"ENGGAN"

“ENGGAN”
Tak ada yang lebih lucu daripada ketidak bahagiaan
Drama komedi disadur dari cerpen Anton Chekov berjudul Barang Antik dan diilhami oleh drama Samuel Beckett Menunggu Godot. Mengisahkan seseorang yang ingin membalas budi baik dengan memberikan hadiah. Namun sayangnya hadiah itu malah menjadi bencana penerimanya.

Drama ini disetting seperti longser tradisional. Memakai bahasa sehari-hari. Lebih menonjolkan perilaku natural sehari-hari, gerak, mimik, respon spontanitas dari penonton, IMPROVISASI aktor.

Untuk menambah kesan absurditas dan kritik sosial ditambahkan dengan dua godot. Godot I berlakon seperti narator, properti sebagai simbol kejujuran, ketololan manusia. Godot II melakonkan simbol permenungan, kegelisahan, kecerobohan dan kedunguan-yang bersahaja.

Para Pelaku :

  1. Dokter Takyev
  2. Sushi
  3. Pitirin
  4. Henry Gorbin
  5. Godot
  6. Godot II

Adegan I

Musik fade in. Semua aktor masuk (kecuali godot) bergaya, menari sesuai dengan musik yang sedang dimainkan. Musik fade out. Seluruh aktor keluar. Panggung kosong.

Musik fade in. Godot I (berpakaian seperti badut, tolol, menyebalkan, blo’on. Pikageluheun!) memasuki panggung. Dengan gaya yang sangat MENYEBALKAN! Godot I melihat penonton seksama. Memperhatikan satu persatu. Mata dengan mata. Tiba-tiba bibirnya mulai merekah. Tersenyum-senyum sendiri. Senyum berubah tawa. Tawa yang lebar, sangat lebar sekali…! Menyapa penonton. Mengakhiri kelucuannya sendiri. Dan mulai berkata selayak orang bijak. Dengan gerak badan yang sangat kaku, ketika berbicara selalu diselingi dengan tawa cekikikan.

Godot I : Orang datang untuk melihat. Mereka memang teramat suka memandang. hihihi…hihi Hendaknya banyak yang dijalin dengan mata. Massa hanya bisa dipaksa lewat massa. Tiap orang pada akhirnya mencari sesuatu bagi dirinya. Ringan saja dihidangkan seringan yang dipikirkan. Ehm…Kisah ini hanya akan mengingatkan bahwa dunia tidak sesempit yang kita kira. Hidup seperti jaring laba-laba, meski semrawut tapi selalu tersangkut paut.

Godot I keluar sesuai dengan gaya pertama kali dia masuk dulu…

Musik fade in. Dokter Takyev masuk berbicara ngalor ngidul tentang kedokteran, tentang kebun binatang, tentang keadaan bangsa, tentang apa saja (improvisasi) Mengajak berbicara kepada penonton. Datang Sushi menjepit bungkusan.

Dokter : menanyakan keadaan (dialog improvisasi…!)
Sushi : menerangkan maksud kedatangannya (idem…!)

[Sushi hendak membalas hutang budi dokter yang telah menyelamatkan dirinya dulu. Maka ibunya berniat memberikan hadiah yaitu sebuah patung/gambar seorang wanita telanjang, erotis, syur. Lantas dokter pertama-tama berterimakasih atas niat baik ibunya namun karena pertimbangan moral dokter menolaknya. Sushi merasa tidak enak, dengan sedikit memaksa dan menyebutkan patung/gambar adalah hasil karya seni kalau dokter menolak berarti tidak menghormati dirinya dan ibunya. Perdebatan terus berlanjut sehingga akhirnya dokter dengan bingung menerimanya. Sushi dengan girang pergi berterimakasih. Tetapi dokter terus bingung harus diapakan patung/gambar itu. Dokter berpikir keras kemudian dia ingat kepada temannya Henry seorang pengacara. Untuk membalas kebaikannya dulu yang telah membantunya. Tanpa pikir panjang lagi. Maka pergilah dokter ke rumah Henry]

Dokter keluar. Godot II masuk (sama dengan Godot I; PIKAGEULEUHEUN!) langsung berbicara kepada penonton tanpa salah, tanpa permisi.

