Soe Hok Gie (2005)

Kukatakan saja film ini tidak rame! jelek, kurang seru. Ya…bagi orang yang mempunyai tipe penggembira dalam menyaksikan film, jelas film Gie ini tidak rame, membuat orang kantuk. Bagi yang mau menyaksikan film Gie terus tidak mau mikir jelas bakal bete, sebab dalam film ini tidak ada adegan yang bakal menyerukan seperti dalam film-film Nico sebelumnya. Film ini diperuntukkan orang-orang pilihan; aktivis, akademisi, setidaknya orang yang akrab dengan buku. Jadi, bagi yang mau mencari karamean film, mendingan cari film lain. Jangan film Gie. Film Gie ini omong kosong, bullshit abiss! Nanti setelah levelnya naik ‘dikit, maka coba untuk nonton film ini. Hemat penulis sederhana saja, tanggalkan dulu pra-asumsi, kemudian coba nonton film ini selengkapnya

Dengan film Ada Apa Dengan Cinta, Janji Joni mungkin kita akan terasa langsung terhibur dengan menontonnya. Kita akan dengan mudah mendapatkan inti pesan film tanpa pikir panjang, tetapi dengan film Gie. Dengan Gie, walah…! Jangan harap! Kita akan dihadapkan dengan sebuah fenomena dimana bukan perasaan yang bermain melainkan otak yang berputar. Bagi yang tidak terbiasa mikir dalam menonton film jelas tidak akan mendapatkan mendapatkan apa apa selain rasa suntuk, bosan, jenuh dan lain-lain.  Kita tidak akan menemukan sesuatu yang menggebrak.

Alur yang dipakai dalam film ini sangat lambat, sehingga terkesan monoton. Hal ini terbukti, ketika gelaran ROLL [obrolan film] berlangsung, para penonton terkesan jenuh dan malas. Kenapa hal ini bisa terjadi. Pertama genre film Gie semi dokumenter sehingga semisal film dokumenter-dokumenter lainnya pasti akan menjenuhkan karena pada keumumannya film dokumenter tidaklah menarik. Untuk mensiasati hal ini dengan melihat pangsa pasar maka dipasanglah Nicolas Saputra sebagai pemain utamanya.

Siapa orang penggemar film yang tidak mengenal Nico, setelah kesuksesanya memerankan karakter Rangga dalam AADC. Daya tarik inilah yang dipakai selain memang ada alasan lain kenapa sutradara memakai Nico sebagai pemeran utama. Karakter dingin, intelek pujaan bagi para gadis sekarang maka; ditunjuklah Nico untuk memerankan tokoh Gie.

Gie dilahirkan pada 17 Des 1942, adalah seorang pemuda keturunan Tionghoa yang hidup di saat Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Sejak kecil Gie, menunjukkan sifat kesetiakawanan, cerdas, suka membaca dan tidak membiarkan ketidakadilan terjadi di depan matanya. Hal ini sering menimbulkan situasi yang menyulitkan baginya. Gie kerap menuliskan pikiran-pikiranya dalam buku harian dan mengembangkan hobinya naik gunung. Semasa menjadi mahasiswa UI Gie tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan idealis.

Film Gie adalah soal pertentangan-pertentangan, soal keberanian hidup, soal kerinduan, soal ungkapan cinta, kebenaran, soal keadilan, soal jati diri, soal idealisme, soal pelacuran sosial singkatnya film ini mempersoalkan bagaimana menjalani kehidupan; Apakah kita berani diasingkan dari pada menyerah kepada kemunafikan? Apakah kita berani berkata kebenaran tanpa tendeng aling-aling? Apakah kita berani menjalani hidup sebagai diri sendiri bukan sebagai orang lain? Apakah kita berani menunjukkan keberanian.

Film Gie adalah jawabannya. Film ini adalah hasil interpretasi pembuat film dari catatan hariannya. Selayaknya penyaduaran pasti ada yang ditambahkan ada yang dikurangi. Film ini bisa dikategorikan dalam genre film dokumenter sebab contentnya berbicara mengenai biografi seorang tokoh, tetapi kemudian ditambahkan dengan alur dramatisasi cerita sebagaimana layaknya sebuah film drama. Dari awal kehidupannya sejak kecil sampai meninggal.

Film ini dimulai dengan Gie kecil yang diperankan oleh Jonathan Mulia, kemudian berlanjut dengan Gie dewasa yang diperankan oleh Nicolas Saputra. Dalam film ini adegan pemberontakkan awal dilakukan oleh Gie semasa berada di bangku sekolah. Perlawanan ini digambarkan ketika Gie tidak sependapat dengan gurunya yang mengatakan bahwa Chairil Anwar adalah Pengarang Pulanglah Dia Si Anak Hilang. Menurut Gie, Chairil Anwar tetap sebagai penerjemah sedangkan pengarang aslinya adalah Andre Gide. “Memang demikian kalau dia bukan guru pandai…guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah…! Guru bukan dewa dan selalu benar dan murid bukan kerbau!” ucap Gie.

