MENGGUGAT [lagi] yang Menggugat

-dalam rangka mengembalikan tradisi diskursus-
“Sebab nalar adalah sampar yang menular”
(te. Ditaufiqrahman; 2007)
Muqaddimah

Pada waktu dulu, makmum diperbolehkan untuk bertanya kepada khatib jum’at tentang apa yang telah disampaikannya dalam khutbah jum’at. Hal ini sangat beralasan kalau kita mau sejenak melirik apa hikmah dari khutbah jum’at ini, menurut al Jazairi, salah satu hikmah diadakannya shalat jum’at adalah kerana harus ada khutbahnya itu, kalau nggak ada khutbah? Apa bedanya dengan shalat dzuhur biasa.


Dalam khutbah jum’at khatib dianjurkan untuk memberikan dorongan untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama islam, memberikan penjelasan bagaimana tuntunannya, atau memberikan penjelasan atas problematika masyarakat pada waktu itu sebagai targib atau tarhib untuk terus menjalankan syariat islam.

Maka disitulah letak pentingnya khutbah jum’at, sebagai introspeksi formal ritual selama seminggu dalam menjalankan ibadah lebihnya sebagai forum dialog dalam rangka meningkatkan keimanan. Namun pada saat sekarang ini, tradisi seperti itu seakan-akan jarang untuk kita jumpai. Malahan kalaupun ada, kita akan merasa sangat asing untuk melihatnya bahkan tak jarang orang akan menggunjingkan dan berprasangka yang macam-macam.

Hemat saya, tradisi saling bertanya ini atau lebih khususnya tradisi diskusi, dialog, curah gagasan, lontar pendapat, lempar kritik-konstruktif sudah mulai redup (untuk menghindari kata; padam). Entah apa alasannya sehingga tradisi klasik ini mulai menghilang. Kalaupun ada, seperti yang saya ungkapkan di muka, akan kelihatan aneh.

Mungkin kita mesti merenungkan sejenak ungkapan sinis Coelho untuk hal yang satu ini, bahwa mungkin kejahatan adalah wajah lain dari kebaikan. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap jahat pada dasarnya adalah baik, bisa jadi sesuatu yang kita anggap aneh pada mulanya adalah hal yang kaprah. Contohnya tradisi jum’atan yang saya terangkan di awal, kalau pada waktu sekarang ada yang ‘nanya sewaktu jum’atan (khatib ceramah) bisa dianggap agama baru. Tetapi ironisnya, ngobrol ketika khatib menyampaikan khutbahnya sudah jelas-jelas nggak ada dari sono-nya bahkan hukumnya dengan tegas dalam hadits dikatakan tidak boleh dan bisa membatalkan ibadah shalat jum’at, malah kita kerjakan.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Entahlah, mungkin karena kita sudah terbiasa lama melihat kegelapan dan tidak menemukan keterangan (cahaya) maka lamat-lamat kita mengganggap kegelapan adalah cahaya itu sendiri. Sudah lama kita bergaul dengan kejahatan sehingga tak kenal mana kebaikan lambat laun menganggap bahwa kejahatan adalah kebaikan itu sendiri dan ketika ada kebaikan yang sebenarnya kita langsung curiga bahwa itulah kejahatan yang mesti kita perangi, yang mesti diberesi. Kita seperti orang-orang gua dalam ceritanya Plato, menjadi seperti masyarakat dalam ceritanya putu wijaya, menjadi bukan diri kita sendiri. Tetapi yang jelas satu yang mesti kita sadari bahwa perubahan ini berjalan tanpa kita sadari. 

Maka untuk memperkenalkan kembali kebaikan yang pernah dianggap jahat, atau menegaskan bahwa yang kita anggap baik adalah jahat, saya secara pribadi ingin menanggapi tulisan saudara Ridwan Faridz yang berjudul “Menggugat Budaya Bolotisme Mahasiswa” pada kersa edisi 10 bulan November 2006.

Pada mulanya adalah kelakar nalar…

Sebelum membahas tulisan saudara saya, Ridwan Faridz, terlebih dahulu saya ingin kemukakan beberapa hal penting sebagai iftitah; kenapa saya sampai tergerak untuk menanggapi tulisan saudara saya itu sekaligus untuk menepis anggapan-anggapan miring yang berbau subjektivitas-negatif.


