Dosa di atas Ranjang

Siang hari, di sebuah perapatan jalan.
Lalu lintas kendaraan tidak begitu macet sekalipun ini hari adalah hari Senin. Karena kota ini memang tidak begitu besar seperti kota metropolis lainnya—Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya mungkin juga Yogyakarta—yang kalau hari Senin, hari pertama masuk kerja, lalu lintas di jalanan sibuknya minta ampun.
Di kota ini, perbedaan hari Senin dan hari-hari lainnya adalah, kalau hari Senin toko-toko di pusat perkotaan pada buka seperti biasa, sebaliknya pada hari Sabtu dan Minggu, toko-toko pada tutup. Jauh berbeda, dengan tetangganya, dimana hari Sabtu dan Minggu pusat perkotaan ramai, kalau di kota ini menjadi sepi.


Satu kota dengan kota lainnya memang mempunyai ciri khas nya masing-masing, seperti halnya kita manusia, yang tidak akan pernah persis sama satu dengan yang lainnya.

***
Pemuda itu menarik gas motornya sedikit, dia takut mesin motornya mati tiba-tiba. Ia tidak mau kejadian itu terulang lagi. Keadaannya persis sekarang ini, sedang menunggu lampu hijau menyala, tiba-tiba mesin motornya mati. Sialnya lagi, posisi ia paling depan, otomatis kemacetan terjadi. Klakson bordering di belakang tak henti-henti. Sementara ia sibuk sendiri men-starter motornya, namun hebatnya, motor itu tidak mau nyala lagi. Sudah beberapa kali ia starter, tetap tidak mau nyala. Motor itu seperti berkompromi dengan cuaca yang mendung menertawakan dirinya yang dirundung bingung.
Di tengah kebingungan—tepatnya bingung di ‘tengah’ jalan—akhirnya ia kepikiran untuk meminta pertolongan Tuhan. Sebelum menghidupkan lagi motornya ia mengucapkan ‘bismillah’. Ucapan bismilah pertama tidak bekerja, kedua juga sama, pas ketiga.
“bismilahi rohmani rohiim, puahh!” katanya sembari meniup layar kaca speedometer seperti seorang dukun.
Sebuah mukjizat! Mesin motor itu akhirnya nyala.
Tuhan memang mempunyai cara unik mengingatkan makhluk untuk senantiasa mengingat namaNya.
Peristiwa itu terjadi beberapa bulan silam, bukan di kota yang sekarang ini tentunya, tapi di kota lain sebelum dia di tugaskan di sini. Semenjak kejadian itu, sebelum berpergian naik motor ia selalu mengucapkan “bismilah”.
Dari kejadian itu ia selalu waspada, sebab motor yang di kendarainya selalu beda-beda tergantung motor yang nganggur, mulai dari motor yang injakkan giginya keras, bunyi klaksonnya seperti kentut, bunyi knalpotnya mirip bebek sampai lampu yang kurang melek. Semua-mua pernah di cobanya.
***
Matanya melirik layar speedometer, dia melihat angka dua untuk keterangan gigi, transmisi kecepatannya, dia rasa cukup. Kalau di angka satu, kemungkinan bakal terlalu menyentak buat motor ini, pikirnya. Dia melihat kiri kanan, sesama pengendara motor. Sejurus kemudian dia melihat barisan motor di hadapannya yang sama-sama menunggu giliran lampu hijau.
Tatapannya kemudian jatuh pada barisan motor itu, di dalam pikirannya ia mulai berkata. Aku perkenankan pemuda itu berbicara sendiri pada anda.
***
Tuan tahu, melihat barisan sepeda motor yang ada di hadapanku itu, mengingatkanku pada sesuatu, sesuatu yang terjadi di masa lalu, suatu masa dimana aku belum berani mengendarai sepeda motor.
Sungguh menyeramkan bayanganku pada waktu itu tentang mengendarai sepeda motor. Mungkin saja bayangan menyeramkan itu di pengaruhi oleh trauma semasa SD dulu. Aku pernah jatuh, menabrak dinding teras masjid agung ketika belajar naik sepeda bersama bapakku. Hingga aku diganjar enam jahitan di dagu oleh perawat puskesmas yang cantik jelita itu.
Kini jahitan itu sudah tidak kelihatan lagi, tertutupi oleh jambang yang merambat mulai lebat. Tapi ingatan mengerikan mengenai jatuh, dan luka di dagu tetap terjahit di baju kenanganku sampai dewasa. Apalagi membayangkan lalu lintas yang super sibuk seperti kota Bandung. Huh, nampaknya aku tidak akan bisa-bisa mengendarai motor.