Godot II : merespon perdebatan sushi dan dokter. Temanya antara seni dan moral. Antara paradoksal pembalasan kebaikan. Dalam merespon terserah mau ditarik ke tataran teologis, pake analisis semantik. Pokoknya pembicaraan Godot II selalu berbobot, tetapi… (improvisasi!! Ok!)

Adegan II

Musik fade in. Henry (mempunyai watak sombong, sedikit pikasebeleun tetapi pikaseurieun, rada sok tahu! Tak mau salah dan kalah) seperti adegan dokter tadi berbicara sendiri mengenai kesombongan, mengenai kepintarannya, mengenai apapun yang berbau negatif. Merespon penonton dan berbicara kepada penonton (mohon…improvisasi dalam dialognya) dokter datang.

Dokter : permisi…! (ketika sudah sampai di rumah Henry) menerangkan maksud kedatangannya. Kemudian memberikan patung/gambar.

Henry : yang memang pembawaannya sombong dan sok tahu, merespon dengan sangat berlebih. Namun ketika mengetahui patung/gambar itu diberikan kepadanya lambat laun wajah Henry mulai pucat. Dan beragumen seperti alasan yang diberikan dokter kepada sushi ketika menolak patung/gambar itu, namun dokter tak kalah pintarnya. Argumen sushi yang tadi dilancarkan kepadanya, dokter pakai buat meluluhlantakkan kesombongan Henry. Namun tiba-tiba HP Henry berbunyi. Tiiiiiiiiiiiit. Tiiiiiiiiiiit. Seketika Henry berbicara, dokter mengendap-ngendap pergi dan meninggalkan gambar/patung itu di rumahnya. [seseorang yang menghubungi Henry melewati panggung. Hanya lewat. Ketika beres berbicara, Henry kaget melihat dokter sudah pergi tetapi yang lebih mengagetkan lagi adalah patung itu ada di rumahnya. Henry bingung. Berpikir keras untuk meniadakan patung itu, tetapi bagaimana? Akhirnya Henry ingat kepada temannya Pitirin, maka henry bergegas pergi]

Godot I datang lagi-lagi dengan gerakan yang aneh! Kemudian tertawa terpingkal-pingkal tapi tawanya terpaksa berhenti karena Godot II datang dan bertanya

Godot II :fik! Ari Godot the saha? (Tanpa ekspresi)

Godot I :terheran-heran. Planga-plengo ekspresi memprihatinkan

Godot II :(melanjutkan pertanyaan. Menyalahkan sutradara. Meracau sendirian. Kemudian merespon kejadian Henry dan Dokter. Tema kemunafikan. Kepongahan untuk menutupi kepentingan. Alasan normatif untuk melaksanakan kepentingan)

Adegan III

Seseorang bemain gitar. Bernyanyi. Godot I datang. Wajah bingung murung. Duduk di sudut. Pemain gitar berhenti menatap Godot I. Mendekati, menyapa kemudian bertanya

Pemain gitar : mas menunggu siapa?
Godot I : menunggu godot. Memangnya kenapa?
Pemain gitar : oh kalau begitu sama…
Godot I : memang dia sudah janji kepadamu?
Pemain gitar : oh tidak…tapi kata orang sih biasanya dia sering lewat kesini …
Godot I : kalau begitu, baiklah… kita sama-sama menunggu. Boleh minta lagu…?
Pemain gitar : lagu apa…?
Godot I : Peterpan bareng chrisye; menunggu
Pemain gitar : oh…Chrisye nya lagi nggak ada. Sudah habis. Bagaimana kalau Peterpan doang…
Godot : yang mana…?
Pemain gitar : tak bisakah. Ok?!

