Teman Perjaka

“… Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena angin terlampau bisu untuk sekedar menggambarkan pedihnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena langit seakan kaku untuk sekedar melukiskan nyerinya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena awan terlampau gagu untuk sekedar memberitakan sakitnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena kau sendiri yang membuat luka itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku… karena, … karena, aku sendiri tak mau kau tahu akan hal itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena, karena… aku terlanjur mencintaimu..“

Baru hanya sebaris itu yang ia mampu tuliskan, belum sampai jua kepada apa yang dimaksudkan, ia sudah tak kuasa meneruskan. Tersungkur ia menangis tersedu, di balut malam yang sendu.

Menahan sepi yang tak terperikan, ia mulai mengiris-iris urat nadinya dengan sisa-sisa pecahan kaca dari gelas yang ia tadi lemparkan ke tembok.

Satu

Pagi itu,

“hah?” hanya itu respon yang aku berikan ketika Pow mengeluhkan kesahnya.

Pow adalah salah seorang teman, dari sekian banyak teman, yang sangat aku kagumi kepiawaiannya memainkan rima dalam pelbagai macam tulisannya. Kadang aku merasa mungkin dia dilahirkan dari rahim aksara dan di besarkan dalam lingkungan alfabeta. Aku sangat iri pada kemampuannya menguasai kosakata; dari mana dia mempelajarinya? Bagaimana cara dia belajar?
Nama lengkapnya Prakoso Juli Wijanarko Hambali, nama yang cukup aneh untuk keturunan orang sunda kebanyakan. Dan “Pow”, adalah jajaran huruf yang ia reka sendiri untuk menyembunyikan nama aslinya; Prakoso Juli Wijanarko Hambali.
Aku pun memanggilnya begitu, pura-pura tidak tahu nama aslinya. Terlebih, aku percaya, orang akan lebih bangga ketika dipanggil sesuai dengan keinginannya.
Namun tak jarang juga orang-orang di sekitarnya jail dengan memanggil “Engko”. Seperti yang kita tahu Engko adalah panggilan yang biasa orang sunda ucapkan kepada orang cina laki-laki sedangkan untuk perempuannya di panggil Enci.
Selidik punya selidik, ternyata nuansa Jawa yang terdapat pada namanya Pow itu berasal dari kecintaan bapaknya kepada pujangga Jawa, Ronggowarsito. Sebetulnya, sempat terjadi silang pendapat antara ibu dan bapaknya ketika nama Prakoso Juli Wijanarko Hambali hendak diresmikan pada anak cikalnya.
Tadinya Ibu Pow menginginkan anak cikalnya itu di beri nama Ibn Hambali Bin Makmun. Karena ibunya Pow keturunan dari keluarga pesantren yang taat agama, sehingga dia menginginkan anaknya mempunyai citraan yang sangat islami, “nama adalah do’a pak” begitu ucapnya dengan serius kepada suaminya.
Sedangkan suaminya, yakni bapaknya Pow, sudah kebelet menyukai segala sesuatu yang berbau Jawa, karena itu akan mengingatkannya kepada pujangga kecintaannya Ronggowarsito,
“ya ndak apa-apa to bu, biar dia memiliki kemampuan nubuat seperti Ronggowarsito” jawabnya seraya memanggil nama Ronggorwarsito dengan bangga dan khidmat.
Perdebatan mengenai nama pun berlangsung, namun akhinya ibunya yang terpaksa mengalah, karena Pow adalah lelaki.
“bolehlah, untuk anak pertama ini, karena laki-laki biar bapak yang ngasih nama, ibu ngasih nama belakangnya saja, tapi untuk anak selanjutnya, giliran ibu yang ngasih nama ya pa?”.
Bapaknya mengangguk dengan mesra, itulah asal usul nama Pow yang dilandasi dengan semangat musyawarah untuk mufakat.

Dua

Menjelang siang,

“Dy, aku sudah dapat menyangkanya, sekalipun kamu pluralis, kamu pasti bakal menganggapnya aneh, janggal dan rancu!?”. Bentak Pow atas ketidakmengertianku terhadap keadaannya.

