Episode Hermann Tribbiani

 
 
“Biasanya tukang sol itu sudah ada di sini. Kemana ya,” gumam Hermann sembari memasang x banner bergambar seorang artis ibukota nan ayu jelita memakai jilbab warna merah bata di samping rolling door dengan tali rapia. Setelah Hermann melihat di samping kiri kanan tidak ada, lantas Hermann kembali masuk ke toko.

Sekilas dia melihat jam dinding di kamarnya, “baru jam delapan” ucap Hermann.

“pantas saja tukang sol itu belum datang. Karyawan juga, ah mereka jadi kebiasaan, suka telat. Aku harus mulai berani tegas pada mereka, tenggang rasa sih tenggang rasa, tapi banyak kerjaan jadi terbengkalai, malah aku jadi repot sendiri. Ini tidak bisa di biarkan, apa kasih SP, saja ya?… ah ribet amat! Mending satu persatu ku tegur saja. Mudah-mudahan mereka bisa mengerti”

Hermann pergi ke dapur, mendidihkan air. Kebiasaannya ini sudah di mulai seminggu ke belakang semenjak pembayaran listrik membengkak sampai satu juta tujuh ratus. Hermann pusing. Dia rembukkan bersama karyawan lainnya. Seorang perempuan bernama Nurhanifa mengusulkan agar kita berhemat, selanjutnya dia bilang bahwa dispenser menyedot listriknya lumayan banyak.

Walhasil, Hermann yang mempunyai kebiasaan minum kopi sampai lima kali sehari, mesti bolak balik ke dapur mendidihkan air tiap kali hendak meminum kopi. Sebetulnya Hermann bisa saja menyalakan dispenser untuk keperluan minum kopinya, tokh dia yang di beri kekuasaan oleh perusahaan untuk mengatur operasionalisasi toko. Tetapi Hermann memiliki prinsip bahwa kepemimpinan adalah tauladan. Maka mau tidak mau dia sendiri mesti patuh pada aturan yang di buat secara mufakat. Lagipula menurut Hermann tidak repot, cuman mendidihkan air. Tidak memerlukan energi dan tenaga yang hebat seperti halnya memaafkan atau meminta maaf kepada orang lain.

“hah…” keluh Hermann, “kopinya habis??…”

Tak berselang lama kemudian, terdengar suara pintu di depan, Hermann buru-buru pergi ke depan, “eh kirain siapa?” Karyawan bermunculan datang.

Karyawan ; “pagi pa,… wuih…maaf telat pa”
Hermann ; “gak apa-apa….”

Tak jadi minum kopi. Hermann duduk di depan komputer kembali.

***

Namanya Hermann Tribbiani. Dia seorang kepala toko di sebuah perusahaan busana muslim terkemuka. Kini ia tinggal di Jawa. Pernah suatu kali dia di tempatkan di Sukabumi, namun entah kenapa kemudian di ‘dideportasi’ ke Jawa. Dikarenakan masih lajang. Hermann tak pikir panjang. Tidak seperti rekan kerjanya Nugroho yang menolak di tempatkan di Depok, karena berat untuk meninggalkan keluarga.

Dulu ia pernah bercita-cita menjadi penulis. Tapi Tuhan memang memiliki sifat humoris yang terkadang di anggap sinis oleh makhluknya. Hermann kemudian di belokan dari jalur kepenulisannya menjadi tukang dagang. Tapi Hermann tak pernah sekalipun mengeluh, sesekali ketika ia berpikir miris tentang nasib. Ia selalu ingat ucapan Mohammad Iqbal yang mengatakan “kalaulah bukan karena alasan perut, tentu aku tidak akan bekerja sebagai pengacara”.

Hermann memang memiliki daya khayal yang tidak tanggung-tanggung, alang kepalang. Ketika dia membaca itu, dia merasa menjadi Mohammad Iqbal. Dan semangatlah ia bekerja. Tetapi karena keinginan menulis kelewat biadab, dia tidak bisa menghentikan kebiasaan itu. Setiap kali ada waktu luang, setelah kerjaannya selesai, tangannya terus meminta menulis.

Apa saja di tulis, tentang atasannya yang cerewet, karyawannya yang suka telat, mousenya yang tidak mau bergerak-gerak, pelanggan yang bawel, semua-muanya di tulis. Dulu, ketika Hermann masih kuliah, memang Hermann suka menulis tema yang serius-serius tentang politik, sosial, bahkan filsafat tetapi setelah bekerja bahkan dengan dunia yang sama sekali beda. Pikiran Hermann seakan berat bahkan untuk di ajak ngegosipin masalah Bibit dan Chandra oleh rekan kerjanya. Hermann lebih suka nonton berita infotainment saja ketimbang berita.

