; That Man Is Here For The Sake Of Other Men

‎                        Strange is our situation here upon earth. Each of us comes for a short visit, not knowing why, yet sometimes seeming to  divine a purpose. From the standpoint of daily life, however, there is one thing we do know: that man is here for the sake of other men. — Albert Einstein

Nama lelaki itu di panggil ke depan, moderator mempersilahkannya untuk presentasi. Di sebuah ruangan elit, sedikit mencekam, suhu ruangan begitu dingin, padahal di tempat asalnya tidak perlu AC untuk mendapatkan suhu sedingin itu, cukup jalan-jalan saja ke sawah, dia akan menemukan udara dingin tapi segar.

Dengan sisa waktu yang sangat sempit. Dia kebagian presentasi terakhir, dimana sebagian peserta rapat sudah mengantuk, mungkin sebagiannya lagi sembelit, karena menahan air kencing. Dan pusing karena terus dijejali dengan pelabagai instruksi dan target.

Sepersekian detik, dari tempat duduknya menuju ke depan; siluet masa lalupun mendadak jelas di depan matanya, dimana tiga tahun yang lalu, dengan posisi yang sama, dia juga presentasi di ruangan itu.  Hanya saja sekarang situasi dan kondisinya jauh berbeda. Kalau dulu, dia presentasi untuk mempertaruhkan nasib; agar di terima bekerja, untuk posisi, yang sebenarnya tidak begitu penting. Sekarang tidak.

Ia presentasi, karena sudah menduduki posisi yang lumayan penting. Dan sama sekali tidak mempertaruhkan nasib, ia memegang nasib itu.

“baiklah” ia membuka presentasi dengan begitu mantap. Yang pada hal sebenarnya, ia begitu grogi.

Ia menunjukan satu slide. Yang sudah di persiapkannya tadi malam.

“saya ingin membuka presentasi ini dengan sebuah cerita” tuturnya sedikit lebih lancar.

“Dua tikus kecil jatuh ke seember krim. Tikus pertama dengan cepat menyerah dan tenggelam. Tikus kedua tidak mau menyerah. Dia berusaha keras tidak tenggelam. Sehingga dia membuat krim itu menjadi mentega. Dan merangkak keluar.” Semua orang yang ada di rungan itu menjadi hening, merasakan kedalaman cerita yang barusan disampaikan.

“Berarti benar, orang-orang disini tidak pernah nonton film” gumamnya dalam hati, tertawa kecil. Cerita yang barusan ia tuturkan berasal dari sebuah film Cacth Me If You Can.

Setelah memberikan jeda. Dengan sengaja. Sebuah tempo penegasan. Tanpa di duga, oleh seluruh peserta rapat yang ada, ia melanjutkan berkata,

“tidak ada hubungan antara cerita itu dengan apa yang nanti akan presentasikan nanti sebenarnya”  seisi ruangan pun tertawa, mendengar apa yang di ucapkannya barusan.

Masih ada sisa tawa di ruangan itu, tapi ia melanjutkan lagi bicaranya

“cerita itu hanya untuk mengendurkan mulut saya, yang sedari tadi kedinginan. 10% karena suhu udara di rungan ini begitu dingin, dan 90% karena sebetulnya saya grogi, dan gugup untuk presentasi di depan bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya. Dan mungkin kalau semuanya diam, bunyi gigi saya gemeletukan karena gugup itu pasti kedengaran sampai ke depan kantor.”

Sekali lagi semua peserta rapat tertawa.

***

Lelaki itu adalah saya. Setelah kurang lebih tiga tahun, baru kali itu saya menginjakkan kaki lagi di kantor. Terakhir saya berada di sana, adalah ketika saya di utus untuk pergi ke Jawa Tengah, dan sebelumnya ketika masa-masa penerimaan karyawan. Setelah itu, sekalipun sering ke Bandung, saya tidak pernah bertandang. Sungkan atau mungkin enggan. Atau mood selalu urung.

Banyak sudah perubahan di kantor ini. Perubahan jadi lebih baik, tentu saja. Jujur saya katakan, perusahan kini semakin maju, ditandai dengan dibukanya cabang di mana-mana. Bisnis ini memang sangat prospektif. Dan masih menjanjikan. Tapi saya tidak berselera untuk membahas itu semua.

Secara denah ruangan memang tidak banyak berubah, hanya saja orang-orang yang ada di sana sebagian sudah melangkah, keluar. Entah pergi kemana. Menjalani hidup, melukis takdir di tempat yang lain.

