Aku, Frans Nadeak dan Minami

Aku sedang bosan menulis cerpen, seperti halnya dulu aku bosan menulis puisi. Daripada membeli permen, aku lebih senang minum kopi. Apalagi yang diseduh dengan air dingin. Mantap sekali. Aku memang bukan seorang penulis, maka tak perlu spesialisasi.

Aku sedang ingin menulis yang ringan-ringan saja, sesuatu yang tidak perlu mengerutkan kening ketika kita membacanya.
Tapi ketika membuka facebook, secara tak sengaja aku membaca sebuah note dari saudara Frans Nadeak  yang diposting tanggal 12 April 2010 jam 14:55 berjudul Persahabatan di Facebook, mendadak saja aku pengen buang air kencing. Hahaha…

Tentu saja tidak ada hubungannya tuan, antara keinginanku kencing dengan tulisan saudara saya Frans itu, anda saja yang kepikiran buat menghubung-hubungkan? Anda jangan terjebak dengan pernyataan saya barusan. Hanya saja memang saya akui, kebetulan waktu itu aku kebelet pengen pipis.

Nah pertanyaannya; apakah tulisan saudara Frans Nadeak itu yang membuat saya kepengen pipis? Hmmm. Rasanya tidak ada alasan medis yang bisa membenarkan akan hal itu.
***
Tulisan saudara saya itu sangat keren sekali tuan, terutama pertanyaan-pertanyaan mendasar yang dilontarkannya seperti berikut ini
; Mengapa seseorang tidak menggunakan nama aslinya? Mengapa tidak menggunakan fotonya sendiri? Mengapa seseorang menggunakan nama samaran, nama fiksi, bahkan mungkin nama palsu? Bagaimana lagi dengan orang-orang yang gemar mengganti namanya?

Sebenarnya dari dulu saya ingin membincangkan perkara ini, cuman gak tahu kenapa tulisan yang saya proyeksikan untuk membahasan perihal itu malah kepanjangan, rawel sana sini, comot sana sini, gak jelas bentuknya jadi apa? Walhasil kubelokkan saja jadi cerpen yang berjudul Yvan Saepudin.
Mungkin tuan sudah membacanya, kalau belum? Baca saja. Tidak haram kok? Tinggal klik disini.
Itu mungkin kebiasaan jelek saya dalam menulis, saya tidak pernah mendebat pikiran saya hendak kemana bertolak, tidak fokus, melenceng dari niat awal, contoh lain cerpen saya yang berjudul Dosa Di Atas Ranjang, sebetulnya itu bukan judul yang saya proyeksikan, cuman pas di tengah penulisan, pikiran saya teringat akan film-film panas Sally Marcelina, Ayu Azhari, Inneke Koesherawaty, dan entah mengapa muncullah ide untuk memberi judul Dosa Di Atas Ranjang, tadinya aku mau kasih judul, Jika Esok Tidak Datang. Aku juga bingung sendiri kok kenapa jadi Dosa Di Atas Ranjang?
Tapi tak apalah, karena sengaja saya biarkan pikiran mengalir begitu saja.
Dan sampai sekarang, saya pribadi tidak tahu bagaimana harus menuntaskan nasib Yvan Saepudin dan Piedra itu. Mungkin itu yang dinamakan Stak (stuck).
Untungnya saya tahu jalan pulang tuan, kalau tidak? Mungkin saya sudah berputar-putar memikirkan bagaimana meneruskan cerita itu? Kenapa? Karena sekali lagi, saya bukan novelis, atau cerpenis, saya tidak mempunyai kewajiban moral bahkan tuntutan profesional untuk meneruskan cerita itu. Tapi kalau secara finansial cerita itu menjual, saya bakal ‘satekah polah’, ‘beak dengkak’, ‘sirah dijadikeun suku, suku di jadikeun sirah’, ‘ti susud ti dundung’ (aporisma bahasa sunda, artinya kurang lebih mati-matian gitu dech) meneruskan cerita itu.
Kendati tidak meneruskan cerita itu, saya tidak bisa menghentikan kebiasaan menulis, maka saya lanjutkan menuliskan cerita pengalaman-pengalaman spritual saya yang terkesan tengik, jijik, tapi memberikan contoh yang baik, bajik, karena memang saya orang baik, dan selalu mengucapkan yang baik-baik. Hahaha…pede aja lagi tuan? Keras kepala menjaga ketampanan! Itu motto saya.
Nah di tengah ‘fitratul idea’ (kekosongan ide) itu, saya menjambangi media Kompasiana, eh ‘ternyata Tuhan’—Ehmmm…. nampaknya terlalu Lebay tuan untuk menyebutkan Tuhan ikut campur dalam urusan sepele ini, ganti saja jadi; ‘kebetulan saya’ menemukan tulisan saudara Minami.

