The Ridiculous Case Of Kh Godot Bennington (2)

Aku tak punya banyak harta untuk di wariskan, sungguh. Aku akan meninggalkan dunia ini sama seperti saat aku dilahirkan. Sendirian dan tak punya apa-apa. Yang aku punya hanyalah kisah hidupku dan aku akan menuliskannya sekarang saat aku masih mengingatnya.[]
Chapter One
Semuanya berawal dari ramadhan dan berakhir pula di ramadhan.
Ramadhan adalah bulan berkah, tentu saja, bagi seorang pendosa sekalipun yang tidak pernah berpuasa. Ramadhan tetap menjadi bulan berkah, sekalipun ada sebagian orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga. Tetapi tak jadi masalah. Karena puasa tidak bisa di jadikan satu-satunya patokan keimanan seseorang, begitu juga sholat, zakat.
Seperti halnya nasib, keimanan itu adalah kesunyian masing-masing. Hanya Tuhan yang tahu. 

Keberkahan ramadhan bagi setiap insan memberikan efek yang berbeda-beda, bagi mas Muji, seorang pedagang kembang api, ramadhan adalah momen dimana ia kembali bisa berdagang, dari modal lima ratus ribu, di akhir ramadhan nanti berkembang menjadi dua kali lipat, satu juta! Sungguh di luar dugaan.

Jujur saja, tadinya aku memandang sepele bisnis yang di jalankan mas Muji itu, malahan aku sempat kepikiran untuk mengklasifikasikannya kepada bisnis recehan. Tapi setelah mendengar sendiri untung yang didapatkannya. Aku semakin yakin kalau para pedagang emperan itu ternyata punya kepintaran yang nyaris sama dengan sarjana ekonomi sekalipun. Ya, setidaknya dari sisi mental.
“Makanya mas” jelas mas Muji kepadaku, “tiap periode lebaran selalu ada New Comer”. Maksudnya pendatang baru.
“awalnya mereka ngejualin punya orang lain, tapi setelah tahu untungnya banyak, mereka Solo Karier” terang mas muji.
“weis hebat! mas juga dulu seperti itu?” tanyaku penasaran.
“iya, satu periode aku ikut sama teman, setelah itu sendiri”

Begitu juga bagi Pak Tarso, seorang ustad di kampung Mulyoharjo, pada ramadhan ini, ia mendadak sibuk, hari senin jadwal di mesjid ini, esoknya di mesjid itu, malam berikutnya di mesjid lain, begitu seterusnya.

Itu baru malamnya, belum lagi ada proyek-proyek sambilan pas siang, seperti mengajar di pesantren kilat, ceramah buka bersama dan aktivitas keagamaan lainnya. Yang tidak ada juga di ada-adain. Masyarakat mendadak menjadi beriman. Bahkan tak jarang, saking sibuknya, Pak Tarso mendelegasikan tugas regular, yakni khutbah Jum’at kepada anak didiknya. Bahkan Pak Tarso kepikiran buat menempel papan pengumuman di depan pintu rumahnya bertuliskan; Libur Menjadi Khatib Jum’at Selama Bulan Ramadhan. 

Begitulah, ramadhan adalah bulan berkah.

Ketika harga sembako naik, sampai mencekik, namun anehnya masyarakat masih bisa tetap membeli. Dengan harga yang sangat tinggi, para pedagang bukannya malah sepi, tapi ramai. Ramai sekali. Bahkan pada pertengahan bulan ramadhan, semua orang berbondong-bondong kuliah subuh di pasar, tarawih di mall-mall, thowaf di syawalan, dan menjelang akhir ramadhan serta merta melakukan umrah wada’ di toko fashion mencari baju yang cocok untuk di pakai pada satu syawal guna mendapatkan performa (seperti dalam sinetron) Cinta Fitri.
Itulah ramadhan. Ramadhan memberikan secuil keajaiban yang tidak masuk akal sekaligus keganjilan yang sangat rasional. Keajaiban yang hanya bisa muncul ketika kita percaya penuh kepada yang maha Entah. Dan keganjilan yang hanya bisa di fahami ketika kita sepenuhnya berpikir waras dan awas.
Ramadhan bulan berkah. Semua orang mendadak santun dan ramah, melupakan sumpah serapah, sejenak meninggalkan nafsu amarah. Ya, ramadhan adalah bulan berkah, dengan pelbagai macam perhiasan sosial dan budayanya.
Begitu juga bagiku, ramadhan adalah berkah sekalipun dengan cara yang sedikit berbeda.
***
Seingatku, dulu aku melamar di perusahaan ini ketika bulan ramadhan. Tepat beberapa bulan selepas lulus kuliah. Kali pertama aku melamar, aku hanya sampai pada tahap wawancara dengan pihak owner perusahaan, dan seperti yang sudah di perkirakan sebelumnya; I failed.
Aku sempat bertanya-tanya, kenapa aku bisa gagal? Padahal peluangku untuk dapat di terima sangatlah besar. Namun setelah di timbang-timbang dan di pikir bolak-balik. Akhirnya aku mendapat kesimpulan, ternyata kegagalanku mungkin karena aku terlalu membesar-besarkan organisasi yang dulu aku ketuai ketika kuliah yakni JABRIG.
Owner bertanya, apa itu Jabrig?
Aku mengatakan bahwa Jabrig itu adalah sebuah organisasi mahasiswa yang berusaha mengcounter isu yang sering di bawa oleh JANGKRIK. Sengaja aku pelesetkan, kendati pada kenyataannya, itu adalah sebaliknya. Jabrig adalah sebuah organisasi yang memperkuat isu yang disebarkan oleh Jangkrik di kalangan mahasiswa.

