Untuk Kemanusiaan; Piala Dunia atau Yogya?

Katakanlah, tema peradaban terdiri dari kemanusiaan, rasionalitas dan spiritualitas yang kalaulah, boleh, diandaikan ketiga tema tersebut sekaligus tonggak utuh untuk membangun sebuah peradaban.
Ketiga point tadi mestilah terkait-kelindankan satu sama lain bukan terkotak-kotak selayak labirin yang mempunyai lorong masing-masing dan tak terhubung yang meski mempunyai kaitan tetapi tidak memiliki sinergisitas satu sama lain.

Rasionalitas berarti penggunaan daya nalar, akal sehat. Rasionalitas ini mencari bentuknya dalam ruang-ruang publik yang diisi dengan, intelectual discourse. Kultur ilmiah yang tiada lain tak bukan adalah sebuah proses berteori. Teoritisasi menjadi suatu keniscayaan, dengan maksud menafsir berbagai fenomena, peristiwa dan macam ragam kejadian sosial, politik dan budaya sejauh kemungkinan berdasarkan penelitian ilmiah yang telah disepakati bersama. Baik secara intelektual maupun akademik

Intelektual dimaksudkan dengan sebuah riset yang disepakati secara umum, sedangkan akademik diartikan penelitian disepakati oleh para ahli di berbagai bidangnya. Hal ini menjadikan kemampuan akademik dan intelektual memiliki kualitas serta tanggung jawab moral dan sosial. Tanggung jawab sosial lebih erat dengan intensitas intelektual seseorang, sementara tanggung jawab moral lebih kuat dengan proporsionalitas seorang akademik pada bidangnya.

Dari arus besar rasionalitas ini terpancar ruang publik yang kemudian dibekukan dalam sebuah lembaga. Misalnya ketika proses pembelajaran (pemberian pengetahuan/pendidikan) memasuki sebuah sistem yang terorganisir dan terstruktur berdasarkan rukun-rukun administratif yang diakui secara konsensus (konvensi) dan mendapatkan legitimasi dari pihak pemerintahan yang terkait maka terbentuklah lembaga pendidikan, dan begitu pula lembaga-lembaga lainnya.

Sebagaimana tema-tema besar lainnya, tema pemberitaan pun mendapatkan ruang publiknya secara tersendiri, maka muncullah media massa; koran, majalah, jurnal, televisi, radio dan lainnya. Mendasarkan pada pandangan asumtif diatas maka segogyanya ruang publik, yang membekukan dirinya dalam media massa sebagai perwakilan dari rasionalitas, berpihak kepada kemanusiaan. Atau secara singkat, rasionalitas mesti mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan, rasionalitas harus dinafasi dengan semangat kemanusiaan. Oleh karena itu tulisan, sementara, ini akan mengkonsentrasikan kepada metamorfosa rasionalitas dalam bentuk media massa untuk mengkritisi kemanusiaan terkait dengan bencana alam di Indonesia.

Terkait dengan berbagai bencana alam yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini, dari bencana besar Tsunami yang menimpa di Aceh hingga sekarang gempa bumi di Yogyakarta-Jawa Tengah. Dan seperti biasa, bisa ditebak. Tanpa komando serentak seluruh media massa dipenuhi dengan berita tersebut, seakan-akan ada kesepakatan massal diantara “pemilik” media massa bahwa tema untuk sekarang adalah bencana alam. Mulai dari kronologis cerita, pemberitaan asal usul bencana yang berbau klenik sampai tinjauan demografis berdasarkan penelitian ilmiah mulai ditunjukkan.

Seluruh elemen masyarakat menggeliat. Mahasiswa tergerak idealismenya, kemudian turun ke jalan-jalan meminta sumbangan. Pemerintah menimbang-nimbang apakah Yogya akan dimasukkan ke dalam jajaran bencana nasional. Tak ketinggalan juga para artis “bertamasya” ke Yogya untuk hanya sekedar menengok atau paling tidak, supaya tidak di cap nggak peduli kemanusiaan. Singkatnya, secara ekstrim dapat dikatakan, mulai dari artis sampai mahasiswa menjadi “pengemis” untuk Yogya. Berjuang mati-matian meminta sumbangan, mengadakan konser amal dan sederet “agenda kemanusiaan” lainnya. Satu kata; untuk kemanusiaan.

