Aku, Sabda Ali Mifka, Faridz Yusuf, Rimura Ken-Ken,

“…If I have seen a little further it is by standing on the shoulders of Giants”- Sir Issac Newton

Saya memang bukan seorang Newton yang bisa “.. seen a little further”, tapi sebagai seorang biasa saya adalah seseorang yang selalu standing on the shoulders of Giants. Karena segala apa yang saya lakukan, yang saya katakan tidak pernah lepas dari pengaruh orang lain. Sekalipun dengan segenap hati, saya masih meyakini apa yang diucapkan Sartre bahwa orang lain adalah penjara, adalah neraka! Tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak bisa hidup sendiri, tokh saya juga tidak dilahirkan oleh manusia sendirian.

Kalau pun iya, secara sepenuh hati saya meyakini ucapan Sartre itu, tentu saja seharusnya saya sudah mati bunuh diri sebagai implementasi ucapan itu. Tapi tidak, saya masih setengah-setengah, karena saya masih pengen hidup. Dan melanjutkan hidup ternyata lebih berharga ketimbang mengamalkan ucapan Sartre itu. Dan lambat laun, saya juga jadi curiga, jangan-jangan alasan Sartre juga sama seperti saya ketika dia mengucapkan perkataan fenomenal itu? 
***
Ketika terbentik suatu ide untuk membuat tulisan tentang Hudan Hidayat dan Sukron Abdilah, tentu saya pribadi sudah menyadari bakal ada pro kontra, bakal ada yang setuju dan tidak, bakal ada yang suka, menyindir atau bahkan mencibir, bakal ada orang yang menganggap saya mencari sensasi atau hanya frustasi.

Atau bahkan mungkin Hudan Hidayat serta Sukron Abdilah akan menuntut balik dengan alasan pencemaran nama baik? Tapi kemungkinan itu tidak terpikirkan sama sekali oleh saya tuan, kalaupun mereka keberatan, kemungkinan besar mereka akan membuat tulisan tandingan, buat mengkritik saya. Sebab mereka berdua adalah penulis bukan selebritis.

Tapi tak apa tuan, semua nya sudah terpikirkan oleh saya. Persis ketika saya dulu memutuskan untuk terus membuat status tentang tampan. Mungkin anda sudah jengah mendengarnya, tetapi tak apa, selama saya masih ada bahan? Saya akan terus membuatnya. 
Saya berani menanggung resiko itu dengan sebuah alasan mendasar bahwa ide besar itu bukan apa yang ada dalam pikiran hanya, tapi ada dalam alam nyata. Shakespeare tidak akan pernah menjadi besar seperti sekarang ini kalau dia tidak memutuskan untuk menuliskan “ide” kisah Romeo And Juliet-nya itu ke dalam sebuah tulisan drama, novel, cerpen? Apapun itu namanya. Begitu juga yang terjadi dengan Tolstoy, Chekov, Beckett, Dostoyevsky, Voltaire, Coelho, Gadamer dan lain sebagainya.  
Saya mencoba seperti itu. Menyatakan dan menjalankan ide. Sekalipun hasinya tidak besar, belum besar atau bahkan tidak akan pernah menjadi besar.
Anda tahu tuan, inbok saya kemarin-kemarin di penuhi oleh cacian, makian, umpatan, hinaan bahkan ancaman mengenai status yang saya buat. Anda boleh menganggap ini sebagai kelebayan, tapi itu memang benar-benar terjadi pada saya; saya masih ingat orang yang mengancam saya dulu itu bernama Elly Oguchi. Dia mengancam akan meretas facebook saya kalau terus menyampah.
Saya sendiri tidak tahu apa atau mana yang ia maksud dengan “sampah”? Catatankah? Atau status?
Kalaulah status yang selama ini saya buat sampah? Apa bedanya dengan status orang lain, dengan status yang ia buat? Padahal tokh sama-sama saja? Kalaulah status saya sampah? Maka bagi saya semua yang ada di facebook ini adalah sampah!

Entahlah tuan, mungkin beliau terganggu dengan konsistensi saya membuat status tampan. Padahal dia tidak berteman dengan saya, otomatis kan status saya tidak nangkring di berandanya? Tapi kenapa dia bisa terganggu? Aneh-aneh saja. Kalaupun mengganggu? Kan tinggal di sembunyikan? Atau kalaulah masih belum puas tinggal remove saja dari hubungan pertemanan? Kenapa mesti mengancam? Saya kira orang ini memang tidak mempunyai itikad baik. Maka dengan berat hati sebagai upaya pengamanan saya blokir dan laporkan orang itu, tidak tanggung-tangung dengan keenam akun saya.

Enam? Hahaha. Iya tuan, enam atau bahkan mungkin bisa saja lebih, ini kan fasilitas gratisan?

Anda bisa mengenali siapa saja akun yang saya admin-i di facebook ini.

***

ngutip tuluy sampai mampus….
lebih baik mampus karena coba berdiri di atas jemari sendiri, daripada menjadi besar di bwah bayang!

