Pengin Nikah

Menurutku, menikah adalah sebagian dari kesempurnaan hidup. Meskipun orang sudah memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah tetapi tidak menikah maka hidupnya belum sempurna (apalagi berkah)

Dengan menikah lelaki bisa mendapatkan kedamaian tentang kegelisahannya dari seorang istri begitu juga sebaliknya perempuan bisa mendapatkan sandaran kekuatan tentang ketakutannya dari seorang suami. Inilah makna dari saling melengkapi. Menikah ibarat menyatukan dua bangunan kehidupan sekaligus dalam satu atap.

Namun, nampaknya, menikah di zaman sekarang bukanlah perkara yang gampang. Sulit kiranya sekarang mencari mertua yang merelakan anaknya hanya dengan mas kawin hapalan ayat Al Qur’an.

“paling tidak kita harus menyiapkan uang dua puluh juta agar tenang” ungkap temanku, Miftahuddin, sudah berumur tiga puluh tahun belum juga siap menikah.

“masa kang? Semahal itu, ” tanyaku heran.

“coba hitung saja sendiri? Sekarang harga emas berapa satu gram-nya?” tanya dia. Serta merta aku menggeleng tidak tahu.

“oke, taruhlah seratus dua puluh ribu” jawabnya melanjutkan “kalau kita mau memberi mas kawin enam gram berarti sudah tujuh ratus dua puluh ribu. Tetapi masa memberi mas kawin enam gram?”

“ya, mungkin bisa saja kang?” jawabku. Dahulu juga pada zaman nabi ada yang menikah maharnya cuma dengan cincin besi, sandal, pikirku. Kalau kepepet, masa sekarang tidak bisa.

“kasihan sama perempuannya” kang Miftah akhirnya mengeluarkan pendapat “mahar itu bukan hanya sekedar syarat tetapi penghargaan. Pernghargaan kepada pihak perempuan. Sepuluh gram saja” dia memutuskan dengan tegas.

“Kali seratus dua puluh ribu jadi satu juta dua ratus. Itu baru buat mas kawin. Sekarang buat keperluan perempuan belanja ini-itu kita anggarkan satu juta lebih, berarti habis dua juta. Belum lagi kita memberi kepada keluarga perempuan untuk menyiapkan pesta pernikahan, buat walimah”

“’kan biasanya biaya walimah-an ditanggung oleh pihak perempuan?” sergahku, aku tahu itu karena waktu kakak perempuanku menikah, pihak lelaki seolah-olah tidak ingin tahu apa-apa mengenai biaya walimah.

“iya, tapi masa kita tidak membantu. Biasanya dibagi dua atau pihak lelaki ngasih berapa saja buat membantu, misalnya buat walimah kita anggarkan sepuluh juta—perhitungannya buat sewa gedung plus catering—berarti habis dua belas juta. Belum lagi biaya rombongan keluarga saya kesana, taruh-lah dua juta lebih. Habis empat juta, kita genapkan lima belas juta”.

“yang lima juta lagi?” selidikku layaknya seorang akuntan keuangan yang jeli dan teliti.

“itu buat anggaran dana tak terduga, buat simpanan kalau terjadi apa-apa”

“wah, kalau anggarannya semahal itu, kapan bisa nikahnya kang?”

“ya itu dia, mengapa saya masih mempertimbangkan buat menikah. Target saya, dua tahun lagi. Paling tidak saya bisa bereskan dulu hutang yang ada di bank, supaya nanti kalau mau minjam lagi bisa besar.”

“kan ada gaji?” tanyaku lanjut. Sebab dia adalah seorang penyuluh agama, singkatnya dia adalah seorang pegawai negeri sipil—sebuah profesi yang menjadi impian sebagian besar masyarakat Indonesia.

“gaji saya tinggal dua ratus ribu lagi Rip, dipotong buat membayar angsuran pinjaman kemarin buat beli motor. Angsuran saya habis dua tahun lagi. Jadi dua tahun ke depan saya bisa minjam ke bank buat biaya pernikahan”

“ya, baguslah kalau begitu. Saya mendukung jangan seperti Pak Maman” pak Maman salah seorang temannya yang juga belum menikah

“Berapa sih umur pak Maman sekarang kang?”