Hal ini tidaklah keliru apalagi salah karena memang seharusnya demikian. Seorang wartawan berita mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang relevan dan informatif buat pembacanya. Menyuguhkannya lewat berita. Seorang penggiat seni menghayati kemanusian dengan sublimasi lewat karya seni entah itu lagu, lukisan dan lainnya. Presiden mem(p)erhatikan rakyatnya dengan membuat kebijakkan-kebijakkan. Mahasiswa yang terlanjur dikutuk menjadi agen perubah sosial, secara otomatis menjadi avant garde untuk soal kemanusiaan dan idealitas. Semuanya;untuk kemanusiaan.

Lantas pertanyaannya, apakah dengan membuat berita mengenai bencana alam, pelanggaran HAM dan berbagai fenomena kemanusiaan lainnya sudah membuktikan bahwa media massa memang berpihak kepada kemanusiaan? Apakah dengan mengadakan konser amal sudah membuktikan bahwa para artis peduli kemanusiaan? Apakah dengan turun ke jalan meminta sumbangan sudah membuat mahasiswa menjadi penggetol kemanusiaan? Apakah dengan menjadikan Yogya sebagai bencana nasional sudah membuktikan bahwa pemerintah memang peduli akan kemanusiaan. Secara kasat mata, ya. Tetapi kalau kita telisik lebih lanjut maka jawabannya ragu, untuk menghindari penyebutan kata tidak.

Pertanyaannya, sekali lagi; apakah memang kita, benar-benar peduli akan kemanusiaan? Ternyata media massa mempunyai logikanya sendiri yaitu keuntungan. Coba kita perhatikan setelah beberapa minggu atau beberapa hari setelahnya. Berita gempa Yogyakarta-Jawa Tengah tadinya sekolom penuh bahkan menjadi headline utama di setiap majalah, koran dan berita televisi makin hari makin berkurang berubah diganti dengan berita semarak piala dunia yang sebentar lagi akan membahana.

Ternyata artis mempunyai logikanya sendiri yaitu ketenaran. Aksi, yang katanya, untuk kemanusiaan hanya mencuri kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya memang artis yang humanis, peduli kemanusiaan. Hal ini tentunya akan berimbas kepada job yang akan didapatkannya. Namanya akan semakin melambung. Citranya akan semakin baik dan ujung-ujungnya dia akan mendapatkan penghasilan yang banyak lebih besar ketimbang uang yang disumbangkannya dahulu.

Ternyata, organisasi-pergerakan, mahasiswa mempunyai logika sendiri yaitu gengsi. Organisasi mahasiswa berebut melakukan aksi kemanusiaan, siapa yang lebih dahulu maka dia akan mendapatkan gengsi, yang setelahnya hanya ikut-ikutan menandakan tidak sigap, cekat yang anehnya hal ini secara sporadis digeneralisir menunjukkan kualitas organisasinya.

Ternyata, pemerintah mempunyai logikanya sendiri yaitu kekuasaan, dengan menjadikannya bencana nasional maka secara tidak langsung pemerintah sangat memperhatikan rakyatnya. Langgenglah kekuasaan tanpa kecurigaan, sekaligus bisa mengalihkan perhatian dari pejabat yang korupsi. Atau malah, bisa jadi setiap even sengaja dibuat untuk proses pengalih-perhatian dari rakyat supaya tidak kelihatan bejat-busuknya pemerintah. Dan untuk kasus sekarang, ini paling tidak “bencana alam” tidak sengaja dibuat oleh pemerintah untuk mengalihkan perhatian. Tetapi hal ini bisa saja terjadi dengan sengaja “dibuat” supaya beralih perhatiannya, dengan cara apa; media massa.

Dengan tidak bermaksud menggeneralisir, ternyata aksi kemanusiaan, yang telah penulis paparkan dia atas, hanya sekedar latah. Kemanusiaan yang latah . Apa jadinya kalau kemanusiaan hanya dijadikan komoditi dan bahan perlatahan. Apakah bisa membangun peradaban dengan sikap mental seperti ini. Kalau dibiarkan jangan-jangan kita akan memiliki peradaban yang latah, generasi latah pula.

Oleh karena itu, pembahasan mengenai media massa menjadi penting sebagai sarana untuk memahami realitas sosial yang berkembang sekarang dan bagaimana sikap masyarakat terhadapnya. Karena mau tidak mau, sadar tidak disadari sikap mental masyarakat sangat terpengaruh oleh media. Media massa, dalam hal ini bisa berbentuk koran, majalah, radio, televisi dan lainnya. Orang berkata zaman sekarang adalah zaman informasi, kejadian di berbagai belahan dunia dengan hitungan persekian detik dapat segera diketahui melalui internet segalanya nampak mudah dengan duduk kita bisa mengetahui keadaan di Jerman, Turki dan belahan dunia lainnya.

