Tiang-Tiang Keluarga (1)


”… Issabel, aku ingin mencium bibir tipis-merahmu, memagutnya sepanjang malam hingga aku merasa bosan. Ingin kutanggalkan helai kain yang menutupi tubuhmu itu kemudian kukecup mesra lehermu, kujelajahi pinggul rampingmu.. ku elus kedua paha-putihmu itu… dan

Issabel, aku ingin bergumul denganmu tanpa baju…”

Chandra Konstantin
|1|
Chandra Konstantin mempunyai kehidupan yang baik. Istri yang baik, mertua yang baik, tetangga yang baik, anak yang baik, rumah yang baik dan pekerjaan yang baik. Semua baik-baik saja.
Tidak ada yang tidak baik, sepertinya nasib baik hanya milik Konstantin. Selama dia hidup, tak sekalipun Konstantin mengalami sial. Juga, tak pernah sedikitpun kegelisahan menyergap benak Konstantin, kalaupun pernah, Konstantin selalu menyikapinya dengan tenang dan rileks. Dan, seperti yang sudah di perkirakan oleh dirinya sendiri, segala sesuatu—jika di selesaikan dengan perasaan tenang dan kepala dingin bisa—berjalan lancar sebagaimana biasanya.

Prinsip hidup Konstantin sederhana saja; berusaha menyikapi segala macam perkara yang ada di depan mata tidak dengan tergesa-gesa, tapi menunggu segala sesuatunya terang benderang, sehingga Konstantin bisa membedakan mana malapetaka yang bisa mengakibatkan bencana, mana was prasangka yang hanya menyebabkan kegundahan semata.

