Jenuh

Dalam beberapa hari ke belakang ini, memang saya sedang di serang oleh rasa jenuh yang sangat garang, alang kepalang, menghantam perasaan riang saya kemudian jadi hilang. Entahlah, saya sudah lelah berperang dengannya seperti halnya kemarin-kemarin dulu. Kali ini saya menerima rasa jenuh itu dengan lapang. Tanpa genderang perang. Membiarkannya melenggang menari senang.
Jenuh, sebagai sebuah perasaan, pikiran atau mungkin tindakan, entahlah apa entitas sebenarnya dari “jenuh” itu sendiri saya kurang ngerti. Tapi yang pasti “jenuh” tentunya bakal menyerang siapa saja; seniman, kreator lukisan, tukang becak, penzina, gigolo, penulis, ustad, pendeta, tukang parkir, dosen, penjaga toko, penyair, tukang bubur, tukang sayur, manajer, pelacur? Pasti pernah merasakan jenuh  seperti halnya mereka pernah kentut, bersin atau kencing.

Bohong rasanya kalau ada orang mengaku bahwa ia tidak pernah merasakan jenuh seumur hidupnya. Kalaupun iya memang ada? Menurut saya hanya ada dua sebutan bagi manusia semacam itu, pertama dia benar-benar pembohong atau dia memang benar-benar orang sombong bahkan hanya sekedar untuk mengakui jenuh sekalipun dia tidak mau?
Orang seperti itu setara dengan Qorun, Fira’un atau si Ma’un.
Kebayang dech hidupnya pasti gak bakalan tenang. Kenapa? Ya karena banyak hal yang harus disangkal olehnya untuk mempertahankan harga dirinya. Disni kamu bakalan tahu bahwa kebohongan itu sebenarnya berbanding lurus dengan kesombongan. Orang yang suka berbohong sebenarnya juga bukan berarti dia gak suka jujur, hanya saja kebohongan lebih memikat dirinya ketimbang kejujuran.
Kalau masih bisa berbohong? Kenapa harus jujur? Gitu mungkin prinsipnya.
Namun sialnya, sekarang ini kita tidak bisa membedakan mana yang disebut bohong, mana yang disebut jujur? Seperti halnya dosa dan pahala, sekarang kita gak bisa dengan jelas membedakan diantara keduanya; apakah orang itu melakukan dosa? Atau akan mendapat pahala?
Tentunya pembicaraan ini akan menjadi rumit sekali kalau saya lanjutkan, bahkan untuk diri saya pribadi? Apa pasal? Karena saya sendiri tidak mengerti apa yang barusan saya bicarakan dan tidak tahu bakal apa lagi yang akan saya bicarakan, daripada merepotkan anda semua, mending saya hentikan saja sekarang. 
Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada beberapa orang yang saya akan sebutkan berikut ini Panglima Tian Feng, Achmad ‘Kaka’ Fauzi, Kang Arief, H Syihabul Furqon, Shafia Azzahra, Aku Ya Aku, Arther Panther Olii, Nunu Achwazan, Yuda Sedang Belajar Sabar, Abu Aviccena Alfarabi, Nani Sulyani Karyono, Nama Ku Memang Udik, Arni Mojang Geulis, Vudu Blues Prakerta, Ieme Tea, Richa Wie, …. 
Sebab beberapa karya hebat mereka tidak sempat saya apresiasi karena perasaan jenuh itu tadi. Sungguh saya sangat tersanjung ketika mereka masih mengaku saya dengan men-tagg tulisannya sekalipun tidak saya komentari atau jempoli. Itu penghargaan yang sangat berarti bagi saya pribadi.

Sepele? Mungkin iya bagi anda. Lebay? Mungkin juga iya bagi anda. Tetapi tidak bagi saya, karena pada dasarnya tidak ada yang sepele, tidak ada yang lebay di dunia ini. Mungkin benar aku siluman, bajingan, tengik, pecundang, pengecut, pendopleng popularitas, pengerat ide orang lain, provokator, orang gila yang perasa, pembakar, mudah tersinggung, pendendam, pencari perhatian, autis, pengerang, penyerang, pengkritik, egois, sadis, picik, licik, mencari nama besar dengan mengulas karya-karya orang lain yang sudah besar, penjilat, demagog, goblog, babi, bangsat, biadab, bedebah, keparat, jahanam… Anjing!?

Dan pelbagai macam stigma negatif, jelek lain yang belum sempat anda pikirkan. Mungkin iya aku seperti itu, seperti yang akan anda sangkakan.
Lantas kalau memang benar aku seperti itu? Anda apa? Anda siapa? Mau apa dengan keadaan saya yang memang seperti ini adanya? Merubah saya menjadi orang yang lebih baik, lebih bajik?  
Anda memang malaikat, terhormat. Kalaupun bukan malaikat? Anda tetap iblis yang terhormat. Ya seperti itulah anda, seseorang yang terhormat. Bukan seperti saya, yang kerapkali berkubang dalam maksiat setiap saat bahkan sampai kiamat, karena saya adalah seorang manusia, tapi tentu saja tuan, saya sudah berniat untuk tobat. Sepuluh kali saya maksiat, sepuluh kali saya tobat.
Nah…, sebentar.
Mau kemana lagi sebenarnya pembicaraan saya ini? Itulah kelemahan saya. Saya tidak fokus. Lebih saya sudahi saja pembicaraan ini.   
Saya sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besanya kepada anda semua. Semoga tidak bosan-bosannya memberikan pencerahan kepada saya dengan karya-karya anda semua. Terimakasih.

Selamat Hari Jenuh Tanpa Mengeluh! Adios planet futtbal. No Pain No Game. Kip pangki nomeder wat dey said. Never put till tumorrow what you can du tuday. Tujhe dekha to ye jana sanam. Where gossip can be fun. Kip rokin beybeh! Salam TAMPAN!

2 thoughts on “Jenuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s