Singkatnya, tradisi DISKURSUS kita sudah sekarat! Terus terang saja kondisi nalar diskusi kita sedang koma dan kalau tidak disembuhkan bakalan benar-benar mati! Dan untuk menerima kematian nalar jenis ini terus terang saya belum sanggup! Kembang kempis nasib, katakanlah, tradisi diskursus (baca, tulis, diskusi) ini bisa disebabkan oleh beberapa factor. Bisa jadi salah satu dari tradisi diskursus ini tidak dijalankan. Ada yang baca tapi tidak nulis, ada yang nulis namun jarang baca, eh ada juga yang rajin diskusi tapi nggak pernah baca apalagi nulis… gawat! Bisa-bisa jadi tukang obat! Karena saya nggak mau disebut tukang obat, pada demagog, kaum sophis makanya saya nulis.

Maka untuk menghidupkan kembali tradisi diskursus yang sedang mati koma ini caranya beragam bisa baca, bisa merefleksikan hasil bacaan kita, bisa mencoba “mengadukan” gagasan lewat tulisan maupun lisan dengan begitu tradisi diskursus akan terpelihara dan mengabadi sebab apatah tugas kita sebagai mahasiswa selain menjalankan dan menghidupkan tradisi diskursus ini.

Tetapi mungkin ada hal lain yang menutupi tradisi diskursus selain terhentinya salah satu aktivitas diskursus (baca, tulis, diskusi). Pada kesempatan ini saya akan memfokuskan pembicaraan kepada aktivitas ketiga yaitu diskusi. 

Diskusi, discourse, apapun itu bentuknya bisa dialog, debat, sharing pengalaman lewat tulisan maupun lisan, baik verbal ataupun non verbal kadang kala terhenti manakala seseorang tidak membaca atau kurang membaca. Sekali lagi apapun itu bentuknya aktivitas yang terkait dengan discourse membaca adalah hal yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan sebagai nyawanya tradisi diskursus. Singkatnya begini saja, kalau kita nggak pernah baca apa yang akan kita diskusikan? Kalau kita nggak baca apa yang hendak kita tulis? Kalau kepala kita kosong, yang akan dibicarakan juga omong kosong? Kalau kita saja nggak ngerti apa yang dibicarakan/ditulis apalagi orang lain? Bagaimana bisa memahamkan orang lain kalau diri sendiri saja enggak paham.

Membaca dapat diartikan beragam macam bentuknya, bisa membaca buku, membaca realitas atau memadukan keduanya membaca realitas dulu kemudian disandingkan dengan teori atau sebaliknya membaca teori dulu kemudian dilihat apakah cocok nggak dengan kenyataan saat ini. Pembacaan dialektis ini penting, supaya kebermanfaatan teori bisa dirasakan dalam hidup keseharian.

Alasan lain yang menyebabkan diskusi ini terhenti adalah karena adanya diskusi yang tidak sehat, tidak nyaman, uncomportable discourse. Ada beberapa factor yang menyebabkan diskusi ini tidak sehat salah satunya adalah karena tidak mengertinya para pastisipan terhadap aturan main dari diskusi itu sendiri, nggak paham rule of the game-nya.

Pada kesempatan kali ini saya sependapat dengan Bagus Takwin yang menyatakan bahwa dalam diskusi verbal maupun non verbal, a) manusia berhadap-hadapan sebagai pihak yang sejajar dan berdaulat sehingga komunikasi tidak menciptakan situasi subjek-subjek yang bersubordinasi satu sama lain, b) komunikasi menyediakan ruang kebebasan untuk menangkap maksud orang lain dan tidak ada pemaksaan agar satu pendapat diterima dan yang lainya disampahkan.

Maka dengan adanya tulisan ini saya tak mempunyai niat untuk menjelekkan, menyalahkan atau mau menunjukkan tulisan dan pendapat saya yang benar, baik dan bagus sebab sebagaimana yang dikatakan Richard Rorty bahwa setiap gagasan, pendapat mempunyai kemungkinan menjadi kebenaran-kebenaran kecil diantara kebenaran-kebenaran lainnya. Imam syafi’I mengatakan dalam pendapatku mungkin terdapat kebenaran tetapi bukan berarti tidak salah dan dalam pendapat orang lain mungkin terdapat kesalahan namun tidak lantas menjadi salah.