Itu adalah komentar Absurditas Malka tuan, pada tulisan saya yang berjudul ”Aku, Faradina Idzhary, Weni Sundari, Onnok Rahmawati, Rini Garini, Pradewi Tri Chatami, Nani Sulyani dan masih banyak lagi …“.

Komentar yang singkat, padat dan tepat, komentar yang terkesan menghujat padahal memberikan pelajaran yang sarat, terkhusus bagi saya pribadi. Kalau kita membacanya lebih dekat. Kalau anda tidak membacanya sekilat.

Komentar beliau ini nyaris setara dengan ucapan Gie, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!

Bahkan melampaui! Apa pasal? Karena Gie sudah mati, sedang saudara saya ini belum? Nafas beliau nampaknya masih panjang untuk mengobarkan semangat absurditas ‘hingga kesaksian terakhir’!

Dengar saja senandika batinnya tuan,

hingga waktu mencabik cantik dengan usia
hingga usia mengantar nafas pada renta
hingga renta memapah tubuh pada pusara
aku akan diam dalam getar penantian
hingga akhir kemungkinan

Sebuah ekstase absurditas yang sangat brutal sekaligus sakral tuan, saya tidak pernah mau membayangkan bagaimana cara orang seperti ini menjalankan hidup? Mungkin seperti Camus, Sartre, Nietszche, Kierkegaard, Gadamer, Heidegger, Rumi, Al Hallaj, atau seperti mereka? Seperti halnya orang-orang yang memiliki pemikiran yang nyaris serupa. Begitulah mungkin beliau menjalani hidup, karena aku sendiri secara pribadi belum pernah bertatap muka dengannya. Hehehe. Tapi kuyakin dia sangat pemberani.

Atau mungkin tuan berkenan mendengar ayat suci lainnya? Dengarlah ini tuan,

demi ia: yang hanya utuh bila kusebut dalam hati saja

Ini adalah firman dari seseorang yang bernama Faridz Yusuf, seseorang yang pernah menjadi Nabi dan sampai sekarang juga tetap menjadi Nabi bagi saya pribadi, karena semua orang adalah Nabi bagi dirinya sendiri.

Begini ucap Sang Nabi

Aku hanya butuh kebebasan dan persamaan atas hakku. Tuhan tak pernah membagi bahwa kalian dan aku berbeda dalam pengorbanan. Tuhan tak datang ke warung itu kemudian berkecimpung untuk menentukan siapa yang pantas bagi kalian untuk memulai percakapan. Tuhan tak menyuruh kalian duduk-duduk minum teh sambil mengatakan hal-hal tak penting. Tuhan tak ikut membuat mosi dalam keimananmu bahwa kalian harus memakai kolor apa, warna apa, yang dianjuk bulan keberapa. itu keputusan kalian!

Ya, tuan, Itu keputusan kalian! Mau berkomentar seperti apa juga, sarkas, pedas ataupun cadas. Dan itu keputusan saya mau menulis tentang apa juga? Aku hanya butuh kebebasan dan persamaan atas hakku!

Barusan itu perkataan saya.

Saya mengutip ucapan sang nabi, sungguh tanpa izin, mungkin juga memelintir tafsir, karena mencomot redaksi tanpa mengindahkan konstesktualisasi setting dimana tulisan itu di tuturkan. Tapi saya tak peduli. Dan saya tidak akan lebih peduli lagi, akan kubawa luka ini sembari berlari. Berlari hingga hilang pedih peri.

Itu, lagi-lagi perkataan saya.

Saya mengutip ucapan penyair Chairil Anwar. Plagiat? Besar dibawah bayang? Mungkin iya. Tapi Chairil bukan orang yang menciptakan kata “pedih”, “berlari”, “hilang” . Jauh-jauh hari sebelum Chairil lahir, kata-kata itu sudah ada. Bahkan pernah juga dipakai oleh para penyair-penyair sebelumnya?

Chairil hanya merangkai kata–kata yang sudah ada itu dalam kerangka baru. Begitu juga Mark Twain, Pablo Neruda juga semua-muanya. Mereka sama, mencari celah baru dari sisi kehidupan yang ada, yang semua-muanya juga sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik daripada kita bisa melakukannya.

“Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, dan petualangan… lupakan saja” kata seorang profesor berkata kepada seorang penulis partikelir, amatir seperti saya, “karena semua itu sudah dilakukan Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan jadi penulis. Pelajarilah akuntansi!”

Tentu saja saya tidak menuruti ucapan Professor gendeng itu dengan mempelajari akutansi tuan—yang sombong dan nampaknya tidak bisa melihat posisinya digeser oleh anak muda. Akhirnya saya sepakat dengan Irving Wallace (1916-1990) yang mengatakan “Kata-kata itu konyol, benar-benar bodoh. Bukankah setiap emosi tak pernah persis sama. Bukankah tak pernah ada yang melihat cinta atau merasakan benci persis seperti kau melihatnya.” 

Tuan dengar sajak yang akan saya bacakan berikut ini

dan ada yang tertinggal,
ketika kita bergegas meninggalkan senja.
masih tersisa gerimis malam di sudut kata;
menenggak jarak di kesunyian ruang gerak.

