Tiang-Tiang Keluarga (2)

Issabel Diah
|5|
Issabel memang perempuan yang sangat pemalu, seperti halnya Konstantin yang di berkahi nasib baik, Issabel juga anak baik dan cantik. Hanya saja karena keluguannya itu, Issabel mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik. Pada minggu-minggu sebelumnya, nyaris saja Issabel mengikuti jejak Nora dan teman-teman lainnya merokok. Untung saja Issabel lebih menyukai siomay dan baso tahu sehingga dia tidak jadi merokok. Nora dan teman-temannya hanya bilang; “wuuhhh, kampungan!” sembari menghisap rokok.
Namanya Issabel Diah, menjadi SPG sebenarnya bukan cita-cita Issabel. Dia hanya terjebak oleh nasib yang ternyata tidak secantik parasnya. Cita-cita Issabel sederhana saja. Ingin menjadi perawat, namun karena sekolah keperawatan mahal biayanya, cita-cita Issabel menjadi rumit. Dan menjadilah Issabel SPG, karena dia cantik dan memiliki postur tubuh mirip model. Demi menjadi SPG pula Issabel rela menanggalkan kerudungnya memakai rok mini dan baju ketat. Namun sialnya itu malah mengeluarkan aura kecantikan Issabel yang selama ini tertutup oleh kerudung. Tuhan sendiri sebagai Sang Pencita mungkin bingung kenapa bisa begitu.


Kehidupan Issabel tidak neko-neko. Dulu selepas lulus SMA Issabel memang bermimpi untuk kuliah, maka gaji dari SPG dia kumpulkan untuk merampungkan cita-citanya itu. Namun lambat laun, setelah dua tahun bekerja, mimpi itu mendadak sirna. Alasannya kurang begitu jelas, Issabel hanya berpikir, cita-citanya itu tidak mungkin tercapai. Mengingat masih ada dua orang adik yang masih menjadi tanggungannya.

Issabel adalah anak pertama, bapaknya yang bekerja sebagai Security di pabrik Garmen, tidak sempat berpikir menyekolahkan Issabel sampai bangku kuliah, yang ada dalam pikirannya hanya mencari calon suami buat Issabel, yang baik, yang sayang, tidak terlalu kaya juga gak apa-apa karena kekayaan bukan segala-galanya, asal dia sayang sama anaknya. Itu saja.
Mungkin Issabel adalah perempuan paling sederhana yang pernah hidup di dunia ini. Sekalipun dia mempunyai paras yang sangat cantik, tapi dia tak pernah menyadari akan hal itu. Malah kadang-kadang dia minder ketika teman-teman sebayanya yang kebetulan lewat kemudian datang melihat-lihat ke gerai elektronik, dimana Issabel bekerja, cekakak cekikik bersama lelaki gandengannya.
“kamu kerja disini ‘bel?” itu yang sering di tanyakan teman-temannya dengan nada yang penuh ejekan tersembunyi.
Pertanyaan itu bisa saja membunuh karakter Issabel seketika, tapi Issabel tak pernah malu akan segala apa yang menimpa hidupnya. Biasanya ketika ditanya seperti ini Issabel hanya bisa tersenyum, dan menjawab “iya” dengan nada rendah. Membiarkan teman-temannya merasa menang.
Issabel hanya mau menerima hidup ini apa adanya tanpa pernah mengeluh dan mengaduh. Karena apa gunanya mengeluh tentang hidup? Tokh kita juga menjalani hidup. Jadi jalani hidup ini seperti memakan baso tahu
Dan…
Entah bagaimana cara Nora menghubungkan Issabel dengan Konstantin, namun yang jelas dua sampai empat hari setelah obrolannya itu, Issabel dan Kosntantin sudah bisa makan siang bersama. Tentunya di tempat yang berbeda. Ibaratnya muda-mudi yang sedang di landa gelora asmara, begitulah tingkah mereka. Bercumbu tapi malu-malu.
Hanya saja, dalam waktu seminggu itu Konstantin dan Issabel cuma bisa menghabiskan waktu bersama ketika jam makan siang, setelah itu mereka menjalani kehidupan masing-masing, mereka sepakat untuk tidak saling berkomunikasi. Karena Issabel sibuk kerja, terlebih Konstantin. Dua-duanya sepakat menjadi secret admirer masing-masing.
Khalila Khumaira
|6|
Hanya membutuhkan waktu seminggu untuk menimbang-nimbang, akhirnya Khalila yakin bahwa ada yang tidak beres dengan Konstantin, suaminya itu. Dan benar saja ketika tak sengaja Khalila mendapati Konstantin makan siang dengan seorang perempuan muda, yang tak kalah cantik dengan dirinya, yang kita kenal dengan nama Issabel Diah.
