Surat buat Piedra

[8]
“Aku tak tahu bagaimana dunia memandangku. Aku merasa seperti anak kecil yang sedang mengumpulkan kerang-kerang di pesisir pantai, sedang samudera kebenaran terhampar didepanku…”
Kalimat itulah yang pertama kali Piedra baca dari sampul dokumen tebal yang Yvan berikan kepadanya sebagai alasan kepergian.

Piedra tersenyum, senyum manis.

“Sebuah kalimat pembuka yang sangat bagus Yvan. Indah nian. Kau memang seperti itu, selalu saja begitu; mengawali segala sesuatunya dengan misteri” gumam Piedra.

Seketika itu juga, Piedra jadi teringat bagaimana pertama kali ia kenal dengan Yvan. Sebuah perkenalan yang sangat mengejutkan, mereka di pertemukan dalam sebuah rapat dewan mahasiswa, Piedra hadir disana sebagai perwakilan dari organisasinya, begitupun dengan Yvan. Namun organisasi mereka berdua beda haluan, jauh bertentangan; sebutlah Piedra Kanan, Yvan kiri. Yvan hitam, Piedra putih.

Dan itu kali pertama juga bagi Piedra mendengar seseorang yang bisa dengan lantang berteriak jujur namun entah mengapa kejujuran itu sangat sesak di dengar oleh Piedra.

“munafik anjing!”. Piedra tidak menyangka kalau laki-laki yang berperawakan ramah, kalem akan berucap kasar seperti itu. Tapi hanya kata itu saja yang dia ucapkan, setelah itu dia langsung pergi dari ruangan rapat.

Seisi ruangan memang tersentak dengan perkataan yang barusan di ucapkannya. Namun tidak terlalu kaget kalau ia akan berbicara seperti itu. Tapi tetap saja bagi Piedra itu pengalaman yang menghenyakkan. Piedra masih tidak menyangka laki-laki yang berpenampilan normatif itu akan berkata kasar.

“siapa dia? Kasar sekali, mulutnya kok gak bisa di saring” batin Piedra.  

[9]

Dan benar sekali apa yang dikatakan perempuan berkerudung bercelana leging hitam itu, bahwa Yvan adalah seorang pendiam.

Selain pendiam, Yvan juga seorang yang kaku dalam bergaul, memiliki hambatan dalam berkomunikasi, penentang, pemberontak juga sekaligus liar. Tapi dalam penampilannya Yvan tidak kelihatan seperti itu. Yvan bisa menyembunyikan segala macam amarah dengan penampilannya yang kalem serta ramah.
Dan yang paling luar biasa dalam diri Yvan, ia merasa dirinya orang yang paling jujur di dunia ini. Namun entah mengapa, menurut Yvan, kejujurannya itu malah menyeret dirinya pada sebuah kesombongan. Ya sebuah keangkuhan yang hebat, yakni tidak bisa menerima pendapat orang lain.
Mengapa? Karena Yvan merasa bahwa dirinya orang yang paling jujur.
Dan sialnya, keyakinan itu di barengi dengan kecurigaan bahwa orang lain tidak pernah jujur. Karena bagi Yvan, kejujuran itu berbanding lurus dengan kebenaran. Maka secara otomatis orang lain tidak benar yang benar hanya dirinya. Tapi itu tadi, lambat diketahui oleh Yvan, ternyata kejujuran itu berbanding lurus dengan kesombongan.
Dan kesombongan adalah suatu hal yang sangat dibenci oleh Yvan semenjak kecil maka untuk menghindari suatu hal yang paling di bencinya di dunia ini, akhirnya dengan sangat terpaksa Yvan mengambil keputusan untuk tidak jujur. Karena dengan berbohong Yvan merasa terhindar dari sifat yang dibencinya selama ini yakni kesombongan.
Tapi Yvan tidak pernah bohong mengenai apa yang ditulisnya, semuanya jujur meluncur dari hati sanubari paling luhur. Sekalipun demikian, tetap saja kejujuran Yvan itu nampak seperti kebohongan. Karena dalam pribadi Yvan kejujuran dan kebohongan itu tumpang tindih, campur baur, sehingga tidak bisa dibedakan mana yang jujur mana yang bukan. Semuanya lebur antara dusta dan fakta. Ibarat tepung terigu dan tepung kanji (aci), sekilas dua-duanya seperti sama, padahal beda. Tepung kanji itu memiliki potensi mengembang kalau di goreng sedangkan tepung terigu tidak.
Begitulah kejujuran dan kebohongan bersekongkol dalam pribadi Yvan, menggelembung pada setiap tulisannya yang ia buat.
Sekalipun demikian, Yvan tak pernah mengarang-ngarang kalau menulis, tak pernah mengada-ada kalau mengarang. Yvan selalu mendasarkan tulisannya itu pada kenyataan sehari-hari yang dialaminya. Namun lagi-lagi, kendati Yvan bersikeras bahwa apa yang dituliskannya itu benar-benar terjadi, orang lain tetap menganggapnya itu sebuah kebohongan, isapan jempol semata atau sebuah khayalan. Yvan tak bisa berbuat apa-apa selain menerima omongan orang lain itu sebagai kenyataan.  
Dan memang itulah kenyataannya.
Yvan selalu menulis apa yang ingin dia katakan bukan apa yang dia pikirkan. Makanya sebelum menulis dia tidak pernah berpikir dulu, atau mencari-cari diksi apa yang pas untuk merepresentasikan perasaannya. Oleh karena itu, rangkaian kata, barisan kalimat, susunan paragraf yang selalu muncul dalam tulisan Yvan selalu sederhana bahkan terkesan sangat awam.
Kadang-kadang watak Yvan sebagai seorang yang asli Sunda pun merembes dalam tulisannya, sehingga dalam tulisannya kerap kali ditemukan diksi-diksi aneh yang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Karena sekali lagi, Yvan selalu menuliskan apa yang ingin dikatakannya bukan apa yang dipikirkannya. Dengan menulis Yvan bertutur. Menulis bagi Yvan bukan berpikir, melainkan berbicara.
Berbeda dengan kebanyakan orang  yang menulis dalam keadaan hening, Yvan malah selalu bising. Tapi bising oleh ucapannya sendiri, Yvan selalu mengucapkan apa yang dituliskannya. Ketika berhenti menulis, maka berhenti juga dia berbicara, begitu juga sebaliknya.
[10]

