“Sepenggal Riwayat Perkuliahan”

“Sepenggal Riwayat Perkuliahan”
refleksi bagi mahasiswa baru dan semester baru-

Oleh; te. Ditaufiqrahman

(semester tujuh, semester angker ; semester pertama, semester seger)

[1]

“Semester tujuh adalah semester angker” begitu gumamku pada suatu ketika. Ucapan ini muncul di angkot manakala saya habis pulang dari kampus menuju rumah teman. Saya kira ucapan ini tidak terlalu berlebihan, biasa saja. Tapi memang menimbulkan pertanyaan; kenapa angker?
Tak terasa. Seperti baru kemarin saya menginjakkan kaki di atas tanah kampus ini, sekarang sudah hampir menuntaskannya. Ya saya sudah semester tujuh. Masih terbayang pakaian hitam putih yang saya kenakan ketika mengikuti taa’ruf seolah ingin mewajahkan semangat empat lima yang berkobar terpancar meruak di dadaku dalam menjalani kehidupan kampus, “tragedi teologis” (perkataan a****huakbar) yang menyambut saya di kampus ini menjadi tantangan dalam benak untuk menjadi “seseorang yang bisa membuat sesuatu”, perkenalan angkuh, congkak, sok pintar sewaktu bertemu teman baru seakan ingin menegaskan citra diri siapa saya sekaligus menutupi siapa saya yang sebenarnya jauh-jauh dalam almari batin—ternyata pertemanan yang dulu kita jalin dibangun atas dasar kepalsuan imaji dan citra diri, apa yang bisa diharapkan dari itu? Hanya pertukaran sosial yang saling memanfaatkan tak lebih dari itu—dan pelbagai macam rentetan peristiwa lainnya yang menyetai menjadi bintang tersendiri dalam melengkapi langit pada malam hari. Bintang itu ada yang cerlang namun juga ada yang meredup.
Rentangan jam semester telah menunjukkan angka tujuh, angka keramat. Angka tujuh setidaknya memberikan tanda jumlah berbilang, itu pertama kali pemahaman saya tentang angka tujuh. Namun ternyata, bilangan 7 telah mempesona manusia sejak zaman dahulu kala, da¬lam sebuah studi yang berjudul Seven, the Number of Creation, Des¬mond Varley berusaha, sebagaimana dilakukan banyak sarjana lain sebe¬lumnya, untuk meringkas segala sesuatu di dunia nyata ini menjadi bi¬langan 7.
Misalnya, dunia ini tersusun atas tiga prinsip kreatif (in¬telek aktif, bawah sadar pasif, dan kekuatan penata dan kerja sama) dan empat materi yang mencakup 4 unsur dan kekuatan sensual yang se¬laras (udara = kecerdasan, api = kehendak, air = emosi, tanah = mo¬ral). Pembagian 7 menjadi dua prinsip penyusun ini, yakni 3 spiritual dan 4 material, telah dilakukan sejak zaman dahulu dan dipakai da¬lam hermeneutik Abad Pertengahan serta merupakan dasar pem¬bagian 7 seni liberal menjadi trivium dan quadrivium.
Hal lain contohnya, ditulis pada akhir abad ke-18, yang menyebutkan bah¬wa periodisasi selalu berkaitan dengan 7, misalnya dalam musik, sa¬tu oktaf terdiri dari 7 not, atau dalam susunan unsur kimia. Ini didasarkan pada pandangan ku¬no yang mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia berlangsung dalam periode 7 dan 9.
Tujuh usia manusia, kata Sha¬kespeare. Philo menulis bahwa pada akhir tujuh tahun pertama tumbuhlah gigi dewasa setelah gigi susu; pa¬da akhir tujuh tahun kedua dimulailah masa puber; dan pada tujuh ta¬hun ketiga tumbuhlah jenggot di janggut seorang pemuda. Tujuh ta¬hun keempat merupakan titik kehidupan yang tinggi, dan tujuh tahun ke¬lima adalah saatnya untuk menikah. Tujuh tahun keenam ditandai de¬ngan kematangan intelektual, sedangkan tujuh tahun ketujuh memu¬liakan jiwa dengan nalar, tujuh tahun kedelapan menyempurnakan ke¬cerdasan dan penalaran, dan pada tujuh tahun kesembilan, nafsu-nafsu te¬lah redup yang berarti melapangkan jalan bagi keadilan dan keseder¬hanaan. Tujuh tahun kesepuluh adalah saat terbaik untuk meninggal, ka¬rena jika pada usia ini masih hidup manusia sudah menjadi tua renta, ti¬dak berguna, dan pikun: sebagaimana Alkitab tegaskan dalam Mazmur 90, batas usia manusia adalah 70 tahun.