Berdua menyanyi. Hatiku bimbang/Namun tetap pikirkanmu/Selalu/Selalu dalam hatiku/ kumelangkah sejauh apapun itu/Selalu kau di dalam hatiku/Ku berjalan/berjalan memutar waktu/Berharap temukan sisa hatimu/Mengertilah kuingin engkau begitu/mengerti/Tak bisakah kau menungguku/hingga nanti tetap menunggu/tak bisakah kau menuntunku/menemani dalam hidupku/Ku berjalan berjalan memutar waktu/ nyanyian mereka terhenti manakala Godot II datang, serta merta dia berkata

Godot II : ah…onyon. Nte Godot II teh! Bieu ana nanyakeun ka sutradara.

Pemain gitar dan Godot I saling memandang keheranan. Bertanya pada diri mereka sendiri apakah dia yang ditunggu. Apakah dia itu godot? Mereka berdua hanya saling memandang, belum mereka bereaksi. Seseorang sudah datang sembari kebingungan. Dia itu Pitirin. Pitirin membawa bungkusan. Pitirin mondar-mandir. Sementara itu Godot II sudah keluar dari panggung. Pitirin berbicara pada dirinya sendiri.

Pitirin : dialog kebingungan seperti dokter dan henry menerima patung itu. (dialog improvisasi).

Godot I dan pemain gitar dengan seksama memerhatikan Pitirin. Siapa tahu ia juga Godot. Lama mereka berdua memerhatikan Pitirin. Akhirnya pemain gitar memberanikan diri mendekati kemudian bertanya, tetapi di tahan oleh Godot I pemain gitar melepaskan Godot I memaksakan untuk bertanya.

Pemain gitar : pak…bapak kelihatannya sedang kebingungan ? (Pitirin dengan angkuh berusaha menoleh) bapak juga sedang menunggu dia ya?
Pitirin : diam, Godot! (mendengar jawaban itu Godot I pontang panting tunggang langgang terbirit birit lari keluar panggung)

Tiba-tiba Godot II datang sambil mengejek, dia menunjuk kepada pemain gitar

Godot II : ah….ha…ha…ha…Godot..!! (kemudian keluar dari panggung. Lewat saja)
Pitirin : (kaget) siapa dia…?
Pemain gitar : godot…!
Pitirin : wah kamu ngawur…! (dia mulai berkata)
Pemain gitar : bapak sedang bingung ya…
Pitirin : ehm…sebenarnya…begini orang asing…coba kamu lihat..!(sembari menunjukkan bungkusan.
Pemain gitar : woww…maha karya…tangan siapa yang telah membuat karya seindah ini. Pasti mahal tuan. Jadi letak kebingungannya?
Pitirin : aku mau menjualnya.
Pemain gitar : lho kenapa tuan?
Pitirin : pitirin menjelaskan. Alasan yang sama dengan dokter dan henry.
Pemain gitar : oh kalau begitu saya punya kenalan. Seorang wanita tua pembeli dan penjual barang seni. Madam dukhayev namanya. Mari saya antarkan tuan.

Pemain gitar dan pitirin bergegas pergi. Keluar panggung.

Adegan IV

Dokter takyev sedang santai membaca buku, ketika sekonyong-konyong masuk dengan tergopoh-gopoh sushi. Ia tersenyum matanya berbinar-binar seluruh kehadirannya mewakili kebahagiannya. Tangannya membawa sesuatu.

Sushi : dokter! (dengan terengah-engah) saya begitu gembira! Dokter tak akan percaya betapa dokter beruntung. Kebetulan kami menemukan pasangan bagi patung/lukisan milik dokter… ibu gemetar, terharu menemukannya. Ada seseorang yang menjual kepada ibu. Ini adalah keberuntungan bagi dokter!

Dan sushi dengan penuh rasa syukur meletakkan patung/lukisan di muka dokter. Mulut dokter melongo, ia mencoba mengatakan sesuatu namun tak sepatah kata lagi yang keluar dari mulutnya. Ia tak bisa ngomong apa-apa

Bandung, 05 juli 2006
23;10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s