Ini adalah buah karya dari seseorang yang bernama Sabda Ali Mifka berjudul I – 00:30; tahukah anda tuan perasaan apa yang hendak disampaikan seorang Sabda Ali Mifka dengan sajaknya itu? Apakah perasaan itu pernah pula dirasakan dan disampaikan oleh penyair lain? Andaikata perasaannya sama, apakah sajaknya juga sama? 

Mungkin iya sama, ada kata “dan”, ada kata “yang”, tapi kerangka tuan, kerangka yang berbeda yang menghasilkan sebuah sajak yang berbeda pula. Kata “dan” adalah milik siapa saja, dan siapapun tidak berhak untuk mengklaim bahwa kata “dan” adalah miliknya sendiri! 

Bahkan seorang biadab, tukang zinah, pemabuk, pencerca Tuhan sekalipun, layak dan berhak menggunakannya kata “dan” bukan hanya seorang ustad, pendeta, atau ustadzah yang di perkenankan untuk menggunakan dan memakainya.

Keterlaluan sekali tuan kalau memang iya ada aturan seperti itu, Cukuplah hanya ada satu Tuhan yang Maha Arogan jangan ditambah lagi dengan kehadiran tuhan-tuhan lainnya. Satu ‘entitas’ saja yang mengaku sebagai Tuhan dan mendapat ‘legitimasi’ semesta alam sudah cukup merepotkan apalagi semua entitas berperilaku seperti itu? Mungkin nasibnya bakal seperti negara kita yang kacrut ini; membunuh, melempar orang dengan batu sudah sama ringannya seperti membalikkan telapak tangan.

“Lalu kemana aku harus pergi?” ucap Rimura Ken Ken pada Catatannya yang berjudul Fantasia. Ya? kemana saya harus pergi tuan? Saya tanya kepada anda, 

… sedang seluruh makna hidupku ada di sini. Aku ingin bersamamu, diandra.. menghitung deretan aksara dingin dan sunyi. Berdua memungut jejak embun di setiap pagi, sebelum hari menyengat, dan kita harus kembali pada dunia yang itu-itu lagi..   

Lalu kemana aku harus pergi? Setelah seluruh hidup kutanamkan di tanah hatimu. Berharap ia kan subur, meski jelas kamu takkan bisa menjaganya setiap waktu. Kemana aku harus pergi? Sedang langkahku senantiasa terjejak menuju ruangmu. Karenamu bagiku hanya ada satu hidup, dan aku tak pernah menyesali itu. Meski tanah ini bisa saja mati, dan benih pun hilang biji. Tapi itu pilihanku, niatku, yang tak sempat kujatuhkan dalam kata sebab keberangkatanmu terlalu dini.

***

Dan kalaupun sampai sekarang saya masih bisa menulis itu hanya semata-mata karena memang saya suka menulis mungkin juga mengamalkan amanah yang telah diberikan Tuan Zuckerberg, berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda.

Saya punya pengalaman, suatu hari, jauh-jauh hari sebelum adanya jejaring sosial bernama facebook saya pernah berbicara pada salah seorang perempuan, sebut saja namanya Haori, bahwa saya kepengen punya teman tempat berbagi cerita tentang apa saja tetapi saya dan dia tidak mesti punya kaitan apa-apa dengan teman itu, dan teman itu tidak mesti kenal saya begitu juga sebaliknya.
Tentu saja saya tidak beranggapan bahwa facebook “diciptakan” oleh Tuhan untuk memenuhi keinginan saya itu, namun saya semakin yakin bahwa saya tidak sia-sia mempercayai adanya Tuhan. Karena hanya Tuhan-lah, yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan kalau tidak ada lagi tempat yang bisa disalahkan, Tuhan cukup setia untuk menjadi kambing hitam. Saya suka Tuhan, karena Dia masih memberi nikmat setelah melakukan maksiat sekalipun. Tuhan memang hebat.
Dan tuan andaikata suatu saat nanti saya menjadi besar, bisa melihat sedikit saja lebih jauh itu karena saya selalu berdiri di atas pundak para Dewa. Dan para dewa itu adalah orang-orang yang telah kusebut dan kukutip tulisannya di atas tanpa izin. Mereka tidak kenal saya, tapi saya kenal mereka dengan tulisannya.
Sampai disini tulisannya tuan, saya sudah kebelet pengen pipis, nanti disambung lagi ya? Masih banyak dewa-dewa yang akan kuceritakan pada anda, …
 
 
 
___________________________________
*tadinya tidak akan diposting, takut ada beberapa orang yang tersinggung, tapi mungkin akhirnya diposting juga, sebagai salah satu bentuk apresiasi.

One thought on “Aku, Sabda Ali Mifka, Faridz Yusuf, Rimura Ken-Ken,

  1. Godot memang sudah memiliki kunci pesona dalam menulis. Dengan kunci itu dia bisa membuka pikiran dan hati pembaca hingga terbuka lebar. Di satu sisi pikiran jadi terbuka, di hati juga emosi tersentuh, apakah dengan rasa sedih, gembira, trenyuh atau tertawa…..Good luck my friend…! Sebagai pembaca aku suka tulisan-tulisanmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s