Di Cina 7 juga dihubungkan dengan kehidupan manusia, khususnya dengan kehidupan perempuan: gadis mempunyai gigi susu pada usia 7 bulan dan tanggal pada usia 7 tahun; dalam 2 × 7 tahun “roda yin” membuka ketika ia mencapai masa puber, dan pada 7 × 7 = 49 da¬tanglah masa menopause.
Kemudian ditegaskan oleh Pseudo-Hippocrates (di¬kutip oleh Varley), “Bilangan 7 dengan kearifan-kearifan gaibnya cen¬derung membuat segala sesuatu menjadi ada. Bilangan 7 adalah mesin pem¬buat kehidupan dan sumber dari semua perubahan; fase-fase bulan berubah setiap 7 hari. Bilangan ini mempengaruhi semua benda la¬ngit.”
Di Yunani kuno, 7 menduduki tempat penting dalam kait¬annya dengan Apollo dan Athena. Angsa-angsa yang bernyanyi ber¬putar mengelilingi pulau Delos sebanyak 7 kali sebelum Letto melahirkan Apollo yang wajahnya berseri-seri, dan kelahiran ini terjadi pada ha¬ri ketujuh (atau kesembilan), yang karenanya diperuntukkan baginya. Li¬rik yang disenandungkan Tuhan mempunyai 7 ba¬ris. Bahkan ada spekulasi yang menyatakan bahwa Apollo, yang hidup ber¬sama dengan orang-orang Hyperborean selama 7 bulan, berkaitan de¬ngan 7 bulan pada musim dingin, tetapi spekulasi ini agak meragukan.
Kaitannya dengan Athena justru lebih kuat, karena 7 adalah bi¬langan penting yang tidak menghasilkan atau dihasilkan (yakni tidak bi¬sa dibagi dan tidak diketahui faktornya pada dekade pertama). Bi¬langan ini sangat cocok dengan Athena, seorang perawan yang muncul dari kepala Zeus. Hubungan ini diungkapkan secara apik oleh Phi¬lolaus, yang pada abad ke-5 SM menulis bahwa 7 itu “sebanding dengan dewi Athena, pemimpin dan penguasa segala sesuatu, dewi abadi, ko¬koh, tetap, serupa hanya dengan dirinya sendiri, dan berbeda dari se¬mua lainnya”. Fakta bahwa 7 tidak mampu menghasilkan (tidak bisa di¬bagi) diserap oleh mistisisme Yahudi menjadi Sabath, hari ketujuh, ke¬tika umat manusia dituntunkan untuk beristirahat dan tidak melakukan aktivitas apa pun. Di Yunani kuno, ide-ide Pythagorean tentang bi¬langan 7 dielaborasi secara khusus oleh Nicomachus dari Gerasa, yang meng¬kaji hubungan-hubungan antara 7 planet, 7 not dalam satu oktaf, 7 kunci musik, dan 7 vokal dalam bahasa Yunani.
Sekalipun diasosiasikan dengan dewi perawan Athena, 7 juga dikait¬kan dengan pandangan patriarkal yang dikuatkan oleh pemakaian 7 di Roma kuno, dan dengan struktur sosial yang patriarkal. Roma dibangun di atas 7 bukit (yang kebetulan dinisbahkan untuk banyak tempat lainnya). Tujuh adalah bilangan keberuntungan penduduk Roma dan menjamin langgengnya kekuasaan negara yang terus berkembang ini. Ungkapan Roma septemgeminata (tujuh Roma) menunjuk pada ke¬per¬cayaan tersebut. Namun demikian, nilai penting 7 dieks¬presikan dengan baik dalam agama Kristen terdahulu ketika pendeta ge¬reja Roma, Tertullian, menyebut Tuhan dengan “septemplex spiritus qui in tenebris lucebat, sanctus semper” (tujuh ruh kudus yang bersinar da¬lam kegelapan).