“sebentar Pow” aku coba meredakan amarahnya.
“ingat kita ini hidup di Indonesia Pow, kamu tahu bagaimana situasi Negara kita saat ini? Ricuh. Teroris, bencana alam. Ingat bagaimana reaksi masyarakat kita ketika bintang porno Maria Ozawa itu mau datang ke Negara kita?… demo dimana-mana? Apalagi yang kamu bicarakan barusan itu termasuk masalah SARA, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu nanti, … “
“aku beritahu Pow, segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah agama di Negara ini sangat sensitif. Kamu ingat? Lia Eden,… ustad roy dan jejeran peristiwa lainnya. Mendingan jangan sentuh masalah agama, biarkan orang-orang pintar itu yang menyelesaikan.”
Aku pikir, mungkin apa yang aku ucapkan barusan bisa menggugah kesadaran Pow yang sedang kesumat itu, karena selepas aku bicara Pow tertunduk. Diam. Tapi ternyata perkiraanku meleset. Dari raut mukanya, aku melihat kemarahan. Namun kemarahan yang sangat sepi di simpan secara rapi di telaga sunyi.
Pow terdiam. Menghisap rokoknya dalam-dalam.
“bagaimana Pow?” ku coba menghancurkan kesunyian itu. Sekali lagi Pow tidak menjawab, dia seakan hanyut dalam pikiran nya sendiri, sedang rokok itu masih setia menggelayut di bibirnya yang memerah. Sungguh suasana yang tidak aku inginkan.
“kamu sudah memesan makanan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“belum” jawabnya.
“baiklah, biar aku yang memesan untukmu, …” aku pun bangkit memesan makanan.
Sesaat setelah membawa makanan. Ternyata Pow sudah tidak ada. Di atas meja ada secarik kertas, yang kukira sengaja ia tinggalkan untukku. Begini isinya;

Cinta adalah sebuah perasaan yang netral. Seperti air, ia bebas. Tak berbentuk namun membentuk. Cinta bisa hinggap pada siapa saja, orang awam ataupun bangsawan. Seperti halnya kantuk atau kentut ia bisa menimpa siapa saja, orang yang berpendidikan atau tidak berpendidikan. Dan yang paling penting, cinta tak mengenal jenis kelamin, pria atau wanita.

Setelah membaca note itu, aku langsung menelepon Saif, lengkapnya Saif Ali, dialah inti dari permasalahan ini.

Tiga

Hampir malam,

Pow terhuyung-huyung memasuki kamarnya. Dia terlihat sangat berantakan, kemeja kotak-kotaknya itu sangat lusuh. Kemudian dia duduk persis di depan poster hitam bertuliskan The Godfather. Kepalanya tertunduk di topang oleh kedua lututnya sedang kedua tangannya melingkar di atas kepala. Beberapa saat yang cukup lama ia terus pada posisi itu.

Hening dan hitam.
Kemudian, ia mulai bergerak, mengeluarkan sebuah botol dari tasnya. Ia merawel gelas putih yang tidak jauh dari jangkauannya. Ia mulai minum. Pada tetes terakhir, ia bermain-main dengan gelas yang di pegangnya itu. Ia amati gelas itu dari pelbagai sudut. Lantas dengan datar. Ia lemparkan gelas itu ke tembok. Keras! Sangat keras sekali.
Sesaat kemudian.
Hening dan hitam.
Dan … entah dari mana datangnya suara itu, Pow tiba-tiba mendengar suara piano dengan nada-nada getir yang sudah tak asing lagi di telinganya. Matanya nanar seakan menikmati balutan melodi nyeri dari piano itu. Dengan lirih ia pun ikut bergumam…

“Speak softly, love so no one hears us but the sky. The vows of love we make will live until we die… “

Empat

Tengah malam,

Ia mulai menulis;

“… Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena angin terlampau bisu untuk sekedar menggambarkan pedihnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena langit seakan kaku untuk sekedar melukiskan nyerinya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena awan terlampau gagu untuk sekedar memberitakan sakitnya. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena kau sendiri yang membuat luka itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku… karena, … karena, aku sendiri tak mau kau tahu akan hal itu. Tentu saja kau tak akan mengerti bagaimana lukaku karena, karena… aku terlanjur mencintaimu..“
Baru hanya sebaris itu yang ia mampu tuliskan, belum sampai jua kepada apa yang dimaksudkan, ia sudah tak kuasa meneruskan. Tersungkur ia menangis tersedu, di balut malam yang sendu.
Menahan sepi yang tak terperikan, ia mulai mengiris-iris urat nadinya dengan sisa-sisa pecahan kaca dari gelas yang ia tadi lemparkan ke tembok.

Pemalang, 221009

_____________________________________________________________
tulisan ini ku persembahkan sebagai rasa takzimku kepada dua insan yang sedang menjalani “hubungan yang sangat rumit” Ali Mifka dan Pow Jaba Oman. kepada om Dea, punten namina di jabel heula sakedap. hihi..
ini adalah sebentuk rasa terimakasihku atas pertemanan ini. semoga nafas saya masih kuat untuk bercerita lagi, amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s