"SENANDIKA KESALEHAN"

“SENANDIKA KESALEHAN”

Prolog

Al kisah orang Eropa datang berkunjung ke sebuah tempat terpencil di Indonesia yaitu Garut, ketika bertemu dengan penduduk Garut orang Eropa tadi merasa aneh, sebab semuanya pada pendek-pendek begitu pula orang Garut merasa aneh melihat orang Eropa yang jangkung-jangkung. Pertanyaanya; siapakah yang aneh? Orang Eropa melihat orang Garut atau sebaliknya?

Bagi orang eropa orang garutlah yang aneh, tetapi sebaliknya bagi orang garut orang eropalah yang aneh. Lantas sebenarnya siapakah yang paling aneh? Mungkin bagi orang eropa dan orang garut, sayalah yang paling aneh! Karena mempertanyakan hal yang [sepertinya] tak perlu ditanyakan.
Itulah kita! Yang menganggap bahwa semuanya sudah final, sudah usai, telah tuntas! Tetapi ketika ada orang yang menanyakannya lagi, kita kelimpungan untuk menjawabnya. Bukankah hal itu sudah beres? Tak perlu ditanyakan lagi? Iya kalau sudah beres, bisa jawab dong? Tapi nyatanya? Kita tak bisa. Ternyata jauh tersimpan dari lemari-lemari kesadaran kita, masih banyak hal yang perlu kita renungkan kembali, kita pertanyakan kembali.
Kita dengan sok jago, sok gagah telah menemukan jawaban, padahal bagi orang lain mungkin yang kita anggap jawaban adalah awal dari pertanyaan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sebab kita jarang mempertanyakan lagi pelbagai macam hal, kita sudah menganggap seluruh persoalan di dunia sudah beres. Karena kita jarang bertanya lagi, maka secara otomatis kita jarang pula menggunakan, anugerah Tuhan yang telah diberikan kepada kita yaitu, akal. Ya! Kita jarang atau bahkan tak pernah mengunakan akal pikiran kita. Singkatnya, kita sudah jarang berpikir lagi. Kenapa kita jarang berpikir lagi?
Jawabannya bisa banyak;
a) karena sudah bosan berpikir, sombong! Emang sudah mikirin apa saja? lalu kenapa mesti bosan berpikir? Bukankah manusia adalah hewan yang berpikir kalau sudah bosan berpikir maka mendingan berhenti jadi manusia sebab tugas manusia adalah berpikir kalau nggak mau berpikir lebih baik mengundurkan diri deh jadi manusia, jadi babi kek? entog, meri, ayam, pot, pohon, setan atau malaikat, pokoknya apa saja! Asal jangan jadi manusia. Karena umat manusia tak mau menerima manusia yang tak mau berpikir!
b) karena malas, kenapa mesti malas? Kalau makan saja tak malas, kenapa berpikir jadi malas? Kalau buang air besar saja nggak malas, mengapa giliran berpikir jadi malas. Kalau untuk tidur tak ada kata malas tapi kenapa untuk berpikir jadi malas? Bukankah tak ada bedanya berpikir dengan buang air besar, makan, tidur dan bermain? Semuanya sama saja.
c) karena tak ada yang harus dipikirin lagi, gila kamu! Kalau memang benar ucapan kamu ini, bahwa nggak ada yang mesti dipikirin lagi, apa buktinya. Alam semesta ini, baju kamu itu, bau kentut kamu itu adalah bahan yang mesti dipikirin! Walhasil, kamu sendiri adalah bahan pemikiran bagi diri kamu dan orang lain. Kamu sudah gawat kalau kamu berbicara seperti itu.
d) Karena saya ‘kan perempuan? Oh kamu perempuan? … emang perempuan dilarang untuk berpikir gitu? Perempuan dan laki-laki ‘kan sama saja, dua-duanya dianugerahi akal pikiran. Tapi aku ‘kan emosional? Emang laki-laki nggak emosional apa? Laki-laki ‘kan lebih banyak berpikir secara rasional? Ya, sih, tapi ‘kan bukan berarti perempuan nggak bisa berpikir rasional.
… udah deh! Saya nggak mau dengerin alasan kamu lagi yang nggak banget itu! Saya mau ajak kamu untuk sama-sama berpikir dengan saya tentang satu hal. Yaitu kesalehan.