Dalam hal pengandaian yang dikemukakan penulis di atas, meminjam istilah R. Kristiawan bahwa media massa merupakan kadang kala menjadi ‘alat penguasa untuk menciptakan reproduksi ketaatan’. Media massa dengan gampang bisa membuat kebohongan publik. Celakanya, tidak sedikit masyarakat percaya kepada “kebenaran” itu

Media massa sejatinya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari masyarakat. Bagi Marcinkowski, fungsi media massa adalah memungkinkan pengamatan diri masyarakat (Marcinkowski 1993). Fungsi media massa pada dasarnya bukan ‘merekonstruksikan realitas sosial’, sebagaimana ditulis oleh Ana Nadhya Abrar (Abrar 1997). Dengan kata lain, media massa merupakan cermin kebaikan dan keburukan masyarakat, bukan mencerminkan (dalam arti meng-copy) keadaan masyarakat. Jadi siapa yang terpengaruh media oleh masyarakat atau sebaliknya.

Melihat fungsi media massa adalah cerminan masyarakat maka mau tidak mau kita mesti menengok keadaan masyarakat indonesia pada umumnya terlebih dahulu. Sebab media massa adalah bagian dari masyarakat dan memperjelas siapa yang terpengaruh sebenarnya.

Kita sudah maklum seharusnya, yakni ketika masyarakat indonesia mau tidak mau memasuki satu fase apa yang disebut dengan masyarakat industri. Sebagaimana diketahui masyarakat industri adalah masyarakat yang terbentuk berkat kerjasama yang signifikan antara wacana kapitalisme dan teknologisme. Imbas yang lebih jauh dari kekuatan dua wacana tersebut yaitu memaksa kondisi massif (massifikasi budaya)

Menurut Sapardi Djoko Damono, massifikasi budaya ini salah satunya mengakibatkan, kemampuan memproduksi suatu pola berbudaya secara besar-besaran yang hanya berdasarkan perhitungan keuntungan bisnis belaka. Pengaruh lanjutannya adalah menciptakan masyarakat yang pasif, sangat mudah dipengaruhi dan diraksuki teknik godaan dan bujukkan konsumptif.

Menurut Kuntowijoyo, keadaan ini mengakibatkan terjadinya alienasi, masyarakat yang terasing dari kenyataan hidup dengan begitu juga kehilangan dirinya sendiri dan larut dalam kenyataan yang ditawarkan produk budaya massa.

Maka dapat diambil kesimpulan, berdasarkan pandangan asumtif diatas, media massa di Indonesia akan terus-terusan latah (latah biasanya adalah pengulangan tingkah laku atau kata saat terkejut atau dikejutkan) Nah, sekarang latah tidak menyerang dan menjalar manusia saja, tetapi diidap media massa. Medianya latah maka memunculkan masyarakat yang latah atau juga sebaliknya, masyarakat yang latah membuat media maka medianya ikut-iktutan latah.

Latah ini adalah suatu “keharusan alamiah” dari logika budaya massa yaitu bisnis. Even yang sedang aktual sekarang apa, maka itulah yang akan akan diangkat karena kalau tidak akan mempengaruhi omset penjualan, perusahaan akan bangkrut sebab kepentingannya adalah keuntungan.

Mengikuti Hannah Arendt, dalam kelatahan ini, secepat kilat semuanya hilang berganti dengan yang baru. Hal inilah yang disebut oleh dengan “budaya sembako” pasalnya kebutuhan untuk menyaksikan berita dan tayangan-tayangan tak ubahnya dengan usaha mendesak untuk memenuhi barang-barang konsumsi lain. Sekali pakai sekali telan lalu hilang. Setelah itu konsumen akan membutukannya lagi yang lain. Dan juga instan.

Retakkan bumi, rintihan penduduk yang kehilangan tempat tinggalnya dan beribu tangisan mendadak hilang diganti dengan teriakkan kemenangan dan riuh rendah glamour semarak piala dunia. Di satu sisi kita tidak mungkin bisa menyalahkan media massa yang mempublis even piala dunia di tengah krisis, alam maupun moral, yang berkecamuk di indonesia. Sebab mana mungkin media massa tidak menyuguhkan hal yang aktual dan hangat.