Mungkin kedinginan pola pikir inilah yang membuat karir Konstantin melesat seperti sekarang menjadi Personal Manajer di sebuah perusahaan fashion terkemuka.
Pikiran Konstantin memang tidak biasa, seperti halnya kemarin, ketika jajaran direksi mengadakan rapat dalam rangka Menyongsong Perusahaan Triliun, yang kebetulan dalam salah satu agenda rapatnya adalah membabat habis kompetitor, Konstantin malah berlainan pendapat dengan semua rekan kerjanya.
“kompetitor penting, bahkan harus ada” ungkap Konstantin menyampaikan pandangannya. Mereka yang mendengar serta merta terhenyak sibuk mencerna ucapan yang tak biasa dari Konstantin.
“Maksudnya apa, bagaimana?”. Kira-kira begitu mungkin pertanyaan mereka ketika mendengar opini dari Konstantin yang terkesan mendesak.
“ibu dan bapak yang saya hormati, semua jajaran direksi” lanjut Konstantin memaparkan.
“eksistensi itu bukan berarti mesti meniadakan yang lain. Kita tidak punya otoritas untuk mematikan yang lain. Dalam bisnis, seperti halnya dalam kehidupan pada umumnya, keberadaan yang lain itu penting untuk menegaskan keberadaan kita. Dalam bahasa agama, kita sering mengenalnya dengan sebutan sunatullah, ada siang ada malam, ada hitam ada putih, ada iblis ada juga malaikat. Nah, orang lain juga pantas hidup seperti halnya kita bersikeras bahwa hidup kita sangat penting. Meskipun keberadaan orang lain itu sifatnya merusak! Kenapa? Karena kita tidak akan mengetahui baik, kalau belum pernah merasakan rusak atau setidaknya pernah melihat yang rusak-rusak”
Mereka yang hadir di ruangan rapat, ketika mendengar ucapan Konstantin ini seakan menemukan kembali pencerahan yang di saat sebelumnya pintu gagasan dalam benak masing-masing terkunci rapat.
Sejenak, sesaat Konstantin menyatakan pendapatnya nya perihal kompetitor, semua mengangguk terkesan.
|2|
Begitulah Konstantin bekerja. Dia bekerja dengan ide dan akalnya, pekerjaan yang sangat halus. Khas seorang ekskutif, mengolah kata dan rumusan berpikir kemudian menyampaikan kepada kolega-koleganya dengan sangat halus namun menghunus, singkat namun tepat.
Menjadi Konstantin adalah menjadi impian semua orang. Terpandang, berkecukupan dalam materi, mempunyai posisi sosial tinggi di masyarakat, memiliki istri cantik, anak-anak yang baik, singkatnya kehidupan yang bahagia. Semuanya sudah lengkap. Sempurna.
Konstantin juga merasakan demikian. Hidupnya sudah nyaman. Sangat nyaman. Namun ternyata, Tuhan memiliki ide lain tentang kenyamanan yang sama sekali berbeda dengan persepsi manusia.
Kenyamanan, selain sebagai sebuah cita-cita yang sempurna, idaman semua umat manusia ternyata di sebaliknya juga menyembunyikan bara. Bara api yang sangat membara, yang bisa menghanguskan apapun dalam seketika seperti api neraka. Ya, kenyamanan itu neraka bagi orang yang setiap hari hidup dalam rasa aman. Namun sebaliknya, bagi orang yang setiap harinya hidup dalam ancaman, kenyamanan adalah surga.
Kenyamanan itu sangat membosankan. Tidak ada getaran sama sekali, goncangan sedikitpun, semuanya berjalan lurus-lurus saja. Tidak mencong ke kiri, juga ke kanan. Tapi ajeg. Tiap harinya jumpa dengan hal yang serupa; makan yang itu-itu aja, pake baju yang itu-itu aja, bangun pagi jam segitu-gitu aja. Tak pernah mencoba sesuatu yang lain, karena ketika ia menyebrang satu hari saja atau satu aktivitas saja dari aturan biasa maka ia takut akan mendapati celaka. Dan celaka artinya membuat tidak nyaman. Begitulah kenyamanan sejatinya adalah sebuah rutinitas yang sangat membosankan tapi anehnya jadi dambaan setiap orang. Kita hidup di dunia yang penuh ironi, memang.
Orang yang mencari kenyamanan sebenarnya adalah seorang pengecut karena dia tidak berani menatap hidup. Tapi lain dengan Konstantin, sesungguhnya dia bukan pengecut apalagi takut menatap hidup, dia hanya di berkahi oleh Tuhan kehidupan yang baik dan nyaman. Itu saja. Konstantin tidak pernah meminta kehidupan yang nyaman tentram, tapi diberi.
Sekali lagi, Konstantin bukan tipe orang yang suka menghindari konflik, namun dia terlampau cerdik merubah situasi konfik menjadi pikiran postitif sehingga situasi baginya menjadi senantiasa aman dan nyaman.
Aura kenyamanan ini sejatinya bukan watak dasar diri Konstantin melainkan tuntutan profesionalitas kerja yang mengharuskan Konstantin bertindak demikian. Membuat orang-orang di sekitarnya, terutama rekan-rekan kerjanya, terasa aman dan meyakinkan bahwa segala sesuatunya akan berjalan lancar, bahwa kita ini hidup di dunia yang sangat menyenangkan.
Namun Konstantin bukan malaikat apalagi Nabi. Ia juga manusia biasa seperti kita, anda, saya dan mereka semua. Seperti hal manusia pada umumnya, Konstantin juga memiliki rasa amarah, benci, kesal, jijik, muak, jengah, cinta, birahi dan perasaan setan lainnya. Namun lagi-lagi Konstantin terlampau pintar untuk menyembunyikan semua perasaan setan itu sehingga urung nampak ke permukaan. Konstantin memang pintar menyimpan perasaannya.
