Menulis Semisal Buang Air Besar dan Berhubungan Intim

Menulis Semisal Buang Air Besar dan Berhubungan Intim.

Diam-diam, sembari kentut (duuuuuutt, pesss) saya memulai tulisan ini.
Namun pembaca diandaikan tidak tahu bahwa saya kentut, sebab apa kepentingan pembaca untuk mengetahui aktivitas apa saja yang saya lakukan sementara aku mengetik tulisan ini? Tidak ada bukan? Bahkan tidak boleh. Haram hukumnya.

Ricoeur pernah bilang manakala penulis sedang menulis pembaca tidak hadir, begitu pula sebaliknya, ketika pembaca membaca penulis tidak hadir. Ketika pembaca hidup maka pengarang diandaikan mati sedangkan ketika pengarang hidup maka diniscayakan pembaca belum hidup. Nah lo bingung ‘kan? Tak usah bingung. Singkat logikanya begini, ketika ibu dan bapak kamu sedang melakukan hubungan intim, apakah kamu sudah ada? Belum bukan? Karena kamu sedang dalam proses pembuatan. Analoginya begitu.
Menulis sama halnya dengan melakukan hubungan intim atau buang air besar, kentut atau aktivitas lainnya yang mengandaikan tiadanya pihak ketiga, namun aktivitas itu ditujukan buatnya— memang susah, untuk memahami pernyataan saya yang barusan, mesti lulusan dari pesantren—begini dalam tradisi gramatika bahasa arab ada yang dinamakan nahwu-sharaf. Nah, dalam sharaf ada kata khusu untuk menggantikan orang ketika yang belum/tidak hadir yang disebut “huwa” (untuk laki-laki) dan “hiya” (buat perempuan). Dalam bahasa inggris juga ada “her” (buat perempuan) dan “him” (buat laki-laki)
Lalu hubungannya di sebelah mana?
Tidak ada hubungannya sebenarnya, buat gagah-gagahan saja, supaya kamu tahu bahwa saya lulusan dari pesantren, pintar gramatika bahasa arab dan inggris. Itu saja.
Mari saya lanjutkan, ini serius!
Menulis sama dengan words chemistry, praktek mistikal yang dilakukan oleh seseorang untuk menciptakan buah karya yang terdiri dari susunan kata-kata. Praktek ini bisa saja melibatkan orang ketiga—maksudnya dilakukan oleh dua orang atau lebih—atau tidak sama sekali yaitu seorang diri, itu tergantung kebiasaan seseorang dalam menulis. Kukira pernyataan yang barusan saya lontarkan masuk akal juga kalau menulis dianalogikan dengan buang air besar, adakah orang yang rela buang air besar bareng-bareng dalam satu ruangan? Sepanjang sejarah kehidupan saya selama dua puluh tiga tahun belum saya belum pernah menemukan orang yang rela “berjamaah” buat berak bareng-bareng.
Tapi hal ini mungkin saja terjadi kalau kita buang air besar di walungan atau sungai, tapi itu juga dengan akurasi jarak yang cukup berjauhan, paling tidak pisah beberapa meter. Saya tidak bisa membayangkan dua orang yang buang air besar bareng-bareng sembari merokok dan ngobrol. Mungkin obrolannya seperti ini;
“ngomong-ngomong, kamu tadi makan apa sih?”
“emangnya kenapa gitu?”
“kotoran kamu kok encer banget”
“sebentar saya lihat dulu, benar juga, kenapa ya? Padahal saya belum makan apa-apa, baru ngopi doang. Nah kalau kotoran kamu kenapa panjang-panjang begitu, emang tadi makan apa, tiang listrik ya?”
“sempbroel!! Masa makan tiang listrik, kaya tidak ada makanan lain saja?!”
“Ya, barang kali saja”
“kalau tiang listrik, kotoranku tak akan putus-putus, pasti panjang”
“mau kemana?”
“udah ah, rasanya leeegaaaa”
“bentar, tunggu dulu dong saya belum selesai nih!”
“hei! lihat sekarang kotoran kamu sudah tidak encer lagi”
“itu bukan milik saya”
[di kejauhan seseorang berteriak] “maaf, itu kotoran milik saya, numpang lewat ya?”
“lewat ya lewat saja, kotoran kok pake permisi segala?”
“bagus dong, meskipun mengeluarkan kotoran kita mesti permisi, adat dan sopan santun mesti dipakai meskipun dalam berak”
“kamu itu ngawur masa berak mesti ada tatakrama, sopan santun dan norma, berak ya berak nggak usah pake etika dan moral segala. Udah ayo segera kenakan celana dalam kamu, jam dua sudah harus segera di kantor”
“emang kita kerja dimana?”
“masa baru berak di sungai Citarum, sudah lupa bahwa kita adalah Direktur Utama Bank BRI”
“apa itu Bank BRI?
“Bank Rakyat Impian”
“lantas mengapa kita mesti buang air besar di sungai segala, kita kan Direktur?”
“entahlah si Tedi yang ngarang cerita ini, dia suruh kita berdua buat ngebuktiin bahwa ada juga orang yang buang air besar bareng”
“apa??!! Barusan kita buang air besar bareng?? Wah kacau ini!!?”
“kamu ini kenapa sih? Bertanya melulu, masa kamu tidak nyadar kita sudah berak bareng?”
“enggak”
“wadugh!!! Susah ini, jadi bagaimana ceritanya”
Begitulah teman, obrolan yang terjadi kalau dua orang berak bareng. Maka aktivitas menulis bagi sebagian orang dimestikan tidak ada orang, maksudnya sendiri. Itulah sebabnya dalam kamar mandi hanya ada satu tempat buang air besar sebab tidak mungkin orang bisa berak dengan orang lain, ada beberapa kemungkinan kalau dua orang berak bareng; pertama salah satu orang akan mengalah, mempersilahkannya untuk berak duluan dan menunggunya sampai selesai; kedua, salah satu diantara kedua orang itu akan mencari kamar mandi yang lain ketimbang untuk berak berjamaah; atau kondisi yang ketiga; kedua orang ini dipaksa oleh keadaan untuk berak bareng untuk kondisi yang seperti ini maka ada beberapa kemungkinan yang akan dilakukan oleh kedua orang ini; mereka tetap akan berak bareng, tetapi tanpa bertatap, tanpa cakap-cakap, masing-masing akan sibuk dengan dunianya sendiri.
Begitulah amsal tentang menulis, bagi beberapa gelintir orang. Menulis sendirian lebih menyamankan ketimbang menulis bareng-bareng, sebab dengan hadirnya orang lain itu menimbulkan beberapa gangguan dan konsentrasi. Di sisi lain menulis adalah aktivitas misterius yang menyertakan efek religiusitas dan spritualitas penulisnya, sehingga banyak beberapa karya tulis memiliki daya ngaruh mistis yang sangat berat, sebut saja Coelho, Ronggowarsito, De Beavoir dan lainnya. Kata orang menulis sama dengan melenyapkan diri sendiri, itu benar adanya sebab manakala proses menulis yang ada hanya huruf yang mengembang menjadi kata kemudian disusun dalam sebuah kalimat dan diruntut menjelma sebuah paragraph untuk mengartikulasikan gagasan, maka yang ada bukan diri kita melainkan gagasan itu sendiri, teks itu sendiri. We are not exist but being with text, integrated with it, we are dead and text are live.
Begitulah teman, menulis juga sama dengan berhubungan intim. Maksudnya? Begini,
Berambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s