Aku sempat menyesal, kenapa harus aku cantumkan hal itu dalam curiculum vitae. Ya, Karena biasanya ketika proses wawancara berlangsung, hal itu tidak pernah terperhartikan. Aku pikir predikat itu akan menambah credit point diriku sebagai mahasiswa. Eh ternyata, sekarang malah di tanyakan, di curigai lagi?

Sial! Bukankah sebelumnya juga aku tahu, kalau aku sedang melamar di “perusahaan Islam”. Kenapa tidak di hapus saja?

Ya, mungkin bukan rezeki.

Akhirnya aku tidak di terima bekerja di perusahaan RAHASIA dengan alasan dulu pernah mengomandani sebuah gerbong anak muda yang memiliki pemikiran liberal. Menurutku itu hal sepele, tapi ternyata tidak, bagi pihak perusahaan.

Selang beberapa bulan selanjutnya, setelah kegagalan ini, aku masih belum mendapatkan pekerjaan. Tetapi aku masih giat mengirim-ngirimkan lamaran ke setiap perusahaan yang ada di koran. Wawancara sana sini? Gagal lagi. Lagi-lagi gagal. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali pada kebiasaan kuliah dulu; menulis.

Aku berniat menulis novel, tentang perjalanan hidupku sendiri, sekalipun tanpa ada kepastian bakal ada penerbit yang mau menerbitkan novelku itu. Kendati demikian, aku tetap menulis, itung-itung merenda bangunan semangat hidup yang mulai rapuh oleh kerasnya kenyataan.
Hahaha. Lebay!
Tapi memang begitulah teman, manusia kerap kali menyukai drama, sesuatu yang di lebay-lebayin dikit. Lempeng-lempeng aja gak asik.
Sembari mengerjakan proyek novel, rutinitasku tetap, aku tidak berhenti mengirimkan lamaran ke setiap perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan. Ya setidaknya untuk mengaburkan predikat pengangguran, jadi kalau ada orang yang bertanya, apa pekerjaanku? Dengan bangga aku menjawab; aku seorang pengirim lamaran!
Tidak ada orang yang menganggur, semuanya bekerja, sesuai dengan caranya masing-masing.
Ketika novelku sudah berada di ujung rampung, perusahaan Rahasia membuka lagi lowongan, entah mengapa, aku terpanggil untuk mengirim lamaran kembali.
Aku kirim lagi. Dan seperti biasa, aku di panggil untuk tes tulis, aku lulus. Selanjutnya psikotes, juga lulus. Namun setahun waktu berlalu, perusahaan ini sudah memperbaharui proses rekruitmen karyawan barunya, aku di haruskan untuk training selama dua minggu.
Dua minggu! Tanpa ada keputusan di terima atau tidak. Subhanalloh ini adalah perjudian.
Waktu itu yang hadir bersamaku ketika hendak mengikuti training, ternyata lumayan banyak, ada 30 orang. Sekalipun peluangnya sedikit karena banyaknya orang, tapi setidaknya aku bangga, karena rupanya masih banyak orang yang bernasib sama denganku; pengangguran! Hehehe. Ternyata masih banyak juga pengangguran di luar sana.
Setelah dua minggu training tersisa 7 orang. Aku, Pak Ardi, Pak Yusuf, Pak Heri, Pak Nugroho, Pak Asep, dan Pak Galih.
Setelah melewati masa training dua minggu itu, ternyata kami harus mengikuti training lagi selama dua minggu. Subhanaloh! Berat sekali mau mendapatkan pekerjaan ini. Tapi kalaupun mundur, sangat tanggung, dan sia-sialah dua minggu yang telah aku lalui itu.
Aku memaksakan untuk ikut terus. Beberapa hari dalam proses training dua minggu itu, satu persatu temanku di angkat menjadi karyawan. Yang pertama kali di angkat adalah Pak Heri. Diantara ketujuh orang itu, pak Heri memang hebat. Dia pernah bekerja, bilangnya sih, selama dua tahun di Supermaket Sogo, di Jakarta. Sewaktu presentasi di hadapan manajemen pun pak Heri tidak menunjukkan kecacatan.
