Setelah Idul Fitri, Tak Ada Lagi…

Mungkin judul tulisan ini tak akan semenggelegar, semenggeleggak dan seheboh judul bukunya mas Goen “Setelah Revolusi Tak Ada Lagi”

Karena memang tulisan ini hanya sebuah refeksi. Sebatas refleksi! Maunya sih ditambah religius jadi refleksi religius tetapi dilihat-lihat lagi saya kurang lihai dalam mengutip dan menempatkan ayat al Qur’an.

Sengaja saya tidak menyertakan kutipan ayat secara langsung sebab saya tidak memiliki kompetensi dalam hal menafsir al qur’an secara akademis. Selanjutnya, adalah agar tulisan ini tidak serta merta berubah menjadi sebuah karya tafsir yang rigid, kaku dan terkesan mengutuk-ngutuk; ini halal dan itu haram! Kan jadi serem juga.

Kedua agar kita, maksudnya saya, bebas dengan liar terbang menerawang menghayati sisi kemanusiaan tanpa mesti terkekang oleh katup disiplin ketat ilmu kalam. Setidaknya dengan beberapa alasan yang saya telah sebutkan di muka tulisan ini menjadi bebas metodologi tetapi bukan berarti tanpa. Kadang memakai kacamata hitam, dan dengan mudah di tengah jalan kaca mata hitam itu dilepas untuk kemudian diganti dengan kacamata riben. Karena metodologi, teori dan konsep apapun itu namanya tidak sakral dan kikuk dalam pemakaiannya.

Sekali lagi tulisan ini hanya sebuah upaya untuk mencari yang dibalik hidup. Ok?! Mari kita mulai!

* * *

Paling tidak, yang saya ingat ketika mau memasuki bulan ramadhan adalah kolek! Ya kolek, sejenis makanan yang jarang ditemui di luar bulan ramadhan. Koleklah yang pertama saya cari! Rasanya enak, legit dengan gula merah dan berbagai macam variasi isinya kolek waluh, cau, peuyeum, cangkaleng, hui bahkan sampeu pun bisa. Rasa kolek ini sebenarnya memiliki nuansa yang sunda pisan.

Entah apakah diluar Jawa Barat ada yang namanya kolek atau tidak, entah sejak kapan dan di jaman siapa kolek menjadi makanan khas ramadhan seperti halnya ketupat untuk lebaran. Padahal sih sah-sah saja untuk membuat kolek, ketupat di luar bulan ramadhan juga. Tak ada yang melarang, tak ada keterangan syar’i yang menyatakan bahwa membuat kolek di luar bulan ramadhan haram. Tetapi kenapa?

Apa perbedaan ketupat yang dibuat pada hari lebaran dan pada hari-hari biasanya? Nggak ada yang beda! Sama-sama saja. Nah, hemat penulis, begitu juga dengan pahala disediakan oleh Allah di bulan ramadhan ini. Iya! Apakah pahala yang diberikan oleh Allah pada bulan ramadhan beda dengan yang diberikan di luar ramadhan? Secara kuantitas memang beda. Pada bulan ramadhan pahalanya dilipat gandakan. Tetapi apakah di luar bulan ramadhan pahala itu lantas hilang, dan tidak ada.

Tidak bukan? Pahala itu tetap ada. Seperti halnya kolek dan ketupat. Kolek dan ketupat bisa dibuat di luar bulan ramadhan. Pahala juga bisa didapatkan di luar bulan ramadhan. Allah tidak hanya memberikan pahalanya di bulan ramadhan an sich. Lantas soal kuantitasnya, memang secara formal ritual dalam beberapa hadits disebutkan pahala di bulan ramadhan diberikan lebih.

Tetapi, apakah memang tidak bisa membuat kolek dan ketupat yang lebih banyak lagi di luar bulan ramadhan. Apakah memang, tidak mungkin membawa pahala yang lebih banyak lagi di luar bulan ramadhan. Mungkin bukan? Dan tentu jawabannya, bisa! Bisa bukan? Tetapi kenapa? Ya … karena kita malas! Sederhana, kita maunya cari untung dengan jalan gampang.

Ya, seperti itulah kita, yang seperti dikatakan oleh Ibnu Sina. Sikap mental kita dalam beragama masih memiliki mentalitas seperti mentalitas pedagang. Yaitu, sebuah sikap yang menunjukkan bahwa motivasi melakukan sesuatu adalah demi memperoleh imbalan atau keuntungan yang menyenangkan. Atau dengan kata lain, seseorang beribadah dengan alasan untuk mendapatkan pahala di akhirat kelak.

