Surat Ke 3 Dari Godot ke Maman Gorky

Maman, malam tadi, entah apa yang ada dalam pikiranku, tanpa izin, aku masuk ke kamar yang sempat kau tempati dulu, selama tiga sampai empat tahun lebih, di sana kau mengasingkan diri.

Ruangan itu sangat sepi. Rapat seperti di telan sunyi. Tanpa tepi. Namun, tak ada yang berubah di sana-sini; buku-buku masih saja tertata rapi, komputer mati, roti basi, koran pagi yang di tumpahi air kopi, radio rusak yang sudah tidak berbunyi. Dan tangga itu, masih saja bergeretak sesekali ketika kunaiki.

Ruangan itu terlihat setia sekali menanti tuannya yang telah pergi, seolah tahu dia akan kembali. Namun tepatnya kapan? Dia sendiri tidak tahu dengan pasti.

; “Tapi lihat saja nanti. Dia pasti kembali”

Bisik ruangan itu pada mentari, di suatu pagi. Dan pada gelap, di malam hari. Kau dan ruangan itu seolah sudah mengikat janji, yang satu sama lain tak mungkin mengingkari.

Ruangan itu seakan tidak hendak beranjak. Diam di suatu masa, dimana kau bergerak, meninggalkannya dengan penuh caci, maki, muak dan bentak.

Seperti pasrah, ruangan itu masih berharap tuannya pulang dari entah. Di saujana antah berantah.

***

Komputer itu masih berjalan dengan baik Maman, banyak tulisanmu yang belum beres, banyak cerpen yang menggantung di tengah jalan periwayatan.

Seperti cerpen yang berjudul “Gigolo” kamu hanya menulis.

Menjadi gigolo itu adalah sebuah anugerah bahkan amanah, jarang sekali orang bisa melakukannya. Menjadi gigolo itu memerlukan kesiapan mental dan spiritual. Banyak orang tidak menyadari kalau gigolo itu adalah profesi yang sangat prestisius, menantang, fantastis sekaligus.

Itu saja. Dan kamu tidak melanjutkannya.

Di file yang lain aku mendapatkan hal yang serupa bahkan lebih parah, kamu hanya menuliskan sebuah judul saja;

“Sopir Angkot”, “Tukang Bandros vs Tukang Cendol”, “Bapak”, “Arjuna Nagih Hutang”, “Lost Identity Person”, “Istriku Ternyata Lelaki”, “Menjadi Penulis Hebring”, “Senja Membawa Luka”, “Siul Nyeri Di Pagi Hari”, “Ramadhan Telah Mati”, “Fitri Juga Mati”, “Siapapun Bisa Mati”…

Ah, menyesal aku membaca nya. Ternyata folder Cerpen yang berisi hampir seratus file itu kosong. Dari sekian banyak judul yang kamu tulis itu, hanya beberapa saja yang kamu ceritakan. Sedang lainnya tidak jelas belukarnya.

Dari dinding ruangan itu, aku mendapat kabar bahwa setiap malam judul-judul yang kamu tulis itu berteriak, berontak, melaknat meminta kamu melanjutkan cerita itu sampai tamat. Mungkin jua karena beban itulah, ruangan ini setia menunggumu dari entah, karena judul-judul itu setiap malam merintih perih, penuh gelisah sampai amarah.

***

Pernah suatu hari kamu bilang bahwa;

; “kata itu mempunyai nyawa-nya sendiri-sendiri, jangan main-main dengannya. Kamu bisa di tembak mati olehnya”

Oleh karena itu kamu senantiasa mengajarkanku tentang pentingnya kejujuran, tentang menyampaikan kebenaran dengan baik tanpa menyakiti orang lain, tentang tanggung jawab terhadap kata-kata. Tentang semua-muanya yang berkaitan dengan kata-kata. Aku tahu persis hal itu. Mungkin karena alasan itulah kamu jarang berbicara, kamu jarang mendebat, kamu jarang beradu argumentasi dengan orang lain, kamu membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya, kamu sukanya diam saja.

