Semangat Idulfitri, Semangat Toleransi


GEMA takbir menggema, menyambut Hari Idulfitri yang baru kita lewati, adakah keimanan yang tidak tumbuh dari keraguan?

Berbilang Ramadan juga telah kita lalui. Rasanya baru kemarin kita mengatakan marhaban ya Ramadhan dan kini dengan berat hati kita ucapkan, “selamat berpisah ya Ramadan” atau “selamat berjumpa lagi ya Ramadan”. Bulan penuh berkah, menabur rasa damai, menjanjikan aura spiritual, mencacah rasa dengki, melumat dendam kesumat, membawa kita menyelam pada kedalaman rohani yang penuh keindahan dan kasih sayang.

Idulfitri merupakan penutup dari rangkaian ibadah puasa Ramadan yang dilakukan oleh kaum Muslimin selama satu bulan penuh. Dengan demikian, membincangkan tentang Idulfitri memang tidak akan lepas dari membicarakan tentang saum/puasa.

Melalui ibadah puasa, sesungguhnya Allah ingin mengingatkan manusia bahwa pada dasarnya manusia itu suci dan cenderung kepada kebaikan. Jika manusia mau melakukan latihan-latihan spiritual dan pengendalian diri secara berkesinambungan, akan membangkitkan kekuatan fitrahnya yang sejati sekaligus mengalahkan godaan nafsu jahat sehingga keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia akan terwujud.

Puasa sebagai metamorfosis kehidupan dan proses transformasi diri dari keadaan yang “menjijikkan” (serba negatif) kepada keadaan yang “indah memesona” (serbapositif) seperti perubahan dari ulat menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu yang indah, begitulah seharusnya dampak puasa bagi si pelaku.

Tujuan puasa adalah untuk membentuk orang-orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah 2; 183).
Akhirnya, Hari Idulfitri ibarat sebuah ritual perayaan “wisuda” dalam sebuah universitas bagi mahasiswa-mahasiswa yang telah digembleng selama satu bulan mengikuti perkuliahan spiritual dalam bulan Ramadan.

Semangat Toleransi

Setiap agama dan kepercayaan cenderung memiliki momen-momen tertentu di mana ia melakukan “penghancuran” atas dirinya. Atau kalau mau dikatakan dengan lebih halus dan santun, selalu ada saat-saat dalam pengalaman keberagamaan di mana batas-batas yang ditetapkan agama yang bersangkutan justru dilampauinya sendiri.

Momen ini, dalam istilah Victor Turner, disebut dengan momen liminalitas. Pada momen itu, agama persis berdiri pada sebuah perbatasan; ia ada “di dalam”, tetapi sekaligus “di luar” dirinya. Misalnya ritual haji, kita akan melihat sejumlah “batas-batas” yang dilanggar. Pada ritual ini orang Islam baik lelaki atau perempuan campur baur dalam Masjidilharam untuk menunaikan salat berjemaah lima waktu. Perempuan dan laki-laki juga campur aduk melaksanakan ritus thawaf, mengelilingi bangunan kubus yang bernama Kabah.

Sejatinya, setiap hari raya adalah momen liminal, saat-saat di mana batas-batas yang sering diterapkan secara ketat dalam kehidupan normal dilanggar atau malah dihancurkan. Hari raya Idulfitri atau lebih dikenal dengan sebutan Lebaran, sulit dikatakan sebagai suatu hajatan besar milik orang-orang Islam saja. Lebaran sudah menjadi peristiwa sosial yang melibatkan semua orang dari berbagai latar belakang agama. Lebaran bukan saja milik mereka yang selama sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa, tetapi juga milik mereka yang bahkan sepanjang umur tidak pernah berpuasa dan salat.

Dengan memahami momen Idulfitri sebagai momen liminalitas tampaknya –seperti halnya perayaan Idulfitri tahun kemarin– perjalanan puasa kita yang mesti dirampungkan dengan perbedaan waktu perayaannya, tidak terlalu menjadi masalah. Justru dengan perbedaan penentuan itulah mungkin Allah hendak mengajarkan kepada kita, bahwa hakikat kemanusiaan adalah satu, dengan tetap ada perbedaan yang tidak hakiki, yang perbedaan itu tidak seharusnya membawa kepada pertikaian.

Dalam suasana fitri tidaklah berarti bahwa perbedaan sesama manusia akan lenyap. Perbedaan yang tidak hakiki akan selamanya tetap ada di antara manusia.

Hasilnya, manusia humanis yang terlahir dari puasa dan merayakan Idulfitri adalah manusia yang sanggup menerima kehadiran orang atau kelompok lain yang berbeda dengan dirinya. Dia tidak memaksakan pendapat, tidak memaksakan kehendak, tidak mengklaim kelompoknya yang paling benar, sedangkan yang lain salah dan harus diluruskan.

Pendek kata, manusia humanis yang tercipta sebagai wujud nyata hasil didikan puasa adalah pada hari fitri menjadi manusia-manusia yang toleran, inklusif bukan manusia-manusia yang berdiri tegak pada eksklusivisme dan intoleransi.

Wallahualam bis showab

(di muat di harian Pikiran Rakyat, 18/10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s