SURAT TERBUKA; Meninggalkan Godot.

Di ujung resah, akhirnya murung pun menyinggung kisah.

Menjadi Godot adalah menjadi bukan diriku sendiri tepatnya menjadi orang lain. Sekalipun aku sendiri sedikit keberatan untuk menyematkan identitas “orang” pada sosok Godot ini; karena aku pribadi ragu apakah Godot itu orang? Benda atau mungkin hanya sebatas diksi, kata sifat yang tidak ada penandanya di dunia nyata.

***

Godot bilang;

Aku Godot. Dan jangan sekali-sekali kau sangkut pautkan aku dengan orang yang kau identifikasi sebagai ‘aku’ di dunia nyata. Aku adalah Godot, yang selalu akan hidup di dunia maya, sedangkan dia, yang kau identifikasi selama ini sebagai Godot, tetaplah dia, bukan Godot.Dia adalah dia, dan aku adalah aku, aku adalah Godot, dan dia bukan Godot. Dia adalah satu hal, sedangkan aku adalah hal lain. Kami berdua bukan satu hal yang beda, sekalipun bersamaan. Kami berdua adalah hal lain, yang memiliki karakter lain-lain.Andaikata dia mati, aku tidak ikut mati, aku tetap hidup. Kalaulah memang iya, aku dan dia adalah satu hal yang sama, maka ketika aku mati, seharusnya dia juga mati. Tapi ini tidak, bukan? Dia hanya bisa mati satu kali sedangkan aku, bisa mati berkali-kali, juga hidup berkali-kali. Karena aku adalah Godot. Dan dia sekali lagi aku pastikan, bukan Godot.Lantas siapa yang menulis semua ini? Bisa jadi dia, yang kamu identifikasi sebagai ‘aku’ di dunia nyata, atau mungkin ‘aku’ sendiri. Tapi kamu tidak bisa menjamin, dan membuktikan kebenaran siapa sebenarnya yang menulis. Aku atau dia. Dan memang kamu tidak usah membuktikan, karena kamu tidak punya kepentingan akan hal itu.Hanya saja sekali lagi aku ingin memberitahukan, bahwa aku dan dia adalah dua hal yang berbeda dan sekali-kali kamu jangan menyama-nyamakan. Dia tidak ingin dikenal, sedangkan aku? Aku ingin dikenal. Aku ingin diketahui.

Aku bilang;

Menjadi Godot adalah tidak terkendali, semua kamu kritisi, semua kamu salahkan, semua kamu anjingi, kamu adalah sosok paling egois yang pernah aku ketahui. Kamu menulis, tapi kamu tak pernah mau membaca tulisan orang lain. Kebenaran hanya milikmu, sementara kesalahan sudah tentu milik orang lain. Hukum macam apa ini? Kamu lebih barbar dari kaum barbar sekalipun!

Godot bilang;

Siapa barbar? Siapa yang kamu sebut sebagai barbar? Aku? Aku adalah barbar? Ya, aku memang barbar, karena kamu tidak mempunyai kesempatan menjadi barbar, kamu tidak memiliki keberanian untuk menjadi itu, kamu terus-terusan hidup dalam kepalsuan, sementara aku yang seumur hidup selalu berlaku jujur, kamu bilang barbar? Hah? Manusia macam apa kamu ini sampai bisa menghakimi aku adalah barbar, sementara kamu bukan.

Aku bilang;

Bukan begitu maksudku, maksudku adalah…. Aku juga bingung, apa yang ingin aku katakan padamu, aku hanya ingin menyampaikan aku sudah jenuh menjadi Hermes bagimu.

Godot bilang;

Silahkan. Aku tidak butuh orang yang cengeng seperti kamu.

Aku bilang;

…, tapi kalaulah kamu mencari orang lain sebagai penyambung lidahmu, aku sudah mengetahui seluk beluk tentang dirimu, apakah kamu tidak takut rahasiamu aku bocorkan?

Godot bilang;

tentu saja aku takut? Tapi ketakutanku tidak menjadi masalah buatmu bukan?

Aku bilang;

tentu saja tidak, cuman… Benar kamu tidak takut,

Godot bilang;

tentu aku takut! Makanya kamu pikir-pikir dulu dech, mungkin selama ini aku terlalu keras padamu, kita memang ditakdirkan bersama.

Aku bilang;

tapi aku gak mau.

Godot bilang;

ya sudah pergi sana, buat apa kamu merayuku tadi,

***

Semenjak kuliah dulu, aku selalu mempunyai prinsip totalitas menyerang, tanpa pertahanan. Tetapi ketika sedang bertahan aku akan selalu tertutup, terhadap yang lain, karena demi sempurnanya sebuah strategi perlawanan. Maka bertahan bermakna menghilang dan merahasia. existence as ex-absentia.

Salah satu lawan favoritku adalah realitas; aku begitu senang menyerang realitas yang menurutku penuh dengan kepalsuan, kemunafikan yang super biadab anjingnya! Mantra Walter Benjamin yang telah memberikan ku inspirasi, gini katanya;

“… pertentangan-pertentangan yang ditimbulkan oleh modernitas melawan bakat-bakat kreatif manusia, melampaui batas kekuatan-kekuatan manusia. DAPATLAH DIMENGERTI KALAU MANUSIA MENJADI LELAH DAN MENCABUT NYAWANYA SENDIRI! Modernitas harus berdiri di bawah tanda bunuh diri yang diterakan atas kehendak heroik; suatu materi yang tidak menerima cara berpikir maupun yang memusuhinya…”

Haha. Tapi aku tidak sekuat itu untuk bunuh diri sekarang-sekarang ini.

Ini bukan masalah modernitas-post modernitas dan masalah babi yang lainnya. Ini adalah masalah identitas yang terus menerus saling seret menyeret, menyalib antara dua dunia, yang kata orang nyata dan maya. Dan itu juga tetap masalah babi. Yang bukan masalah babi adalah tidak mempermasalahkan apapun. Maka cukup dengan umpatan Anjing atau babi, yang kau sematkan untukku dengan mempermasalahkan hal ini.

Karena hidup sudah tuntas ketika seseorang itu hendak membicarakannya.

Terimakasih atas semuanya. Selamat bertemu lagi dengan saya di luar jati diri GODOT ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s