25 Juni 2008

Bertaruh Dengan Tuhan

1. Kenapa aku tidak memberi tahu adikku kalau mau masuk jurusan bahasa inggris mesti membeli formulir IPS, bukan IPA atau mungkin IPC?

a. Karena sifat toleransi-ku dan tidak mau mencampuri urusan adikku.

Dalam kondisi ini aku sadar terhadap apa yang aku lakukan, sebab bisa saja aku memaksa (mendebat) adikku untuk membeli formulir IPS atau IPC karena aku mempunyai “otoritas-memaksa”. Tetapi mengapa tidak aku lakukan? Dalam “kerangka alasan rasional” aku masih bisa berasalan bahwa aku menginginkan adikku bisa memutuskan apa yang hendak dilakukan dalam kehidupannya dan bertanggung jawab atas putusannya sendiri; oleh karena itu aku tidak memberitahunya, dengan demikian hal itu (membeli formulir IPA) adalah putusannya bukan keputusanku, kalau aku yang memutuskan manakala terjadi “sesuatu” (positif terlebih negatif) maka beban tanggung jawab-nya bukan saja adikku yang menanggung tetapi juga aku, sebab aku ikut andil bahkan (memaksa) untuk mengambil keputusan itu..

b. Atau mungkinkah “kebungkamanku” adalah salah satu “jalan Allah” (takdir) adikku?
c. Kalau adikku lulus SPMB maka “kebungkamanku” sudah direncanakan oleh Tuhan, sebagai salah satu skenario Tuhan. Kalau tidak lulus maka hal itu adalah keteledoranku sebagai kakak yang tidak memberi tahu adiknya.

Semoga lulus! Karena aku mempunyai firasat adikku lulus! Adiku akan mendapatkan keajaiban dariNya. Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s