Apakah kita mesti demo ke FIFA yang, tidak lihat-lihat, menyelenggarakan piala dunia sementara di negara lain, di Indonesia tepatnya di Yogyakarta, sedang mengalami bencana alam. Tapi bukankah FIFA merencanakan piala dunia jauh-jauh hari bahkan sebelum bencana alam gempa Yogya datang. Lantas kalau begini keadaannya, siapa yang menjegal siapa yang dijegal “acaranya”. Tentunya tidak, FIFA apalagi bencana alam di Yogya.

Kita tidak bisa menyalahkan semarak piala dunia, yang digembar-gemborkan oleh media karena itu juga merupakan even “kemanusiaan” yang berdarah-darah dan tidak sedikit orang yang mengalami cidera ringan atau berat bahkan sampai patah tulang.

Tetapi, apa kabarnya dengan penduduk Yogyakarta-Jawa Tengah, apa kabarnya dengan berita kemanusiaan yang lainnya. Ironinya, kalau kita mau bergurau sejenak, kabar mereka baik-baik saja, dan ternyata mereka juga sedang menikmati pertandingan piala dunia malah mereka sudah hampir melupakan bahwa mereka sedang ditimpa musibah. Jadi bantuan paling “ampuh” bukanlah donor darah, bukan makanan, bukan pakaian tetapi pertandingan langsung piala dunia.

Itulah, karena masyarakat kita sudah terkena infeksi dari virus media massa. Ketika media massa mengangkat tentang bencana alam, seluruh masyarakat ribut seakan mereka paling moralis dan humanis. Setelah “even” bencana alam basi, media pindah mencari even lain supaya tidak ditinggalkan pelanggannya. Sekarang even piala dunia, seluruh masyarakat mulai gandrung bola bahkan yang tidak suka sekalipun. Lalu kapan ada even kemanusiaan yang sebenarnya? Apakah menunggu bencana alam lagi? Karena memang kita masyarakat yang latahnya akut, maka tak ada jalan lain lagi, untuk melihat rasa kemanusiaan cara yang paling ampuh adalah dengan musibah.

Tetapi keadaan masyarakat seperti ini tidak akan terjadi. Kalaulah jurnalisme mengagungkan nilai kemanusiaan secara sebenarnya, seutuh dan sepenuhnya, maka akan ada “agenda” jelas media massa pada umumnya untuk benar-benar memperjuangkan kemanusiaan. Tidak hanya kemanusiaan yang latah. Begitu pula mesti ada kesadaran dalam diri setiap individu betapa pentingnya arti sebuah kemanusiaan. Sedikit mengingatkan, inti ajaran kemanusiaan adalah, seperti Voltaire bilang, perlakukan orang lain sebagaimana kau ingin diperlakukan.

Dalam Islam dikenal dengan ajaran “muslim yang baik adalah muslim yang bermanfaat bagi yang lainnya”. Di sini yang lahir solidaritas dan bukan lagi karitas. Antara solidaritas dengan karitas dapat dibedakan secara jelas. Sering kita menyaksikan pengamen, pengemis, dan peminta-minta yang lainnya, kemudian kita memberi mereka uang recehan sekedarnya saja. Inilah yang dinamakan karitas; memberi tidak menimbulkan solusi, tapi sekedar melunasi dari takutnya dikatakan kita orang kikir.

Sedangkan dalam solidaritas memberi berarti menimbulkan solusi. Kalau kita menolong teman dalam keadaan susah hingga susah itu hilang karena tergantikan oleh pertolongan tersebut, maka tindakan ini bukanlah karitas, tapi sepenuhnya solidaritas. Kalau karitas melihat sesama sebagai yang tidak sama dengan kita, maka solidaritas melihat orang lain sama dengan kita. Dalam karitas orang lain berarti yang lain, maka solidaritas orang lain adalah kita sendiri. Solidaritas senantiasa melahirkan logika cinta dan kasih sayang; melihat orang lain sebagaimana melihat dirinya, sementara karitas selalu menimbulkan rasa belas kasih semata; melihat orang lain sebatas pelengkap semata. Kalau karitas melihat teman lebih sebagai teman biasa, maka solidaritas melihat teman lebih sebagai teman mesra, teman dalam dirinya yang sama; mencintai dan dicintai.

Dilihat dari tonggak pertama, ternyata masyarakat indonesia belum “lulus” sebagai bangsa yang beradab. Kalau iya, mengapa masih sedikit ruang-ruang publik yang berpihak terhadap kemanusiaan. 
Wallahu ‘alam bis showab.
 
Bandung, 07 Juni 06
0:11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s