Pada zaman Kristen awal sejumlah pemujaan ke¬¬pada misteri juga tumbuh di Kerajaan Romawi, dan banyak di antara¬nya membagi entitas-entitas suci dan spiritual menjadi tujuh ala pem¬ba¬gian kuno. Pada zaman kuno akhir di Mesir terdapat 7 pembawa tong¬¬kat lambang kekuasaan yang berkaitan dengan 7 planet dan 7 hari. Na¬¬ma-nama mereka menyebar ke Prancis melalui Roma dan kemudian di¬¬ambil oleh tradisi Anglo-Saxon dan Jerman. Makanya, hari-hari kita da¬¬lam satu minggu masih ada hubungannya dengan nama-nama dewa la¬¬ngit yang dimulai dari matahari (Sunday, Minggu) dan bulan (Monday, Senin). Mars tercermin dalam bahasa Prancis mardi ‘Selasa’ atau Dienstag dalam bahasa Inggris dan Jerman, karena Ziu = Thiu bertalian de¬¬ngan Mars.
Selanjutnya, ada Merkurius (Prancis, mercredi; Inggris, Wed¬¬nesday yakni Wodan’s day), Yupiter (Prancis, jeudi; Inggris, Thursday; dan Jerman, Donnerstag, dari kata Tunar, Donar), Venus (Prancis, ven¬dredi; Inggris, Friday; Jerman, Freitag, setelah dewi Freya), dan terakhir Saturday yang berasal dari nama Saturnus.
Islam awal juga mengakui pentingnya bilangan 7. Menurut Alquran, Tu¬han menciptakan langit dan bumi dalam 7 lapis. Tawaf, mengelilingi Ka‘bah di Makkah selama ibadah haji, dilakukan sebanyak 7 kali, de¬mikian juga lari-lari kecil antara Shafa dan Marwa; pada akhir haji, di de¬kat Mina setan dilempar 3 kali masing-masing dengan 7 buah kerikil. Tra¬disi masyarakat mempertahankan 7 syair pujian yang “digantung”, mu‘al¬laqat, sebagai kekayaan puisi pra-Islam di Arab (meskipun 7 telah men¬jadi sebuah bilangan kelompok yang mengawali suatu puisi). Menu¬rut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, ada 7 dosa besar. Tu¬juh pemuda yang tertidur di gua Kahfi, yang juga dikenal dalam se¬ja¬rah Kristen awal, disebutkan dalam Alquran (al-Kahfi [18]:21), dan n¬a¬ma-nama pemuda saleh ini, “yang kedelapan adalah nama anjing¬nya”, dipakai dalam tradisi Islam dan tradisi gereja Timur Ortodoks se¬bagai azimat, yang sering ditulis dalam kaligrafi nan indah. Surah al-Hijr [15]:87 menyebut 7 matani ‘surah-surah ganda’, yang mungkin me¬ngacu pada 7 ayat al-Fâtihah yang diwahyukan dua kali.
Kelompok Islam yang secara khusus aktif dalam spekulasi nume¬rologis adalah Hurufis di Iran pada akhir abad ke-14. Dengan kepercaya¬an bahwa segala sesuatu terkandung di dalam huruf-huruf dan nilai-ni¬lai numeriknya, mereka secara mudah menarik hubungan-hubungan an¬tara sapta-sapta di dalam Alquran dan 7 bagian tubuh manusia: wajah, rambut, dan bagian-bagian selebihnya.
Dan terakhir ada sebuah pepatah Arab yang menyebut 7 hal yang ti¬dak pernah bisa diraih orang sepenuhnya, yakni “roti yang ditawarkan dengan ramah, daging kambing, air dingin, bahan pakaian yang lem¬but, wewangian yang semerbak, tempat tidur yang nyaman, dan pe¬mandangan yang indah”.

[2]

Terlepas dari pelbagai macam potensi runyam-misterius yang ada dalam angka tujuh, saya sendiri, tidak terlalu mempercayai seratus persen sekaligus percaya seratus persen—pertimbanganku ini dikarenakan belum ada pengaruh mistis yang secara langsung berimplikasi kepada hidup keseharian yang saya jalani. Ruwet?
Maksud saya begini, misal, saya adalah pemain sepakbola kemudian saya memilih angka tujuh untuk menjadi nomor punggung saya, ketika saya berganti nomor punggung dengan angka tujuh kemudian dengan serta merta saya terus menerus beruntung, kalau nendang langsung masuk, ketika melakukan pelanggaran tidak mendapatkan kartu apapun, yang tadinya jomlo kemudian dapat pacar, kentut tidak ketahuan sama orang lain, mau buang air besar wc sedang kosong, dapat tawaran dari klub besar, kehidupan berubah menjadi baik, pokoknya terus beruntung. Tidak bisa disimpulkan bahwa memang angka tujuhlah yang menyebabkan semua itu. Bisa jadi itu adalah sugesti karena ada mitos sebelumnya yang menyatakan bahwa angka tujuh membawa keberuntungan. Tidak ada alasan logis yang menyatakan bahwa angka tujuh bisa membuat seseorang mendapat pacar, mendapatkan pekerjaan, mendapat tawaran dari klub sepakbola yang lebih besar, kentut tidak ketahuan sama orang lain dan wc terus kosong.