“mari kita lihat, apa yang akan kau sampaikan padaku dengan dokumen setebal…” gumam Piedra sembari menyelusuri halaman dokumen yang ada di genggamannya itu,

“ada berapa halaman sebenarnya dokumen ini? Tebal banget?” Ketika sampai di halaman terakhir, betapa tidak Piedra terhenyak, setelah menemukan angka yang tertera di sana adalah 894! 

“subhanaloh 894 halaman?! Isinya apa saja?” belum jua Piedra membuka halaman pertama, anaknya sudah bangun dan menangis. Piedra lekas mendatangi anaknya dan meletakan dokumen itu dengan begitu saja.    

[11]

Mungkin itulah tulisan terakhir yang Yvan tagg pada teman-temannya di facebook. Untuk selanjutnya Yvan bertekad tidak akan melakukan itu.

Penyakit autisnya kembali merajai, seperti halnya dulu ketika ia meninggalkan semua-muanya di Bandung; menjadi “solus ipse” perenung yang menyendiri, atau “sorpus ipse” seseorang yang tak dikenali, tak di ketahui, tak bernama, tak pernah kembali.

“Rumahku adalah kesunyian. Duniaku juga kesunyian maka jangan menggangguku. Aku tak suka berada dalam keramaian, sekalipun terpaksa aku akan menyendiri, melenyap dan menyamankan diriku sendiri.  Ya. Mungkin dalam kesunyian itulah aku merasakan kenyamanan sebab hingar bagiku sangar. Mungkin terdengar aneh bagi banyak orang tapi begitulah diriku. Dan aku tak harus mempedulikan apa yang orang katakan mengenai diriku” gumam Yvan pada dirinya sendiri. 

Lantas kemudian pandangan Yvan tetambat pada sebuah dokumen tebal yang berada di ujung kamar, sebuah dokumen yang tidak teramati lagi semenjak menginjakkan kakinya di Pemalang. Dokumen yang kini di pegang oleh Yvan itu adalah dokumen yang persis sama yang diletakan oleh Piedra ketika anaknya bangun dan menangis. Dokumen itu berjudul “Manuskrip Kesunyian”.

Manuskrip Kesunyian

Piedra, hidup denganku adalah sebuah ancaman. Sebuah teror yang mengerikan. Aku tidak bisa berdamai dengan siapapun. Termasuk juga dengan diriku sendiri.

If you could see the tears the world i  left behind, Piedra.

__________________________________________
*masih rangkaian cerita Yvan Saepudin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s