Aku, Mang Oyon Cuang Cieung, Imelda Adlan, Wahyu Heriyadi, Gilang Langit Nugraha, Ezha Si Heboh

Sudah lama rasanya saya tidak menulis di pesbuk. Hehe. Padahal cuman dua minggu sudah lama, apalagi dua tahun? Ya? Itulah waktu, bisa mewajahkan dirinya dengan pelbagai macam rupa. Waktu sekarang tentu berbeda dengan waktu yang akan datang, begitu juga sebaliknya waktu yang saat ini sedang kamu jalani tidak bakal terulang lagi di kemudian hari. Padahal semua-muanya sama saja, orangnya itu-itu juga, yakni kamu. Tapi kenapa kok bisa beda ya?

Coba dech kamu datang pada suatu tempat yang sama, misalnya dengan orang yang sama, dengan baju yang sama, celana dalam yang sama, membawa makanan yang sama, diusahakan dengan cuaca yang sama, Agama yang sama, Tuhan yang sama, semuanya sama. Apa yang bakal terjadi? Si guwe yakin, suasana atau kondisi ketika kamu datang pas pertama kalinya dengan kedua kalinya, ketiga kalinya, bahkan ke sekian kalinya bakal berbeda. Karena apa?

Karena  jam sembilan yang sedang kamu jalani sekarang tentu bakal berbeda dengan jam sembilan yang bakal kamu jalani nanti, sekalipun semunya sama. Tapi waktu tidak pernah sama, Never be the same again, ucap Melani C salah satu Vokalis Spice Girls itu sembari jingkrak-jingkrak.

Senada dengan Mel C, Mang Maroon Five juga bilang “Something’s gotta change, Things cannot stay the same, Dude!” ketika saya tanya kenapa perut saya menjadi Bureuteu (sedikit membesar),

“maybe because wind of change” katanya. “Oh iya, mungkin juga sih, soalnya di Cijuraleu Resort lagi pertukaran cuaca”  Jawab saya membenarkan.

“okeh brader, Good Luck, for yor Show!” kata saya.
“yur welkom, rimember Dude, Something’s gotta change, It must be rearranged, .. wassalamu’alaikum!”
“wa’alaikum salam” tembal saya.

***

Menulis adalah serupa iblis. Ia mesti berani mengatakan yang sebenar-benarnya, sekalipun hal itu sangat berisiko dikeluarkan dari surga. Tapi itu tidak menjadi soal, karena surga dan neraka bukanlah tujuan, melainkan fasilitas tambahan, yang penting adalah menjalankan titah Tuhan. Titah Tuhan itu adalah menolak sujud kepada Nabi Adam.

Kalau lah dirunut, sejatinya ada tiga posisi makhluk di dunia ini. Tapi sebenarnya ini adalah Informasi rahasia yang tidak boleh saya ceritakan kepada siapapun. Apa pasal? Karena ketika saya ceritakan informasi ini, kalian bakal terhenyak sekaligus tidak percaya. Sungguh! Mari saya coba ceritakan informasi berharga itu.

Ada tiga kategori makhluk yang ada jagat raya ini; kategori pertama adalah Khalifah. Siapa khalifah? Dia itu adalah manusia yaitu kamu, yang tugasnya adalah mengurus bumi ini sekaligus juga menghancurkannya. Kenapa diurus tetapi sekaligus juga dihancurkan? Kamu jangan salah paham. Gini dech, aku tanya, kamu percaya ada kiamat? Kamu tahu kalau kiamat itu bakal datang? Nah, aku kasih tahu rahasia lain, kiamat itu sebenarnya tegantung manusia sendiri maunya kapan? Kalau mau lama, maka manusia seharusnya mengurus bumi dengan sebaik-baiknya. Tetapi kalau mau cepat, ya hancurkan. Nah makin hari, sebenarnya kiamat itu makin dekat, seperti kata bang Deddy Mizwar juga. Salah satunya adalah kehancuran dari pelbagai macam segi, lingkungan sudah jelas-jelas hancur, moral juga udah ancur, Aqidah apalagi, nah yang paling hancur adalah muka yang membaca tulisan ini. Hehehe. Pasti kamu bête? Sudah jangan bête, muka udah ancur , tambah bête, makin ancur dong. Hehe.

Kategori makhluk yang kedua adalah “tumbal Metafisika”, siapa itu? Yakni iblis. Iblis adalah hanya satu-satunya makhluk yang berani mengambil keputusan menjadi “tumbal Metafisika” diusir dari surga dan dijanjikan menjadi penghuni pertama neraka.

Kategori yang ketiga adalah malaikat, biasanya disebut sebagai “makhluk penjilat” kenapa? Enggak ah… aku gak mau nerusin takut di fatwa halal darahnya ama Tuhan MUI…

Oleh karena itu, menulis sejatinya adalah meng-Iblis. Menjadi iblis. Siap mengatakan apa yang dirasakannya sebagai kebenaran, kalaupun salah, tidak segan meminta maaf. Karena  iblis selalu siap menanggung resiko. Iblis adalah contoh makhluk idealis yang pernah ada di dunia ini, dia tetap bertekad mengganggu manusia yang katanya sebagai Khalifah. Dan nampaknya kita sudah melihat siapa yang lebih berhasil, Khalifah atau Iblis?

***

Sebenarnya nama-nama orang-orang yang saya di tulis di judul itu mungkin sudah menunggu-nunggu semenjak pembukaan tadi, kapan pembahasan tentang saya nya? Gitu mungkin kira-kira. Tenang dong? Siapa kamu. Selebritis bukan, penghuni surga bukan, iblis bukan? Tukang martabak bukan?

