KORESPONDENSI 5; KELUARGA HERMANN TRIBBIANI

Aku tidak tahu hukum apa sebenarnya yang mengatur kehidupan ini; setelah dosa dan pahala sudah hampir kehilangan nyawanya, setelah negara tidak bisa lagi di percaya, setelah suara mahasiwa tidak lagi bermakna, setelah birokrat malah menjadi sampah masyarakat paling laknat, dan aparat semakin keparat! Setelah tabu melepaskan rasa malunya dan orang lebih peduli melihat seseorang lainnya tidak memakai celana dalam ketimbang berusaha untuk menutup aibnya, setelah aib itu sendiri mengambil alih ruang publik dan di bicarakan di sana sini,
setelah keadilan tumpang tindih dengan keuntungan, setelah penggawa agama merasa diri paling bertaqwa dan mempunyai lisensi dari Tuhan untuk mendakwa, setelah senggama bisa di tonton dengan bebas di layar kaca dan menjadi primadona, setelah anak mempunyai keberanian membunuh orang tuanya padahal bilang “uh” saja tidak boleh, setelah jalan cerita Cinta Fitri lebih banyak di sukai daripada sejarah nabi, setelah anak-anak muda lebih banyak bermimpi berziarah ke Eropa ketimbang ke Makkah, setelah semua fakta bisa dijungkirbalikkan kenyataannya, setelah agama menjadi nomor urut kesekian dalam daftar the most influential thing in the world,
Setelah Tuhan …
***
Ya, mungkin uang bisa menjelaskan semuanya.
Kenapa semua itu bisa terjadi. Kenapa rumah pa Tatang Bobon selalu kelihatan sepi ketika Hermann mudik ke rumahnya.
Ibunya bilang, Pa Tatang Bobon di tangkap polisi karena korupsi. Hermann sendiri kaget mendengar berita itu. Kaget karena ternyata perilaku korupsi itu bukan sandiwara belaka seperti yang kerap kali ia tonton beritanya di layar kaca. Tetapi benar-benar terjadi!
Hermann serasa bermimpi mendengar tetangganya ada yang ketahuan korupsi.
3 milyar! Jelas ibunya dengan ekspresi yang sangat dramatik. Ketika melihat ibunya berkata seperti itu, Hermann sontak berpikir, mungkin dari ibunya-lah bakat seni itu di turunkan.
Kalaulah ibu ditakdirkan bisa bersekolah sampai kuliah, pikir Hermann, dia akan menjadi seorang perempuan yang sangat tangguh. Sayang, ibu hanya bisa sekolah sampai SD, untuk mengerti kata dramatik saja sulit, apalagi menulis puisi. Terlebih dia adalah anak tiri. Pada usia SMP, saudara-saudara yang lainnya masih sekolah, ibu tidak. Dia disuruh berjualan di pasar membantu ibunya, yakni neneknya Hermann. Di keluarganya, hanya ibu Hermann yang lulusan SD, sedang kakak perempuan ibunya bahkan saudara lelakinya sampai PGA. 
Kendati lulusan SD, bagi Hermann ibunya tetap tangguh. Sekalipun tidak bisa menulis puisi. Tetapi ibu menulis puisi dengan cara lain, yakni membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan berusaha patuh pada suaminya. Itu adalah puisi yang sangat indah. Sekalipun tidak ada satupun penerbit yang tertarik untuk menjadikannya sebuah buku, ibu tetap ‘menulis’ puisi. Karena bagi ibu, puisi bukan masalah ketenaran dan kepintaran, melainkan ketulusan dan kejujuran.
Dan Hermann Tribbiani adalah salah satu ‘puisi’ itu.
Dalam diri Hermann mengalir darah seorang perempuan lulusan SD yang mempunyai mimpi besar, hanya saja karena keterbatasan pengetahuan, beliau tidak tahu bagaimana cara mewujudkan mimpi besarnya itu.
Ibunya merasa sangat bangga ketika melihat anaknya menjadi seorang sarjana, bahkan pada acara wisuda. Hermann sampai tak tahan menitikkan air mata, ketika melihat ibunya memaksakan diri datang dari kampung dengan dandanan norak, hanya sekedar untuk melihat anaknya menjadi sarjana. Begitu dalamnya ibu menaruh perhatian pada pendidikan.
Sampai yang terakhir kali, ibu rela datang ke sebuah universitas, di sebuah kota yang sama, untuk memperjuangkan anaknya yang lain untuk kuliah, yakni adik Hermann. Ia bertemu dengan ketua jurusan dimana adiknya di terima, dan berkata bahwa ia akan membayar sisa uang yang kurang, sekalipun ia mesti jualan keripik singkong!
Tentu saja, ketua jurusan itu terkesima sekaligus terhenyak melihat kegigihan ibu Hermann. Di antara perasaan salut, sedih dan sebagainya, ketua jurusan itu akhirnya berkata; “ya bu nanti saya akan usahakan”