Atau kesimpulan kedua, bisa jadi memang angka tujuh bisa menyebabkan itu semua, seperti halnya Tuhan. Apa bedanya angka tujuh dengan Tuhan? Bisa jadi angka tujuh adalah manifestasi dari Tuhan itu sendiri atau sebaliknya? Siapa yang tahu? Siapa yang menjamin? Sebab bukankah kita mempercayai Tuhan hanya lewat perantara kata-kata T-u-h-a-n (Allah dalam Islam dan penyebutan lain dalam agama lain, Yahweh, Hyang dan lain sebagainya), Siapa yang akan menjamin bahwa kata-kata T-u-h-a-n yang telah menciptakan alam semesta, gunung, laut, langit dan kita sendiri?
Nabi? Siapa yang akan menjamin bahwa nabi tidak akan berbohong? Karena nabi juga seperti kita, manusia.
Kitab suci? (Al-qur’an, Injil, Taurat, Veda dan lainnya) apakah memang kita benar-benar percaya terhadap berita yang dibawa oleh kitab suci? Siapa tahu itu hanya kumpulan dusta belaka?
Pada titik ini kepercayaan kita terhadap angka tujuh, sejatinya, tak ada beda dengan kepercayaan kita terhadap Tuhan. Bisa jadi Tuhan adalah sugesti diri kita sendiri? Padahal dalam kenyataannya Tuhan sendiri tidak ada, yang kita percaya hanya kata-kata T-u-h-a-n, tanpa mengetahui apa realitas yang ada di sebaliknya. Apakah memang ada entitas yang lain atau sama sekali kosong? Namun hal ini juga menuai problem, masalahnya siapa yang telah menciptakan kita? Maaf, jangan jawab orang tua kita! Karena jawaban itu sangat kedengaran konyol sekali.
Pertanyaan siapa yang menciptakan kita, adalah problem klasik yang tidak akan pernah tuntas sampai kapanpun, sekalipun pemisahan klasik-modern tidak menjadikan seseorang haram untuk membahasnya. Kemudian saya ganti pertanyaannya; bukan siapa yang menciptakan kita melainkan siapa yang menciptakan realitas sosial yang ada di hadapan kita, siapa yang membuat kenyataan yang ada di hadapan kita seperti ini adanya? Bagaimana menguraikannya? Kalau jelek, bisakah kita membuatnya lebih baik?.
Pada mulanya tulisan ini hanya ingin memotret semester pertama namun dikarenakan susah juga rupanya untuk menulis tanpa menyertakan “diri” di dalamnya, bisa saja sih sebenarnya, namun tulisan itu akan terkesan romantis dengan dibumbui bau doktrin idealis super canggih maka kuurungkan niat itu, sebab saya tidak akan mendakwahkan supaya seseorang menjadi malaikat tetapi saya juga tidak mau melihat seseorang menjadi iblis. Singkatnya, jadilah manusia!!
Pembahasan selanjutnya, saya ingin merefleksikan tentang apa saja yang terjadi pada semester pertama yang kemudian dikomparasikan dengan semester tujuh mulai dari gagasan, kebiasaan dan segala sesuatu yang terkait. Mari mulai!

[3]
“Semester pertama adalah semester seger!” itu adalah pemeo saya untuk menggambarkan, semester pertama. Betapa tidak, semester pertama adalah semester dimana seseorang berubah status dari siswa menjadi mahasiswa, perubahan ini seogyanya mengiringi semua perubahan tindak dan laku. Sekalipun murung dan tidak bersemangatnya orang itu untuk kuliah namun di semester pertama setidaknya semua orang akan terhanyut dengan esktase semangat dunia baru. Semangat dunia kampus.
Gelegak semangat itu disertai dengan rasa ingin tahu (curiosity) dan ingin mencoba dunia baru yang di jajakinya. Ibaratnya bayi yang baru lahir, dunia menjadi sesuatu yang sama sekali asing. Mahasiswa baru pada semester pertama adalah bayi yang baru lahir di dunia kampus yang menghadirkan berbagai kegemerlapan.
