Pelajaran Marketing

Saya memang bukan seseorang yang mempunyai background pendidikan di bidang marketing, sewaktu kuliah, tak satu pun buku marketing  pernah ku sambangi. Bahkan selepas lulus dari kuliah, marketing menjadi momok tersendiri bagi saya ketika bertualang mencari kerja.
Marketing, marketing, marketing. Posisi yang kerap kali memadati lowongan kerja di setiap koran. Tapi, Tuhan memang mempunyai selera humor yang sangat tinggi pada saya.  Saya pun akhirnya bekerja di dunia yang dulu saya benci setengah mati itu; maketing.

Ini kejadian tadi siang; ada seorang lelaki paruh baya datang ke toko. Lantas dia mencari seseorang yang “in charge”, lantas saya bilang kalau orang yang sedang di cari itu adalah saya. Dia sedikit kecewa, tidak percaya atau memang tidak mau percaya, soalnya penampilan saya jauh dari sangkaannya, memakai jeans belel hitam, pake sendal eager yang sudah jelek.
Lelaki itu kemudian berbicara ini itu menawarkan sebuah pemukiman Grand Comal yang sedang di bangun, “ya barangkali panjenengan bisa ngadain promo disana” tukas bapak itu.
Eh tidak terlalu lama, ketika sedang getol-getolnya ia promo, hapenya berbunyi. Dia angkat dong hapenya itu, “maaf ya mas” katanya, sembari membelakangi saya. Saya sih enjoy aja. Mungkin saja telepon itu penting.
Setelah selesai, tanpa tedeng aling-aling dia meneruskan promo nya itu kepada saya. Saya mendengarkan. Sesekali mengangguk. Dan tidak terlalu lama, hapenya kembali berbunyi. Dia minta izin lagi kepada saya, saya sedikit kesal. Tapi saya biarkan.
Disitulah saya mulai berpikir; balaga pisan ieu umat. Apalagi setelah mendengar obrolannya di telpon, “oiya pa, saya lagi mengawal marketing di lapangan, satu jam lagi saya on di kantor”.
Edan! Di kulub geura ku aing. Polontong pisan, gerentes saya dina hate. Teu kungsi lila, mangkeluk datang deui ka urang, tapi saya sudah kehabisan sabar. Langsung saya tembak, dengan omongan gini;
“okeh mas, nanti kalau saya berminat, saya pasti hubungi sampean” sembari mengajaknya salaman, kemudian mengawalnya keluar. Dan saya rikes-rikes brosur yang dia berikan di hareupeun nana.
Maaf tuan, saya bukan orang marketing, sama sekali tidak tahu bagaimana cara menjadi seorang marketing yang baik itu. Saya memang tidak pernah membaca buku Philip Kothler tapi saya baca Humanisme Tolstoy! Saya baca karya Chekov, saya mengagumi Voltaire! Dan mereka semua adalah seorang marketing pemikiran yang baik.[] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s