Siapakah saudara Minami?

Bukan… bukan… bukan itu tuan. Yang tuan maksud pasti Kotaro Minami sang Ksatria Baja Hitam, RX, ROBO dan Bio ‘kan? Hehehe.. Selera humor anda herois sekali. Ini bukan Kotaro Minami, tetapi Minami asli, orang Indonesia, dia adalah kompasianer. Bukan juga Miyabi, Kok bisa sih anda berpikiran kesana?
Hmmm, anda udik sekali tuan? Jadi Kompasianer itu seperti facebooker, Bogger, Twitter, koregrafer, email-ler, kontainer, singger, dancer, apa lagi ya? Ya pokoknya gitu dech tuan. Kalau orang yang suka menggunakan facebook dinamain facebooker, nah gitu juga dengan kompasianer, orang itu suka menggunakan media kompasiana.
Lama-lama, saya gebukin juga jidat tuan, masa kompasiana gak tahu?? Plisss dech!
***
Nah tuan, tulisan saudara Minami itu menurut saya, esensinya hampir serupa dengan tulisan saudara Frans Nadeak yang ada di Facebook ini. Hanya saja dengan kontekstualisasi yang cukup berbeda.

Mari saya paparkan sedikit saja perbedaan-perbedaan itu, pertama kalau saudara Frans mengulas mengenai arti persahabatan di facebook, sampai pertanyaan mendasar yang sudah saya kutip di atas sedangkan saudara Minami membahas mengenai segmentasi di kompasiana.

; Jika beberapa waktu lalu rekan Firman Seponada pernah mengulas ‘kasta’ dalam kompasiana, sekarang saya juga ingin urun rembung tentang kompasiana dan kehangatannya. Bagi saya istilah kasta mungkin agak ‘keras’ didengar, karena terkesan ada sekat atau tingkatan. Oleh karena itu saya ingin memakai istilah segmentasi saja untuk mengelompokkan para penghuninya. Tentu ini hanya opini saya yang masih ‘cekak’ dalam urusan jurnalisme, artinya bobot penyajian tidak bisa dijadikan rujukan, sekedar iseng boleh lah.

Gitu tuan, kata saudara Minami yang saya kutip secara leterlek dari tulisannya.