Misalnya Hermann menulis seperti ini ;

Cerita ini bermula dari sebuah fasilitas internet yang bernama Facebook. Semenjak rekan teman kerjaku yang di Tanggerang menanyakan alamat facebook padaku. “Facebook? Apaan sih?” pikirku. Untungnya saja temanku itu cukup puas dengan jawaban; “tidak punya”.

Hehe, tentu saja agar tidak kelihatan udik, nora, ndeso, katro aku alihkan perbincangan pada lain topik, tentang pekerjaan. Semuanya berlalu dengan waktu. Dan seperti yang kamu tahu, aku cukup berpengalaman dalam hal itu; mengalihkan pembicaraan.

Hingga akhirnya, aku ditanyakan lagi mengenai Facebook ini, ketika di Sukabumi. Kali ini oleh teman semasa sekolah dulu,

“punya alamat facebook nggak?” begitu katanya.

“Hehehe… facebook? apa sih Ci?” jawabku datar, seperti tidak ada persoalan…

Cici, nama lengkapnya Asri Ratna Puspita tapi aku mengenalnya dengan sebutan Cici sebagaimana teman-temanku yang lain menyebutnya begitu, aku pun memanggilnya begitu.

Sebenarnya ada dua perempuan yang dipanggil Cici sewaktu sekolah dulu; Cici Asri dan Cici Pipih. Cici Asri, yang sekarang menjadi salah satu tokoh dalam lakonku ini, sedang Cici Pipih…? Rasanya bukan tempatnya untuk aku membicarakannya di sini. Nanti di lain waktu saja.

“ih rame…” papar Cici dengan semangat layaknya tukang obat menawarkan barang dagangannya. Aku pun menyahut, dengan referensi pengetahuan seadanya tentang internet maka aku sambungkan pengetahuan baru tentang facebook itu, dengan wawasan lainnya seperti imel, ceting dsb.

Namun, ujung-ujungnya, aku pun terseret untuk mencobanya, masuk di http://www.facebook.com.
Nampaknya seperti biasa, prosedur nya sama saja, ritual yang mesti aku lewati adalah mengisi nama dan tetek bengek lainnya. Ku isi sembarang saja, mulai dari biodata sampai foto yang kusimpan pun arbitrer, tak ada hubungannya dengan kehidupan nyata yang kujalani. Dan lahirlah akun pertamaku;

sorpus ipse!

Sebuah susunan huruf yang indah, sekalipun aku sendiri tidak tahu artinya apa.

 
SATU

Jaringan internet, atau lebih dikenal dunia maya adalah dunia yang penuh dengan kelabu-mengelabui. Dimana, menurutku, kebohongan mendapat tempat yang pantas, sejajar dan wajar dengan kejujuran. Pun sebaliknya, tempat dimana pahala dan dosa tumpang tindih, menggelinjang, berlipat, bertabrakan bahkan saling pandang. Bayangkan saja?! Kamu bisa membuka http://www.eramuslim.com dan http://www.pornhub.com sekaligus, dalam waktu yang bersamaan.

Kamu diperkenankan melihat dua perspektif dunia yang kontradiktif tetapi dalam satu jendela yang begitu intim, bahkan, nampaknya mereka berdua bisa saling intip.

Subhanalah!

Kamu bisa menyaksikan berita duka tentang warga palestina yang sedang di serang oleh Israel, fatwa-fatwa agama kontemporer sekaligus menikmati persenggamaan Maria Ozawa dengan lawan mainnya dalam pelbagai macam gaya dan suasana.

Wuih betapa haibat dan nikmatnya!

Eksrimnya, di satu sisi, kamu menjadi Iblis, di sisi lain menjadi malaikat.

Tetapi gak usah khawatir dan bimbang kawan. Menurutku, dengan melakukan semua itu, kamu sudah menjadi manusia seutuhnya. Percayalah kawan! Tuhan tahu semua itu, apa yang kamu lakukan dan sembunyikan.

Tuhan itu Maha tahu tapi—seperti yang dikatakan Tolstoy—Dia menunggu.

 

DUA

Ternyata banyak fitur tersedia di jendela facebook, hampir komplit! Semua tersedia di sana; bisa ngobrol, mengirim pesan, mendapat teman, mengupload foto, menulis sesuatu hal yang begitu penting. Atau tidak penting sekalipun, facebook tidak peduli? Semuanya bisa! Facebook seakan menjadi sebuah dunia baru. Kamu tahu, Gigi menuliskannya dalam sebuah lagu, “My Facebook”, baru-baru ini aku sudah melihat video klipnya.