|3|
Biasanya seperti itu, Konstantin pintar menyimpan perasaannya. Tapi ini kali tidak. Sudah kurang lebih dua minggu Konstantin di goyang oleh suatu perasaan purba yang menurut Konstantin sendiri tidak masuk akal, yakni seks.
Ya seks, sebuah perasaan yang menggerayanginya tiap malam, tiap menit, tiap detik, tiap jam. Di kantor, di jalan, terutama di ranjang.
“ini tidak masuk akal” pikir Konstantin, “kenapa aku bisa terpengaruh oleh suatu perasaan yang perasaan itu sudah kualami, kurasakan bahkan ku lewati selama beberapa tahun silam. Sungguh tidak masuk di akal kenapa aku masih bisa tergoda oleh hasrat birahi?”
Beberapa minggu ke belakang, memang tidak seperti biasanya, Konstantin hampir setiap hari melakukan hubungan badan dengan istrinya.
Istrinya, Khalila, sempat menaruh rasa curiga pada Konstantin, “Papa minggu-minggu terakhir ini terlihat beda ya?” tanya Khalila mesra, selepas melakukan ‘perhelatan suci’ di tengah malam dengan Konstantin.
Khalila berusaha sekuat mungkin mengatur nada suaranya agar Konstantin tidak merasa di curigai.
Konstantin yang sudah mengetahui kecurigaan istrinya, bahkan sebelum istrinya bertanya, menjawab “ah, Mama ini bisa aja, Papa kan cuman pengen mencium bau tubuh Mama” sembari mencium leher istrinya. Dan kembalilah ‘perhelatan suci’ itu terjadi untuk kedua kali.
Itulah yang menurut Konstantin tidak masuk akal.
“kalau orang yang belum menikah, terus dia merasa tergila-gila kepengen tidur bersama perempuan, itu bisa masuk akal, karena dia belum pernah merasakannya. Tapi aku?” renung Konstantin.
“aku sudah merasakan semua itu, melihat perempuan tanpa baju, menggumulinya… dan … ah! Bahkan aku sudah punya anak dua? Itu artinya aku sudah melakukan hubungan itu berkali-kali! Tidak hanya sekali. Lantas mengapa sekarang dadaku begitu menggejolak, menggemuruh sebuah nafsu yang aku rasakan seakan-akan aku adalah perjaka?”
Konstantin tidak habis pikir kenapa ia bisa begitu.
Dalam menghadapi kemelut seperti ini, pikiran Konstantin kemudian melayang ke sebuah tempat yang pernah ia kunjungi di suatu siang bersama koleganya selepas rapat. Waktu itu Konstantin sedang makan siang di lantai paling atas di sebuah mall. Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada seorang perempuan elok yang sedang duduk di gerai elektronik telepon selular yang mulai popular di negeri kita.
Konstantin menatap perempuan itu cukup lama sebelum ia memutuskan untuk menghampirinya. “silahkan pa” sapa teman perempuan yang menjadi fokus perhatian Konstantin.
Konstantin masuk ke gerai itu, kemudian melihat-lihat dan akhirnya, kini giliran perempuan itu yang menyapa Konstantin. “silahkan pa” sapa perempuan itu.
Konstantin lantas melirik name tagg-nya. “Issabel..” gumam Konstantin.
|4|
Semenjak pertemuan pertama itu, Konstantin menjadi sering makan siang di mall tersebut. Duduk di meja yang sama, menatap perempuan yang dia kenal sebagai Issabel sembari mengerjakan beberapa tugas kantor.
Dan seperti yang sering kita temukan dalam cerita sinetron, lamat-lamat teman Issabel mengetahui bahwa Konstantin menyukai Issabel. Temannya ini kemudian menceritakan kepada Issabel, dan seperti biasa, Issabel tersipu malu mendengar kabar dari temannya itu.
Temannya Issabel bilang kepada Issabel
“gue yakin dia suka ama lo, lo liat aja, dari caranya dia ngeliat lo, sumpah gue jamin, dia ngebet banget ama lo ‘bel? Udah embat aja, porotin uangnya. Lo minta apa aja, dia pasti kasih. Kapan lagi dapet ikan kakap kaya gini? Gila ‘bel dia itu tajir banget, masih muda, tunggu apa lagi, apakah lo masih mimpi di datangi seorang pangeran berkuda?? Pliss dechh, hello…?? Kita ini hidup di zaman BB bel, bukan pewayangan”
Temannya Issabel memang berbakat “jualan kompor” (baca; pintar memanas-manasi orang). Issabel yang, ternyata masih lugu, cuma diam saja, bingung dengan arah pembicaraan temannya itu. Issabel akui lelaki itu, yang kita kenal sebagai Konstantin, memang mempunyai daya pikat menarik mapan sekaligus tampan.
Tapi dalam penglihatan Issabel, lelaki itu sudah berkeluarga. Dan rasanya tidak mungkin bagi Issabel menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah berkeluarga. Itu melanggar norma masyarakat terlebih agama. Kehidupan yang sangat berisiko. Seperti yang sudah kehabisan lelaki saja, pikir Issabel.
Namun yang di ucapkan temannya itu juga ada benarnya, kapan lagi dia punya kesempatan yang empuk seperti ini. Tokh mungkin lelaki itu bukan mencari bakal isteri, tapi buat have fun saja. Nemenin jalan-jalan doang. Kalau mau lebih? Tinggal di atur saja baiknya gimana? Enaknya gimana? Seperti yang sering dilakukan Nora, teman Issabel yang “berbakat jualan kompor” itu.
Merasa punya kekuasaan lebih terhadap Issabel, akhirnya Nora mengendalikan keputusan Issabel, “gini aja dech ‘bel, gue atur semuanya biar nanti lo yang jalanin rencana gue? Oke?? Gak?”
Issabel terdiam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s