“empat puluh” aku pura-pura menahan henyak. Aku kira hanya ada dalam cerita sinetron saja, kalau ada orang yang sudah empat puluh tahun belum menikah.

“kalau pak Maman, selalu memilih-milih calon istrinya” kalau kulihat kang Miftah juga sama, selalu rewel soal calon istrinya; terlalu ketinggian-lah, logat Majalengkanya terlalu medok, atau dan alasan lain yang semacam. Tapi kusimpan pendapat pribadiku ini takut-takut malah menyinggung perasaannya.

“maksudnya” tanyaku minta penjelasan

“kalau pak Maman, melihat fisik. Maunya yang cantik, tinggi, putih… pokoknya ideal. Bayangkan sudah berapa banyak perempuan yang ia tolak”

“kenapa kang?”

“tidak cocoklah, apalah… pipilih pak Maman mah” aku hanya mengangguk. Kalau empat puluh tahun belum menikah, calon saja belum punya apa jadinya.

Dalam perhitunganku baik pak Maman maupun kang Miftah sesungguhnya sudah tepat waktunya untuk menikah bahkan mesti didesak. Dilihat dari kesiapan materi, kedua-duanya sudah siap. Dua-duanya sudah bekerja—menjadi PNS lagi—siapa orang tua yang tidak akan menerima calon menantunya yang bekerja sebagai PNS. Mengingat lowongan kerja yang semakin sempit dan sulit, mengingat untuk jadi pegawai negeri sipil mesti menyogok berjuta-juta maka (haqqul yaqin) aku jamin semua pasti menerima.

“dua puluh juta itu belum tempat tinggal Rip” masih belum beres, seterusnya kang Miftah membeberkan keperluan dalam pernikahan. “masa kita mau tinggal di rumah mertua?” tanya kang Miftah kepadaku. Ya, bisa aja kang kalau kita belum mampu, pikirku. Tapi belum juga kuutarakan pendapatku itu, kang Miftah sudah menyediakan alasan lain.

“setinggal dengan mertua banyak masalah. Lebih baik kita mandiri tapi perumahan sekarang mahal-mahal. Paling tidak saya harus menyiapkan uang dua puluh juta lagi buat uang muka perumahan, itu belum ditambah beli perabotannya. Setidaknya cukuplah saya menyediakan uang dua puluh juta lagi”
Pikiranku mulai amburadul, jebol dengan perhitungan matematis yang dikeluarkan oleh kang Miftah ini. Pantas saja dia susah untuk menikah! Batinku mendebat. Wajahku memucat. Hatiku menghujat. Ukuran pegawai negeri sipil saja—yang memiliki gaji tetap dan jaminan masa tua—masih kebingungan seperti ini. Apalagi aku? Kuliah belum selesai. Pekerjaan belum dapat. Tetapi sudah kebelet pengin nikah? Apa yang mau diandalin?

Kalau benar, persiapan untuk menikah seperti yang diutarakan kang Miftah, bisa-bisa pada umur empat puluh lima tahun aku bisa melangsungkan pernikahan.

Tetapi lain ceritanya dengan temanku Iduy. Dia menikah sewaktu semester lima, istrinya masih juga kuliah semester tujuh. Dia belum mendapatkan pekerjaan yang tetap, namun Iduy berani ambil resiko dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan rezekinya.

Sempat kaget aku mendengar keyakinannya, sejauh yang aku ketahui Iduy mempunyai sifat meragu pada agamanya.

“kalau kita sedang membujang maka Dia memberikan rezekiNya juga untuk ukuran bujang, kalau sudah menikah maka Allah akan menambahkan rezekiNya kepada kita, sebab Allah tak mungkin membiarkan makhluknya”

Aku kira betul juga pikiran yang menjadi keyakinan temanku itu, sekarang dia sudah mempunyai seorang anak berumur tiga bulan. Sudah punya motor, sudah mempunyai tempat tinggal sendiri meski masih ngontrak. Dan yang terpenting, dia masih hidup.

