Tapi saya lupa. Apa ya…namanya?”
“itulah yang dinamakan buang air besar…caranya seperti itulah”
“tapi mas! Yang benar saja!?! Saya nggak mungkin memasukan ‘sesuatu yang kotor itu’ dalam mulut saya!”
“gini lo pak! Sesuatu yang kotor tadi itu, yang dikeluarkan kakek itu…tu pertamanya bukan seperti itu. Asalnya nasi, mie, bakso dan rujak yang pak Rohman makan tadi itu akan jadi seperti ‘itu'”
“wah kalau begitu, sia-sia dong kalau saya makan yang mahal-mahal. Jika nantinya jadi seperti itu. Tenang mas! Jangan takut, saya akan bantu mas sastro. Saya akan beritahu seluruh warga desa luhur; jangan makan yang mahal-mahal buang-buang uang saja. Mendingan uangnya di tabungin saja”
Pak Rohman pergi. Mas sastro terpengkur sendirian. Dan berpikir

“aduh…x+……?!>!?”

II.

Baru-baru ini desa Luhur digegerkan dengan datangnya salah satu penduduknya; Rohman Hendraiana. Rohman beberapa bulan kebelakang tidak berada di desa, dia melancong pergi ke kota. Alasan bisnis, itu yang di sampaikan kepada para warga yang bertanya kenapa ia pergi. Benar atau tidak, yang jelas dia sudah pulang, sekarang membawa dua bungkusan yang lumayan cukup besar untuk ukuran kampung. Seluruh kampung, melihat dengan kagum kepada Rohman yang menenteng bungkusan, seakan-akan dia baru datang dari negeri lain. Warga tak tahan ingin melihat isi bungkusan serta mendapatkan ceritanya. Anak-anak berlarian mengelilingi Rohman, yang berlenggang, bahkan lebih mirip dengan tontonan…ya, seperti pagelaran topeng monyet.

Keluarganya menyambut dengan ceria dan sedikit tinggi hati, istrinya seolah-olah berkata kepada seluruh warga “lihat…! Suamiku baru datang dari kota” Rohman hanya tersenyum sombong. “Pak Rohman, sudah pulang ya…katanya baru datang dari kota? Wah dapat uang banyak nih” Kurniawan menyapa. Kurniawan adalah salah satu warga Luhur yang jarang kelihatan di desa, dia lebih banyak mengahabiskan waktunya di desa Irama. Konon katanya dia sedang mendekati seorang gadis desa itu; Tree rahayuni namanya.

“ah nggak kok…ya cukuplah, untuk beberapa hari kedepan dengan tidak usah bekerja terlalu payah…ngomong-ngomong pak Kurniawan selama ini kemana saja, jarang kelihatan…masih sibuk ya”. Kurniawan yang merasa obrolan ini kurang enak, kemudian pamit pergi. Kini seluruh warga sudah mulai tenang. Giliran istrinya yang bertanya kepada Rohman yang sejak dari tadi kepengen tahu isi dari bungkusan itu.
“buka ya pak…bungkusannya? Ibu penasaran”
“ya buka saja…”jawab Rohman sembari santai, merebahkan letihnya. Istrinya, Titin, membuka bungkusan yang pertama “wah…bapak tumben beli buku, hebat lagi judulnya; Logika Agama. Apaan sih artinya?” Titin bertanya dengan keheranan. Rohman menjawab “bapak juga nggak tahu apa artinya bu”
“lalu kenapa bapak beli buku ini, kalau tidak tahu artinya”
“ya…’kan waktu itu bapak kebetulan lewat saja. Ada toko buku banyak orang yang mengerumuninya. Kelihatannya toko buku ini laris. Kalau nggak salah Malayasari nama toko bukunya. Bapak ikutan masuk, ternyata ada buku itu; pengarangnya itu bernama…siapa itu bu. Bapak lupa lagi”
“em…gimana sih ini dibacanya…em kurais shihab”
“ya itu dia, bapak kira pengarangnya teman bapak dulu. Si Sihab itu lo bu? Sihabuddin. Tukang ojek di depan. Makanya bapak heran, kok si Sihab bisa buat buku, bagus lagi judulnya; Logika Agama. Bapak penasaran jadi bapak beli buku itu, eh ternyata si Sihab ini orang Sulawesi Selatan. Bapak ketipu”
“Ya…bapak-bapak, makanya kalau beli-bali itu tanya-tanya dulu”
Titin mengeluarkan lagi barang yang ada di dalamnya
“wah bapak beli baju…bagus ya”
“nah bu, kalau baju itu. Bapak yakin nggak ketipu. Soalnya murah cuman lima belas dua puluh ribu”
“tapi seperti ibu kenal dengan baju seperti ini…oh ya pak! Baju ini mirip bajunya. Siapa itu, salah satu warga di desa Luhur. Ah ibu lupa namanya. Tadi berapa belinya”
“Dua puluh ribu…”
“wah bapak ketipu lagi, dulu dia beli dua cuman tiga puluh ribu. Jadi satunya lima belas ribu. Wah bapak ini kaya orang kaya aja, beli nggak ditawar-tawar”
“ya sudahlah bu…jangan dikeluarin lagi. Bapak jadi malu, bapak datang ke kota ternyata jadi bahan tipuan, emang orang kota penipu semua”
“kalau sendal ini…”
“itu juga sama bu…bapak ketipu! Waktu itu bapak mau jum’atan di mesjid Mujahidin. Mesjid besar bu. Bapak beli sendal itu harganya murah cuman lima belas ribu. Tanpa pikir panjang, langsung beli saja. Eh ternyata…tak jauh dari situ malah lebih murah bu, sepuluh ribu ditambah dengan sol. Bapak ketipu lagi. Bapak kapok ke kota lagi”

