Sosiolo-gue

Pertemuan
   
Hallo, perkenalkan namaku Ibsen. Aku paham kalau kamu kaget. Sebentar, aku bisa ramalkan, apa yang ada dalam pikiranmu sekarang. Kamu pasti bertanya-tanya; siapa sebenarnya aku?
“Nggak kenal kok sok akrab. Jangan-jangan ada maunya, jangan-jangan…” setelah pikiran ini biasanya orang-orang akan meneruskan dengan pelbagai macam pikiran negatif.
Kamu juga seperti itu? Nggak apa-apa, aku paham kok? Semua orang bereaksi sama seperti itu kalau bertemu dengan orang asing. Banyak hal yang akan diselidikinya; dari penampilan, gaya bicara dan seterusnya 
Nggak usah takut, aku orang baik-baik. Aku nggak bakal minjam uang, kalau itu yang kamu khawatirkan. Percayalah. Aku mendekatimu karena dari tadi aku perhatikan kamu seperti orang yang sedang kebingungan. Aku sangka, kamu sedang ada masalah. Aku juga seperti itu kalau sedang ada masalah.

Percayalah, wajahmu tidak sedap dipandang kalau seperti itu. Haha..

Hei lihat… kamu sudah bisa tersenyum sedikit. Yang kamu butuhkan adalah teman berbicara, untuk membagi masalah yang sedang kamu hadapi. Kalau kamu percaya, aku bisa menjadi teman itu.

Kamu lihat anak-anak yang sedang bermain itu? Iya, mereka.

Rasanya enak bukan? Kalau kita kembali menjadi anak-anak, tidak banyak pikiran hanya bermain, bermain dan bermain. Nampaknya segala sesuatunya indah di mata anak-anak. Kalaupun bertengkar tidak sampai dendam-dendaman beres hanya dengan pacantel.

Kamu tahu pacantel?

Orang tuaku yang mengenalkannya kepada ku sewaktu kecil, artinya sebuah tanda perdamaian kalau aku bermusuhan dengan anak lain. Caranya adalah dengan mengaitkan kelingking kita dengan kelingking anak lain. Ya seperti ini.

Kalau sudah pacantel maka jangan bermusuhan lagi. Pacantel seperti aturan atau norma yang mengatur supaya permainan berjalan dengan damai tidak ada perkelahian. Biasanya kalau anak yang sudah pacantel terus bertengkar lagi anak-anak lain akan mengingatkan “ kan sudah pacantel masa masih bertengkar?”

Hehe.. bagi orang dewasa nampaknya aturan pacantel sulit dilakukan, meski sudah salam-salaman sebagai tanda perdamaian, eh tetap aja gontok-gontokan, ngomongin di belakang.

Susah ya ngertiin orang dewasa. Kadang aku juga berpikir, apa sih maunya mereka?
Kenapa? Kamu juga berpikiran seperti itu, 
Terus apa yang membuat kamu punya pikiran seperti itu?
Oh… kamu dilarang-larang buat main band, diatur-atur… trus apa lagi?
Kamu juga dilarang-larang buat masuk sekolah seni? Keterlaluan.

“jangan begitu, apa kata masyarakat nanti?!” orang tua mu bilang kaya gitu? Oh aku ngerti sekarang apa masalah kamu.

Ya, seperti itulah orang tua.

Kenapa, apa itu masyarakat? Siapa itu masyarakat?
Mengapa kamu menanyakan hal itu? Hmmm… Menurut kamu sendiri, apa itu masyarakat, siapakah masyarakat itu sebenarnya?

Sebentar, sekarang kamu ada janjian nggak? Ada acara?

Nggak ada, oh baguslah kalau begitu. Aku mau ngobrol-ngobrol sebentar dengan kamu, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan ke kamu. Rasanya tema obrolan kita tentang masyarakat bakal menarik.
Oke? Baiklah kalau begitu, aku akan membeli minuman dan beberapa makanan ringan buat menemani percakapan kita ini. Tunggu sebentar ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s