Namun, untunglah di facebook ini, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada yang namanya “segmentasi”, “kasta” atau kosakata kacung, budak, majikan yang semacamnya. Sehingga tidak akan muncul segmentasi a) facebooker senior, b) facebooker wartawan, b) facebooker abal-abal, d) facebooker komentator (komensianer), e) facebooker ‘gelap’, d) facebooker silent reader, seperti yang terdapat dalam tulisan saudara Minami.
Hahaha. Entah mengapa tuan, setiap menyebut nama Minami, pikiran saya selalu teringat Kotaro padahal gak ada hubungannya sama sekali.
Nah itulah juga mengapa saya lumayan kerasan berinteraksi dengan media facebook ini karena selain di hadapan Tuhan hanya di hadapan media facebook inilah manusia bisa setara. Pun nampaknya di hadapan media kompasiana orang-orang tidak bisa menjadi setara.
Sebab seperti yang ditulis saudara Minami, disana ada admin, ada jurnalis tamu, pemimpin redaksi sebuah media, wartawan senior, dan kompasianer yang telah hadir sejak masa awal-awal kelahiran kompasiana. Termasuk para tokoh-tokoh nasional yang hadir di sini meski tidak seintens yang lainnya.
Di facebook kan gak ada admin? Gak ada headline tulisan? Semua tulisan campur “duduk satu meja, sama rata, sama rasa bersama di layar kaca”. Mau itu tulisan anak SMP yang baru belajar nulis, sampai orang yang sudah menerbitkan berjuta-juta buku. Sama aja.
Itulah mengapa, saya lebih kerasan di facebook, karena tidak ada tetek bengek birokrasi yang mengatur tulisan “si ini” jadi headline, sedang tulisan “si itu” kayaknya belum?
What de pak, with det! Es hol.
Soalnya saya adalah salah seorang patriot yang ikut berjuang dalam revolusi Perancis bersama Comte, Jean Valjean memperjuangkan prinsip liberte, egalite, fraternite! Saya yang paling depan meneriakkan; Hidup martabak!
Haha. Iya tuan, yang lain berjuang, saya berdagang, sedang Bang Rhoma Irama tetap begadang, hahaha .. tuan boleh bilang; therlalhu!
Maaf tuan, tidak lucu ya? Mari saya teruskan cerita saya.
***
Nah, sampai di mana tadi tuan, saya jadi lupa. Oiya. Andaikata di facebook ada kategori akun seperti yang sudah di bahas oleh saudara Minami, mungkin saya termasuk kategori “facebooker gelap”, kenapa?
Karena saya memakai nama palsu, foto palsu, semua-muanya palsu!
Nah disinilah tuan, saudara Frans dengan gaya Socrates mulai bertanya
; Mengapa kamu tidak menggunakan nama asli? Mengapa tidak menggunakan foto sendiri? Mengapa menggunakan nama samaran, nama fiksi, nama palsu? Mengapa gemar mengganti nama?

Kalau saya Saykoji pasti saya jawab; so what gitu lho? Atau kalau saya Fitri Tropica saya akan jawab; hellooooo! Facebook aja gak papa? Kenapa kamu ngeyel? Siapa elo?? Plisss dech! Secarah…
Atau kalau saya Olga Syahputra pasti jawab; ribet banget sih hidup lo? Ya terserah guwa. Tapi karena saya lumayan suka band Radja, saya akan jawab dengan Jujur. 
Kenapa saya tidak menggunakan nama asli? Karena saya anggap segala apapun yang ada di internet cuma buat main-main, maksudnya tidak usah begitu dipercaya!
Persepsi saya ini mungkin keliru, tapi memang begitulah keadaannya. Saya belum pernah membuat apapun dengan identitas asli kecuali sekali, yaitu ketika pihak akunting minta email pribadi untuk urusan kerjaan, mendadak saya membuat email dengan nama pribadi. Tak peduli rekan sekerja menyebut saya gaptek, yang jelas, identitas saya aman. Sampai sekarang, jujur saja tuan tidak ada satupun rekan kerja yang tahu alamat pesbuk ini. Begitu pun saya, tidak ada niat untuk memberitahunya. Biarlah semuanya menjadi misteri. Hahaha.. lebay ya tuan?
Alasan lain? Secara serius saya katakan; tidak ada.
Tapi saya lebih tertarik untuk mengungkapkan alasan kenapa akhirnya saya memilih nama Kh Drs Godot Bennington.
Hahahaha…. Tapi sedikit informasi saja, sudah beberapa bulan ini saya tidak bisa ganti nama, tuan. Hanya nama Kh Godot Bennington yang direstui oleh pihak Facebook jadi gelar Drs nya raib. Haduh padahal udah studi lama-lama, hanya salah klik saja gelar itu hilang. Nasib. Nasib. Sempat beberapa waktu dulu saya ngotot pengen gelar Prof di depan Godot Bennington tapi lagi-lagi pihak facebook tidak berkenan. Mungkin dikiranya kebangetan.  
Kalaulah facebook seperti negara Indonesia, sudah saya sogok departemen bagian pertata-namaan dengan celana dalam Luna Maya. Tapi facebook bukan Indonesia, dan mereka sama sekali tidak akan tertarik dengan celana dalam Luna Maya.
Jadi? Sutralah.  

