Sandiwara Menangis

Hari minggu pagi di sebuah taman yang di sesaki oleh orang-orang yang melepaskan penat selama sepekan, kulihat dari kejauhan seorang perempuan. Duduk sendirian. Kepalanya menunduk tertutup rambut, tak kulihat dengan jelas parasnya.

Perawakannya sedikit kekar dan tegar (sedikit mencurigakan untuk ukuran seorang perempuan). Kuamati sekali lagi, kalau kalau penglihatanku salah, namun akhirnya aku berkesimpulan dia memang seorang perempuan. Ya, seorang perempuan yang sedang menangis. Tangisnya seolah memuntahkan beban seluruh umat manusia di dunia. Beban yang beratap langit kelam dan beralas bumi yang rusak.

Perempuan itu menangis tersedu-sedu sebagai mukadimah kesengsaraan yang sebentar lagi akan memecah langit. Kalau kulihat dari jenis tangisnya sudah jelas deritanya sangat tragis sekali—meski aku tidak tahu derita apa yang menyapanya yang jelas aku mengira itu—sangat menyakitkan. Aku pun iba melihatnya. Seorang perempuan menangis di tengah keramaian seperti ini, sedikit aneh. Pastinya bukan suatu kesengajaan apalagi direncanakan (masa mau nangis direncanakan?).

Menangis itu, menurutku, seperti urusan makan harus segera dituntaskan, dimanapun dan kapanpun. Menangis layaknya bersin kalau tidak dikeluarkan akan menyakitkan. Menangis juga seperti kentut kalau tidak diekspresikan akan akut. Menangis adalah hal yang lumrah. Tidak perlu buat seminar, workshop atau stadium general untuk memetakan alasannya. Maka tidak aneh kalau perempuan ini menangis di tengah keramaian menafikan rasa malu, melenyapkan rasa gengsi karena penderitaan terlampau berat untuk ditanggung oleh jasadnya yang rapuh.

Menangis tak pandang bulu, kelas, jenis kelamin, ras, wilayah. Orang Negro, kulit putih, pejabat, tukang beca, atlet, binaraga semuanya berhak menagis, laki-laki boleh menangis meski sering disebut cengeng. Masa laki-laki menangis, cengeng! (dikiranya lelaki itu batu tak punya air mata? Mungkin kita lupa kalau lelaki juga manusia bukan dewa).

Kalau kita sedang dilanda gundah, kesedihan yang membara dan tak tahu solusi apa yang harus diperbuat maka, menurutku, menangislah. Karena dengan menangis seperempat penderitaan sudah terselesaikan. Menangis baik buat kesehatan. Bagi pria dan wanita.

Aku berusaha mendekati perempuan itu. Duduk disampingnya meski agak berjauhan, melihat kondisi yang aman dan waktu yang tepat untuk menanyakan; apa yang terjadi? ada yang bisa saya bantu?

Kumiringkan kepalaku untuk mengintip mukanya karena sebagiannya ditutupi sapu tangan. Namun kagetnya aku alang kepalang, ketika seksama hendak kuintip, kuamati. Seketika itu pecahlah tangisnya, bertambah besar. Seluruh pengunjung taman disekitar melihat kepadaku dengan pandangan curiga. Betapa tidak? Dengan kondisi seperti ini, mereka menyangka akulah penyebab perempuan ini menangis. Seorang perempuan menangis dan di sebelahnya ada seorang lelaki, yaitu aku. Katakan pendapatmu? Pastinya aku yang telah menyebabkan perempuan ini menangis. Ya seperti itulah anggapan segenap pengunjung taman.

Padahal aku hanya seorang yang ingin berbuat baik namun sedang bernasib buruk dan sial. Alih-alih hendak membantu malah menjadi penyebab masalah. Aku tersenyum getir menjawab pandangan pengunjung yang lewat, semoga dengan senyum aku bisa mengatakan “bukan olehku. Aku tak tahu apa-apa. Sungguh! Bahkan aku tak tahu siapa dia sebenarnya. Tolong jangan pandangi aku seperti itu. Aku orang baik-baik. Aku orang terpelajar”

Tapi pandangan mata pengunjung menjadi-jadi ketika perempuan itu menangis di pundakku. Aku kalah telak. Harus aku apakan dia. Dengan sikap yang acuh kemudian aku bersandiwara “Sudahlah Irena jangan kau pikirkan semua itu, yang terjadi-terjadilah. Sekarang lebih baik kau pandang kehidupanmu. Masa depanmu membentang seluas samudera. Setinggi langit biru diangkasa. Kau adalah ksatria perempuan yang tidak gampang terjatuh. Bakarlah pulau dibelakang dan tak ada pilihan selain menerjang segala rintangan. Teroboslah hari, maafkanlah semua kesalahan. Pasti ada hikmah dibalik semua peristiwa. Sekarang, tinggal bagaimana kau bisa mengambil serakan hikmah yang tercecer itu. Ayo hadapi dengan senyuman. Bangkit dan jalanlah” sembari kuteruskan deklamasi kuelus-elus rambutnya kuamati seluruh pandangan pengunjung berubah menjadi paras yang berbinar seakan berkata “manis sekali orang ini”.