* * *

Pagi itu Rohman bangun tidur, buru-buru dia pergi ke wc. Karena kebiasaanya kalau bangun tidur langsung pengen buang air besar. Mules, katanya. Hal ini wajar saja, karena kondisi desa Luhur ini terhitung dingin. Rohman melesat seperti peluru masuk ke wc. Tak lama kemudian Rohman keluar lagi, berdiri kebingungan di depan pintu wc seperti ada yang tertinggal dalam pikirannya. Masuk lagi. Keluar lagi. Tambah bingung, dahinya mengkerut seperti mengingat-ngingat sesuatu. Tapi apa? Rohman sendiri tidak tahu. Akhirnya masuk lagi. Dan keluar lagi.

Kini dia sedang duduk di depan teras merenung, memikirkan hal yang terjadi di pagi hari. Lalu ia bertanya kepada istrinya “bu…kalau ibu di wc, suka ngapain aja”
“ah bapak ini ada-ada saja, kok nanya yang gituan sih”
“betul bu, ya dijawab dong. Ibu kalau di wc ngapain saja?”
“ya…banyak pak. Nyuci baju, nyuci piring. Mandi. Kencing. Buang air besar… Dan yang lainya”
“oh ya bu…kalau mau mengeluarkan kotoran. Namanya buang air basar ya bu”
“ih bapak datang dari kota jadi sinting ya. Ya iyalah..emangnya kenapa?”
“bu kalau buang air besar itu, kaya gimana sih caranya”
“udahlah pak! Ibu banyak kerjaan. Jangan kaya orang bego gitu. Bapak itu sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi yang belum bisa buang air besar. Jangan nanya yang aneh-anehlah”
“ih…bu tapi ini benar…”
“ibu mau pergi ke pasar pak, buat beli masakan untuk makan siang nanti. Udah jangan nanya yang aneh-aneh”
Titin pergi, Rohman ditinggal. Rohman mondar-mandir di rumah sendirian, bingung memikirkan bagaimana caranya buang air besar. Sementara perutnya ingin mengeluarkan sesuatu, tapi Rohman lupa bagaimana caranya. “Aduh…kaya gimana ya. Masa lupa. Coba diingat-ingat” Rohman bergumam. Dia pergi lagi ke wc, melihat-lihat siapa tahu ada inspirasi, tapi nihil! Rohman mencoba buka celana, tapi tetap tak ingat.

