GUMPALAN

Ada beberapa hal yang mengganjal dalam hati. Yang itu tidak bisa tertuang dalam puisi, cerpen, prosa apalagi artikel. Aku sendiri bingung memikirkannya; apa?
Sebab biasanya ganjalan hati berbanding lurus dengan perasaan dan media yang paling ampuh untuk menyampaikan perasaan bagiku adalah tulisan. Kuambil sastra sebagai tulisan yang bisa menyampaikan perasaan. Tulisan ilmiah mempunyai aturan ketat dengan menghindari subjektivitas rasa. Objektivitas adalah suatu keniscayaan, meski kita semua tahu bahwa objektivitas itu sendiri adalah hasil dari subjektivitas, dengan dalil bahwa apa sih yang objektif di dunia ini, semuanya subjektif!

Aku sendiri tidak tahu apa gerangan gumpalan yang terus menggelinjang dalam hati ini. Ganjalan itu tersimpan, tersekap tersimpan jauh dalam labirin-labirin hati. Menggumpal, mengental seolah tak kukenal. Gumpalan ini lama kelamaan membesar seperti bola salju yang turun dari bukit merawel apa yang ada di sekitar. Berlapis-lapis. Aku menahan beban yang sangat berat sekali, beban yang mesti kupikul selayak seluruh kesedihan umat manusia berada di atas pundakku. Selayak harus meneteskan air mata semenjak zaman nabi adam sampai muhammad. Bisa dibayangkan berapa kesedihan yang harus kuteteskan, berapa banyak peristiwa pedih yang menimpa mereka, berapa kegetiran yang menyapa mereka. Mulai dari angin puting beliung yang menimpa kaum ‘Ad. Badai taufan yang menerjang kaum Tsamud, banjir bah yang meluap kaum Nuh, hujaman batu-batu api yang terlempar dari burung Ababil. 

Aku mesti tertumpahkan, mesti dan mesti! Meski dengan keterbatasan … aku sendiri tidak sanggup untuk menahannya. Dadaku terasa sesak, mencuri ketenangan batin dan ruhani. Gelisah? Ya kadang rasa ini menjangkau resah. Tapi untuk saat ini aku tak bisa mendefinisikan gelisah dengan bahasa apa; tangis, teriak serasa tak mewakili erangan. Gelisah tak terkata dan bahasakan

Gumpalan itu mulai mengerogoti terus menjalar meluncur melahap segala yang ada dalam dada. Dengan rakus masuk dalam ginjal memakan limpa menggencet lambung seakan limpung. Aku tak kuat menahan! Mual ingin muntah besar. Benar, Tuhan! Selamatkan aku dari gumpalan yang terus menyerang. Aku sendiri tidak tahu menahu apa yang ada dalam diriku, tepatnya, apa yang berkeliaran dalam tubuh sekarang.

Bingung? Ya! Aku terus binggung! Nalarku mulai tidak beroperasi dengan benar-sebenarnya. Aku tak bisa mengkorelasikan peristiwa dengan peristiwa lainnya, kemampuan untuk merunut-rentetkan dirampok oleh gumpalan itu.

Gumpalan sekarang mempunyai senjata, mulai menggorok leher, darah membuncah deras. Gelontor pertama keluar satu baskom, dua baskom … tiga baskom tetapi aku tak mati. Aku masih hidup dengan leher loncer darah mengucur. Aku sekarat, kenapa tak dibunuh saja sekalian. Jeritku. Seperti monster menakutkan aku berjalan mengerjakan tugas yang mesti kuselesaikan. Berjalan menaiki bis, memasuki warung membeli makanan ringan. Masuk wc. Sedang gumpalan, terkekeh menang, riang. Sorak tertawa kemenangan.

Dia mulai menyusun strategi untuk bisa lebih menyiksa. Gumpalan membelah dirinya dan beryawa lebih banyak. Beratus, beribu, berjuta hingga akhirnya tak berhingga … mulai melakukan aksi balas dendam memeras otakku hingga kempes sebagian. Semakin aku tak bisa memikirkan apa gumpalan itu sebenarnya. 

Aku adalah bom atom, bom waktu yang menunggu meledak. Meluluh-lantakkan. Sejurus pandang mata memandang. Jangan dekat-dekat denganku. Aku akan meledak. Meluap. Mengombak. Tolong jauhi aku! Aku berlari terhuyung-huyung, pontang-panting, tunggang langgang, lintang pukang, berhumbalang dugas dalam keseharian. Kadang terpelanting ke sudut. Terpojok terperosok! Di sudut itu akhirnya aku muntah. Darah, nanah berserta cairan busuk yang sama sekali tak kukenal keluar tanpa komando seperti pengemis memburu orang kaya. Aku meradang, menerjang. Bisa dan luka ini tak bisa kulawan sendirian! Tolong Tuhan! Aku rindukan seseorang!