Berbagai niat seseorang untuk kuliah bercampur satu dalam jasad yang kemudian menimbulkan beberapa sikap beragam. Tak pelak lagi bahwa ketika seseorang merespon kenyataan yang ada di hadapannya selalu merujuk pada persepsi pribadi awalnya. Persepsi pribadi awal ini dibangun dari akumulasi wawasan yang sudah ada sebelumnya yang dirangkai dari niat, motivasi. Maka penyikapan dan keputusan suatu hal selalu berdasarkan, pertama kalinya, kepentingan pribadi. Tak salah orang ketika mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini politis. Politis diartikan dengan sederhana yaitu kepentingan, setiap orang berinteraksi sesuai dengan kepentingannya dan kepentingan ini di dorong oleh kebutuhan, begitu Mannheim mengurainya.
Setiap orang akan membawa mental primordialnya sebagai modal dasar dalam interaksi selanjutnya pada dunia baru, pada ruang sosial baru yang akan di tempatinya nanti; misal, seseorang akan memilih jurusan yang berbeda dengan yang lainnya sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing (mentality potention), inilah mengapa kamu memilih sosiologi bukan yang psikologi.
Tetapi adakalanya potensi mental ini (minat, bakat, keinginan, kepentingan, basic needs dan lainnya) akan tersandung oleh realitas sosial yang mesti mau tidak mau dihadapinya. Disintegrasi (ketidaksesuaian) antara potensi mental dan realitas sosial ini akan memunculkan yang disebut disorder of reality (realitas yang kacau). Realitas yang kacau ini pada akhirnya juga akan/mesti direspon oleh potensi mental yang bersangkutan dan pada gilirannya memunculkan sikap baru, realitas yang baru.
Uraian prosesif sosial dasar ini akan menjadi kerangka yang hendak menjelaskan pelbagai macam sikap, perilaku yang terbentuk dalam kenyataan hidup keseharian. Kerangka teoritis di atas akan menyebutkan tesis bahwa pada faktanya banyak mahasiswa baru di UIN tetapi tidak pada kenyataannya.
Kenyataan dan fakta pada asumsi ini sangat berbeda dan sengaja dibedakan, fakta hanya menunjukan data statistik secara kuantitatif sedangkan kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya. Pada faktanya memang banyak yang masuk UIN tetapi pada kenyataannya “tidak”. Ke-tidak-an ini mendapat penjelasannya dalam konsep motivasi dasar seseorang; banyak mahasiwa baru yang masuk UIN karena “terjebak”, “tak ada pilihan lain”, “tertipu”, “terperosok”, “terpaksa” serta motivasi dan alasan lainnya.
Dengan demikian, “kenyataan inheren di dalamnya potensi mental terwujud sedangkan fakta tidak”, maka disebutlah ungkapan “mimpi terwujud menjadi kenyataan” bukan “mimpi terwujud menjadi fakta”. Sesuatu terwujud menjadi kenyataan berbeda dengan sesuatu terwujud menjadi fakta (tentunya term fakta yang dimaksud dalam kerangka durkhemian). Pertanyaan sederhana; apakah perbedaan antara fakta dan kenyataan? Apakah setiap fakta dapat disebut kenyataan? Begitu pula sebaliknya.
Oke! Mari kita simpan sejenak pembicaraan tentang fakta dan kenyataan, nanti kita lanjutkan penjelasan itu di lain kesempatan. Meskipun penjelasan fakta dan kenyataan masih debatable, tetapi dikarenakan kita memerlukan pegangan simpulan untuk melanjutkan pembicaraan ini maka dibutuhkan kebenaran aksiomatik untuk merucutkan penjelasan.
Kebenaran aksiomatik itu dapat dirumuskan seperti ini; kenyataan yang ada dalam diri setiap mahasiswa baru, 1) mahasiswa yang benar-benar pilihannya adalah jurusan sosiologi, 2) mahasiswa yang memilih jurusan sosiologi sebagai pilihan kedua, 3) mahasiswa yang “terpaksa” memilih jurusan sosiologi karena “pilihan tawaran/ketiga” (di UIN ada pilihan semacam ini karena tidak lulus kedua pilihan maka ditawarkan pilihan ketiga, pilihan yang masih kosong kuotanya, pikir-pikir “kasian amat universitas kita ini ya sampai sebegitunya, takut kehilangan pelanggan ya?! Wadugh!! Susah itu!?)