Pintu diketuk. Rohman bersegera datang dan membuka pintu.
“eh pak…Tono ” nama aslinya Muhammad Antonio Iksan, tapi lebih sering disebut dengan nama Tono. Bapak Tono adalah sekretaris bapak Rusman, Rt desa Luhur. “tumben, ada keperluan apa nih pak tono. Masuk…silahkan duduk”
“gini pak, saya mau mengantarkan undangan buat pertemuan. Nanti malam. Katanya ada kegiatan Rt”
“kegiatan apa, kok nggak biasanya ada acara”
“ya biasalah, masa jabatan pak Rusman kan sebentar lagi. Jadi dia mau memaksimalkan kegiatan yang belum terlaksana. Kali ini ada ada diskusi; bedah skripsi pak Taufik dan pak Rusman sendiri. Tulisan dulu masa mereka S I, untuk pembandingnya pak riyadi dan pak bambang dari Desa Pusat ”
“oh ya…saya pasti datang”
“itu saja, saya pamit dulu pak Rohman, masih banyak undangan yang belum tersebar…”
“kalau nggak keberatan saya mau ngobol sebentar. Ini penting. Soal hidup dan mati” mendengar perkataan ini pak Tono kaget dan langsung duduk kembali.
“ada apa pak Rohman?” tanyanya penasaran.
“gini…lo pak, saya mau tanya persoalan yang sangat sederhana. Namun penting, pak tono jangan kaget ya…?” pak tono mendekati pak Rohman sebab suaranya makin mengencil seakan-akan sangat rahasia, seperti agen rahasia saling memberitahu kode rahasia. “Iya ada apa?”bisik pa tono.
“Saya cuma ingin tanya bagaimana caranya buang air besar?”

…………………..

