Sopir Itu Menceritakan


Orang bilang, cari kerja itu sesuai dengan hobi kamu, niscaya pekerjaan itu tidak akan berat. Karena kamu enjoy dalam mengerjakan itu.

Saya pikir orang yang berpendapat seperti itu sedikit tidak waras. Hobi saya adalah makan dan tidur, dan sampai usia sekarang ini, saya belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan hobi saya itu; kecuali mungkin sebagai gigolo.

Betul bukan? Tidak ada cara lain selain menjadi gigolo kalau saya menuruti perkataan orang itu. Karena itulah pekerjaan sebagai gigolo, tidur dan makan lagi untuk menambah stamina. Tidak ada yang lebih enak dan nikmat selain bekerja sebagai gigolo. Tapi yang jelas, menurut saya, orang yang mengatakan seperti itu adalah orang stress. Frustasi. Lebih tajamnya saya bisa katakan, dia adalah orang yang tidak bisa menatap hidup.

Kenapa? Ya karena, ungkapan bekerja sesuai hobi, tak lebih dari sebuah alibi kepengecutan menjalani hidup. Selamanya ia akan menyangkal bahwa pekerjaan ini bukan hobinya, itu juga sama. Ini apalagi? Seperti halnya, saya meyakini, orang yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan posisi PNS dengan alasan jaminan hari tua. Adalah orang yang syirik dan menyekutukan Tuhan.

Saya pikir, bukan PNS yang bisa menjamin hari tua. Dia lupa bahwa Tuhan-lah yang menjamin semuanya. PNS hanyalah sebagai media? Kenapa disembah setengah mati. Apakah dia emang yakin bakal hidup sampai tua nanti? Bisa jadi ketika dia mendapatkan SK kenaikan jabatan, dipanggil juga oleh Tuhan. Apa yang tersisa baginya? Tak ada.

Sayang banyak orang yang lupa akan hal ini. Orang kadang sedemikian lupa, setelah dewasa, bahwa mereka sebenarnya ada yang menciptakan, ada yang membesarkan; jangankan Tuhan, orang tua pun terkadang mereka lupakan.

Entahlah, mau jadi makhluk terkutuk apakah kita ini?

***

“mas Tanah Grogot”

“ya bang, berapa orang?”

“satu aja” jawabku dengan aksen yang dimirip-miripkan masyarakat setempat.

Naiklah aku ke mobil tersebut. Di Sukabumi, mobil seperti ini, biasa di sebut ‘mobil kol’ tapi entah kenapa disini, disebut angkot, makanya ketika diceritakan oleh teman saya yang berada di sana; “naik angkot sajalah, cukup 35ribu”

Busyet! Mahal amat itu angkot? Sampai segitu, eh ternyata, bukan angkot.

Saya naik di jok depan. Dekat sopir. Dan seketika itu, saya jadi teringat Purwanto, sopir distribusi di Jawa Tengah. Bukan karena wajahnya mirip, tapi biasanya dia yang menemani saya ketika touring keliling kota Jawa Tengah. Purwanto, adalah seorang pria lugu yang selalu kalah sama istri. Ia adalah pria ke sekian yang saya kenal, yang selalu kalah sama istri. Tepatnya mungkin bukan kalah, melainkan sayang, dan sebegitu besar rasa sayangnya terhadap istri, sehingga akhirnya Purwanto, mas Pur begitu aku menyebutnya, selalu mengalah. Dan menuruti apa kata istri.

“Mas Pur, dulu cita-citanya mau jadi apa?” tanyaku.

“kenapa pa? kayak anak TK saja, di tanya tentang cita-cita segala?” jawab nya sembari ketawa.

“emang yang punya cita-cita itu mesti anak TK aja mas?” tanyaku heran.

“ya nggak sih pa, cuman aneh aja, seusia saya ini ada yang nanya kaya gitu. Enaknya kan bapak nanya ke saya; udah makan belum? Mau makan dimana? Atau apa kek, pertanyaan yang lebih rumit gitu pak” jawabnya enteng

“eh bener mas,” jawabku memaksa.

“ya gak tau pa? saya gak punya waktu buat memikirkan itu”

“terus waktu mas, dihabiskan buat apa”

“ya saya juga gak ngerti, saya gak pernah berpikir, udah lama saya gak pernah berpikir. Waktu saya dihabiskan buat menyetir” sekali lagi jawabnya enteng.

Sontak aku ketawa mendengar jawaban itu, polos namun cerdas.

“emang mas, kalo lagi menyetir gak bisa sambil berpikir?”