Inilah yang aku bingung dari sikapmu Maman; kamu itu reaktif sekaligus pasif, deklamatif namun naratif, menjungjung tinggi nilai dialog tapi kamu sendiri sukanya monolog, afirmatif namun selalu saja kontradiktif, kamu bisa bilang ‘iya’ tetapi ‘tidak’ dalam satu perkara, mengarahkan tetapi menyesatkan, narsis tapi pesimis, sikapmu kadang sangat manis namun juga kelewat bengis. Najis Maman…

Kadang aku berpikir, kamu seperti telah bersekutu dengan Tuhan, kamu telah melakukan kesepakatan denganNya. Kamu tak pernah menghiraukan dosa dan pahala. Sebab tak jarang aku lihat kamu melakukan sesuatu, yang dalam pertimbanganku, pertimbangan khalayak, pertimbangan masyarakat, itu adalah dosa. Kamu malah berkata

; “ Masyarakat itu keparat!”

Serapahmu, dengan enteng, seperti tanpa pertimbangan apa-apa.

Di lain kesempatan, dengan dingin kamu juga pernah berkata

; “sodaraku, bagaimana orang bisa disebut berdosa kalau dia sendiri tidak mengakui adanya dosa? Bagaimana bisa kita menghukum terhadap orang yang tidak mempercayai adanya hukum? Tuhan yang menciptakan kita. Maka kupasrahkan segala sesuatu kepadaNya. Kalau Tuhan mau ambil aku sekarang, ya boleh saja”

Sembari nyeruput kopi, tatapanmu menerawang ke depan, ke suatu tempat yang entah ada di mana. Yang ada di dalam pikiran kamu hanya perihal kemanusiaan, kejujuran, menjalani hidup, menikmati hidup, mengartikan hidup, kadang menyepelekan hidup. Atau malah sesekali kamu hendak mengakhiri hidup.

Kendati demikian, tak pernah sekalipun kamu mengeluh tentang hidup. Bahkan kamu suka sesumbar seenak udelmu, bicara kepada teman-teman kita yang sering mengeluh itu. Ingat? Maman, banyak teman yang merasa jengkel dengan perangaimu itu. Hanya satu ayat bijak yang sering kamu utarakan ketika orang lain mengeluh.

: “sini aku kasih tahu, cara bunuh diri yang paling efektif. Atau kalau kamu segan buat bunuh diri, aku dengan senang hati membunuhmu”

Tentu saja teman kita yang keadaannya sedang stress berat, shock dengan ucapanmu itu. Dia bengong. Dia kira kamu bercanda. Namun ketika dia melihat pisau tajam di tanganmu serta sorot geram matamu. Dia tahu kamu tidak pernah bercanda akan segala ucapan.

Teman kita itu celingak celinguk, matanya cekak, antara stress karena masalahnya dan stress karena kematian ternyata datang begitu medadak.

Selayak malaikat pencabut nyawa kemudian kamu berkata

: “mengeluh atau aku bunuh?”

***

Sayang, Maman … aku tak tahu kejadian seterusnya. Tapi menurut berita dari teman yang menyaksikan kejadian itu. Kamu berkelahi dengannya, hingga berlumuran darah. Tapi karena sudah terbiasa, kamu tidak begitu banyak terluka. Namun teman kita itu, dia mesti di rawat beberapa hari rumah sakit.

Hebatnya lagi, dia tidak marah, malah dia berterimakasih padamu, katanya berkat kejadian itu. Dia jadi tahu, ternyata, hidup itu memang layak untuk di pertahankan.

Kadang aku aneh, dengan postur tubuhmu yang ceking, kamu selalu kuat melawan siapa saja. Ah… iya, aku jadi pernah ingat ucapanmu

; “raga boleh kecil, tapi jiwa jangan ikut-ikutan kerdil, sebab semangat adalah bedil !”

