Siapa yang bisa memegang janji-janji mereka?

Siapa yang bisa memegang janji-janji mereka?

Salah satu peluang para kandidat—cagub dan cawagub pada pilgub Jabar 2008—agar bisa menang, terletak pada momen kampanye, selain pula “aksi gerilya” kasak-kusuk para tim suksesi yang sudah jauh-jauh hari di lakukan sebelum masa kampanye berlangsung ataupun setelah masa kampanye usai.

Dalam momen kampanye inilah para kandidat, beserta rengrengan partai pendukungnya, secara sah bisa memperkenalkan visi misinya kepada publik berikut diizinkan mempengaruhi, menarik perhatian bahkan sampai “membius” hati masyarakat—misalnya, dengan membagikan sembako gratis, kaos yang bergambar kandidat tertentu, nyanyi dan joget bareng—agar memilihnya.

Sudah barang tentu aksi kampanye yang dilakukan oleh pada kandidat itu mesti dalam koridor norma dan aturan yang telah ditetapkan sebelumnya, kendati banyak disesalkan karena kampanye yang dilakukan kurang memiliki nilai edukasi politik terhadap masyarakat awam dan terkesan banal (dangkal) yang hanya berorientasi pada kemenangan sesaat.

Aksi favorit yang sering menjadi pilihan utama para kandidat adalah memberikan janji-janji kesejahteran hidup kepada masyarakat seperti bertekad akan menyelamatkan pasar tradisional, memberantas korupsi, pendidikan murah, penurunan tingkat kemiskinan dan lain sebagainya.

Tak ada yang salah dengan janji-janji kampanye yang mereka utarakan itu. Semuanya adalah kebaikan dan itikad baik untuk mewujudkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Namun persoalannya adalah, siapa yang bisa menjamin bahwa janji-janji mereka adalah benar bukan kebohongan publik semata? Siapa yang bisa memegang janji-janji mereka?

Tak ada yang bisa menjamin dan memegangnya kecuali sang penutur itu sendiri. Memang lidah tak bertulang, ucapan seseorang seperti belut yang licin, tak begitu saja bisa dipegang. Kepercayaan dan bertumpuk-tumpuk harapan yang masyarakat berikan sewaktu kampanye dan pemilihan manakala setelah terpilih bisa raib dan hilang dalam sekejap mata. Selalu saja ada alasan atas semua janji-janji kampanye yang tak urung terwujudkan, disertai permohonan maaf.

***

Bapak cagub dan cawagub yang terhormat, berikut tim suksesinya—siapapun yang akhirnya terpilih nanti, ini juga kalau bapak-bapak masih memiliki kesadaran beragama—perlu bapak-bapak ketahui bahwa mengingkari janji adalah salah satu ciri dari orang munafik dan Allah telah menyediakan tempat bagi orang munafik di kerak neraka. Tidak ada niatan saya untuk menakut-nakuti bapak, tetapi begitulah yang sering dikatakan para ustad bahwa Allah telah menyediakan tempat bagi orang-orang yang sering mengingkari janji (munafik) di kerak neraka. Saya berharap bapak-bapak tidak menjadi penghuni tempat itu.

Bapak cagub dan cawagub yang terhormat, perlu bapak-bapak ketahui masyarakat kini sudah pintar maka jangan anggap masyarakat buta politik. Mereka belajar politik dengan cara mereka sendiri, bukan dari teori-teori atau utak-atik strategi melainkan, dari teman-teman bapak terdahulu, yang telah mencalonkan diri jadi pimpinan mereka namun melacurkan janji-janjinya.

Masyarakat kini sudah banyak belajar, maka jangan aneh kalau sembako gratis, kaos gratis—dan lainnya yang serba gratis—yang bapak berikan sewaktu dulu kampanye tidak menggoyahkan hati masyarakat untuk tetap golput atau tetap teguh pada pilihannya. Kini masyarakat kecil juga “belajar mengingkari janji” karena bapak-bapak sendiri yang mengajarkan itu semua. Karena masyarakat sudah lelah, bosan, jengah bahkan muak dengan kepercayaan yang dulu diberikan malah di salah gunakan.

Bapak cagub dan cawagub yang terhormat, sungguh janji-janji yang bapak utarakan di kampanye, baik media massa atau elektronik, sangat baik (baik sekali) bagi kesejahteraan masyarakat. Tetapi lebih baik lagi kalau bapak bisa menepati janji-janji itu. Semoga bapak-bapak diberi kesadaran untuk tetap menepati janji-janji bapak itu. Sekian.

Wallahu a’lam bis showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s