Sastra Profetik Tolstoy


Sungguh, siapa tak kenal Leo Tolstoy? Bagi penggemar sastra Rusia nama Tolstoy ibarat sebutan seorang “nabi” bagi pemeluk agama. Begitu juga bagi khazanah sastra dunia nama Tolstoy dicatat dengan tinta emas terutama dengan karyanya “Perang dan Damai” dan “Anna Karenina”. Seorang penulis Rusia, salah satu novelis terbesar dunia, penulis cerita pendek yang brilian. Eksistensi Tolstoy sebagai seorang sastrawan memang tidak dapat diragukan.

Nama lengkapnya Leo Nikolavitch Tolstoy lahir di Yasnaya Polyana—di sebelah selatan Moskow—pada tanggal 28 Agustus 1828. Ia merupakan anak keempat dari pasangan Nikolay Ilych Tolstoy, seorang pensiunan letnan kolonel, dan Putri Marya Nikolayevna Volkonsky Tolstoy.

Pada usia 9 tahun kedua orang tuanya meninggal, Tolstoy kemudian dibesarkan dalam asuhan bibinya. Pada usia 16 tahun ia masuk kuliah di Universitas Krazan. Belum juga genap 2 tahun, ia keluar dari universitas itu. Kemudian ia merambah berbagai bidang kehidupan antara lain menjadi tentara di Kaukasus pada tahun 1851 dan ikut dalam perang Krim.

Pada tahun 1855 dia keluar dari ketentaraan untuk mengembangkan kemampuannya di bidang sastra di St. Petersburg. Novel pertamanya yang berbentuk autobiografi yaitu “Masa Kanak-Kanak” (1852), diikuti “Masa Remaja” (1854), dan “Masa Muda” (1856) menceritakan tentang anak seorang tuan tanah kaya yang perlahan menyadari perbedaan antara dirinya dengan teman-temannya yang berasal dari golongan petani. Melalui tiga karyanya ini, Tolstoy mulai terkenal sebagai sastrawan.

Dengan ayah seorang pensiunan letnan kolonel, sesungguhnya Tolstoy adalah seorang pewaris darah bangsawan yang berasal dari keluarga ningrat. Namun darah biru yang mengalir dalam tubuhnya—di tengah kondisi feodalisme masyarakat Rusia pada waktu itu—tidak serta merta membuat Tolstoy menjadi angkuh dan ingin dihormati, justru sebaliknya ia dikenal sebagai orang yang bersahaja dan rendah hati.

Keturunan ningrat yang cinta orang papa ini bahkan juga rela membebaskan orang yang bisa ia jadikan sapi perah demi kasihnya pada semua orang. Anehnya, para budak yang ia bebaskan itu justru tetap tinggal dengannya. Dalam ladang pertaniannya yang luas itu kemudian ia membentuk sekolah untuk anak-anak petani di daerahnya. Ketika sekolah ini akhirnya berhenti, ia lalu berkeliling ke Eropa barat.

Dari pengembaraannya itu maka terciptalah sebuah karya ‘Luzern’ (1857) yang menceritakan rasa muak, jengah dan protesnya atas peradaban barat yang memiliki kecenderungan materialisme dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya.

Tahun 1862 pada usia 34 tahun Tolstoy menikahi Sophia Andreyevna Bers, seorang gadis muda terpelajar gadis cantik dari kalangan elite Moskow yang memberinya 13 anak.

Selama awal pernikahannya ia menulis “The Cossacks” dan masterpiece-nya “Perang Dan Damai” (1863). Sementara pada tahun 1873 ia menulis “Anna Karenina”, novel yang paling dikenal oleh banyak orang, bercerita tentang tragedi kehidupan cinta seorang wanita yg terjebak antara kondisi masyarakat yang miskin dan filosofi kebangsawanannya.

Pada usia 50 tahun, Tolstoy yang sejak muda banyak bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hidup dan masyarakat sekitarnya, ditambah dengan krisis paruh baya dan depresi yang dialaminya, akhirnya menemukan jawaban dalam kekristenan.

Ia memiliki pandangan tersendiri mengenai kekristenan, ia percaya jika orang Kristen harus dapat melihat ke dalam hati dan dirinya sendiri untuk menemukan kebahagiaan diri dan bukan hanya bergantung pada gereja atau penguasa saja. Dia menentang adanya kepemilikan pribadi dan juga menganggap aristokrasi atau kebangsawanan yang sesungguhnya adalah beban bagi rakyat miskin. Dari ide-idenya ini Tolstoy akhirnya sering berseteru dengan pihak pemerintah dan gereja ortodoks di Rusia.

Dengan sebentuk “herofani” (pencerahan yang bersifat keagamaan) yang dialaminya ini, ia kemudian menjadi penyeru moralitas selain juga sebagai seorang sastrawan.

Periode “pencerahan spiritual” Tolstoy ini bermula pada awal tahun 1880. Ia menjadi perasa dan menekankan perlakuan yang adil bagi kaum miskin dan kaum pekerja. Ia sangat moralis dan asketis, menyerahkan seluruh kekayaan pribadi untuk kaum miskin dan memilih berselisih dengan istrinya, Sophia Andreyevna Tolstoy.

Ia memilih kehidupan yang sangat sederhana layaknya seorang petani menjadi vegetarian dan berpakaian tak ubahnya kaum pengembara. Ia menolak institusi gereja dan pemerintahan kemudian mulai mengembangkan agama personal. Ia menempatkan Yesus, Buddha, Muhammad dan Konfusius, sederajat dan setara.

Semua karya penting Tolstoy, dari periode akhir ini berkisar penampikannya terhadap kekuasaan, materialisme, dan kemewahan. Ia penyuara kedamaian kesederhanaan—pada sepanjang periode akhir hidupnya—dan melembagakannya dalam hidup kesehariannya.

Belakangan, karena merasa tidak bahagia dengan kehidupannya, ia menulis buku “Sebuah Pengakuan” (1879) berisi paparan yang menunjukkan sikap seorang moralis ekstrem yang mengecam segala bentuk kesenangan duniawi. Ia juga menulis cerita pendek dan artikel-artikel bercorak keagamaan. Hingga pada suatu hari, Tolstoy meninggalkan rumah, tanpa pamit kepada istri dan anak-anaknya. Beberapa hari kemudian, 7 November 1910, di usia 83 tahun ia jatuh sakit dan meninggal dunia di sebuah stasiun kereta api. Pada waktu pemakamannya, ribuan petani memadati jalan untuk mengantarnya.

(penulis adalah alumni Pesantren Filsafat Al Urwat Al Wutsqa’ Muhammadiyah Jabar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s