***
“Persahabatan sejatinya adalah membuka diri. Persahabatan dan semua jenis yang membuka diri selalu mengandung risiko. Risiko diabaikan, dikhianati, ditolak, bahkan dibuang. Tapi agar kita bisa menjadi sahabat, kita harus berani mengambil risiko itu dan bergerak maju: menjadi sahabat.”
Itu perkataan Frans tuan, ucapan dari seseorang yang sangat dewasa dalam menatap sebuah arti persahabatan. Dari ucapannya itu, saya bisa membayangkan betapa berpengalamannya saudara saya ini dikhianati oleh sahabatnya.
Hahaha. Bercanda tuan.
Tapi saya sudah berkomentar di catatannya itu, kira-kira seperti ini.
Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih telah bersahabat dengan saudara, sekalipun nama dan poto ini benar-benar palsu, tetapi persahabatan saya dengan saudara benar-benar tidak palsu.

Bagi saya pribadi, hanya segelintir orang saja yang mengenal saya secara nyata di facebook ini, dan itu bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki, berarti kalau di jumlah-jamleh ada dua puluh, dan kelipatannya, yang mengenal saya “secara nyata” artinya saya kenal dia, dia kenal saya dengan baik. Saya namakan ini “teman realis”.  

Sedangkan selebihnya ada beberapa kategori teman di facebook ini menurut saya;
a) teman selebritis. dia mengenal saya, tapi saya tidak kenal dia, teman seperti ini saya namakan “selebritis”, kenapa saya sebut selebritis? Karena memang seperti itu kan selebritis, dia dikenal, tapi dia sendiri tidak kenal kita. Siapa yang tidak kenal Rhoma Irama, tapi apakah Rhoma Irama kenal kita? Jangan harap.
b) teman sadis. saya mengenal dia (tapi sialnya, mengapa) dia tidak kenal dengan saya, teman seperti ini saya namakan “sadis”. Kenapa saya sebut sadis? Ya sadis aja, saya sudah kenal dia, kok dia gak mau kenal sama saya? Ih sadis amat!
c) teman egois. sebenarnya kami saling kenal, kami pernah bertemu di dunia nyata, tapi aku dan dia tak begitu akrab, entah itu karena status sosial, tempat yang jauh, atau alasan lainnya tapi akhirnya di facebook kita berdua seperti saling kenal, teman seperti ini saya namakan “egois”. Kenapa? Ya egois aja dua-duanya? Gak ada yang mau duluan memperkenalkan diri sendiri.
d) teman romantis. Teman ini hampir mirip seperti teman egois, tapi dia sedikit lebih intim dengan kita, sering maen inbok, padahal udah nulis di status, di dinding, eh masih aja pengen nulis di inbok, itu artinya dia ingin lebih intim dengan kita, saya namakan dengan teman “romantis” 
e) ada teman “diplomatis”, sukanya komen di sana sini, tapi jarang bikin status, jarang bikin catatan, saran saya, hindari orang seperti ini, karena takutnya nanti, pas komen lagi minjam uang.
Masih banyak sih tipe teman di facebook ini misalnya teman narsis? Kenapa anda tersenyum tuan? sepertinya ada sesuatu yang tuan sembunyikan ketika saya sebutkan kategori teman yang terakhir itu. Kenapa  tuan,
Sumpah tuan? Saya bukan orang narsis, saya cuman kelewat optimis saja. Sebentar tuan, jangan pergi dulu! Hei, hei… tuan, saya belum selesai bicara. Padahal, saya  kan belum menceritakan tentang kenapa saya memilih nama Godot Bennington.    
_________________________________
*Terimakasih kepada Saudara Frans Nadeak dan saudara Minami yang telah memberi inspirasi, sayangnya saudara Minami tidak ada alamat pesbuknya, jadi gak bisa di tagg, cari aja artikelnya di Kompasiana, atau klik disini.

2 thoughts on “Aku, Frans Nadeak dan Minami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s