Setiap tulisan, gagasan pada mulanya adalah kelakar nalar yang nakal sebagai upacara respon terhadap realitas yang ada, namun persoalannya ketika nalar berkelakar tidak sama dengan kelakarnya si Bolot. Si Bolot berkelakar tak akan memunculkan revolusi tapi ketika Marx berkelakar maka dimungkinkan revolusi terjadi. Itulah bedanya antara nalar dengan yang bukan nalar. Maka ketika nalar berkelakar mesti penuh dan siap dengan pertimbangan dan pertanggung jawaban. Sebab nalar adalah sampar yang menular.

Mentitik bukan mengkritik.

Setelah mengemukakan genealogis tulisan ini, sudah saatnya saya mulai menukikkan pembahasan kepada tulisan saudara Ridwan Faridz. Pada dasarnya saya sangat setuju dengan asumsi dasar yang disebutkan oleh saudara Ridwan, singkatnya saya memahaminya seperti ini; bahwa dia mengkritik budaya yang menjangkiti pada diri mahasiswa yaitu budaya bolotisme.


Budaya bolotisme ini, kurang lebih diartikan oleh Ridwan, sebagai budaya mahasiswa yang “hanya akan mendengar” urusan uang, perempuan dan gaya. Budaya bolotisme ini berimplikasi kepada pemalingan perhatian eksistensial mahasiswa yang sebenarnya yaitu agent social of change. Begitulah, kalau bisa saya simpulkan isi, substansi atau esensi material dari tulisan Ridwan ini. 

Gagasan ini memang benar adanya, secara sadar tidak disadari memang kita mahasiswa sebenarnya sudah kecolongan pribadi yang mengalihkan perhatian kita dari tujuan yang sebenarnya. Namun ada beberapa yang menjadi catatan bagi saya untuk isi material sebuah tulisan.

Formal tulisan tidak perlu dibicarakan sebab setiap orang bebas menentukan gayanya masing-masing, sesuai seleranya masing-masing pula. Tak perlu dipaksakan. Tak usah diperdebatkan, karena itu menyangkut style penulisan dan saya juga tak berhak menghakimi. Tetapi untuk isi material tulisan, ini penting. Sebab itulah inti dari sebuah tulisan. Gagasannya. Dari pembahasan gagasan ini akan menyangkut bagaimana cara dia mendapatkan gagasan itu, ini lah yang saya ingin konfirmasikan lebih lanjut selain sedikit isi.

Kalau kita jeli, dalam sudut pandang feminis, tulisan Ridwan Faridz ini sangatlah bias gender. Kalau saya jadi wanita saya sudah pasti marah. Kalau saya pacarnya sudah saya putusin ketika membaca tulisannya itu (itu juga kalau pacarnya paham) untung saya bukan, dan tak ada niat untuk pacarannya dengannya. 

Apanya yang bias gender? Sangat kentara, jelas, eskplisit, clear and distinct! Baik mari kita bahas, Ridwan dalam beberapa paragraph akhir tulisannya mengatakan “… bagaimana merubah kondisi mahasiswa yang telah terjerat dalam budaya bolotisme? (baca: gaya, uang dan wanita) Jawabannya, rubahlah paradigma berfikirnya. Diakui atau tdak, mahasiswa hari ini telah terjerat dalam budaya tersebut, imbasnya pikiran mahasiswa hanya dijejali dengan uang untuk bergaya dan sibuk mencari wanita” (kersa, edisi 10 November 2006, hal 18) 

Kita pakai logika sederhana saja untuk menunjukkan bias gender ini, tesis awal Ridwan adalah; budaya bolotisme telah merusak (paradigma berpikir) mahasiswa, apakah budaya bolotisme itu? Budaya bolotisme adalah gaya, uang dan wanita. Jadi uang, gaya dan wanita merusak mahasiswa. Benarkah uang, gaya dan wanita telah merusak pikiran mahasiswa? Sebelum melanjutkan ke tesis selanjutnya saja, bias gender sudah kelihatan dengan gamblang bukan?