Begitulah Gie, keras dalam pendiriannya. “Dendam yang masuk ke dalam hati menggumpal menjadi batu” tulis Gie seterusnya. Dengan ini ia memperhitungkan rasa sakit hatinya kepada guru yang telah mengurangi nilainya. Namun dalam film ini digambarkan bagaimana, Gie mengurungkan niatnya.

Kemudian bagaimana bagaimana Gie mengkritik demokrasi Indonesia pada saat itu “Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah-lidah yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintahan, mereka yang berani melawan para koruptor ditahan…” namun perkataan Gie ini dipotong oleh gurunya.

Bagin Gie, kita generasi baru ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Kita akan menjadi hakim-hakim atas mereka yang dituduh sebagai koruptor-koruptor tua. Sementara rakyat makin lama makin menderita, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini, mereka…mereka generasi tua! MEREKA YANG MESTI DITEMBAK MATI DI LAPANGAN BANTENG…! Cuma pada kebenaran kita bisa berharap, dan radio masih menyebarkan kebohongan. Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu…palsu!

Berbicara Gie, seakan berbicara mengenai pribadi yang kompleks, rumit dan membingungkan serta memendam keresahan. Bahasan Gie bukan hanya filsafat eksistensialisme tetapi berbincang mengenai kapitalisme, mengenai sosialisme, mengenai nasionalisme, mengenai kemanusiaan. Adalah Karl Marx, Albert Camus, Lenin, Soekarno, Mahatma Gandhi, Shakespeare, Leo Tolstoy  untuk menyebutkan beberapa biografi tokoh yang dibacanya.

Maka, saya katakan saja disini. Bagi orang yang mengaku sebagai kaum intelejensia, menonton film ini adalah suatu keniscayaan! Apalagi sebagai aktivis, dalam film ini, diceritakan bagaimana kaum muda mahasiswa memasuki kancah perpolitikkan; apakah idealisme yang akan dipertahankan ataukah pragmatisme? Ketika menjadi mahasiswa memang benar idealis tetapi ketika telah mendapatkan posisi politis, lambat laun idealismenya luntur dan hilang. “Politik…? tai kucing!!!” ucap kawan Gie, Herman Lantang.

” Tetapi apa yang lebih puitis, selain berbicara tentang kebenaran. Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan, apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada, apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan sejarah tidak akan lahir. Seolah-olah bila kita membagi sejarah yang akan kita temukan adalah hanyalah pengkhianatan. Seolah-olah dalam setiap ruang dan waktu kita hidup diatasnya. Betapa tragisnya!Bagiku kesadaran sejarah adalah sadar akan hidup dan kesia-siaan nilai-nilai,  memang hidup seperti ini tidak enak…” memang hidup adalah pilihan dan diasingkan adalah jalan hidup yang dipilihnya.

Dunia kemahasiswaan menjadi titik sentral dalam perubahan massa. “Politik partai dan golongan telah masuk kampus. Aku benar tidak simpati..!” tulis gie. “Aku ingin melihat mahasiswa jika sekiranya dia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis walau bagaimana kecilmya selalu didasarkan pada pinsisp-prinsip yang dewasa. MEREKA  HARUS BERANI MENGATAKAN BENAR SEBAGAI KEBENARAN DAN SALAH SEBAGAI KESALAHAN dan tidak menerapkan kebenaran atas nama agama ormas atau golongan  apapun”.

“Bagiku sendiri, politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur lumpur kotor tetapi jika kita tidak bisa menghindari diri lagi pada maka TERJUNLAH…!”

Kendati demikian, film ini tidak bisa dilepaskan dari sisi romantisnya gie sebagai seorang pemuda. Berikut salah satu lirik surat yang diberikanya kepada Sita “Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah. Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa. Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu, sayangku…Bicara tentang anjing anjing kita yang nakal Atau tentang bunga bunga yang manis di lembah Mandalawangi Ada serdadu serdadu Amerika yang mati kena bom di danau Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku…Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya tanya Tentang tujuan hidup yang tak satu siapapun tahu”

Begitulah Gie, tiada yang tahu apa yang diinginkanya. Satu keinginnya bahwa ia tak mau jadi pohon bambu, ia ingin menjadi pohon oak yang berani menentang angin.

Bagi manusia yang menghayati kemanusiaannya. Tontonlah film ini…!!! APA YANG LEBIH PUITIS, SELAIN BERBICARA TENTANG KEBENARAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s