20 Maret 2007

“Hidup yang tidak dipertanyakan” demikian ungkap Socrates “tidak layak untuk dilanjutkan”. Pemeo ini sangat klasik bahkan mungkin terkesan basi, bagi mahasiswa filsafat dan yang menekuni kajian filsafat ungkapan ini sudah sangat tidak asing lagi dalam pendengarannya, seperti halnya ungkapan Socrates yang lain “…yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa”

Pemeo ini menerobos ruang dan melesat dalam lingkaran waktu sehingga terasa sangat mengabadi, selalu up to date. Hemat saya, tak ada kata ketinggalan jaman untuk menanyakan kembali arti hidup kita sekarang ini. Dahulu, sekarang, esok, kemarin sampai saat nanti juga pernyataan Sokrates itu tetap bisa berlaku.

Namun sayang, ditengah pikuknya zaman dan hiruknya masa, hanya sedikit saja orang yang mau meluangkan waktu untuk mempertanyakan “hidup”nya itu. Persoalan “hidup” bukanlah persoalan yang abstrak dan absurd seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang.

Persoalan hidup adalah persoalan yang sangat sepele. Permasalahan yang sangat nyata dalam hidup keseharian misalnya; kenapa kita kuliah? buat apa kuliah? Itu adalah persoalan dan pertanyaan yang harus dijawab, meski sebagian orang menganggapnya tidak penting dan tidak perlu.

Itulah mengapa, karena kita menganggap pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting dan tidak perlu maka akhirnya hidup kita juga tidak begitu penting untuk dilanjutkan, tidak begitu perlu untuk dilanjutkan.

Mau contoh; berapa banyak sih mahasiswa yang serius dalam menjalankan hidupnya itu, mari saya ganti kata hidup dengan kuliah karena terlalu serem juga menggunakan kata “hidup”; berapa banyak mahasiswa yang serius dalam menjalankan kuliahnya. Bisa dihitung dengan jari yang itu juga terengah-engah, tergopoh-gopoh karena mesti terus bertempur dengan segala beban dan aralnya, selebihnya mahasiwa hanya menjalankan ritual-rutinitas masyarakat.

Malu karena dicap menjadi pengangguran yang nantinya menurunkan derajat sosialnya akhirnya mendaftar menjadi mahasiswa. Mau hidup tetapi belum bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya akhirnya menjebloskan diri menjadi mahasiswa, dan kebutuhan hidup pun tersantuni. Mahasiswa berkeliaran tanpa tujuan, demonstrasi tanpa arah, mengadakan seminar-diskusi tanpa jelas juntrungannya, karena modus operandi dari kuliahnya tidak dipertanyakan, maka ungkapan sokrates bisa jadi begini; kuliah yang tidak dipertanyakan tidak layak untuk dilanjutkan, mendingan cuti atau THR dululah.

Bagi saya, hidup seseorang itu tergantung dari apa yang dipertanyakannya, sebab pertanyaan-pertanyaan itu nantinya juga membentuk dan akan menjadi etos building dalam kesehariannya. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan menjadi penting dalam rangka membangun konsep diri yang lebih jelas, terarah dan tegas; terserah apapun itu pertanyaannya.

Namun pertanyaan yang paling penting adalah pertanyaan yang bisa mendialogkan diri dengan kenyataan sehari-hari, dialektika self dan other self (lingkungan, orang lain, ideology, norma, agama dan lainnya). Kalaulah pertanyaan tidak penting, bukankah elemen yang paling penting dalam agama adalah Tuhan, dan bukankah nabi Ibrahim mencari Tuhannya dengan pertanyaan.

Lantas, apakah yang paling penting dalam kehidupan tentunya “hidup” itu sendiri, kalau pertanyaan tentang hidup sudah tidak dianggap penting; apa jadinya kalau hidup kita nggak penting?

Sudah saatnya kita menganggap hidup kita ini penting! Dan kepentingan hidup tergantung apa yang dipertanyakan dalam kehidupan. Wallahu ‘alam bis showab. (te.Ditaufiqrahman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s