[Satu]

Kamu tahu ‘kan? Apa itu kesalehan. Gini, sebelum saya membahas lebih panjang dan rinci apa gagasan saya perihal kesalehan. Saya mau ungkapkan dulu common sense atau anggapan-anggapan apa saja yang ada dalam masyarakat kita tentang kesalehan ini. Tapi sebelum itu, mana sih yang benar kesalehan, kesolehan, keshalehan?
Yang ada di kamus besar hanya kesalehan, sedangkan kesolehan dan keshalehan itu nggak ada. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa kesolehan itu hanya ada dalam pelafalan orang sunda dan itu biada dipakai dalam bahasa oral, verbal atau omongan dalam tulisan tidak. Sedangkan keshalehan kadangkala juga masih dipakai dalam buku-buku tetapi kata keshalehan ini adalah kata yang harus disempurnakan, sebab kata keshalehan masih dalam bentuk transisi dari unsur serapan bahasa arab seperi sholat, dzikir, fikir (nanti saya bahas belakangan). Dan yang benar adalah kesalehan untuk selanjutnya saya akan menggunakan kata ini.
Untuk membicarakan anggapan-anggapan masyarakat tentang kesalehan saya mau ngomongin pengalaman saya saja sewaktu di pesantren. Di pesantren saya santri yang ngeroko, sudah dianggap tidak saleh, padahal banyak juga ustadz yang merokok. Kemudian santri yang berambut gondrong juga termasuk kategori tidak saleh atau belum saleh.
Santri yang memakai jeans juga kadangkala dianggap nakal, bangor (bs; sunda), ngobrol berduaan dengan perempuan (dalam intensifikasi yang padat, atau disebut juga pacaran) juga terkutuk nakal, tidak saleh dan masih banyak yang lainnya lagi. Lantas bagaimana yang saleh itu? Santri yang saleh adalah santri yang tidak gondrong, tidak merokok, tidak ngobrol berduaan dengan perempuan (pacaran), tidak memakai jeans, melaksanakan shaum sunat dan wajib, shalat berjama’ah dan lainnya lagi.
Kesalehan biasanya diartikan dengan perilaku yang konstruktif, baik, sopan, santun lebihnya sesuai dengan tuturan ajaran agama. Kata kesalehan ini sudah membudaya membentuk dan dibentukan di dalam masyarakat. Walhasil, kalau kita mau melihat kriterium kesalehan yang ada di pesantren saya, otomatis yang berada di luar pesantren yaitu sekolah umum adalah tidak saleh.
Secara umum, hanya di pesantren lah peraturan-peraturan ini diberlakukan seperti tidak boleh merokok, tidak boleh pacaran sekalipun implisit, tidak boleh gondrong dengan adanya razia rambut dan lainnya. Mungkin untuk rambut gondrong di sekolah-sekolah hampir umum tidak boleh, tetapi ngobrol berduaan di muka umum dengan jarak duduk yang unlimited tidak terbahas di sekolah-sekolah umum.
Secara kasat mata, pesantren adalah gudangnya norma-norma kesalehan. Karena memang, pesantren lah yang memproduk anggapan-anggapan kesalehan yang ada dalam masyarakat. Hal ini wajar sebab, istilah kesalehan secara umum dipahami sesuai dan selalu terkait dengan ajaran Qur’an dan Sunnah, dan untuk mempelajari Qur’an dan Sunnah ini tempatnya adalah pesantren, secara formal.
Maka ekstrim dikatakan, santri secara tradisional adalah duta kesalehan dalam masyarakat, santri adalah penebar kesalehan. Karena santri yang mempelajari Qur’an dan Sunnah, orang lain tidak.
Persoalannya adalah apakah memang benar norma-norma yang ada di pesantren itu adalah pakem kesalehan? Apa standarisasi orang bisa disebutkan saleh itu? Apa sebenarnya kesalehan itu? Apakah dengan tidak merokok orang bisa disebutkan saleh, padahal dia seorang pembunuh umpamanya. Apakah dengan tidak pacaran orang bisa diklaim saleh, padahal sebenarnya dia adalah maniak seks abiss! Apakah berambut gondrong, gimbal, acak-acakan tidak saleh padahal dia seorang kiyai.
Ternyata banyak kesimpang siuran dalam istilah kesalehan ini, sementara di sisi lain setiap orang tua menginginkan anaknya saleh. Makanya mungkin salah satu motivasi dasar banyak orang tua menamakan anaknya “saleh” dengan anggapan dan doa bahwa kelak dia besar nanti tindakannya akan seperti namanya. Tetapi tak jarang, nama saleh malah menjadi gigolo, tukang tenung, tukang obat.
Setiap individu pasti senang mendapatkan label “saleh” dari ibunya, bapaknya, temannya, kekasihnya dan masyarakatnya, namun sayangnya istilah kesalehan sendiri tidak mendapat muatan gagasannya yang argumentatif dan bahkan terkesan subjektif. Bisakah kesalehan bersifat objektif? Secara murni? Tidak. Sebab objektivitas sendiri adalah gagasan subjektif.
Tetapi untuk kembali menyusun gagasan kesalehan sendiri itu bukanlah tidak mungkin.