Namun bukan Khalila namanya yang tidak bisa menyembunyikan kecurigaannya itu di depan Konstantin. Khalila membiarkan kekesalan pada Konstantin berlalu begitu saja. Khalila menganggap mungkin perempuan itu adalah salah satu kolega kerjanya. Mereka sedang rapat. “tapi kenapa berdua?” Khalila masih ragu.
“mungkin yang lainnya belum datang” Khalila berusaha menepis anggapan jeleknya itu.
Begitulah Khalila, seorang isteri yang penuh pengertian. Dan memang Khalila bukan perempuan biasa. Secara pendidikan dia adalah seorang sarjana, sarjana Psikologi, yang memiliki wawasan kebijaksanaan dari buku-buku yang ia baca. Di samping itu, kepahitan hidup yang dilaluinya membuat rasa empati terhadap orang lain sudah tak terbantahkan lagi.
Khalila bahkan rela menanggalkan impiannya sebagai psikolog demi menjadi ibu rumah tangga tulen, mengurus suami dan anak-anak. Bagi Khalila, karir seorang perempuan adalah menjadi ibu dari anak-anaknya. Tiada karya yang paling abadi dan mulia bagi seorang perempuan selain mendidik anak-anak dan menjadikannya anak yang berguna.
Khalila dibesarkan oleh lingkungan relijius sehingga ia adalah salah satu perempuan yang sangat percaya bahwa anak adalah amanah Tuhan yang paling hebat yang pernah di berikan kepadanya, sehingga dia tidak akan menggadaikan sebuah kepercayaan Tuhan itu hanya untuk sebatas memuaskan keinginan duniawi yang dinamakan karir!
Sebelum menikah dengan Konstantin, Khalila mempunyai pekerjaan yang layak dan enak, sebagai Financial Advisor di salah satu bank swasta. Namun Khalila sudah bertekad jikalau dia menikah tepatnya sudah punya anak, dia akan meninggalkan pekerjaannya itu. Konstantin mengiyakan. Khalila adalah tipe perempuan yang memiliki integritas tinggi terhadap ucapan dan hidupnya. Maka jadilah Khalila sebagai ibu rumah tangga yang berbakti.
Chandra Konstantin dan Khalila Khumaira
|7|
Hari-hari pun di lalui seperti biasa tak ada percekcokan, tak ada perseteruan. Aman dan tentram.
Hanya saja, Khalila jadi semakin bingung melayani hasrat seks Konstantin yang tiba-tiba saja selama seminggu jadi memuncak, yang tadinya seminggu dua atau bahkan satu kali, kini menjadi tiap hari. Dan memang, Konstantin akui selama melakukan persetubuhan dengan Khalila, yang ada dalam pikirannya adalah Issabel, Issabel dan Issabel. Konstantin tidak memungkiri hal itu.
Hingga tiba suatu hari di akhir pekan, ketika sekeluarga hendak sarapan, Khalila mengajak Konstantin untuk ke Mall, belanja kebutuhan keluarga, “isi kulkas sudah kosong pa” pinta Khalila. Dan aneh bagi Konstantin, mengapa Khalila mendadak ngajak ke mall yang persis dirinya dan Issabel makan siang. Biasanya Khalila tidak menyebutkan mall tertentu. Konstantin mendapat firasat buruk.
Perjalanan rumah tangga Konstantin sudah menginjak tahun keempat, bukan waktu yang lama memang untuk usia orang yang berumah tangga tapi empat tahun bukanlah waktu singkat untuk mengenal watak seseorang. Apalagi kini mereka sudah punya anak dua. Sangat tidak mungkin bagi Konstantin tidak hapal apa dan bagaimana watak Khalila, begitu juga sebaliknya.
Dan ajakan Khalila ke Mall itu bagi Konstantin adalah suatu pertanda, dengan bahasa lain Khalila ingin mengatakan, “rahasiamu sudah terbongkar!”
Tentu saja akhirnya Konstantin menuruti keinginan Khalila. Dan betapa suatu kebetulan yang luar biasa, ketika menjelang siang, Khalila mengajak makan siang di tempat yang sama persis bagaimana ketika Konstantin menatap Issabel.
Konstantin kikuk. Tentu saja ini bukan sebuah kebetulan, tapi ini adalah sebuah rekayasa yang sudah di rencanakan dengan matang sekali. Batin Konstantin bergemuruh antara takut, bingung, cinta, kesal semuanya bercampur aduk. Tapi bukan Konstantin namanya yang tidak bisa menenangkan suasana. Akhirnya ia berperilaku seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah-olah baru pertama kali ia datang ke mall itu.