Kita akhirnya mesti mengakui bahwa pendidikan gender yang seharusnya gencar dilakukan adalah terhadap laki-laki bukan perempuan saja. Sebab, sama perlunya memahamkan pengertian bahwa salahnya menindas bukan kepada yang tertindas tetapi si penindas. Yang lebih mulia adalah orang yang memberi maaf, sebab dalam kondisi yang menguntungkan itu dia bisa memaafkan. Seperti halnya dalam konteks ini, lelaki yang berkesadaran gender lebih baik daripada perempuan yang memahami gender.

Ridwan mungkin mendasarkan asumsinya ini kepada pengalaman-pengalaman yang mengisahkan bahwa mahasiswa yang kalau sudah kalut dengan persoalan perempuan akan mengeruhkan bahkan “merusak”, begitu kata Ridwan, geraknya dalam menjalankan tugas sebagai agent social of change.

Hemat saya, asumsi ini kurang beralasan sebab terlalu mengeneralisir kasus-kasus yang bersifat particular, seolah-olah seluruh mahasiswa di dunia mengalaminya. Memang, ada yang mengatakan bahwa kejadian satu manusia adalah kejadian seluruh manusia. Tetapi hal itu tidak lantas mengijinkan sebuah generalisasi yang jor-joran. Hal ini tidak bisa dihukumi dengan pengandaian eksak, misalnya tembaga bila dipanaskan memuai, maka jam juga kalau dipanaskan akan memuai karena jam adalah tembaga.

Sepertinya kita sepakat bahwa mahasiswa adalah manusia bukan tembaga apalagi jam, pikiran tentang wanita bagi seorang mahasiswa mungkin akan merusak tetapi ini tidak serta merta memberi hukum yang sama bagi mahasiswa lainnya. Kendati pada kenyataanya secara kaprah bisa diterima, namun Faridz dalam tulisannya tidak memberikan penjelasan yang demikian.

Saya curiga ini adalah pengalaman pribadi yang terpaksa dibenarkan lewat rasionalisasi liar tanpa alasan. Kalau alasan yang saya ungkapkan ini benar, tak mengapa, karena hidup adalah pencarian legitimasi. Semua orang mencari legitimasi. Kita selalu mencari legitimasi atas setiap tingkah langkah laku yang akan/telah dan sedang diperbuat. Persoalannya alasannya bener nggak? Jangan hanya di bener-benerin padahal tidak bener, ‘kan repot?

Kemudian saya ingin mengkomparasikannya lagi permasalahan ini dengan pendapat Faridz yang menyebutkan “Kalau kita sudah menyadari bahwa pikiran adalah ornamen penting penggerak hidup manusia, maka untuk merubah kondisi hidup manusia jalannya adalah dengan merubah cara bepikirnya…” (kersa, edisi 10 November 2006, hal 18)

Kenapa tidak kepikiran sama Faridz ya? Sebenarnya untuk menyelamatkan mahasiswa dari budaya bolotisme yang merusak itu tinggal balik saja pola pikirnya bahwa perempuan itu tidak merusak mahasiswa dalam menjalankan aktivitasnya sebagai agent social of change, malah membantu sebagai penyemangat gerak, misalnya. Bahwa uang tidak mengeruhkan pikiran melainkan sebagai sarana pendukung, begitu pula dengan gaya. Bisa ‘kan merubah social dengan gaya? Misalnya trend baju, rambut, sepatu tinggal disisipi saja nilai-nilai luhur. 

Dari alur berpikir seperti ini, saya menemukan adanya inkonsistensi dalam gagasannya, argumentasi yang dikemukakan seyogianya mendukung kekuatan tesis, ini malah lamat-lamat meruntuhkan dan bertolak belakang dengan tesis awal.

Mungkin inkonsistensi dan generalisir ini tidak disadari oleh Faridz sendiri. Dalam Ilmu Mantiq, al Ghazali pernah mengatakan فمن طق فقد ثزندق barang siapa orang yang tidak memakai aturan-aturan mantiq (logika) dalam pembicaraannya maka dia adalah zindiq. Inkonsistensi dan generalisir adalah salah satu aturan dalam mantiq (logika).

