Penjilat

Kau tak akan tahu kebusukanku sampai kau mengerti kesopananku.

Pagi itu adalah pagi yang kesekian kali yang pernah datang dalam kehidupan manusia, namun sayangnya banyak yang tidak menyadarinya. Sinar matahari di buang cuma-Cuma, tapi tidak untuk wanita ini. Wanita berperawakan seperti nenek sihir, rambutnya keriting di iikat. Bajunya selalu rapih tapi anehnya sampai sekarang belum menikah, sempat dahulu ada pemuda yang mau melamarnya namun ia tolak mentah mentah dengan alasan belum siap hidup dengan orang lain.

Prinsipnya mengenai pernikahan memang sedikit kolot. Sikap seperti ini tidak bisa disalahkan karena ia dibesarkan dilingkungan yang tertutup. Ayahnya adalah seorang pegawai pos aktivitas sehari-harinya masuk kantor dan pulang tiada yang lain. Ibunya seorang penjual kue berbeda dengan suaminya, dia sangat ramah periang dan membuat pelanggan betah untuk membeli kue di tokonya. Entah kehidupan seperti apa yang menyatukan mereka berdua. Pernikahan mereka sudah lebih dari lima belas tahun, hanya mempunyai seorang anak perempuan yang sekarang ini sedang menikmati sinar matahari.

Dia bekerja di sebuah TK yang ternama, layaknya seorang guru apalagi guru TK, dia selalu bersikap manis terhadap setiap orang terutama kepada orang tua muridnya. Orang tua yang memasukan anak ke TK ini pasti menginginkan anaknya menjadi anak unggulan. Di TK ini murid sudah di berikan pelajaran bahasa asing.

Tokoh kita ini, sebenarnya sangat alergi dengan anak kecil, tapi karena ia telah menyelesaikan program Sastra Inggrisnya. Lamar sana-sini tidak ada yang menerima. Kebetulan (memang dunia ini penuh degan kebetulan-kebetulan yang tak terduga) TK ini membuka lowongan pekerjaan, maka dia mencoba melamarnya dan ternyata jodoh menyatukanya, dia diterima. Gajinya pun lebih dari cukup untuk wanita lajang.

Alasan utamanya sih supaya ia tidak terus bergantung kepada orang tuanya dan memang ternyata dia berhasil. Dia mempunyai rumah sendiri, peralatan kecantikan yang lengkap, alat-alat rumah tangga yang serba lux, pokoknya kalau sepintas lalu kita melihat dia seperti wanita karier bukan guru TK. Tapi kalau dihitung-hitung, gajinya tidak sampai dua juta, herannya dalam dompetnya itu selalu ada uang tidak kurang dari satu juta lebih, entah dari mana ia mendapatkanya?

Hari ini, seperti biasanya di pergi kerja dengan menggunakan bis, supaya irit katanya. Oh ya salah satu dari jutaan sikapnya adalah pelit. Pernah ia mau membeli sebuah barang muternya sampai berjam-jam. Inilah salah satu sikap yang dimiliki keumuman perempuan, hemat lebih jauhnya lagi pelit.

Biasanya setelah selasai mengajar ia selalu bergabung dengan orang tua murid untuk sekedar ngobrol sampai makan-makan. Pada suatu hari yang sangat penat dia berkumpul dengan orang tua murid melestarikan kebiasaannya ngobrol. Kali ini ia berbincang dengan ayahnya si murid.

“Saya minta tolong bu, anak saya ini malasnya minta ampun”

“Ah nggak tuan, anak anda ini sangat rajin, pintar, kreatif, periang, seluruh guru juga murid menyukainya”

“Kalau di rumah, anak saya ini tidak pernah mau mengerjakan sesuatu dengan sendiri, mungkin kesalahan kami juga terlalu memanjakanya”
Ketika perbincangan terus berlanjut maka anak yang dibicarakan tadi datang.

“Pa…papa..pa mau makan eskrim yang disebelah sana”

“Jangan nanti sakit perut sayang, lihat nanti dimarahin ibu guru nanti” bujuk ayahnya, tapi apa lacur anak itu malah menagis maka dengan terpaksa ayahnya menuruti kemauan anaknya. “Anak yang rajin? Hah…nyebelinnya minta ampun” kutuknya dalam hati. Ketika ia sedang sendiri ada seorang wanita setengah baya menghampirinya, dan berkata sambil menunjuk anak yang dibicarakanya tadi.

“anak yang lucu ya?” wanita membuka pembicaraan

“Iya sih lucu!?!” ucapnya ketus

“Memangnya kenapa?” Tanya wanita itu ingin tahu

“Kalau tidak kaya sudah kumarahi dia, tahu nggak nyonya anak itu kalau di kelas terkenal paling malas, rewel, mana menjengkelkan. Keturunan setan mungkin dia itu. Sudah jengkel aku menghadapinya.”

“Tapi kalau tidak salah, aku mendengarkan kau membicarakan dengan pria tadi bahwa dia itu anak rajin, baik…” tapi sebelum wanita itu menyelesaikan bicaranya.

“Tuh lihat… dia sekarang kesini mau apa lagi dia, pasti mau buat masalah lagi?” anak itu datang menghampiri mereka berdua. Dan menyapa wanita setengah baya yang ada disebelahnya “nenek…nenek sudah lama menunggu disini ”

“ Dia itu cucuku”.

“ohhh…%%.mmmm..!!?!?”

Bandung, 26 November 2005

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s