Berbeda dengan-ku, entahlah, apa yang kusampaikan ketika presentasi di hadapan manajemen itu, yang jelas aku masih ingat kalau aku membuka presentasi itu dengan petikan cerita dari Rumi, sembari di tingkahi adzan dzuhur.
Sungguh luar biasa! Mungkin ini kali pertama ada orang yang membicarakan Rumi di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan. Hahaha. Aku tak peduli, tokh itu yang aku tahu. Aku terkesan seperti seorang penceramah dibanding sebagai seorang yang bergerak di bidang marketing. Tak sedikitpun aku menyentil perkara retail. Pengetahuanku dalam bidang memang marketing nol besar. Tapi wawasanku dalam hal apologi, investasi alibi dan stok retorika cukup lumayan, kemampuan itulah yang aku andalkan. Di tambah dikit-dikit analisis selama satu bulan training.
Aku adalah orang yang paling tidak beruntung ketika presentasi. Selain materi presentasi-ku yang kacau, waktu yang diberikan sangat mepet. Para manajer sudah berkali-kali lihat jam. Sungguh keadaan yang tidak mendukung, mereka sudah kebelet pengen sholat dzuhur. Tuhan sungguh menempatkan diriku dalam satu kondisi yang sangat paradoksal. Aku jadi gak enak sendiri.
***
Setelah pak Heri, giliran pak asep yang diangkat jadi karyawan, hal itu wajar, karena pak Asep memang berbeda dengan keenam orang lainnya, pak Asep melamar di bidang IT. Sedangkan kami berlima di Divisi Marketing.
Dan tebak apa yang selanjutnya terjadi? Ya. Kami mesti ikutan training lagi!
Selama satu minggu untuk pemantapan katanya. Dan selama training satu minggu itu, kami belum di kasih bocoran, apakah kami sudah di terima atau tidak? Kami berlima sudah pasrah, dan mau tidak mau ikut apa kemauan manajemen.
Pak Ardi sering berkelakar, bahwa pekerjaan kita memang training, bukan sebagai SM. Dan selama satu minggu itu, satu orang gugur, yakni pak Galih. Manajer Personalia bilang bahwa dia akan di jadikan team trainer. Tapi menurut pak Galih, itu adalah salah satu lelucon yang lain. Maka pak Galih memutuskan untuk tidak meneruskan training lanjutan itu.
Jadi trainer? Gimana urusannya? ketus Pak Galih.
Setelah seminggu di training dan pak Galih gugur, kami di training lagi. Ya! Lagi-lagi katanya biar lebih mantap. Tetapi kali ini beda, sebelum training ini kami sudah di janjikan tempat tujuan kerja kami. Dan beruntunglah orang yang datang lebih awal, seperti aku, karena aku kebagian memilih tempat pertama kali sementara orang lain belum memilih, dan orang yang datang terlambat hanya kebagian sisanya seperti pak Nugroho.
Diantara tempat yang di apa sodorkan oleh personalia, aku memilih ditempatkan di Sukabumi, karena setidaknya aku sudah mengenal karakter kota Sukabumi dari teman-temanku. Pak Ardi memilih Subang, pak Yusuf memilih Tanggerang, sementara pak Nugroho, mau tidak mau mesti memilih Depok.
Ternyata itu adalah bencana bagi pak Nugroho, dia tidak mau ke Depok, tapi tidak ada pilihan lain lagi? Dengan sangat terpaksa, akhirnya ia mundur. Tinggal kami bertiga. Melanjutkan pelatihan selama dua minggu. 
Di ujung pelatihan, bencana terjadi …

One thought on “The Ridiculous Case Of Kh Godot Bennington (2)

  1. what is it? what happen? apa bencananya pak Godot?lepas dari bencana yg menyusul, saya selalu tidak tahan untuk tidak tersenyum setiap kali membaca tulisan2 disini. pengennya ngakak malah.. tapi gak sopan sih kalo ngakak. hahahahaha…saya lebih suka disini. senyap. menunggu cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s