Kalaulah rindu, ini sangat menyiksa, mulai menista. Tolong matikan saja rasa rindu ini dan biarkan aku melenggang seperti biasa. Sendirian. Tak ada yang terjadi. Mesti aku dibilang tak bertanggung jawab. Tak apa. Sebab rindu bukan perkara tanggung jawab melainkan rasa. Dan rasa harus dilawan dengan rasa. Tuhan aku tak bilang rasa ini cinta, tapi aku tak menghalang kalau rasa ini akan berubah menjadi cinta membuta. Aku akan menerimanya tapi tolong… Tuhan tahu, bagaimana kejadiannya kalau aku jatuh cinta. Kau sendiri yang mengatakan bahwa Kau sendiri lupa menulis kata cinta buatku, kenapa aku harus merasakan rindu dan kangen yang menggejala.

Aku merintih kesakitan, tolong hentikan saja ini!

Kau sangka aku bohong! Tidak bisakah kau lihat darah yang keluar dari hidungku. Tak dengarkah jerit yang datang dari jantungku. Aku merasa nyawa seakan meragang. Bingung. Tolong, penyelamat jiwaku selamatkan aku!!

28 juli 06

Tak seperti gumpalan pada waktu itu. Pada saat ini ada yang berbisik, lebihnya bukanlah hal yang mengusik, lebih kepada hal yang mengisik-isik hati dan sanubari. Seperti sekerat daging yang digesek-gesek oleh pisau krek…krek terus-terusan sampai keluar darah baru yang beku.


Gandrung kebimbang aku sudah memang, akan tetapi ada hal yang baru yang tak bisa buru-buru aku definisi menunggu saatnya waktu. Ada rasa bersalah meski aku telah melampaui jalan kalah. Hidup bagiku sekarang adalah selayak paradoksal yang terus menerus dalam dua jalan yang saling bertentangan. Beradu tak bisa disatukan. Beanr kata Muslim Abdurrahman, gejala spilt personality bukan hanya terjadi pada pribadi keagamaan an sich tetapi pada semua jengkal kehidupan. Pada titik ini aku mengambil kesimpulan bahwa yang kita butuhkan bukan teori ideal yang bisa mengkacamatai segala macam kasus, yang kita butuhkan metodologi yang holistik dan komprehensif. Di satu sisi hal itu perlu, akan tetapi ada yang lebih perlu yaitu kertebukaan pikiran kita terhadap segala pandangan yang berbeda. Sikap lapang dada kita dalam menghadapi realitas kehidupan yang menumpuk, tumpang tindih mana yang benar mana yang salah, mana yang asli mana yang palsu.

Sikap paradoksal inilah yang setidaknya dapat aku definisikan pada perasaanku. Seperti halnya gumpalan yang aku perbincangkan terlebih dahulu di muka. Sekarang bukanlah gumpalan lagi melainkan siksikan hati.
Pertanyaan yang dapat aku ajukan adalah; apa yang terjadi setelah JADIAN. Mari saya ungkap jelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan term “jadian” ini. Tak ada dalam kamus bahasa indonesia, tak ada dalam kamus populer, istilah ini muncul melalui konstruksi sosial. Entah sejak zaman sosial siapa dan kapan term ini mulai digunakan, paling tidak kita sekerang bisa meraba apa yang dimaksudkannya.

Term ini dilekatkan pada seorang pria dan wanita yang memegang komitmen sosial. Kenapa sosial? Karena komitmen ini hanya berkutat pada ranah psiko-sosiologis semata belum sampai pada taraf fisik. Dan kalaupun ada, kejadiannya sudah dianggap melanggar norma sosial. Kembali kepada pendefinisian, paling tidak saya mengandikannya kepada relasi yang dibangun semisal seorang teman dan seorang musuh.

Untuk mendefinisikan seorang teman kita sudah terbayang akan tetapi untuk sampai pada term yang dibicarakan ada hal-hal yang bias dan mampu membawa konflik. Komitmen jadian ini sederhananya adalah pertemanan yang lebih diintimkan, atau relasi pertemanan antara seorang lelaki dan perempuan yang diradikalkan. Radikalisasi sosial pertemanan itulah yang dinamakan dengan jadian. 