[Dua]

Mungkin bagi kamu hal ini tidak terlalu penting, karena salah satu alasan seseorang tergerak niatnya untuk berpikir adalah ada kepentingan bagi dirinya sendiri. Sekarang saya tanya sama kamu, kalau masyarakat mencap dan menjuluki kamu perempuan jalang, laki-laki biadab apakah kamu juga tidak akan berpikir kenapa masyarakat menyebut kamu seperti itu? Kalau tidak, berarti memang kamu biadab, memang kamu jalang! Logika sederhana, sebrutal-brutalnya preman tak mau anaknya menjadi preman, seliar-liarnya pelacur tak ada keinginan dalam dirinya ketika anaknya menjadi pelacur.
Permenungan kembali istilah kesalehan ini tetap sangat penting supaya kita tidak mencibiri tindakan orang lain seolah-olah hanya kitalah yang paling moralis, yang paling spritualis, yang paling tinggi ibadahnya, yang paling getol dakwahnya, yang paling suci. Sehingga kita terjebak dan mau melepaskan rasa kemanusiaan dalam diri kita sendiri dengan itu serta merta terbang dan menjelma jadi malaikat kemudian melihat hina kepada orang lain.
Melirik kembali konsep kesalehan dalam diri kita menjadi keperluan yang sangat mendesak dan terdesak untuk segera dilakukan. Perbincangan mengenai kesalehan ini memiliki dua mata pedang yang mau tak mau mesti dibahas satu persatu. Kalau tidak? Salah satu pedang yang tak terbahas itu diam-diam keluar dari sarungnya dan serta merta akan menyabet, membeset leher kita dan menggelontorkan berliter-liter bahkan berton-ton darah.
Dalam term kesalehan ini terbentang berbagai macam dimensi kehidupan, tetapi yang akan saya bahas hanya dimensi sosial dan teologisnya saja. Teologis bukan perbincangan tentang Tuhan dalam dirinya sendiri, karena kita tak akan mengetahui das ding an sich dari Tuhan, melainkan relasi antara Tuhan dengan manusia. Pembahasan ini terkait dengan rumusan yang ada dalam Islam yaitu hablum minallâh. Maka bisa dijelaskan bahwa aspek teologis yang saya maksud adalah ritualitas keseharian ajaran-ajaran Islam yang tentunya didasarkan dalam Qur’an dan Sunnah.
Dimensi sosial terkait dengan rumusan hablum minannâs, yaitu relasi manusia dengan manusia. Bagaimana interaksi satu individu dengan individu lainnya. Kenapa hanya dua pembahasan ini yang saya ambil, karena dengan pertimbangan bahwa istilah kesalehan sangat terkait erat pada dua dimensi kehidupan ini. Dan istilah kesalehan sendiri, mengutip Mircea Eliade, adalah poros axis mundi dari dua dimensi ini.
Dari dimensi teologis saya akan mengambil asumsi-asumsi dasar dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang erat hubungannya dengan konsep kesalehan dan kemudian mengkonfirmasikannya pada dimensi sosiologis dengan mengkomparasikan beberapa persepsi tentang kesalehan yang ada di dalam masyarakat. Sehingga terbentuklah dialektika kesalehan yang terususun secara sistematis dan argumentatif.
Hal ini dianggap perlu sebab, term kesalehan adalah istilah idealisme dalam agama, Islam khususnya dan idealisme yang baik adalah idealisme yang didasarkan pada fakta-fakta yang ada. Tentunya pembahasan yang saya akan ajukan lebih bersifat sosiologis, sehingga jangan aneh bahwa di akhir pembahasan tidak ada sebuah simpulan yuridis tentang patokan-patokan hukum dalam agama.
Untuk mencapai pembahasan yang lebih komprehensif dan hollistik maka hal pertama yang akan dilakukan adalah penjabaran etimologi kesalehan itu sendiri.
[Tiga]

