Diffa

Diffa

dee, kamu sudah tahu perihal buah khuldi
yang melempar-jauhkan adam ke bumi.

engkaukah khudi?

sekarang kau menginjak tanah
kemana lagi engkau akan tergelincir

aku lihat pohon itu rimbun
semuanya berbuah ranum
namun tidak kau
kau khuldi itu

aku petik kamu
dari pohon itu

kubawa. kuboyong. kudekap

dee,kaukah khudi?
tidak. bagiku kau haori
mereka hanya tidak mengerti

setelah kupetik. keu bertanya;
“apakah mencintai”

aku diam bergeming
aku jawab;
“hanya kau ‘kan dicintai”

pohon merasa terganggu dengan berbuahnya
dirimu. karena pohon lain bertanya
kenapa kau berbeda
sementara buah lain ; saudaramu
ada yang mengerti ada yang tidak

kau merasa terasing, terlempar, terpojok.

kegelapan awalnya kebenderangan
namun, kebenderangan tak lama muncul
maka kegelapan adalah kebenderangan

awalnya kau adalah sama
tapi kau punya aura
sehingga berbeda

tak perlu bersalah
karena darah mesti merah

buah asing
buah beda
buah itu adalah kamu

kemudian kamu menangis. balik bertanya;
aku bukanlah buahmu. aku adalah buah zaman.
tapi pohon kemudian berkata;
kamu keluar dari cabang dan tangkainya

kenapa kamu beda, khudi?

lain merah, kamu abu-abu
lain nyalang, kamu picing
lain yakin, kamu ragu
lain cinta, kamu benci
lain onta, kamu anjing

kamu sudah lagi tak kuat

sekarat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s