31 Maret 2008

“Manusia yang paling sadar adalah dia yang paling banyak merasa sakit. Dan yang paling cerdas diantara mereka adalah yang paling tampak kepucatan”
-Jalaluddin Al-Rumi-

Kita manusia pengcemas akan terus merasa gelisah dari gulungan hari ke hari, gumpalan waktu ke waktu, tikaman bulan ke bulan, terpaan tahun ke tahun sampai kumpulan abad ke abad. Kegelisahan itu akan terus menusuk-nusuk urat nadi hati membuat segalanya limpung, bingung. Mengoyak-ngoyak benak yang sudah dicacah habis oleh prasangka ketidakpercayaan. Mencabik-cabik dengan sebuah puisi lirih, pedih perih atau kadang kala aral jeritan sebagai sebuah wujud teriakan protes terhadap narasi agung luhur yang tidak bisa dikenali apa mangsa namanya.

Kita terperosok, terjerumus, terjebak dalam kebingungan kita sendiri yang lamat-lamat menjadi kemuakkan yang tak terbantahkan! Tak teredam bahkan dengan aungan suara ombak yang menderu. Tak terdiam bahkan dengan kesepian gurun sahara. Tak terbayarkan bahkan dengan sejuta kekayaan seluruh laut dikumpulkan. Kebingungan itu berubah menjadi kesunyian, menjadi kondisi bungkam! Yang sengaja meredam segala dendam.

Seperti memasuki labirin-labirin yang memiliki jalan berkelok-kelok. Seperti memasuki rumah kaca, semuanya adalah bayangan, segalanya adalah pantulan, seluruhnya adalah kompensasi dari ketidak berdayaan kita, sublimasi kemunafikan kita! Ke-jijik-an tingkah dan ulah kita. Hingga tak sadar ketika kita bangun, kita sendiri tak tahu apa yang telah kita kerjakan, kita perbuat karena segalanya berjalan di luar kendali kita.

Semangat kita akan terombang merubah jadi meradang. Tangan kita seolah di tahan, diikat dengan brogol kesadaran. Tetapi nalar awas kita tidak bisa dibungkam hanya dengan ribuan serdadu kebutuhan sekalipun bahkan terjangan prajurit yang dilengkapi peralatan perang Romawi. Karena kita adalah manusia hasil dari kebudayaan yunani segalanya mesti dipertimbangkan logis rasional dan terukur.

Kita adalah manusia yang dituntut sadar oleh keadaan menerjemah, memahami kemudian membicarakannya dengan manusia lain. Kondisi inilah yang kadang kala membuat para manusia tercerahkan sakit-sakitan, berpenyakitan! Mereka berubah menjadi mutan-mutan yang liar menyerang sana-sini. Mutan yang diunggulkan, dipercaya tetapi sekaligus dibenci dianggap rujit oleh manusia yang bukan mutan atau sesama mutan sekalipun.

Pada dasarnya kita membutuhkan orang lain tetapi kita sendiri tidak akan damai dengan sesama. Selamanya kita akan terus dipaksa dalam kondisi paradoks, bertentangan satu sama lain. Bukan hanya dengan yang lain, tetapi dengan diri kita sendiri kadang kala kita saling membenci. Kita adalah pahlawan peradaban sekaligus pembenci dan pemberangnya. Kita konstruktif sekaligus dekonstruktif. Kita adalah Caligula sekaligus Romeo!

Alangkah busuknya diri kita ini! Tetapi lebih busuk lagi orang yang tidak mau jujur bahwa dirinya adalah busuk! Segoblog goblognya orang lebih goblog lagi orang yang tidak menyadari dirinya goblog! Benar kata Socrates, yang kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s