“pak Rohman, saya pamit dulu. Ditunggu kehadirannya nanti malam”
“tapi pak, pak Tono belum menjawab pertanyaan saya”
“pak Rohman, bapak berumur lebih dari dua puluh tahun. Dalam keadaan bapak sekarang ini, mustahillah bapak lupa bagaimana caranya buang air besar. Bapak sudah melewati beberapa fase dalam perkembangan. Malahan bapak sekarang sudah menikah, melakukan hubungan seksual saja yang tidak belajar bapak bisa melakukannya. Apalagi ini, aktivitas yang tidak memerlukan partner. Kita ini, sekarang hidup di zaman modern, peradaban maju. Orang sudah bisa memprediksi kematian. Sangat tidak masuk akal, kalau bapak tidak tahu caranya”
Pak tono pamit keluar. Pak Rohman tersentak dengan perkataan yang baru diucapkan oleh pak tono. Dia memaki dalam hatinya. Iya memang saya akui kita hidup di zaman modern. Orang sudah bisa pergi ke bulan. Teknologi makin canggih, tapi…tapi toh memang saya benar-benar lupa bagaimana cara melakukannya. Kenapa saya harus bohong. Seperti yang tidak pernah mengalami lupa saja. Kalau lupa hal yang manusiawi, maka bisa saja kalau saya lupa mengenai buang air besar. Setiap orang pernah lupa, lupa membawa pulpen, lupa membawa uang, lupa membawa sepatu, lupa membawa cangkul, maka tak ubahnya dengan lupa-lupa itu. Sekarang aku lupa bagaimana caranya buang air besar. Dasar orang sok berpendidikan.
Pak Rohman tidak tenang, perasaannya mulai tidak enak. Ada aktivitas yang seharusnya dilakukan tapi ternyata tidak dilakukan; buang air besar. Dia keluar. Menenangkan pikiran, berharap itu hanya mimpi saja. Dia bertemu dengan mas Sastro Aziz Dahlan.
“mas Sastro, mau pergi kemana?”
“oh nggak, cuma cari angin”
Mereka berdua duduk di pekarangan. Berteduh di bawah pohon rindang. “mas sastro, saya mau tanya. Mungkin mas satsro bisa menanggapinya dengan arif. Apakah hal yang wajar kalau manusia lupa”
“tentu saja pak Rohman, manusia ‘kan tempatnya lupa. Tidak ada manusia yang sempurna. Nabi juga pernah lupa. Maka ditegur oleh Allah. Memangnya kenapa menanyakan hal seperti itu”
“kalau begitu masalahnya saya tenang. Gini lo mas, tapi saya takut mempermainkan bapak dengan pertanyaan saya”
“ah itu ‘kan perkiraan bapak, coba aja dulu. Mungkin saya bisa merespon permasalahan pak Rohman”
“sebenarnya sederhana, tadi pagi biasanya saya buang air besar. Tapi ternyata tidak, karena saya lupa bagaimana cara buang air besar. Saya sudah coba mengingat-ngingatnya, tapi nihil. Seratus persen saya lupa. Saya bertanya kepada pak Tono katanya tidak masuk akal kalau saya lupa mengenai cara buang air besar, karena saya sudah dewasa. Katanya lagi, hubungan seksual saja yang tidak memerlukan partner kita bisa, apalagi ini buang air besar, benar-benar tak masuk diakal. Tapi setiap orang ‘kan bisa lupa, misalnya lupa membawa pulpen ke sekolah, lupa membawa cangkul ke sawah…nabi juga pernah lupa, bukan? Kenapa ketika saya lupa cara membuang air besar malah tidak diterima. Itu tidak adilkan pak?”
“Wah kalau begitu permasalahanya, memang tak lazim. Gini saya luruskan dulu, pak Rohman jangan membawa-bawa nabi dalam urusan ini. Kalau lupa membawa pulpen, cangkul, dompet, kantong itu hal yang wajar sebab…”
“sebab kenapa?” pak Rohman memotong
“sebab…ya sebab orang-orang pernah mengalaminya”
“oh jadi, kalau orang-orang banyak mengalaminya maka disebut hal yang wajar. Hal yang benar dan semua orang memakluminya dan tidak disebut sinting, edan. Tetapi ketika sedikit orang yang mengalaminya itu disebutkan tidak wajar, tidak lazim dan tidak benar, maka orangnya disebut edan, sinting, goblok! Kenapa mesti begitu, apakah tidak mungkin untuk lupa cara buang air besar. Apakah itu hal yang tidak masuk akal?
“ya…gini lo pak Rohman. Kalau orang lupa bawa pulpen, bawa cangkul, bawa dompet itu hal yang wajar karena mungkin cangkul, pulpen. Itu adalah barang yang ada di luar kita”
“maksudnya apa?”
“maksudnya itu barang fisik, sekarang saya tanya kepada pak Rohman; bagaimana kalau orang-orang lupa apa itu keadilan, kebahagiaan, kesedihan, cinta dan perasaan abstrak lainya. Lalu, bagaimana kalau orang-orang lupa; bagaimana caranya tidur, makan, minum, berdiri, duduk. Parahnya lagi, bagaimana kalau orang-orang lupa bahwa mereka adalah orang bukan binatang?Coba pak Rohman bayangkan apa yang terjadi?”
“ya…kalau orang lupa tentang keadilan, mungkin mereka akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, mereka akan merampas harta milik rakyat, mereka akan korupsi. Seperti bapak SU itu. Kalau orang lupa bagaimana caranya tidur orang tidak akan tidur, berarti malam hari mereka akan berkeliaran. Kalau orang lupa bahwa mereka orang, mereka akan berperilaku seperti binatang. Tidak punya malu. Mungkin mereka tidak pakai baju, anggota badan mereka kemana-mana. Karena tidak punya rasa malu. Wah kasihan juga ya mas …nanti mereka bisa masuk angin”
“betul bukan…?”
“iya juga mas sastro, tapi bukan berarti hal itu tidak bisa terjadi ‘kan? Bukan berarti hal itu tidak masuk akal? Bukan berarti, orang tidak akan lupa mengenai keadilan, lupa tentang kebahagiaan, lupa tidur, lupa cara makan, lupa cara buang air besar. Dan lupa bahwa mereka orang bukan binatang. Betul bukan? ”
“Iya juga…sih, tapi…”
Tiba-tiba ada suara di belakang yang menyapa, “maaf pak Rohman menggangu…bisa bicara sama mas Sastro nya sebentar” tanya ibu Endah.
“oh…maaf bu Endah kirain siapa, silahkan. Mas Sastro saya pamit dulu…oh ya nanti datang ke rumah pak RT katanya ada diskusi” pak Rohman pergi sementara pak Sastro masih terpikirkan mengenai percakapan tadi.
“benar juga ya…”
“benar apanya mas, benar kalau kita mau nikah minggu depan…?
“wah kamu ngawur aja…”
“habis benar apanya…?
“ah nggak…”