Mungkin bagi ketua jurusan ucapannya itu adalah pereda kemarahan. Tetapi bagi ibu, itu adalah secercah harapan, harapan yang tidak akan pernah ia sia-siakan untuk memperjuangkan anak-anaknya menjadi sarjana. Ibu genggam harapan itu. Dan sarjana adalah kosakata yang sangat berharga dan begitu mewah dalam benak ibu.
SARJANA. Seseorang bisa melakukan apa saja kalau ia menjadi sarjana, pikir ibu.
Dan yang pasti dia tidak akan menjadi tukang sayur seperti dirinya. Ia tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang serupa. Ia ingin anaknya mempunyai harga diri, hebat! Seperti anak-anak yang hidup di balik rumah gedong.
Ibu tidak pernah mengajarkan apapun kepada anak-anaknya. Karena ia tidak tahu apapun mengenai pelajaran. Pengetahuan apa yang paling tinggi di ketahui oleh anak 6 SD jaman dulu? Minim sekali. Yang ia tahu, kalau hidup itu jangan banyak mengeluh, jalani saja.
Seperti ibu dulu, habis SD yang lainnya mah sekolah, eh ibu mah di suruh jualan. Malu sih malu, Mann. Tapi mau bagaimana lagi, nenek tidak mengijinkan ibu sekolah, katanya biayanya mahal, jadinya ibu membantu Nenek, yang sekolah malah kakak perempuan dan kakak lelaki ibu. Mungkin karena ibu anak tiri Mann. Jadinya begini. Makanya, apapun yang terjadi, ibu akan menyekolahkan kalian menjadi sarjana. Jangan kaya ibu.
Kenang Hermann ketika ia masih kelas dua SD.
Dan ternyata, ibu tidak main-main dengan ucapannya itu. Ibu selalu fokus dengan tujuannya, sekalipun dengan usaha yang sederhana tetapi semangatnya tidak sederhana.
Ketika ibu bergerak memperjuangkan adiknya, bagi Hermann, itu sudah melampaui ‘puisi’. Ibu  ber’sajak’! Menyajakkan ‘aksara’ yang di penuhi tinta darah, yang ia kandung selama sembilan bulan. Ingat! Saudara. Bukan tulisan yang biasa-biasa saja, yang sering kamu dapati dalam antologi sajak para pujangga yang hanya sekedar menggambarkan indahnya kehidupan dengan pelbagai macam metafora, tapi sebuah permenungan yang berasal dari kepahitan hidup yang terlalu akrab dengannya.
Ini bukan perkara mencari diksi yang pas untuk mengungkapkan rasa, ini perkara ongkos dari kampung menuju kota.
Ibu tidak kenal Chairil Anwar. Tapi semangatnya nyaris menyamai sajak ‘Aku’. Ibu tidak mengenal Paulo Preire, tapi perhatiannya tentang pendidikan lebih bedebah ketimbang para mahasiswa kiri. Ibu tidak kenal Shakespeare, tapi keagungannya melebihi King Lear. Ibu tidak kenal Pablo Neruda, ibu tidak kenal Hannah Arendt, ibu tidak kenal siapapun. Sumpah! Kalaupun di suruh menyebutkan orang yang paling berpengaruh di dunia, ibu tidak pernah kepikiran nabi Muhammad, pasti ia bakal menyebutkan Abah Atta, guru ngajinya sewaktu SD.
Bukan berarti ibu tidak menghargai Nabi, tapi pikiran ibu tidak nyampe kesana. Karena semenjak usia SMP, ia sudah akrab dengan wortel, bawang, tanah, karung, kembalian kurang, caci maki tukang bubur ayam, bentakkan toko si Nci.
Maka beruntunglah wahai kalian para perempuan yang telah di perkenankan oleh takdir untuk bisa mengenyam bangku sekolah, bahkan sampai kuliah. Beruntunglah! Dan tidak ada alasan lagi bagi kalian untuk mengeluh dan malas beribadah. Karena ibu tak pernah sedikitpun tentang hidup. Ibuku seorang ksatria tanpa kosakata. Gumam Hermann perih.
Sekalipun lulusan SD.

***

Terus sekarang dimana bu, pa Tatang nya?

Katanya sudah di penjara; apa lagi yang dia cari ya, Mann? Padahal rumahnya sudah gedong, penghasilannya lebih dari cukup. Kalau ibu mah dari dulu gini-gini aja. Ibu merasa tidak ada kebutuhan lain dalam hidup ini selain makan dan minum, paling bayar listrik, ngisi gas, bayar SPP. Sudah.   

Hermann tersenyum miris mendengar penjelasan ibunya itu.

3 Milyar. Hehehe.
Ibu Hermann kembali tersenyum. Seperti mimpi melihat uang sebanyak itu.

Sama bu, jawab Hermann dalam pikirannya. Aku berani menggantikan posisi surga dengan uang 3 milyar itu, bahkan Tuhan sekalipun.

___________________________
*Robbighfirlii Waliwaalidayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayaani Shoghiiroo
Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil.Amin”

2 thoughts on “KORESPONDENSI 5; KELUARGA HERMANN TRIBBIANI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s