Selanjutnya saya ingin mengulas perihal rumusan argumentasi-argumentasi yang dibangun dalam mendukung gagasannya. Faridz memulai tulisannya dengan mengutip pernyataan Dick Hebdige aku berbicara lewat pakainku. Entah apa alasannya ia mengutip itu dan menyimpannya di awal tulisan, karena dalam badan tulisan tak ada pembahasan mengenai apa yang dikutipnya dari awal.

Yang saya takutkan ini adalah salah satu eufhoria kata-kata, kita terbius ketika mendapatkan kata-kata yang sangat menonjok pikiran kita. Dan berkata “gua banget nih kalimat” Imbasnya kita selalu pengen menggunakan kata itu yang seolah menjadi tema dunia pada saat ini dan ketika ada persoalan kita selalu menyambung-nyambungkannya. Entah dengan Faridz, tetapi ini yang saya rasakan ketika mendapatkan kata-kata baru dan biasanya sih seperti itu.

Dick Hebdige mulai tersambung lagi dengan wacana yang dihembuskan oleh Yasraf kalau memang itu ide utamanya mengapa pembahasannya kurang gereget ya? Tidak mendapatkan pembahasan dengan porsi yang besar. Selanjutnya saya dibingungkan dengan beberapa repihan-repihan konsep misalnya; konsep hegemoni Gramsci, role dan statusnya (mungkin dari Parsons), unconsciuosness nya Marx, konsep masyarakatnya ali Shariati, egonya Descartes.

Hemat saya konsep-konsep yang disebutkan oleh Faridz tidak mendapatkan menjelasannya yang utuh sehingga, bagi saya, susah untuk menyambungkannya antara konsep-konsep itu, disebelah mana mau disambungkannya? Pada hal benang merah setiap konsep tidak kelihatan sehingga yang ada hanya mengaburkan dan merusak konsep yang ada.

Maka diakhir tulisan pun, Faridz mengutip sajak Wiji Thukul, hemat saya kurang pas menyimpan sajak wiji disana dengan ketakutan mencerabut makna dari sajak itu. Tetapi kalau hanya sekedar untuk mencari spirit perlawanan dan bangkit, bebas saja, namun untuk kepentingan argumentasi sajak itu tak berpengaruh apa-apa. Karena dengan ada atau tidaknya sajak itu dalam tulisan tak memberi penguatan secara argumentatif. 

Ditambah komparasi budaya bolotisme dengan tokoh bolot sebagai selebritis tidak digubris sedikitpun padahal itu adalah tema utama dari tulisan. Hal ini penting sebab budaya bolotisme adalah istilah yang baru hanya segelintir orang yang memahaminya, bahkan mungkin Faridz sendiri yang mengenalnya sedangkan orang lain tidak. Maka kebutuhan dalam penganalogian menjadi mendesak karena tidak bisa dibebaskan kepada pembaca secara liar untuk menafsir, memang sekarang zaman the death of the author tetapi apa salah toh memberikan pemahaman kepada orang lain.

Hamdalah

Akhirnya, saya curiga tulisan faridz ini belum beres dan saya harap Faridz bisa membuat tulisannya lagi yang lebih “beres” supaya bisa memberikan pencerahan kepada orang lain, terutama kepada diri sendiri. Karena mungkin itu adalah salah satu tugas mahasiswa sebagai perubah social. Jangan sampai tulisan hanya sekedar tulisan. Tidak melaku dalam kenyataan.


Contohnya kita menggugat mahasiswa yang gawennya hanya mencari uang, gaya dan wanita padahal dirinya sendiri bertingkah seperti itu. Wacana hanya sekedar gaya buat cari uang, buat cari wanita, buat cari pesona. Sebetulnya kita sedang menggugat diri kita sendiri dan itu baik kalau sadar! Celakanya, kita sering menggugat orang lain padahal yang pantas digugat adalah diri kita sendiri. Jari kita menunjuk kepada orang lain tak pernah kepada diri kita. Kapan sih kita akan nyadar? Tabik! Buat teman saya ini. 
Wallahu ‘alam bish showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s