* * *

Malam itu sebagian warga desa Luhur sudah berkumpul; bapak Ruman, pak Tono, ustadz Sonjaya, pak Taufik, Jang Ghafur, Pak Yuki Agustin, Pak Iqbal, Jang Abdul, Jang Toni, Ibu Imas, Ibu Siti, Ibu Muzdalifah. Mereka bercengkrama masing-masing. Pak Rusman bertanya kepada yang datang membuka pembicaraan “kalau pak Budi Hamid, kemana ya…? Sudah jarang kelihatan di desa ini”. Ustadz sonjaya menjawab “kalau nggak salah, dia masih sibuk mengurus….apa gitu, di desa Irama”.
“Oh…kalau pak Kurniawan, masih di desa Irama?”
“katanya dia akan datang malam ini”
Tak kunjung lama, pak Kurniawan datang. “itu dia orang yang dibicarakan…” timpal pak Tono. Kemudian pak Rusman bertanya kepada pak tono “gimana pak ton, apakah undangan untuk RT desa Irama sudah sampai”
“sudah pak, katanya pak Purnomo Sidik akan datang malam ini”

* * *

Acara diskusi usai. Mas Sastro mendekati pak Rusman ” pak Rusman…bisa bicara sebentar…”. Tegur mas sastro “oh ya…ada apa, mas? Sepertinya ada masalah yang serius?”
“…kalau dibilang serius sih tidak juga, tapi cukup membingungkan. Bapak tahu bapak Rohman Hendraiana”
“Rohman yang sering tertipu kalau membeli, Rohman yang…”
“ya itu dia, persis pak, Rohman hendraiana, suaminya bu Titin itu. Dia tidak datang bukan? Pada acara barusan.”
“oh…benar. Memangnya ada masalah apa”
“pada tadi pagi, kami tak sengaja ngobrol. Dia menanyakan tentang perihal lupa. Kemudian saya jawab sebisanya. Buntutnya dia menyatakan bahwa ia lupa mengenai cara buang air besar”
“hah….! Apa saya tidak salah dengar…!?! Mana ada orang yang lupa cara buang air besar. Tidak masuk akal!! Mas Sastro jangan bicara yang aneh-aneh”

“dengarin dulu pak, memang awalnya saya menganggapnya demikian tetapi ternyata memang itu terjadi pak. Jelasnya begini; pertama-tama saya terangin bahwa lupa cara buang air besar itu hal yang sama sekali mustahil, tetapi dia malah berkata, bukan berarti hal yang mustahil itu tidak bakalan terjadi. Hal itu masuk akal juga sih pak, misalnya saja zaman dahulu belum terpikirkan berbicara dengan orang jauh. Tetapi setelah ditemukan telepon semuanya menjadi serba mudah. Dahulu orang pergi ke bulan dianggap cerita ghaib tapi sekarang kebuktian to pak?”

“ya itu ‘kan masalah teknologi, nggak bisa disamain dengan orang yang lupa buang air besar. Kalau mahasiswa bilang jangan digeneralisir”

“nggak kok pak, gini saya sebutkan lagi misal yang paling parah, contoh yang paling mustahil terjadi kepada bapak Rohman; misalnya bagaimana kalau orang lupa bahwa dia ‘orang’, lupa tentang keadilan, tentang kebahagiaan. Dia malah menjawab; kalau orang lupa bahwa dia orang ya…mungkin nggak punya malu. Terus kalau orang lupa tentang keadilan dia akan mengambil hak orang lain; korupsi. Kalau kita lihat keadaan sekarang hal itu sudah terjadi, orang-orang sudah nggak punya rasa malu lagi, dengan berani mereka berpose bugil, pakai baju tapi telanjang. Para birokrat dengan enak mengambil hak milik orang lain. Bukankah itu terjadi sekarang. Coba bapak pikir…”

“iya juga…ya. Tapi…permasalahnya apa memang benar ada orang lupa cara buang air besar.”
“saya kira bapak sebagai seorang pemimpin desa Luhur ini harus cepat mengambil keputusan segera sebelum terlambat. Hal ini bisa mengganggu stabilitas warga lain”
“iya saya pikir-pikir dulu…”

* * *

Hari berganti, jam berdetak. Satu persatu warga mulai mengetahui tentang keberadaan Rohman Hendraiana yang lupa cara buang air besar. Rohman yang sudah tidak kuat menahan rasa bingungnya, kadang-kadang berteriak seperti orang gila. Kadang lari-lari, makan sambal sebanyak-banyaknya, makan cabe yang ditanam para warga, makan buah yang masih mentah dan makan apa saja, berharap bisa mengingatkanya cara buang air besar. Bukannya berhasil, Rohman malah muntah-muntah tak karuan dan pingsan.

