Surat Ke 4 Dari Godot ke Maman Gorky

 
Maman!

Terkejut sekali aku menerima surat balasan darimu. Kukira selentingan kabar yang di bawa burung gagak itu benar adanya, bahwa kamu sudah di telan oleh Dewa segala malapetaka karena ke pongahan, dan kekurang ajaranmu. Namun nampaknya surat terakhir yang ku kirim mungkin membuatmu berbalik pikir.

Wow! Aku gembira sekaligus durja.

Kamu masih saja seperti dulu. Sarkas, pedas, namun lugu. Ucapanmu tidak pernah di polesi pelbagai macam referensi literasi. Seadanya. Seinginnya. Sejujur-jujurnya. Muncul dari lubuk hati manusia paling nadir. Sekalipun terdengar getir. Sumir. Terkadang satir.

Seperti surat yang kamu kirimkan sekarang, terdengar sangat garang. Bahkan aku tak bisa memikirkannya dengan tenang. Suratmu itu seperti tabuhan genderang mengajak perang.

Tapi tak apalah, karena itulah yang kusuka darimu. Karena dengan begitu, aku merasa diriku terwakilkan. Seperti yang pernah kamu katakan dulu

; “bahwa manusia sesungguhnya mesti memiliki banyak badan, karena dia tidak hanya memiliki satu gagasan… maka kamu tahu Godot!?… sekali berarti sudah itu mati. Anjing! Itulah saripati kehidupan ini”

Layaknya adegan John Nash yang sedang duduk di café kemudian menemukan rumusan teorema-nya. Kamu bangkit berteriak

; “eureka!… eureka!”

Seperti biasa, kami yang berada di sekelilingmu terhenyak, dengan sikapmu yang serba mendadak. Pada saat itu juga, aku kepikiran untuk memutuskan pertemanan dengan mu, karena aku sudah tidak tahan dengan sikap gilamu itu. Tapi dalam sekejap mata kamu bisa merubah keputusan itu dengan mentraktirku makan, .. hihi

Kamu tahu saja kelemahanku adalah makanan; apalagi martabak telor, martabak ketan, bubur kacang hijau, mie baso, batagor, susu coklat .. hmm, hampir semua-mua makanan aku suka. Kamu tahu itu, makanya timbangan tidak pernah akrab dengan ku.

Namun sialnya, dasar kamu jalang! Sehabis makan kamu malah sembunyi-sembunyi langsung pulang. Padahal tak sedikitpun aku punya uang. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku ngutang ke tukang dagang.

Hah! Dasar jalang.

***

Ah Maman, … apa sesungguhnya yang terjadi denganmu?

Mungkinkah…, mungkinkah, … mungkinkah benar kamu hendak mengamalkan sajak itu, bahwa sekali berarti sudah itu mati, bahwa hidup itu hanya satu kali, maka lakukanlah apa yang sesuai dengan hati nurani. Mencari Legenda Pribadi layaknya bocah kecil bernama Santiago yang di ceritakan dalam Novel nya Paulo Coelho.

Tapi Maman, kehidupan macam itu hanya terjadi di novel, roman, dan cerita-cerita fiksi semacamnya. Mana mungkin terjadi di alam nyata. Bukankah kamu sendiri pernah bilang

; “kita sudah terbiasa untuk tidak mengamalkan apa yang kita baca? Melupakan apa yang kita pikirkan? Menganjingkan apa yang di dakwa-kan, membabikan apa yang di serukan, menyampahkan segala macam petuah?!”

Hmmm… apakah itu benar Maman?…

Sebuah keyakinan yang terpancar di binar matamu paling tegar, tertancap di relung hatimu paling ujung, di bilik pikiranmu paling pelik. Kamu sanggup mati-matian memperjuangkannya. Kamu memang keras kepala Maman. Ingat? Frasa itulah yang kamu ajukan menjadi slogan jurnal kita dulu.

; “keras kepala menjaga kemanusiaan!”

Dan tentu saja itu di tolak mentah-mentah oleh dewan redaktur, karena slogan itu terlalu kasar.

***

Tapi, .. Maman, bukankah seperti yang pernah kamu bilang padaku di depan rumah makan Ibu Ratu bahwa sajak itu cuman dekorasi kehidupan belaka. Arti sajak sebenarnya terletak di balik alfabeta yang di sekap, di paksa, di bekap, di siksa hingga akhirnya di perkosa dan di susun dalam sebuah kerangka sastra. Kamu bilang dengan tegas

; “ada peristiwa di balik aksara, dan itulah sejatinya yang dinamakan sastra!”

Ah, aku yang tidak tahu menahu perkara sastra, hanya bisa manggut-manggut saja. Aku sendiri bingung apa yang kamu maksudkan dengan ucapan mu itu? Aku hanya penikmat Maman, bukan pencipta.

Ah, Maman, jalan hidupmu memang penuh liku, aku tidak tahu apa tepatnya yang kamu tuju. Yang aku tahu hidup itu ya gini-gini saja; kerja, cari makan, punya anak, membesarkan anak, cari uang buat sekolah mereka, mendapat penghasilan yang tetap, mengkredit rumah, membaca buku kalau sempat, rutin dalam buang hajat, menyaksikan para pejabat berdebat, mengutuk mereka karena tidak becus mengurus negara, sesekali menonton infotainment tentang rencana pernikahan Luna Maya.

Setelah itu, tidur, bangun lagi, mengerjakan sesuatu yang kukerjakan seperti hari kemarin. Begitu, begitu, begitu dan selalu begitu seterusnya. Hidup itu bukan urusan filsafat, ideology, sastra, paradigma atau semacamnya yang sering kamu ribetkan itu. Hidup ya seperti ini. Seperti yang aku lakukan tiap pagi; nyeduh kopi, makan roti, pergi kerja lagi, … mungkin begitu sampai mati.

***

Ah Maman, kamu pasti tidak setuju dengan pandangan hidup yang barusan aku ucapkan, kamu bilang

; “hidup yang hanya memikirkan isi perut, nilai hidupnya sama saja dengan apa yang di keluarkan”

Lantas? Apa lagi yang mesti ku kerjakan. Tidak ada Maman! Pikiranku sudah buntu untuk terus menerus memikirkan Legenda Pribadi yang sering kamu fatwakan itu.

Ah!

Kenapa dengan lahan parkir, … Maman?

Apakah kamu sekarang menjadi tukang parkir? Ah, tak percaya aku. Apakah secepat itu kamu banting setir. Menggadaikan kehidupan lama dengan kehidupan yang lebih mutakhir?

Ini Maman, satu-persatu kukembalikan aporisma yang pernah melekat di diriku,

Nobody know my sorrow, nobody know the trouble I see, ..

Wassalam, Saudaramu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s