Dan untunglah, kebetulan Issabel tidak masuk kerja.
Chandra Konstantin dan Issabel Diah
|8|
Semenjak itu, Konstantin tak henti-henti di teror oleh pelbagai macam pertanyaan moral yang keluar dari pikirannya sendiri.
Konstantin menyadari bahwa perbuatannya selama ini adalah salah, keliru dan tercela. Memacari seorang gadis yang masa depannya masih cerah sekaligus mengkhianati seorang perempuan yang telah tiga tahun menemani Konstantin di saat duka dan suka. Sebuah perbuatan bejat yang sangat sempurna, pikir Konstantin.
“sebelum terlanjur jauh melangkah, lebih baik kuhentikan saja sampai disini”.
Setidaknya begitu tekad Konstantin ketika pergi dari kantor menuju tempat biasa dimana Konstantin dan Issabel melanjutkan petualang asmara sembari makan siang.
Namun setiba di sana, tekad Konstantin mendadak buyar ketika melihat Issabel mengenakan baju seragam ketat dengan bawahan rok mini yang entah berapa inci menuju area pribadinya. Konstantin terpukau, bukan… bukan… bukan terpukau melainkan terpesona.
Ehmm tepatnya mungkin (maaf) terangsang.
Konstantin tidak bisa mengalihkan tatapannya dari dada Issabel. Setelan kemeja Issabel memang di rancang sedemikan rupa untuk memperlihatkan sedikit saja bagian dadanya yang mulus. Dan memang benar, Konstantin terjebak oleh perancang busana itu. Celah sedikit yang di berikan perancang busana itu malah membuat imajinasi Konstantin menjadi liar!
Sementara Issabel sibuk melihat-lihat menu makanan, Konstantin malah menjadi semakin detil melihat dada Issabel. Sampai disini, Konstantin tidak menahan diri. Dan, puji Tuhan, akhirnya Issabel berhasil memilih makanannya. Dan kembalilah Konstantin ke alam nyata.
“sudah pesan?” tanya Issabel.
“belum, kamu saja yang pesan” Konstantin menjawab singkat. Issabel kemudian memesankan Konstantin makanan, dan kembali duduk seperti semula.
“kenapa?” tanya Issabel tersenyum.
“nggak…” jawab Konstantin datar.
“ayo pasti ada yang bapak sembunyikan…” jawab Issabel menggoda.
Bapak? Ya, begitulah Issabel memanggil Konstantin. Umur mereka berdua memang terpaut lumayan jauh, sekira empat sampai delapan tahun. Maka wajar Issabel memanggil Konstantin bapak, dan Konstantin sendiri tidak mempermasalahkannya, “asal jangan Om” gurau Konstantin ketika pertama kali bercakap-cakap. Namun itu kecanggungan pertama, sekarang sudah lebih dari akrab.
“ayo apa sih?” tanya Issabel kembali dengan gaya yang sedikit genit.
“nggak… bagaimana kerjaan hari ini?” Konstantin mengalihkan pembicaraan.
“ya seperti biasa, boring.., pa sesekali kita jalan-jalan dong, jangan makan siang mulu…” tukas Issabel spontan tanpa pikir panjang.
“kemana?” jawab Konstantin penuh pikiran.
“ya kemana kek, menghabiskan akhir pekan bersama”
Permintaan Issabel ini kemudian di sambut hangat oleh Setan yang semenjak tadi mengangkangi pikiran Konstantin. Kembali Konstantin melihat dada Issabel yang menyebul keluar sedikit.
Dalam pada ini, Konstantin tidak bisa berpikir tenang. Konstantin kelimpung karena ternyata hasrat birahinya yang menang, apalagi secara tak sengaja ia melirik ke bawah meja kemudian melihat kaki Issabel yang sangat putih di balut rok mini alakadarnya. Degup jantung Konstantin meletup-letup. Kalau dia Khalila, istrinya, tangan Konstantin mungkin saja sudah menempel dan mengelus-elusnya. Tapi ini bukan, dia Issabel, bukan siapa-siapanya Konstantin. Konstantin akhirnya membatasi diri.
Konstantin memang bukan orang yang rajin beribadah dan tahu seluk beluk mengenai agama, namun dia tahu batasan-batasan moral, mana yang baik, mana yang tidak baik.
Barulah Konstantin menyadari bahwa hasrat birahinya yang meledak-ledak itu masuk akal. Memang dia sudah melewati malam-malam ‘persekutuan badan’ itu berkali-kali bahkan Konstantin sudah tidak merasa aneh lagi. Cuman, dia belum merasakan hal itu dengan Issabel, itulah yang membuat gairah Konstantin kembali muncul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s