Kejadian ini terdengar sampai telinga Pak Rusman. Lantas, pak Rusman menghubungi pak tono sekretarisnya untuk mengadakan musyawarah dadakan berhubung banyak juga warga yang memprotes keberadaan pak Rohman yang dianggap setengah edan.

“apakah tidak belebihan pak? Saya kira masalah ini bisa selesai dengan waktu”
“ya…tapi cepat atau lambat tergantung kita yang menentukan. Yang penting undang seluruh warga…”

………………

Sidang dimulai. Pak Rusman berbicara

“selamat malam bapak-bapak dan ibu-ibu. Sekiranya bapak dan ibu sudah memaklumi kenapa diadakannya pertemuan ini. Salah seorang kerabat dan warga desa luhur mengalami hal yang sangat aneh. Pak Rohman hendraiana lupa cara buang air besar, hal ini berimbas kepada kondisi psikologisnya. Dia terguncang dan terancam stress. Memang, secara akal sehat penyakit lupa seperti ini baru terjadi di desa luhur ini dan baru kita dengar. Kita mengetahui orang yang lupa ingatan tetapi tidak sampai lupa cara buang air besar. Saya minta warga memberikan pendapat dan solusinya mengenai kasus ini”. Pak taufik angkat bicara ” saya kira kita telusuri kenapa pak Rohman bisa lupa buang air besar ini”

“tapi hal itu akan membutuhkan waktu yang lama sekali” sanggah bu imas
“betul kita membutuhkan solusi yang praktis dan cepat untuk mengatasi masalah ini” bu siti menguatkan
“apakah ada kaitannya dengan datangnya pak Rohman dari kota?” tanya pak Yuki
“saya kira bisa saja, tetapi masa iya sekarang ada virus lupa buang air besar” pak Tono menimpali
“kalaupun iya, mungkin virus itu bukan berupa fisik tetapi seperti hipnotis…” tambah pak Iqbal
“maksudnya bagaimana? Mana mungkin di kota ada yang menghipnotis pak Rohman supaya lupa buang air besar. Apa untunggnya? ” bu Mudzdalifah keheranan.
“bagaimana mas sastro, ada pendapat lain?”
“gini saja bagaimana kalau…ini saran saya saja. Bagaimana kalau kita coba gunakan tenaga psikiater, alasannya bisa saja kelupaannya itu dikarenakan sebab psikis yang terganggu sehingga menghentikan beberapa saraf dan membuat ia lupa. Singkatnya ada ketegangan saraf yang membuat ia tergoncang.”
“bagus… ide yang bagus. Brilian!!!” gumam jang Ghafur.
“bagus, tapi bagaimana kalau pak Rohman tersinggung dengan saran itu. Otomatis, kita telah mengganggap pak Rohman gila, bukan?” sergah pak tono
“iya, kita jangan malah membuatnya makin tersiksa, kita mesti mempertimbangkan perasaannya juga” timbang bu mudzdalifah
“bagaimana mas satro?” tanya pak Rusman
“saya yang atur semua itu, saya jamin rencana ini berhasil”

Semua warga menganggukkan kepala, pak Rusman mengambil kesimpulan mereka setuju. Sidang selesai keputusan didapat. Pak Rohman mesti berkonsultasi ke psikiater.

* * *

Pagi itu. Pak Rohman sudah berada di lapang tidak memakai baju. Berlari-lari, istrinya bu titin sudah kewalahan mengawasinya. Mas sastro mendekatinya “pak Rohman, bagaimana kabarnya?”
“Baik, ada mas. Mas sastro pasti menganggap saya sudah gila. Tapi apa daya mas, saya sudah bingung dengan keadaan ini. Saya merasa ada yang tidak lengkap dalam diri saya”
“saya memaklumi keadaan pak Rohman, saya juga memberi pengertian terhadap para warga yang bertanya kepada saya. Tapi kalau saya terus menjawab pertanyaan itu, saya kira tidak menyelesaikan masalahnya. Hemat saya, pak Rohman lah yang mesti menyelesaikan masalah ini”
“bagaimana caranya mas”
“entahlah mungkin pak Rohman mempunyai saran?”
“mas sastro ini bagaimana, saya yang bingung malah meminta saran dari saya.”
“saya mau memberi saran, tapi takut pak Rohman tersinggung…”
“memang sarannya apa…?”
“saya mengusulkan pak Rohman berkonsultasi ke psikiater terdekat…”
“jadi menurut mas sastro saya ini gila…!”
“bukan begitu…tapi alangkah lebih baiknya kalau kekesalan pak Rohman di luapkan pada tempat yang tepat. Ini demi kebaikan pak Rohman juga”
“baiklah saya akan mempertimbangkan usul itu”