Merasa di atas angin. Aku pun melanjutkan “kau tahukan? masih banyak impian yang ingin kau wujudkan. Dengan sedikit ketersandungan kau akan bisa bertindak dewasa, arif dan bijaksana. Meski obat selalu pahit tak apalah asal kau sembuh dari sakit” kali ini wajah pengunjung berubah menjadi simpati kepadaku. Sekarang perempuan ini mulai berhenti tangisnya dan aku pun merasa tenang ditambah bangga. Kulebarkan pandanganku kepada wajah pengunjung yang sejak dari tadi memperhatikanku. Mulutku berbicara tapi aku hanya melihat dan mengamati wajah seluruh pengunjung. Tangisannya sekarang berhenti, kudengar ia berkata dengan suara sedikit berat dan parau

“Namaku bukan Irena. Namaku Johan” pengunjung semua beringsut menahan tawa. Dan bubar meninggalkan aku sendirian.

Waria sialan!

***

Hari minggu pagi selanjutnya di sebuah taman yang berbeda. Aku sedang duduk di sebuah bangku. Memandang orang-orang yang berlalu lalang. Ada yang sedang lari-lari kecil, marathon, senam, ada yang sedang jajan, bermain dengan anak-anaknya pokoknya macam-macam.
Hari minggu adalah waktu yang tepat untuk mengosong.

Seorang perempuan duduk dekat di sampingku. Aku masih asyik menyaksikan orang-orang yang melakukan aktivitasnya masing-masing. Tiba-tiba—benar teman, hidup memang penuh dengan ketiba-tibaan—perempuan itu menangis. Tangisannya dengan cepat meledak. Namun aku masih asyik melihat orang-orang dan acuh dengan tangis perempuan di sebelahku.

Perempuan itu kemudian berdiri, tak disangka tangannya menuding ke arahku dan berkata “Kau harus tanggung jawab…” bicaranya sengit. Dengan keadaan ini aku mulai tidak asyik menyaksikan orang-orang sebab posisi kini berbalik orang-oranglah yang menontonku. Betapa tidak mengenakkan menjadi pusat perhatian.

Kepalaku digedor. Bertanggung jawab apa? Memang aku sudah melakukan apa kepadamu? Aku bingung. Tapi aku tak menjawabnya tuduhan peremupan itu dan tetap berusaha tenang.

“sudahlah jangan pura-pura tidak tahu, belaga pilon lagi, beginilah saudara-saudara…” perempuan asing ini memutari kemudian membelakangiku menghadap semua pengunjung yang mulai berdatangan berkumpul dengan kompak membentuk lingkaran. Ia terus berbicara dengan sangat berapi-api, sepintas lalu layaknya tukang obat yang mewartakan barang dagangannya “Ya saudara-saudara…berapa banyak lelaki hidung belang yang hidup di muka bumi ini. Saya beritahukan kepada seluruh perempuan yang mempunyai rasa kesucian seorang dewi. Laki-laki yang dihadapan anda-anda sekarang ini (tangannya terus menuding kearahku, persis tukang obat yang menunjukan keampuhan obatnya). Dialah hidung belang yang telah merampas keperawananku!! (hah! Sekejap aku ingin melompat tapi bagaimana? Perempuan ini telah menyihir para pengunjung taman. Kalau aku lari pasti babak belur) mungkin sebentar lagi keperawanan anda-anda semua.” para pengunjung mulai menggunjing bisik satu sama lain. Sementara aku berbisik pada diriku sendiri “mati aku”. Pengunjung nyinyir menatapku.

Sesaat kemudian meledaklah tangisnya sekali lagi. Seluruh pengunjung makin seksama memperhatikan dan bertambah banyak. Aktivitas pengunjung taman berhenti sebentar hanya untuk melihat adegan ini.