Sebentar tuan, lampu itu sudah hijau, sebaiknya aku harus siap-siap.
Namun tuan, anda tahu? Ketidakbecusan ku mengendarai motor rupanya menyiratkan pikiran yang menggelitik.
Begini, Pak Hendar Riyadi dosenku yang keren dalam menerangkan tentang tafsir transformatif juga nampaknya tidak bisa mengendarai motor, kakak temanku Jang Kafka seorang ‘tukang kata’ yang katanya sudah alpa membuat sajak juga tidak bisa, Taufik Yusmansyah yang pintar menerjemahkan teks bahasa Inggris juga rupanya tidak bisa. Supriatna Abdul Ghafur, apalagi? Sekalipun pintar gramatika bahasa arab, nahwu-sharaf, tapi ketika di suruh naik motor, urat sarafnya seperti terganggu.
Lantas aku berpikir, hmmm.., lihat tuan?….
Bapak gendut yang memakai kaos belang di depanku malah menggaruk punggung? Sungguh sangat menggangggu konsentrasi ku mengendarai ‘kuda besi’ ini. Bagaimana kalau pegangan stangnya tidak stabil, bisa-bisa dia jatuh, apakah sebaiknya dia berhenti dulu. Sungguh keterlaluan, perangai pengendara motor sekarang ini, tuan.
Ada yang sembari menulis sms, nelpon, mungkin juga sambil meng update status, menjawab komentar. Huh, dinamika elektronika mungkin sudah masuk referensi malaikat maut buat mencabut nyawa dengan tepat cepat efektif dan efisien.
Aku jadi ingat pesan bapakku ketika pulang kampung “jang, kalau naik motor itu jangan banyak pikiran”. Kata bapakku, banyak pikiran saja tidak boleh ketika mengendarai motor, apalagi ini melakukan dua aktivitas pada satu waktu bersamaan? Sangat mengancam.
Kalau di pikir-pikir sih benar juga, pendapat bapakku itu, kalau banyak pikiran berarti kita tidak bakalan fokus, berarti melamun. Nah, kalau perilaku itu di terapkan di jalanan, itu jelek. Maka mungkin menurut pendapatku, mengendarai motor juga memerlukan kerangka epistemologi, ontologi dan aksiologisnya tersendiri. Mengendarai motor juga memerlukan sebuah paradigma, dogma atau bahkan mungkin sebuah ideologi yang di pegang sampai mati.
Filsafat mengendarai motor adalah tatap jalan di hadapan, tengok kiri kanan kalau perlu, kalau tidak, lurus saja. Benar tuan, bahkan mungkin, aku pikir mengendarai motor juga sudah memiliki pijakan teologisnya tersendiri di dalam kitab suci, namun entah di ayat yang mana dan di surat mana aturan itu bersembunyi.
Soalnya, setelah mengeluarkan Fiqh Lingkungan, Fiqh Rumah Sakit, Fiqh Masjid salah satu Ormas Islam di Jawa Barat juga mau mengeluarkan Fiqh Lalu Lintas. Subhanaloh sekali, tuan. Kalau hal itu sampai terjadi.
***
Maaf tuan, anda tidak apa-apa? Ini salah saya, anda kelihatan kaget sekali. Jantung anda pasti masih berdegup kencang, hehe, maaf tuan, aku juga kaget, aku tidak tahu kalau motor itu bakalan belok. Inilah akibat dari pikiran melamun, aku baru tahu ada motor di depan ketika sudah jarak setengah meter, untung saja rem depan motor ini pakem jadi di rem sedikit saja sudah berhenti. Bagaimana kalau aku kebablasan, bisa-bisa aku tabrakan. Aku semakin meyakini petuah bapakku; kalau naik motor itu jangan banyak pikiran.
Ya, di satu sisi, pikiranku sedang berbicara dengan anda sementara di sisi lain, aku mesti fokus mengendarai motor, sungguh dua aktivitas yang bertolak belakang yang tidak bisa kulakukan dalam satu waktu. Tidak seperti ketika naik bis Damri (bis antar kota), kita bebas melamun, makan, minum, membaca, bahkan tidur sekalipun. Karena apa? Karena sudah ada yang mengendalikan kendaraannya; sopir.
Ah, aku jadi ingat masa-masa kuliah dulu, tuan. Aku sering kesiangan masuk kuliah. Hehe. Teman-temanku sudah mengetahui kebiasaan itu. Aku bilang pada mereka, kalau hidup mati ku tergantung Damri.
Suatu ketika ada satu dosen gerah dengan kebiasaan kesianganku itu,