* * *

Situasi desa mulai bisa seperti biasa, aman dan tenteram sebab pak Rohman mulai disibukkan konsultasi kepada psikiater. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hingga pada satu hari ketika garam mulai asin, gula masih manis. Dan kopi tak enak kalau tidak pakai gula, begitupun sayur tidak akan sedap kalau tidak pakai asin.
“sial…! Sudah tiga kali berjanji, dia tidak pernah datang” maki pak Rohman. “kenapa lo pak? Kok marah-marah kaya begitu” tanya bu titin

“coba bayangin sama ibu…pak Deden sudah janji tiga kali sama bapak tapi dia tidak pernah datang?”
“pak deden siapa? Bapak tukang konsultasi itu bukan…?”

“iya si tukang pskiater….!!! Bapak datang ke sana bukan terbang bu…?!?Pakai ongkos, meluangkan waktu buat bekerja dan mengorbankan hal yang lain… dasar orang tak tahu diri. Biarin bapak nggak jadi konsultasi saja. Malas!!”

“terserah bapak sajalah…yang jelas kita bisa hidup tenteram dan bapak nggak uring-uringan”

Pak Rohman mulai keluar rumah lagi, seperti biasa lagi. Dia lari-lari, makan yang aneh-aneh tapi anehnya lagi dia jarang sakit sekalipun sudah seminggu dia tidak buang air besar. Aneh bukan? Tapi begitulah keadaannya. Saat ini dia sedang menyantap rujak…mas sastro menyapanya dari kejauhan. “pak Rohman…bagaimana kabarnya..?”

“baik…seperti biasa mas…”
“bagaimana konsultasinya berjalan lancar? Sudah ada kemajuan..?”
“Kemajuan apa, orang yang diajak konsultasinya nggak pernah datang”
“jadi sekarang bagaimana…”
“Ya, seperti biasa. Berusaha sendiri untuk mengingat cara buang air besar. Orang lain tidak bisa diandalin!”
Mas satro berpikir sejenak. “pak Rohman sekarang ada acara nggak…?”
“memangnya ada apa…?”
“kalau nggak mari ikut saya, mungkin ada yang bisa kita kerjakan untuk mengobati penyakit lupa pak Rohman”

Pak Rohman membayar segera rujak yang dimakannya. “mari mas…!” sahut pak Rohman semangat. Mereka berdua tiba di tepi wc umum yang di dekatnya ada sungai. Kebiasaan di kampung sungai adalah tempat alternatif buat buang hajat ketika emrgency

“sekarang mau apa…”tanya pak Rohman keheranan

“lihat mas sastro ada janda muda. Wuih mantap abis !!! Wah mau apa dia ya…! Lihat mas dia buka celana, eh malah jongkok. Ngapain dia…? Ih…kok keluar sesuatu yang aneh…dan menjijikan, bau lagi. Cantik-cantik kok ngeluarin yang kaya gituan. Buang hajat kok di tempat umum?” jelas pak Rohman tapi di akhir dia berteriak girang ” oh ya mas…! Saya sudah ingat…! Ingat! Caranya buang air besar! Makasih mas saya pulang dulu”

“mau kemana pak?”
“Mau pulang, mau buang air besar takut lupa lagi”jawab pak Rohman

……………………….

Esok harinya, bapak-bapak yang ada di desa luhur berkumpul di depan rumah mas sastro. Mas sastro kaget dan bertanya kepada bapak RT yang dari sejak tadi sudah menunggunya

“ada apa nih pak Rusman? Kok bapak-bapak jadi berkumpul disini?”

“gini lo…mas mereka mendengar berita dari pak Rohman yang sudah sembuh itu. Dan esok harinya mereka satu persatu mendadak lupa. Lupanya macam-macam dan aneh-aneh; ada yang lupa buang air besar, lupa makan, lupa minum, lupa sama istrinya…bahkan sampai ada yang lupa bagaimana caranya berhubungan intim”
…………………………

“apa..?!?!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s