Ketiga jenis taksonomi mahasiswa, yang telah di paparkan di atas, akan serta merta melenyap dalam ekstase semangat mahasiswa baru akan tetapi dalam varietas pertimbangan. yang berbeda. Mahasiswa jenis 1 akan memasang kuda-kuda strategi perkuliahan yang benar-benar jitu, setidaknya demikian, sebab niat awalnya memang masuk jurusan sosiologi. Mahasiswa jenis 2 akan mencari ketertarikan dari jurusan sosiologi ini, kenapa mesti mencari dulu? Sebab pilihan pertamanya bukan sosiologi, bisa saja jurusan lain, dalam pertimbangannya kalau jurusan sosiologi tidak asyik mungkin ia akan pindah ke jurusan atau bahkan pindah universitas. Nah, mahasiswa jenis 3 bisa memilih berbagai macam sikap; sabar, langsung pindah karena tidak menarik (itu juga kalau punya orang tua kaya), atau ikuti saja petunjuk Tuhan; siapa tahu pilihan Tuhan lebih baik ketimbang pilihan kita? Bukankah Tuhan yang menciptakan kita, maka Tuhan pasti tahu apa yang kita mau. (Tapi persoalannya, dari mana kita tahu “ini” adalah pilihan Tuhan dan “itu” bukan?)
Untuk mahasiswa sosiologi baru sekarang, jenis mahasiwa manakah yang paling banyak? Jenis 1, jenis 2 atau malahan semuanya adalah jenis 3? Kalau iya semuanya jenis ke 3, Wadugh?! Repot itu?! Sebab mana mungkin predikat mahasiswa, khususnya sosiologi, sebagai “agent social of change”, “agent social movement”, “agent social control” bisa tercapai kalau persoalan primordialitasnya belum terpecahkan. Dirinya masih bingung, mana mungkin akan membuat perubahan? Jangan-jangan perubahan yang akan dikerjakannya juga membingungkan?
Maka semester pertama adalah semester seger sekaligus angker, dikatakan seger karena perubahan status siswa menjadi mahasiswa (biasanya semenjak siswa status “mahasiswa” ini sangat diidam-idamkan dengan berbagai macam impian-gloriusnya). Dan dengan perasaan ini pula maka citra ideal mahasiswa akan tercipta; saya akan menjadi seperti ini!! begitulah tukasnya.
Tetapi di sisi lain angker sebab setiap siswa sebelum mendapatkan predikat mahasiswa telah melewati beberapa fase reality disorder misal SPMB gagal dan bebeberapa kegagalan lainnya. Dalam keangkeran ini sebenarnya setiap orang lamat-lamat telah melepaskan keluguannya terhadap kenyataan kemudian merayap menjadi dewasa dan tahu apa yang harus dihadapi dengan berbagai tanggungan resiko.

[4]

Berbeda dengan semester pertama, semester tujuh adalah semester angker dan tetap angker meski di seger-seger. Ini mungkin ucapan hiperbolik sebab tidak ditunjang dengan berbagai macam validitas data dan terkesan overgeneralisir. Kekuatan argumentasi tesis ini hanya di topang oleh analogi “serampangan” kepercayaan angka tujuh dan Tuhan.
Paling tidak, saya bisa menyebutkan bahwa, hitungan setelah angka tujuh mendekati sepuluh. Dan sepuluh adalah angka tua dalam standar semester, setidaknya bagi sebagian orang dan sebagian orang tua. Semangat perkuliahan mulai melorot tidak lagi melotot seperti semester-semester sebelumnya hal ini bisa disebabkan banyak hal; tersingkapnya realitas di balik kampus, pikiran-pikiran sudah mulai menerawang ke depan (apa yang akan dilakukan setelah beres kuliah?) pikiran ini semakin radikal manakala dia (perempuan/lelaki) sudah memiliki pasangan yang ngebet pengen nikah.
Sementara aktivitas di kampus sudah mulai menjemukan apalagi di tambah dengan sedotan pelbagai macam kebutuhan pragmatis yang menuntut kehidupan sehari-hari, pikiran berkecambah yang sebenarnya belum saatnya dirambah. Para aktivis pun terkena sindrom angker seperti ini, pada semester tujuh mereka mulai melirik perkuliahan, pengen beres-beres nilai, dengan pelbagai macam dalih meski tersandung fallacy of thinking.
Maka dari itu saya mengajukan hipotesis; bagaimana caranya agar pada setiap semester tetap seger? Tesis saya; menulislah!!!!
Wallahu ‘alam bish showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s