Sehingga ketika bulan ramadhan digelar, ibarat para pembeli yang melihat toko kerajaan langit sedang mengadakan diskon dosa gede-gedean memberikan pahala sebesar-besarnya. Dengan alasan Allah bermurah hati kita getol ibadah, padahal sebelumnya dan sesudahnya Allah tetap murah hati dan pahala masih berlangsung.

Selain mentalitas pedagang, kita juga masih mengendap mentalitas yang lain yaitu mentalitas budak atau buruh. Sebuah sikap yang motivasi melakukan sesuatu itu karena takut kepada majikan. Sikap ini menunjukkan bahwa alasan seseorang beribadah adalah karena dorongan rasa takut siksa neraka. Sikap ini pada hakikatnya memperagakan sikap budak atau buruh terhadap Tuhan. Ini paling parah!

Dan celakanya, ini adalah prinsip ibadah kita selama bertahun-tahun bukan? Kita bukan melakukan ibadah tetapi kerja dengan rasa takut dan mengharapkan upah!
Adapun yang ketiga adalah mentalitas seorang arif. Sebuah sikap yang motivasi melakukan sesuatu itu karena kesadaran yang sangat akan betapa besarnya anugerah dan jasa yang telah Tuhan limpahkan kepada dirinya. Kesadaran yang sangat akan betapa bijaksananya Tuhan dalam segala ketetapan dan perbuatan-Nya. Kesadaran terhadap semua ini, mendorong seorang arif untuk beribadah dan melakukan berbagai aktivitasnya sebagai “balas jasa”; bukan karena alasan pahala surga dan bukan pula karena takut siksa neraka.

Karena kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan inilah, seorang arif yakin bahwa apa yang diperoleh dan di mana pun ia ditempatkan kelak, hal tersebut adalah yang terbaik dalam pandangan Tuhan. Seorang arif pun akan dengan sangat sadar meyakini bahwa dirinya sendirilah yang akan merasakan manfaat langsung dari ibadah yang dilakukannya dan Tuhan tidak sedikit pun memperoleh manfaat darinya. Menurut Quraish Shihab, motivasi seorang arif inilah yang terbaik.

Tidak salah dengan “seorang pedagang” yang melakukan ibadah karena alasan keuntungan/pahala di akhirat, karena Tuhan adalah Dzat Maha Pemberi. Tidak salah pula “seorang budak” yang takut neraka, karena Tuhan adalah Dzat yang harus disembah. Tapi, sangat beruntunglah “seorang arif“ yang melakukan segala sesuatu atas dasar “balas jasa” dan rasa terima kasih kepada Tuhan, meski ia sangat sadar bahwa Tuhan tidak membutuhkan semua itu. Toh, manfaat semua aktivitas yang dilakukannya akan kembali kepada dirinya. Bukankah Nabi Muhammad telah memberikan teladan terbaik dengan terus beribadah meski Tuhan telah menjamin beliau untuk masuk surga-Nya. Bukankah kita disadarkan untuk menjadikan Muhammad sebagai uswah hasanah?

* * *

“Dunia belum berakhir” begitulah lirik Shaden yang beberapa waktu dahulu sempat ngetop. Rasanya ungkapan itu tepat sekali untuk menggambarkan keadaan umat Islam kini ketika menghadapi Idul Fitri. Sebenarnya ungkapan itu sangat bagus, senada dengan dzikrul maut (mengingat mati). Menganggap dunia akan berakhir, itu kalau yang timbul adalah kesadaran transendental dengan menyiapkan segala amal shaleh untuk bekal di kehidupan nanti.

Tetapi, kalau sebaliknya yang pada kenyataannya ketika mendekati hari-hari lebaran persiapan yang di rencanakan bukanlah persiapan transendental melainkan material. Bagaimana orang-orang dengan sangat sibuk menyiapkan segala sesuatunya hanya untuk menyambut satu hari yang namanya lebaran. Baju baru, mendekor rumah dengan settingan baru. Dengan dalih merayakan kemenangan? Hah?!?! Kemenangan dari apa? Apa yang telah kita menangkan? Kalau dua hari sebelum lebaran tiba, mesjid-mesjid menjadi kosong! Apa yang mesti kita rayakan kalau mall menjadi mesjid baru dan belanja adalah ritual baru? Apa yang mesti kita rayakan? Kita merayakan kekalahan kita.

Pernahkah kita menanyakan lagi hal itu kepada diri kita. Mungkin sudah, mungkin belum atau mungkin nggak perlu lagi. Sadar tidak disadari, ternyata kita sudah terperangkap dalam pemahaman keagamaan yang sangat formalistik, sehingga semua ritual hampa dan artifisial belaka tanpa mendapatkan makna yang lebih dalam.