Ada yang menamakannya gegar budaya, “malaise” (malaise? Apa pula arti dari kata ini?..hehe, Entahlah kata itu tiba-tiba muncul di balik batok kepalaku. Ah! Itu ucapannya Simmel. Tapi aku sudah lupa bagaimana definisi akademiknya, beginilah riwayat menulis berbekal referensi kelebatan benak), simulacrum, bricolage. (?)

Sudahlah! Sembari kentut kamu memintaku untuk menghentikan grammatology tolol itu.
Ya, saudaraku, ada yang memfatwa haram namun pesbuk tetap melaju, warnet kian rame, pulsa semakin dibutuhkan karena henpon tipe terjadah sekalipun—seperti punyaku—bisa mengakasesnya. Kendatipun dengan tampilan yang pasedek-sedek.

Aku mencoba satu-satu fitur yang tersedia, misalnya; (1) status, dimana kamu bisa menulis sesuatu (mendeskripsikan) yang kamu rasakan pada saat itu juga, misalnya begini, aku kutipkan beberapa status buatmu;

Mang Oyon; ti subuh jedur nepi ka jedor lohor… sidakeup payuneun laktop…. ngawacanakeun IMBIT nu ngulapeskeun KPK. “TRIK DAN INTRIK IMBIT” 2 jam yang lalu • Komentar • Suka
Pow Jaba Oman kela kagok sarokaat deui.. 25 September jam 12:26 • Komentar • Suka
Ali Mifka Nungguan damri bari jajan gorengan.si emangna meni ngajak ngobrol wae masalah kenaikan tarif tol.lieur..jadi poho geus beak sabaraha hiji eta nyapluk gorengan.. 28 Septemberjam 16:58 melalui Web Seluler • Komentar • Suka

Dalam fasilitas status ini, pengguna facebook (untuk selanjutnya facebook ditulis dalam bahasa sayah sendiri; “pesbuk”) tidak dibatasi mesti menulis apa. Misalnya pada beberapa status di atas, orang-orang tersebut seenak udelnya saja nulis sesuatu yang, menurut sebagian orang tidak berguna, tetapi sesungguhnya sangat bermanfaat bagi mereka.

Fitur lain ada yang dinamakan Wall atau Dinding, aku ibarat kan fitur ini adalah kediaman privasi kita sebagai pengguna pesbuk, di sana terdapat informasi lengkap mengenai siapa diri kita; nama, minat, film favorit dan lain sebagainya.

TIGA

Ada beberapa pengalaman menarik yang aku alami mengenai pesbuk ini, seperti yang sudah aku beritakan sebelumnya, dengan alasan pribadi, aku tidak menampilkan keterangan asli di tampilan pesbuk, foto yang aku pajang sesuai dengan mood ku tepat pada waktu itu. Foto yang pertama aku pasang adalah seorang gadis jelita, berbalut jilbab yang hampir menutupi seluruh muka. Dan orang lain mengenaliku sesuai dengan gambar yang ada di tampilan layar kaca itu.

Mungkin saja, aku tidak tahu.

Nampaknya, gambar itu sangat ampuh! Dalam beberapa detik saja, aku sudah mendapatkan teman dengan cepat. Di antara mereka yang masuk daftar teman, aku menemukan beberapa orang yang memang “hadir” dalam kehidupanku di dunia nyata tetapi lebih banyak yang “alpa” tapi “eksis” di dunia maya. Tapi, aku tak pernah menghiraukan akan hal itu.

Hingga suatu ketika, saat aku sedang seurving di jendela pesbuk, fasilitas ceting aku On kan, lantas ada seseorang, aku masih ingat, dia memakai inisial Raja Dangdut, mengajakku bercengkrama. Aku ladenin. Tokh tak ada salahnya. Pembicaraan pun berlangsung, aku memakai langgam perempuan,… hingga akhirnya dia menanyakan identitas asliku, sampai nomer hape.

Jiaaaaaaaaaaah!

Tentu saja, tidak bisa. Bukan, bukannya aku pelit memberikan nomer hape.

Yang menjadi masalah adalah dia, si Raja Dangdut ini, menganggapku cewek beneran? Tidak tahu kalau aku ini cewek jadi-jadian hehehe… Aku terus alihkan pembicaraan kesana kemari. Tetapi dia tetap saja berhenti di sebuah tujuan; yakni meminta nomer hape! Halaaah…. Aku nyaris menyerah! Hingga akhirnya ia menulis

“maaf aku tidak suka ceting sama orang yang tidak jelas, maaf kalau aku delet dari daftar temenku”

Terus terang, aku lumayan kaget, sampai segitunya…? Biasa aja kali? Tapi Aku tak ambil pusing, ku jawab

; “with my pleasure…”.

Habis perkara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s