“Bagaimana aku harus menatap kehidupan ini? sementara kesucian telah dirampas. Keperawanan adalah mahkota dan harga diri seorang wanita. Saya bertanya kepada kalian semua bagaimana jika kejadian ini menimpa pada diri anda, ibu saudara, adik saudara atau kakak saudara? Apa yang anda akan lakukan?” teriaknya kemudian diiringi tangisan. Sialnya pengunjung juga ada yang menitikkan air mata.

“Apa harga yang pantas untuk membayar kesalahan ini? kebejatan ini?” ia berteriak lantang dengan suara parau dan serak. Perasaanku bertambah tidak keruan. Perempuan ini pintar juga memainkan perasaan, pikirku. Pengunjung mulai beringas.

“Ayo mengakulah di depan seluruh orang …berapa banyak korbanmu?” ia mengancamku. Tatapannya mulai nyata. Aku tak bisa berkutik. Perhatian pengunjung taman semuanya tertuju kepadaku. Aku merasa dunia akan runtuh. Aku gemetar. Tak tahu harus berbuat apa, hanya ingin berteriak; dasar perempuan gila!!

Tapi belum juga aku memutuskan untuk berteriak, ia bertambah gawat. “Lihat…sekarang?! Lihat kebenarannya? Dia malu mengakui perbuatannya. Tapi aku akan membuatnya mengaku” wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan.

Keadaan tegang. Pengunjung kian garang. Perempuan ini, sekarang apa yang akan dilakukannya. Tak kupercaya dia mengambil sebuah pistol dari tasmya. Pengunjung mulai bereaksi. Gila! Ternyata ini sudah direncanakan. Bagaimana mungkin ini akan terjadi. Pistol sungguhan. Tiba-tiba pengunjung ada yang memberanikan bersuara “Sudahlah nak…kita bisa membicarakan hal ini. Jangan sampai ada pertumpahan darah”.

Hah darah! Pikiranku mulai macam-macam. “Tidak” perempuan ini memulai deklamasinya. “Lebih baik mati seorang daripada ada korban lagi” aku tak bisa berkata-kata lagi. Perempuan ini menodongkan pistolnya kearahku. Pengunjung mulai angkat tangan. Berjauhan.

“Baiklah saya mengaku” kata-kata itu spontan keluar dari mulutku. Entah apa alasannya; menyelamatkan diri, mungkin. Aku mulai muak dengan tingkah perempuan ini. Kini giliranku mulai bersandiwara. Baik siapa yang pintar berlakon gumamku “Tapi kalau kesalahan ditebus dengan pengorbanan apalagi pembunuhan. Bukankah itu menyelesaikan masalah dengan masalah dan belum tentu menyelesaikan permasalahan. Bukankah masih banyak lagi laki laki lain yang masih hidup. Apakah sama kau akan membunuhnya. Itu bukan solusi tepat yang keluar dari seorang dewi. Mana kebijaksanaan seorang calon ibu kalau menuntaskan masalah dengan tindakan seperti ini. Jadi tidak salah lagi kalau negara kita ini bobrok karena yang mendidik anaknya dengan moral balas dendam bukan mengasihi” kulihat reaksi beberapa pengunjung sudah berubah.

“Keperawanan adalah hal yang sakral, suci bahkan darahpun tak cukup untuk membayarnya. Membunuhku adalah pekerjaan yang sia-sia. Karena kau juga akan bunuh diri berikut anak yang ada dalam perutmu, karena kamu tidak mau membesarkan anak haram. Sekarang hitung berapa nyawa yang telah kau hilangkan. Apakah setimpal dengan kesalahanku. Lebih baik mari kita awali kehidupan kita dengan harapan. Kita besarkan anak itu dengan cinta” aku sudah mendapatkan seperempat kemenanganku tinggal memolesnya dengan cantik.

Tapi diluar dugaan gadis itu mulai berontak dan menembakkan pistolnya ke udara semua terkejut. Panik. Terlebih aku. Setelah itu kulihat rombongan berbaju putih menerobos kerumunan yang sesak dari sejak tadi. Semua orang bertanya tanya. “ada apa ini”

Rombongan tadi menyuntik gadis. Dan meringkusnya. Seorang memegang kakinya. Lainnya menahan rontaannya. Beres. Gadis itu dimasukan kedalam van putih yang bertuliskan Rumah Sakit Jiwa Nusantara. Pemimpin rombongan tadi berkata kepadaku “maaf ”.

Pengunjung bubar tanpa pamit, meninggalkanku sendirian kembali melanjutkan kesibukannya masing-masing seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Pandanwangi, 15-01-08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s