The Ridiculous Case Of Kh Godot Bennington

Prolog

Akhirnya.

Tak ada jalan lain. Selain kita mesti bisa berlapang dada terhadap takdir yang datang pada diri, tanpa interupsi, tanpa cela, tanpa argumentasi. Kendati belum pernah sekalipun bisa ditebak sebelumnya oleh akal manusia, statistika, stilistika, matematika, hermeneutika; oleh apapun dan siapapun. Kita tak bisa menyangkalnya, apalagi melawan dan menantangnya. Karena takdir adalah pekerjaan Tuhan. Itu juga kalau kita percaya akan Tuhan, kalau tidak? Tetap yakinlah kalau itu bukan perbuatan setan. Karena hal itu, kiranya cukup menyimpulkan siapa kita sebenarnya.
Sekalipun perangai kita kurang hebat untuk di bandingkan dengan malaikat dan terlalu najis andaikata hendak disamakan dengan iblis. Kita tetaplah diri kita, atau lebih tepat dan spesifiknya; aku adalah aku. Seorang manusia yang kerap kali bertobat setiap kali melakukan maksiat.
Sungguh!
Sekalipun cerita ini ditulis ketika bulan ramadhan, yang kata umat Islam di seluruh dunia adalah bulan suci, tapi aku melihatnya seperti bulan biasa-biasa saja, hanya saja di siang harinya aku selalu merasa kehausan dan kelaparan. Entahlah. Ada beberapa rutinitas yang tidak kulakukan ketika bulan ramadhan ini, misalnya aktivitas favoritku yang mendadak hilang; menyeduh kopi di pagi hari.

Sungguh.

Aku tak tahu, apakah ini masalah ketaqwaan atau hanya sekedar perubahan rutinitas saja. Karena setelah melewati bulan ramadhan ini, aku yakin, segala sesuatunya akan kembali menjadi biasa, normal seperti sediakala; pagi hari aku akan menyeduh kopi, orang-orang tidak sungkan lagi untuk makan di siang hari. Makanya ada beberapa orang, yang secara esensial, menyumpahi orang lain yang mendadak alim pada bulan ramadhan ini tetapi setelah itu kembali menjadi lalim. 

Ah betapa hebatnya bulan ramadhan. Atau, bagi sebagian orang, betapa buruknya bulan ramadhan.

Kenapa mesti ada bulan yang di namakan ramadhan? Bulan yang di penuhi dengan ide-ide gila, sebulan suntuk mesti puasa, beramah tamah, jangan marah. Terkadang, hanya akan menambah inventarisasi kelakuan munafik saja.
Tapi, siapapun, jenis apapun orangnya, kalau dia manusia. Mau tidak mau, dia mesti melewati bulan yang dinamakan ramadhan, sepertihalnya dia mesti melewati malam. Karena seseorang tidak mungkin bisa begitu saja lompat dari waktu, atau bahkan sangat mustahil. Seseorang atau semua orang bisa saja menulis angka satu setelah itu seribu, tanpa berurut, tapi orang tidak mungkin bisa melewati siang hari tanpa sebelumnya dia menjalani pagi hari.
Waktu itu seperti halnya hidup, tidak mungkin di loncati, melainkan mesti di jalani. Semua orang mesti melewati fase-fase kehidupan mereka; ada saatnya sedih, senang, gelisah, jengah, hampa, tidak tahu mesti ngapa-ngapain, merasa semangat sekali mengerjakan sesuatu setelah itu malas, ragu, semangat lagi, mencintai lantas mendadak benci, mengutuk, merutuk tetapi kemudian bersyukur; masa menjadi bayi, anak-anak, balita, belia, remaja, dewasa, tua dan mungkin mati.
Tidak mungkin ada seorang manusia yang terlahir langsung dewasa. Memiliki jam tangan. Lihai mengendarai kendaraan dan segala macamnya. Semua orang pasti melewati apa yang dinamakan proses.
Dan proses adalah suatu keniscayaan dalam hidup, oleh karena itu ia membentuk suatu kelindan—bertingkat-tingkat, saling terkait, berlipat-lipat, berfase-fase, bertumpuk-tumpuk, bertubrukan, berpapasan, atau bahkan berputar-putar—tidak ada yang tahu. Kita hanya dipinta mempercayainya begitu saja, tanpa ayat, tanpa iman, bahkan tanpa Tuhan sekalipun; apakah semua itu terjadi secara kebetulan saja, atau tidak, kita tak bisa menghindarinya.
Dia atas semua masalah, sebenarnya kita sendirilah puncak dari semua itu. Kita sering dibikin resah dengan sebuah fase kehidupan, entah apa itu mangsa namanya, padahal seharusnya tidak usah. Karena semua akan cepat berlalu, seperti badai, di ganti yang baru. Hanya masalah waktu. Tidak ada yang tetap. Semuanya berubah. Kecuali perubahan itu sendiri, yang hingga kini masih di yakini, tidak akan berubah.
Oleh karena itu, aku akan menulis sepenggal kisah yang terjadi dalam kehidupanku. Keyakinan yang kuimani dulu sempat rubuh kini kembali tumbuh; 
Aku tak punya banyak harta untuk di wariskan, sungguh. Aku akan meninggalkan dunia ini sama seperti saat aku dilahirkan. Sendirian dan tak punya apa-apa. Yang aku punya hanyalah kisah hidupku dan aku akan menuliskannya sekarang saat aku masih mengingatnya.[]*

____________________________________
*Benjamin Button

2 thoughts on “The Ridiculous Case Of Kh Godot Bennington

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s