Mungkin karena itulah, kamu selalu objektif dalam kondisi terjepit sekalipun. Karena kamu senantiasa merawat semangat dan kesadaran mu di setiap saat dan tempat.

***

Maman, kini aku ingin bercerita jujur dan terus terang padamu. Aku sedang sakit Maman. Batinku yang sakit, tiap malam ia meronta, mengeluh derita, kini ia sedang lara.

Kalau kamu membuat kesepakatan dengan Tuhan, aku malah bertaruh denganNya. Aku tahu ini adalah suatu kesalahan, kesalahan yang fatal. Jujur kuakui, aku terlalu frontal. Kusangka Tuhan tidak akan mengabulkan do’aku. Kukira doaku sudah lantak di makan gagak sebelum sampai ke meja kerja Nya.

Namun ternyata, baru aku sadari, Tuhan memang tidak akan mengabulkan doa hamba serta merta. Butuh waktu, butuh masa. Aku bukan nabi Musa yang dengan sekejap mata meminta, dikasih Manna dan Salwa. Aku adalah manusia biasa, tidak sabaran, suka berprasangka buruk dan sifat jelek lainnya.

Dulu aku meminta kepada Tuhan, semoga di beri pekerjaan yang sederhana, sehingga aku masih bisa melakukan kebiasaan menulis kendati sudah bekerja. Dan ternyata Tuhan mendengarku, tapi sialnya aku yang belum siap menjalani dua kehidupan itu. Aku bukan superhero yang bisa menjalankan dua kehidupan dalam satu waktu.

Kamu tahu maman, tanganku seakan terus menuntut bicara, sedang pikiranku terus bercerita, jasadku seakan mau pecah seperti kaca. Layaknya granat, aku mau meledak!

Maman, kita sudah lama bersama, kita saling tahu satu sama lain. Maka aku ingin dengar pendapat dari mu, sebuah celoteh sarkas yang sering kau lontarkan ketika mendengar orang sedang stess.

Perbedaan persepsi tentang menulis jualah yang kuingat dulu pernah membuat kita berdua tak bicara. Sampai dua bulan lamanya.

Menurutmu menulis adalah menulis, tak perlu memikirkan apa-apa. Tapi tidak bagiku, justru dengan menulis kita memikirkan segalanya. Menurutmu menulis bebas sedang menurutku menulis mesti bernas. Mesti memikirkan aturan dan kaidah bahasanya. Pesan yang di sampaikan mesti jelas, tegas, sehingga pembaca tidak menangkap pesan dengan bias.

Aku pengin tulisanku itu di terbitkan, pengen populer, beken, mendapat nobel, mendapat Pulitzer, mendapatkan penghargaan, di filmkan. Di sanjung di puja. Tapi tidak bagi kamu, semua itu hanya percuma saja. Malah akan merendahkan tulisan kita. Membuang energi. Sehingga yang ada dalam pikiran kita adalah apa yang ingin mereka baca, bukan apa yang kita rasa.

; “ … jadilah artis, bukan penulis”

Begitu katamu, kemudian kamu membentak dengan sebuah ejekan yang telak.

; “Semua sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik daripada kamu bisa melakukannya. Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, dan petualangan… lupakan saja, karena semua itu sudah dilakukan Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan jadi penulis. Pelajarilah akuntansi!”1)

***

; “teori adalah babi!”

Itu katamu, ketika kusodorkan aturan sastra beserta bala tentaranya.

Ah Maman!… kamu memang egois, merasa diri paling benar, seperti dewa Dionysus yang kamu agung-
agungkan itu.

Maman mungkin ini surat yang terakhir kukirimkan padamu. Karena aku tak mau menulis lagi. Aku tak bisa menulis pada sosok imajiner seperti orang lain.

Bersama angin, kutitipkan sajak kesayanganmu ini, semoga saja sampai;

Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!

Sekian, saudaramu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s