Penggalian kembali makna kesalehan ini penting sebab istilah kesalehan pada saat sekarang ini sudah terkristalisasi dalam kemasan pandangan hidup, weltanschauung, paradigma dan world view yang tersebar secara acak. Akan tetapi sayangnya, asumsi dasar yang melandasi bangunan epistemologi weltanschauung kesalehan ini kadang kala tidak bisa dipertaggungjawabkan sebab disusun berdasarkan keinginan dan nafsu masing-masing golongan.
Pada akhirnya kita akan dibingungkan pada istilah “kesalehan”. Sebenarnya, apa sih standarisasi seseorang itu bisa dikatakan saleh dan tidak? Apa prasyarat yang harus dimiliki seseorang supaya bisa disebutkan saleh? Pertanyaan-pertanyaan ini mesti dijawab untuk mengungkap kekaburan makna kesalehan ditengah klaim-klaim golongan yang menganggap bahwa golongannyalah yang saleh.
Kesalehan tak ubahnya seperti sebuah singgasana kekuasaan yang menjadi rebutan setiap orang, setiap kelompok. Ketika mereka sudah menduduki singgasana itu maka mereka dengan leluasa menentukan pakem-pekem kesalehan sehingga yang saleh itu adalah orang yang semisal dengan golonggannya atau dengan dirinya. Jadi, seperti apa kesalehan yang sebenarnya itu?
Tetapi sebelum kita memahami konsep KESALEHAN lebih jauh, sekiranya akan lebih apik dan tidak cupik apabila kita merentas konsep kesalehan dalam jajakan etimologinya terlebih dahulu.
Kesalehan, dalam kamus bahasa Indonesia karangan Badudu-Zain, diartikan sebagai perihal sifat saleh yang melekat pada diri seseorang. Akar katanya berasal dari bahasa arab yaituصلح artinya yang baik, yang bagus, yang pantas. Lebih lanjut, kata salêh ini diartikan patuh dan ta’at menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Nya; orang yang lebih mementingkan kehidupan akhirat daripada dunia (lihat Badudu-Zain; 1996).
Kata saleh, dalam bahasa arab, dan pelbagai macam derivasinya selalu memiliki konotasi yang bertendensi kepada kebaikan maka masuk akal-lah kalau kata saleh juga menurut sebagian para muhaddits diartikan dengan kata beres. Misalnya hadits berikut;