Dia tanya; “kenapa kamu suka kesiangan melulu?”
Aku jawab “oh kalau itu tergantung jadwal Damri bu,”

Hahahahah. Jawaban yang tidak masuk akal, memang benar tuan, tapi adakalanya persoalan hidup itu lebih rumit ketimbang aturan logika.

Damri banyak memberikan pelajaran penting dalam kehidupanku tuan, salah satunya adalah membantuku memahami arti dari kata ‘menunggu’ secara genealogis-sosiologis-psikologis.
“beyond the waiting” orang bule bilang seperti itu.
Eh ngomong-ngomong, tuan tahu, singkatan dari Damri itu sendiri?…
***
Mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu. Bagi kebanyakan orang, terutama pengguna jasa bis DAMRI, pengetahuan tentang kepanjangan DAMRI, sejarah perkembangannya mungkin dirasa tidak lebih penting ketimbang mengetahui DAMRI apa yang melewati jalan Asia Afrika, Otista, Pungkur, Dewi Sartika atau setiap jam berapa DAMRI jurusan Kebon Kalapa-Tanjung Sari berhenti.
Mengetahui (atau tidak mengetahui) kepanjangan DAMRI memang tidak akan menyebabkan apa-apa, apalagi menambah dosa dan pahala. Tetapi tahukah anda bahwa singkatan DAMRI itu sendiri berasal dari tahun 1946 dan tidak pernah berubah sampai sekarang.
Sekira tahun 1943, terdapat dua usaha angkutan di jaman pendudukan Jepang pertama bernama JAWA UNYU ZIGYOSHA yang mengkhususkan diri pada angkutan barang dengan truk, gerobak/cikar dan kedua bernama ZIDOSHA SOKYOKU yang melayani angkutan penumpang dengan kendaraan bermotor/bus.
Baru pada tahun 1945, setelah Indonesia merdeka, dibawah pengelolaan Kementrian Perhoeboengan RI, JAWA UNYU ZIGYOSHA berubah nama menjadi “Djawatan Pengangkoetan” untuk angkutan barang dan ZIDOSHA SOKYOKU beralih menjadi “Djawatan Angkutan Darat” untuk angkutan penumpang.
Pada tanggal 25 November 1946, kedua jawatan itu kemudian digabungkan dan dibentuklah “Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia” yang kemudian disingkat DAMRI, dengan tugas utama menyelenggarakan pengangkutan darat dengan bus, truk, dan angkutan bermotor lainnya.
Tugas ini pulalah yang menjadikan semangat Kesejarahan DAMRI yang telah memainkan peranan aktif dalam kiprah perjuangan mempertahankan kemerdekaan melawan agresi Belanda di Jawa.
Begitulah tuan, tentu saja informasi yang saya berikan itu benar adanya, aku pernah membacanya di sebuah situs tentang Damri.
***
Tuan, di depan ada lagi rambu lalu lintas.
Lihat tuan, (dengan berbisik) bapak itu mengenakan sarung tangan. Tahu tidak tuan, aku juga pernah kecolongan. Suatu hari aku hendak pergi ke Moga, jauh sekali dari pusat perkotaan, aku lupa memakai sarung tangan. Walhasil, hitamlah tanganku sebagian. Semenjak kejadian itu, selain mengucapkan bismilah, aku tidak lupa mengenakan sarung tangan ketika naik motor.
Ah tuan, tujuanku hampir sampai. Aku mau ke Bank dulu. Mentransfer sejumlah uang.
Eh, ngomong-ngomong tuan, baik sekali anda mau mendengarkan pikiran saya di sepanjang jalan ini. Saya kan sedang naik motor?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s