Temanku Faizal mempunyai cerita lain. Aku kira dia yang paling tragis dari semua cerita yang kukisahkan disini. Jalan cerita asmaranya mirip yang dikisahkan dalam sinetron-sinetron. Calon istri yang menjadi pilihannya tidak disetujui oleh ayahnya. Keluarga perempuan memiliki status sosial yang biasa-biasa saja bapaknya hanya bekerja sebagai tukang jahit rumahan sementara ayahnya Faizal bekerja sebagai direktur Pertamina.

Faizal layaknya seorang aktor yang memerankan tokoh protagonis dalam sinetron nekad untuk menikahi perempuan pilihannya walaupun namanya “dicoret” dari daftar pewaris sah keluarga besarnya. Mahar yang diberikan Faizal kepada calon istrinya cuma tiga ratus ribu rupiah.

Akad pernikahannya berlangsung sangat sederhana dan mengharukan sekali. Aku ikut mengantarkannya. Celana panjang hitam yang dikenakannya sewaktu akad, kopiah, kemeja dan semua perlengkapan lainnya hasil patungan dari beberapa teman dekatnya.

Kini Faizal bersama istri pilihannya bisa hidup bahagia meski rumah yang ditempatinya masih ngontrak. Istrinya bekerja menjadi penjual peralatan kosmetik sedang Faizal masih menyelesaikan skripsinya.

Atau Tono, temanku yang satu ini, dia harus merelakan perempuan yang dipacarinya selama enam tahun menikah dengan lelaki lain dikarenakan Tono belum siap tatkala perempuannya mengajak untuk menikah.

Ternyata urusan menikah bukan perkara kesiapan materi melainkan persiapan mental yang lebih penting. Faizal dan Iduy—bertolak belakang dengan kang Miftah dan pak Maman yang memikirkan persiapan materi—nekad memberlangsungkan pernikahannya meski materi yang mereka miliki pas-pasan.

Mungkin ada benarnya, menikah atau berkeluarga adalah salah satu jembatan seseorang untuk bermasyarakat. Karena disini, baik perempuan atau lelaki dihadapkan kepada persoalan kehidupan yang nyata senyata-nyatanya bukan persoalan kehidupan yang bersifat abstrak seperti gagasan atau pikiran melainkan bagimana seseorang bisa menyikapi sesuatu dan dengan cepat bertindak.

Tetapi, menurutku, kaum lelakilah yang sesungguhnya banyak diuji dalam proses pernikahan ini, perempuan kadang hanya tinggal menunggu keputusan lelaki atau kedua orang tuanya. Dari proses pertama lelaki sudah mulai di uji. Dalam masyarakat kita, proses pengajuan lamaran bukan perempuan yang mengajukan melainkan lelaki, pihak perempuanlah yang menentukan; diterima atau ditolak.

Pertimbangan pertama kenapa lamaran lelaki diterima adalah apakah dia sudah memiliki pekerjaan bukan karena agamanya baik atau keturunannya baik. Kadang kalau agamanya bagus (saleh) tetapi belum punya pekerjaan orang tua perempuan bakal menyuruh lelaki itu untuk mencari pekerjaan dulu buat persiapan. Tetapi sebaliknya kalau lelakinya sudah mempunyai pekerjaan, tak peduli apa dia saleh atau tidak, orang tua perempuan tidak bakalan pikir panjang; terima saja.

Pikiran-pikiran seperti inilah yang selalu menggelayut dalam ruang benakku yang pada akhirnya aku harus kehilangan perempuan yang menjadi cinta pertamaku. Aku kekurangan nyali.

Walhasil, dia menikah dengan orang lain. Sampai saat sekarang aku masih membayangkan bagaimana rongga-rongga cinta yang dulunya tercipta untukku dikecup orang lelaki lain hanya karena aku kekurangan nyali.

Untunglah sekarang aku sudah mendapat penggantinya, tetapi pikiran-pikiran itu masih saja bersarang di dalam kepalaku, masih menjangkar pada karang benakku seolah tak ada niat untuk minggat.

Aku tak mau kehilangan perempuan yang kupilih untuk kedua kalinya. Tak ada cara lain kecuali aku harus menumpuk dan memupuk nyali supaya kuat. Aku pengin nikah.

Bandung Pandanwangi, 19-01-08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s