“wah pak, gak bisa. Kalau lagi nyetir itu, dilarang buat berpikir. Bagusnya itu sambil ngerokok, makan atau minum. Makanya kebanyakan sopir itu gak pernah berpikir. Coba aja sama bapak tanya, siapa ibu nya presiden Somalia, pasti gak bakalan tahu”

“hahahaha, wah mas kalo itu, saya juga gak tahu?” jawabku segera

“wah masa bapak gak tahu? Padahal bapak bukan sopir kan ya?”

“terus siapa mas?”

“wah presiden nya juga saya gak tahu, apalagi ibunya?”

***

Tapi kini aku sendiri, naik mobil umum, karena Tuhan belum memberkahi saya kemampuan untuk menyetir. Kalaupun sudah bisa, tentu saja aku gak bakalan naik mobil umum. Kendati demikian, tidak disangka, sopir yang ada di sampingku, memecah kebisuan, sekalipun belum bisa nyetir, aku masih bisa bicara. Dan sopir itu, masih bisa bicara sekalipun sedang menyetir.

; “mas baru pertama kali ya ke sini?” tanya dia.

“iya, bang” jawabku.

“asalnya dari mana” ia melanjutkan bertanya.

“dari jawa” jawabku singkat.

Namun kemudian, sopir itu terus memulai obrolan. Ia menceritakan bagaimana awalnya jadi sopir. Di pukulin di jalan, karena gak ngasih uang. Tidur di jalan malam-malam karena ban bocor, sementara uang hanya cukup buat makan. Dan pelbagai macam pengalaman eksotis, mistis, heroik lainnya. Ia ceritakan semuanya.  Saya tidak tahu kenapa ia begitu banyak bercerita. Tapi bagi saya itu sangat menyenangkan.

Saya hanya mendengarkan. Banyak sekali mendengarkan. Sesekali menjawab hanya untuk memastikan perkiraan ku.

Banyak sudah kejadian, tempat, peristiwa yang dilihatnya. Sangat menarik. Sungguh sangat hebat jika di suguhkan dalam sebuah cerita. Hanya sayang, dia cuma bisa merekam dalam kepalanya saja. Tuhan sangat adil, dia tidak di berkahi kemampuan menuturkan, kemampuan menulis, kalau saja dia bisa. Mungkin, menurut saya, dia akan menjadi jurnalis yang hebat. Esais yang keren. Sekali lagi sayang, dia hanya bisa menyetir. Hanya itu yang ia bisa, oleh karena itu ia tak pernah terbebani untuk berpikir.

“nah ini dia, Terminal Grogot, udah nyampe mas. Mas nya nanti kalo mau ke alamat itu, naik ojeg aja” katanya.

“oiya makasih bang, nanti ada yang jemput”

***

Sesampainya di Balikpapan, di depan meja kerja aku tertegun.

“pengalaman yang sungguh menarik. Sampai detik ini, aku tidak pernah bermimpi untuk berada di posisi sekarang ini, sempat terlintas. Namun jauh rasanya menjadi kenyataan. Berada di tempat ini. Tidak terpikirkan sama sekali. Kehidupan sungguh telah membawaku pergi jauh, jauh. Jauh dari pertimbangan dan perkiraanku. Semua mimpi seolah beranjak menjadi kenyataan. Tuhan sedang berbaik hati padaku, jika kita berbaik sangka juga kepadaNya. Bukankah Tuhan sesuai dengan persangkaan kita?

Sopir itu telah memberikan pencerahan baru buatku. Pencerahan dari jeda yang lama sekali. Aku jadi teringat ucapan, Goethe “dan jika umat manusia bisu dalam tersiksanya, dewa memberiku anugerah untuk bercerita bagaimana aku menderita”

Tentu kemampuanku bercerita tidak sebagus Milan Kundera, atau para novelis, cerpenis yang sudah memegang pelbagai macam piala sastra dengan bejibun buku yang sudah terbit di rak-rak toko ternama, bahkan mungkin dia sendiri sudah lupa apa judulnya, saking banyaknya.

Kendati demikian, terimakasih sopir, aku bertekad akan kembali bercerita; menceritakan tentang kalian semua, kalian yang terpinggirkan, tidak mendapat tempat di ruang publik, kalian yang terkadang selalu disepelekan, karena katanya tidak berpendidikan, tidak bisa memilih kata-kata yang sopan. Tak apa teman. Kalian semua pantas jadi pahlawan, sebelum mereka yang memakai jas perlente, membicarakan tentang kebijakan ini dan itu.

Terimakasih Tuhan, atas segala karunia yang telah Engkau berikan kepada Kami, yang selalu saja merasa kekurangan.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s