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Hadits ini adalah salah satu hadits nabi yang terkenal dalam rangka perujukan makna kesalehan. صلح yang terdapat dalam hadits tersebut banyak muhaddist yang mengartikannya dengan kata beres, beres yaitu tidak acak-acakan, teratur. Sesuatu yang beres biasanya sedap dipandang. Tetapi muncul pertanyaan; bagus menurut siapa? Beres menurut siapa? Bagi saya, kamar saya mungkin beres dan tidak acak-cakan tetapi bagi anda mungkin tidak.
Dikarenakan pada dasarnya manusia itu “tidak beres” maka keberesan itu diserahkan kepada Tuhan, karena Dialah Maha Beres, dalam artian Qur’an dan Sunnah. Jadi keberesan itu diserahkan dan tergantung kepada aturan yang ditetapkan dalam qur’an dan sunnah. Tetapi persoalannya muncul lagi, qur’an dan sunnah menurut siapa karena sekarang banyak penafsiran yang beragam dan celakanya lagi semuanya mengklaim penafsirannyalah yang paling benar. Kalau begiu, ya, qur’an dan sunnah menurut kamu. Dari pada kamu pusing memikirkan pendapat orang lain, mendingan memiliki pendapat sendiri. Itu lebih baik dari pada kamu menjalankan omongan orang lain.
Dengan pertanyaan diatas secara tidak disadari kita sudah mendapatkan entri point untuk merumuskan kembali konsep utuh tentang kesalehan itu sendiri seperti apa. Singkatnya kesalehan adalah segala sesuatu sifat yang terkait erat dengan kebajikan. Dan tiada sesuatu yang paling baik dan bajik selain Tuhan, sebab dalam Tuhanlah kebaikan dan kebajikan berkumpul. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kesalehan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan.
Tetapi ternyata konsep kesalehan tidak hanya cukup tuntas manakala segala sesuatu dikaitkan dengan Tuhan, sebab kita tidak “hidup” dengan Tuhan melainkan hidup bersama manusia sedangkan Tuhan tidak hidup “dengan” kita tetapi hidup “dalam” diri kita.
Oleh karena itu seperti yang telah saya ungkap sejak awal bahwa obrolan mengenai kesalehan memiliki dua keping mata uang; a) hubungan dengan tuhan; b) hubungan dengan manusia. Akhirnya saya ingin tegaskan bahwa seseorang tidak bisa dikatakan saleh manakala hubungan dengan Tuhannya saja yang beres tetapi dengan sesamanya tidak, begitu pula sebaliknya orang tidak lengkap kesalehannya jika hubungan dengan sesamanya sajalah yang dijaga sementara relasi dengan Tuhannya terabaikan.
Kesalehan adalah sinergisitas antara kedua pola hubungan tadi. Dialektika dua hubungan yang akrab dalam satu kemasan mesra. Maka untuk lebih lengkap kesalehan adalah pola kehidupan yang seyogyanya mengatur gerak dan langkah setiap manusia dalam bertindak dengan pertimbangan Tuhan dan manusia.

[Empat]