Kali pertama saya menulis dengan tema pembahasan orang-orang yang ada di pesbuk ini adalah ketika saya jenuh menulis cerpen, sedang menulis puisi tidak bisa, menulis artikel terlalu berat. Wal hasil, saya membaca-baca karya orang lain, dan rupanya saya ingin mengapresiasi lebih ketimbang menulis di kolom komentar dengan diksi formal seperti ini; “Keren!”, “Sip!”, “Bagus”, “Lanjutkan!”, “Saya suka gaya Lo”, “Hebat ya?”, “Pingin ih, menulis seperti kamu”, “tamu 2 x24 jam wajib lapor”.

Jujur saja saya katakan disini, tulisan ini akhirnya keluar juga ketika tadi pagi saya membaca tulisan Mang Oyon yang membahas perihal identitas, kamu bisa baca catatannya disini. Bukan, bukan karena dia membahas tentang saya, tetapi ada satu diksi yang akhirnya membuat benak saya beranjak, yakni Anonim.

Sungguh dari dulu saya ingin membuat tulisan tentang asal mula kenapa saya membiaskan profil saya di pesbuk, tapi ternyata tulisan itu malah menjadi cerpen yang tidak menyua ujung berjudul Yvan Saepudin, kalau mau baca klik aja disini. Tapi lambat laun saya berpikir membicarakan hal itu bakal terlihat sangat personal, sekalipun cerita satu manusia adalah kisah seluruh manusia, tapi saya tidak ingin mengselebritiskan diri dengan hal yang seperti itu. Maka saya urungkan niat itu dan merubahnya menjadi sebuah penyajian yang lebih menarik. Yakni kenapa saya akhirnya memilih Nama Godot.

***

Menjadi Godot adalah menjadi anonim. Menjadi entitas yang tidak dikenal, lenyap, tidak diketahui, tidak disenangi, bahkan mungkin dibenci.  Karena dengan begitu kamu bebas bicara sesuka-suka mu, kepada siapa-siapa saja tanpa menghiraukan batas usia, strata pengetahuan, batas teritori, dan lain sebagainya.

Menjadi Godot juga menjadi Sinonim, memplagiasi orang lain pada diri sendiri, karena orang lain juga adalah kita, tidak ada beda. Namun pula Antonim, siap menyerang, menerjang, bahkan sampai menelikung.

Kadang menjadi Godot adalah akronim. Menjadi yang super cepat, cepat melupakan sesuatu, cepat memakan sesuatu, cepat melakukan sesuatu, cepat pula buang hajat. Dan yang paling penting, menjadi Godot adalah menjadi Pantomim, selalu ceria sekalipun sebenarnya tidak ceria, bisa menyembunyikan perasaan, mengelak, bertolak belakang, memberikan pencerahan dengan jenaka, karena … nothing is funnier than unhappiness.

Menjadi godot adalah sebuah tekad.  Adalah mengambil resiko, resiko di buang, di cerca, di hina, bahkan sampai dinista. Karena kamu tidak dikenal, maka kamu tidak memiliki saudara, tidak ada diksi silaturahmi, kamu hanya tinggal di galaksi yang hanya dihuni oleh dirimu sendiri.

Menjadi Godot adalah menjadi tidak berguna. Karena semuanya sudah dikerjakan, kamu hanya akan bergulat dengan kejenuhan menunggu hari-hari yang tidak tentu. Yakni menunggu orang yang berkenan datang padamu.

Menjadi Godot adalah menjadi harga diri. Karena tidak ada lainnya lagi yang tersisa di dunia ini selain itu, tidak ada harta, tahta, bahkan karya? Apatah artinya kalau diri sudah tidak berharga.

Menjadi Godot adalah menjadi yang diabaikan, sekalipun sering dibicarakan. Ia dihina karena tidak ada, tetapi kalaupun ada, dia diajak bicara.  Ketiadaannya adalah keberadaannya, existence as ex-absentia.

Menjadi Godot adalah …nothing to be done.

***

Dan nama-nama yang kusebut diatas kecuali Mang Oyon mungkin mengenalku ketika aku sudah memakai nama Godot. Ada Wahyu Heriyadi yang sekarang sudah jarang nongol di pesbuk, Gilang Langit Nugraha penyair yang terus menerus bereskplorasi dengan kata-katanya, Imelda Adlan yang merubah namanya dari Imelda Pesbuk menjadi Imelda Puisi yang nampaknya sudah janjian dengan Wahyu Heriyadi jarang nongol di pesbuk, hehehe. Ada juga Ezha yang ternyata adalah Hafidz Qur’an, memang wajah kadang mengkhianati siapa diri kita sebenarnya, zha, sekalipun wajahmu tidak mumpuni sebagai hafidz? Kip goin bro? Sudah nyampe juz mana?

Tapi tak apa, semua datang dan pergi, something’s gotta change, tapi tak ada yang baru di bawah matahari, dan saya akan tetap begini menjadi Godot atau menunggu Godot.

__________________________

tulisan lainnya; Aku dan Orang Lain

  1. Aku Hudan Hidayat dan Sukron Abdilah
  2. Aku Frans Nadeak dan Minami
  3. Aku, Faradina Idzhary, Weni Sundari, Onnok Rahmawati, Rini Garini, Pradewi Tri Chatami, Nani Sulyani dan masih banyak lagi,
  4. Aku, Sabda Ali Mifka, Faridz Yusuf, Rimura Ken-Ken
  5. Aku, Mang Oyon Cuang Cieung, Imelda Adlan, Wahyu Heriyadi, Gilang Langit Nugraha, Ezha Si Heboh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s