Sebab dalam jadian ada hukum-hukum, norma-norma tertentu yang membedakan satu komitmen dengan komitmen lain. Misalnya empat seorang membuat relasi jadian pada waktu bersamaan, pastinya kita akan mendapatkan dua tipe jadian dan dua tipe norma yang satu sama lain berbeda. Mengapa hal ini bisa terjadi, sebab tipe komitmen yang dibuat (baca jadian) sangat tergantung dengan kondisi psiko-sosiologis masing-masing individu.

Hal ini bisa sangat mudah jika kita hanya mau mengkacamatai dengan pandangan lurus dari psikologis atau sosiologis, akan tetapi celakanya hal itu tidak bisa digeneralisir dan dipandang simplisitas seperti itu, sebab dalam jadian ada yang dinamakan dengan rasa dan tentunya rasa tidak bisa dipandang se positivis nalar matematis pada umumnya. Karena rasa, ibarat air yang mengalir tak tentu arah tak tentu bentuk, ibarat kondisi hutan liar pada tengah malam yang tidak bisa diketahui di depan ada kelokan atau jalan yang lurus. Rasa tidak bisa mengikuti hitungan matematis di atas kertas.

Begitulah seorang intelegensia kalau sedang dilanda perasaan selalu terbawa suasana yang akan mengalami split personality. Di satu sisi dia mempunyai pandangan idealis yang mesti ditegakkan dan dipegang tetapi di sisi lain dia juga mempunyai perasaan yang kadang kala malah keluar dari pagar-pagar idealis yang ia punya, mana jalan yang harus dipilih? Rindu atau diskusi, khawatir atau eksistensi pendeknya rasa atau citra.

Dua paradoksal ini akan terus bergelut yang akan berubah menjadi gumpalan yang (terus-menerus) tak bisa tedefinisikan, terbahasakan dalam runtutan kalimat dan paragraf. Akhirnya gumpalan ini akan berubah menjadi virus yang akan terus menggerogoti kekebalan idealisme, akan menjadi rinyuh yang lamat-lamat akan melumat pagar idealisme yang sekian lama telah terbangun. 

Hal ini sangat memungkinkan terjadi, sebab satu sisi idealisme yang dipertahankan. Disisi lain pragmatisme dan lebihnya hedonisme, kepuasaan sementara yang dikejar. Kekuatan prinsip yang akan bertahan atau malah kekuatan gelora yang akan menguasai. Sebenarnya, untuk menengahi pertentangan ini ada jalan yang lebih tepat. Pilih satu dan tinggalkan yang lain. Kita gunakan prinsip identitas. Satu hitam, yang lainnya mesti putih mau tidak mau. Mesti dipaksakan. Oposisi biner, jalan syari’ah mesti dipegang. Itu jalan yang paling ideal dan paling menyelamatkan. Akan tetapi, kita bukan malaikat yang dengan gampang mempersetankan rasa. Tetapi kita juga bukan iblis yang terus terusan memikirkan nafsu libido kita sangat sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting untuk kita pertimbangkan.

Jalan kedua adalah; jalani keduanya jangan banyak mengeluh, hanya perlu memeras pikiran dan perasaan untuk membuat keduanya berjalan secara simultan dan seimbang (simultanous and balancing). Akan tetapi jalan kedua ini akan terjebak pada paradigma ganda, double standar, double mantel. Hal ini akan memaksakan kita untuk berdiri di dua wilayah yang berbeda yang secara otomatis memerlukan pertimbangan dan kebijakan yang ganda pula. Jauhnya, secara ideal, kedua prinsip yang dijalankan tidak selamanya beriringan. Otomatis ada yang dikhianati. Ada yang dipecundangi, sebaliknya ada yang disayangi. Ada yang dipercayai. Disinilah perlunya kebijakan yang bijak benar-benar. Sebab, kita masih mengingini keduanya. Lemahnya adalah, jikalau tidak bisa benar-benar mengatur manajemen keputusan maka akan jatuh ada sikap hipokrit. 

Bagi saya, tidak ada jalan pilihan ketiga, kalaupun ada maka selebihnya adalah pengembangan dari dua jalan diatas. Dua jalan diatas adalah pola dasar untuk mengambil keputusan yang ketiga. Jangan berani untuk mengambil jalan ketiga kalau tidak mengetahui, memahami kedua jalan ini.

Bagaimana, mau memilih mana idealisme atau pragmatisme atau dialog saja komunikasi saja.

Entahlah …

04 agustus ’06
21:09

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s