Dari dua dimensi yang menjadi pembahasan saya tadi, maka muncullah dua konsep kesalehan. Pertama, kesalehan pada dimensi sosial; kesalehan sosial adalah ketika seseorang bisa berinteraksi dengan individu lainnya dan kehadiran dirinya dirasakan bisa memberikan manfaatnya bagi orang lain. Tetapi pada diri individu itu tidak terdapat kesalehan yang kedua yaitu kesalehan teologis atau ritual.
Seseorang yang memberikan manfaat bagi orang lain, misalnya seorang preman sering membantu membawakan barang dagangan pedagang yang sudah tua renta, tetapi preman itu jarang sholat, tak pernah shaum apalagi membaca al qur’an menyentuh air wudu saja belum pernah. Maka secara sosialitas orang itu bisa dikatakan saleh tetapi secara teologis-ritualistis jelas-jelas orang itu tidak saleh.
Tetapi ada juga yang sebaliknya, orang itu rajin beribadah shaum wajib-sunnat tak pernah ketinggalan, sholat getol, pokoknya seluruh ibadah ritual dikerjakan tetapi kehadirannya tak bermanfaat bagi orang lain. Dia hanya memikirkan bagaimana caranya beribadah tak pernah melihat tetangganya yang kelaparan. Dia terus berpegang untuk beribadah sekalipun beberapa orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dan bahkan tersinggung dengan keberadaan dan ibadahnya.
Apa yang akan didapat dari kesalehan sepihak ini? Tak ada, hanya pertikaian, perseteruan pendapat, opini dan gagasan, saling mengklaim bahwa dirinyalah yang paling saleh. Tetapi sayangnya sekarang ini semuanya hanya mencari kesalehan secara sepihak. Sebetulnya permasalahan kesalehan ini berasal dari bagaimana seorang individu bisa menjalankan perintah agama secara penuh tetapi di sisi lain bisa juga menjalankan fungsi sosialitasnya secara utuh.
Namun, pada kenyataanya seseorang ada yang bisa menjalankan ibadahnya secara utuh tetapi kondisi sosialitasnya tercerabut, ada juga yang menjalankan fungsi sosialitasnya beres tetapi kondisi ibadah ritualnya acak-acakan.
Pada titik ini saya ingin mengemukakan, sebelum ada tafsiran liar, bahwa sebetulnya tidak ada pendikhotomian antara kesalehan sosial dan kesalehan ritual. Pendikhotomian ini seolah-olah ingin menyebutkan bahwa ritualitas keagamaan tidak berbanding lurus dengan sosial. Padahal cita-cita agama tidak seperti itu, jika dilandaskan pada asumsi bahwa ibadah ritual akan mendapatkan maknanya ketika sudah ada dalam dimensi sosial.
Implikasi pemahaman ini adalah anggapan bahwa agama diciptakan untuk kemaslahatan manusia bukan untuk Tuhan. Mana mungkin Tuhan menciptakan agama yang akan mencerai beraikan manusia. Dari gagasan ini, diandaikan pemeluk agama tidak terlau memaksakan ajaran agama secara letter lujks kepada orang lain sehingga membuat orang-orang disekitarnya tidak merasa nyaman akan keberadaan dirinya. Kesalehan sosial dan ritual ini pula, seakan ingin merepresentasikan bahwa ada orang yang memilih kesalehan secara substansial dan formal yang pada akhirnya terminologi sikap dan sifat kesalehan ini juga tergantung pada sikap keberagamaan dan pemahaman kita terhadap agamanya masing-masing.
Kesalehan adalah wajah konkret sebuah sikap keberagamaan dari seseorang, yang dicerminkan dalam tindakannya. Persoalannya siapa yang menjamin seseorang bertindak saleh itu memang benar-benar saleh, sedangkan siapa juga yang akan menjamin orang yang tidak bertindak saleh memang sesungguhnya tidak saleh. Pada kenyataannya, kita akan terjebak pada cangkang atau tampilan luarnya saja.
Tampilan luar ini selain diindikasikan dengan tindakan ada juga yang dicerminkan dalam performance (termasuk didalamnya bagaimana dia bicara, berpakaian dan sebagainya yang bersifat fisikal) maka jangan aneh kalau contoh orang yang berambut gondrong dicurigai tidak saleh berawal dari pandangan yang seperti ini. Seseorang yang tidak memenuhi performance sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku dimana dia tinggal, maka memungkinkan orang lain untuk menyebutnya tidak saleh.
Mafhum mukhalafah dari pemahaman ini adalah, orang yang rapi dan santun pasti saleh sekalipun belum terbukti secara clear and distinct bahwa dia memag benar saleh. Dari bentrokan pemahaman secara substansial dan formal ini menimbulkan kesalehannya masing-masing. Kita pun menjadi bingung, mana yang benar? Atau mana yang harus diagemi?
Memang benar orang yang mengatakan bahwa kesalehan ada di dalam hati tetapi hati tidak akan kelihatan oleh orang lain. Kalau tampilan itu terwakilkan oleh pakaian siapa juga yang akan menjamin hal itu. Akhirnya semuanya serba relatif dan serba berkemungkinan. Tetapi celakanya di dunia yang serba tentatif dan relatif ini masih ada juga yang merasa dirinya paling saleh, paling benar, paling suci dan paling dekat dengan Tuhan.

[Lima]
Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s