Ritual dipentingkan karena hal itu adalah symbol-simbol tuntutan massa yang ujungnya bukan pendakian spiritual melainkan citra bahkan menjadi komoditi. Kita sudah melupakan herofani-herofani dalam hidup keseharian.

Dalam situasi pascamodern dewasa ini, kondisi tersebut diratapi makin meradikal. Selain budaya akibat dari konsumerisme yang menggerayangi umat Islam terkhusus ketika menjelang lebaran tiba ditambah pamahaman terhadap agama yang semakin dangkal yang hanya bersaifat superficial .

Ternyata hal yang vital dalam diri kita yaitu iman terabaikan, tidak dirawat. Karena sudah dianggap beres. Iman, dalam hal ini pemahaman keagamaan, yang mengambil bentuknya dalam sikap keberagamaan sedang mengalami krisis. Keberimanan kita hanya bisa baru sampai perut! Cangkang! Bersifat fisik, padahal jauh dalam tubuh iman kita menjerit keropos! Iman kita sedang digerogoti oleh virus-virus yang tajam menyakitkan.

Emha mengatakan bahwa memang …kita sudah bangun. Kita sudah bangkit bahkan kaki kita kita sudah berlari kesana kemari. Namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum…!! Kita masih merupakan anak anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun ajaran-ajaranya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikanya. Kita membenci para pembuat dosa dengan cara setan yakni melarangnya untuk insaf dan untuk bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi usahnya untuk memperbaiki diri”.

Bagaimana caranya membangkitkan hati nurani? Bukan dengan baju baru, bukan dengan ketupat. Krisis seperti ini ditengarai oleh Ali Maksum sebagai krisis spritualitas zaman modern. Modernisme, akhirnya dirasakan membawa kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup. Abad modern di Barat, yang dimulai sejak abad XVII, merupakan awal kemenangan supremasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme dari dogmatisme agama. Kenyataan ini dapat dipahami, karena abad modern Barat dibangun atas dasar pemisahan antara ilmu pengetahuan dan filsafat dari pengaruh agama (sekularisme). Kehilangan Visi Keilahian dan Kehampaan Spiritual.

* * *

Pada hakikatnya ramadhan bukanlah hari pelaksanaan perintah agama secara massal yang dengan lantas kemudian setelah ramadhan selesai maka pelaksanaan perintahpun usai. Setelah idul fitri tak ada apa-apa lagi. Tak ada lagi artis yang mau dekat-dekat dengan anak yatim, tak ada lagi grup band yang menyenandungkan puja-puji, tak ada lagi yang mau fidyah, infaq dan shadaqah, tak ada lagi yang mau membaca al quran, tak ada lagi aktivitas religi, tak ada lagi … tak ada lagi

Kalau begini kenyataannya ramadhan yang telah kita lalui hanya sebatas EKSTASE SPIRITUALITAS PURBA! Sesajen massal yang disiapkan karena kita takut, karena kita mau menjilat untuk mendapatkan nikmat dengan cepat. Setelah ramadhan selesai kita bebas lagi mencaci maki, menghujat kembali lagi secara biadab sebagaimana kita dahulu. Tak ada perubahan! Bukankah kita selalu berteriak tentang perubahan?

Ramadhan seharusnya menjadi perkuliahan yang sangat panjang untuk menyiapkan kerja nyata pada sebelas bulan selanjutnya. Ramadhan menjadi usaha penggodoggan diri. Penggorokkan diri, melumat seluruh kebiasaan keji kita.

Akhirnya, demi menggapai keberimanan yang lebih otentik dan sublim (divine belief), simbol-simbol diskursif-linguistik (yang menjelma dalam kata, kalimat, konsep, dan seterusnya), serta kecenderungan emosional harus dicairkan dan divakumkan untuk kemudian tenggelam dalam—istilah Kierkegaard—”samudra penghayatan iman” (oceanic feeling). Samudra itu begitu sunyi mencekam dan sangat personal. Tapal batasnya adalah ketika manusia mampu mengoyak—meminjam istilah Max Weber—jejaring makna yang dia pintal sendiri.

Dengan begitu kita akan menjadi lebih baik dan baik lagi. Karena dengan Idul Fitri dunia tidak terhenti, dengan lebaran nafas tidak tertahan. Dunia belum berakhir, masih banyak agenda yang mesti kita kerjakan. Hidup masih berkelanjutan, berkelangsungan. Karena selamanya hari ini dan hari seterusnya adalah hari esok.

Ramadhan hanya menjadi jeda untuk kita menghela. Tidak hanya sebatas mantra demagogi! Tanpa bukti. Bisakah? Entahlah…

Wallahu ‘alam bish showab.

Bandung, 28 oktober 06
12:58

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s