Yang sungguh mengejutkan, saya bertemu dengan dia lagi. Bukan seorang perempuan. Ini bukan sebuah cerita tentang percintaan. Mungkin anda sudah mengenal dari cerita-cerita saya sebelumnya, orang yang saya panggil dengan Manajer Anjing, seorang Manager Personalia.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat, banyak sudah perubahan yang terjadi. Salah satunya adalah yang terjadi pada dia. Benar, tiga tahun bukan waktu yang singkat, tapi biar kuringkas saja dengan menceritakan bahwa dia turun jabatan, menjadi kurang lebih sebagai kacung. Dari Manajer menjadi staff, bahkan staff yang dulunya adalah anak buah yang selalu di suruh-suruh posisinya lebih tinggi dari dia. Kini dia diajuhkan dari Top Level Manajemen, hanya mengurus perihal training men-training. Posisi yang, sebetulnya, tidak terlalu penting.

Saya datang menyalami dia. Dia pun menyalami saya. Kami bersalam-salaman.

Entah dia masih ingat atau tidak? Yang jelas, sepertihal manusia lainnya, saya pasti ingat dia, yang suatu ketika dulu sempat meruntuhkan impian dan harapan saya. Kesan itu tidak akan pernah hilang. Sepenggal episode peperangan di ruangannya itu tidak akan pernah bisa hilang dari gambaran masa lalu saya.

Bukan karena dendam. Mungkin iya ada sedikit dendam, tapi sebaliknya dan selebihnya, saya malah bersyukur pada dirinya, bersyukur pada Tuhan karena saya di pertemukan dengan makhluk terkutuk semacam itu, dulu. Saya semestinya berterimakasih pada dirinya yang telah mengajarkan saya tentang keikhlasan, kepasrahan, kepahitan melepaskan, merunduk pada kekuasaan yang Maha Entah. Dia mengajarkan semuanya kepada saya, dengan sikapnya yang sok merasa jadi Tuhan. Ketika nasib orang lain ada di telunjuk pena dirinya. Acc atau tidak.

Entahlah ia ingat atau tidak, dengan wajah saya pada waktu itu. Seorang pencari kerja yang mana semua harapan keluarga ada di pundaknya kemudian dipatahkan karena seseorang yang baru menjadi pemimpin, seperti anak kecil yang menemukan permainan baru, ia coba begitu begini. Situasi memang sungguh sangat mencekam, ketika ia mempimpin, pecat sana sini. Surat peringatan sudah ibarat kentut yang dengan gampang keluar begitu saja. Kalau anda menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin sudah jijik dibuatnya.

Setiap bicara, tak luput dari pengagungan terhadap dirinya. Saya sendiri sekalipun terlihat blo’on, tapi tidak terlalu bodoh untuk membedakan, mana perilaku narsis dalam konteks melucu dan sombong.

Entahlah ia ingat atau tidak; tapi dari raut wajah yang ia tunjukan pada saya, dari kecanggungan kata-kata yang ia tuturkan pada saya. Saya tahu ia masih ingat. Ia masih ingat saya. Seorang pemuda lugu, yang ternyata berani berbantah-bantahan dengannya. Kata-kata yang dikeluarkannya memang selalu menyakitkan.

Seseorang yang dahulu ia sepelekan, ia rendahkan kini berhadapan dengan dirinya; sama tinggi.

Dan kini, ketika ia ambruk di antara reruntuhan egoisme dan puing-puing kesewenang-wenangan. Saya berdiri disana, menyaksikan itu semua, menyaksikan keruntuhan itu. Tentu saja saya bisa menari, di atas penderitaannya. Tentu saja saya bisa bernyanyi, melantunkan gemenderangan kemenangan saya. Tapi tidak saya lakukan. Bukan. Bukan berarti saya bijak. Karena tentu, akan terasa aneh dan janggal saja, ketika tiba-tiba saya menari di depannya, tanpa sebab. Tiba tiba saya bernyanyi didepannya; “maju tak gentar….membela yang benaaarrr”..

Sekilas, saya melihat ada perubahan sikap. Ia menjadi lebih pendiam, tidak terlalu banyak bicara. Hanya saja, sesekali mungkin ia juga tidak bisa mengontrol diri; banyak bicara. Dan ketika ia bicara, semuanya menguap. Kasihan sekali. Saya kurang mengerti persisnya apa saja yang telah terjadi selama tiga tahun itu. Sehingga posisinya berubah drastis. Dari langit ke selokan.

***

‎”Strange is our situation here upon earth” ucap Einstein, suatu ketika.

“Each of us comes for a short visit, not knowing why, yet sometimes seeming to divine a purpose. From the standpoint of daily life, however, there is one thing we do know: that man is here for the sake of other men.”

Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti apa yang di ucapkan Einstein itu. Sekalipun saya sering menonton film-film holywood, mendengar lagu-lagu barat, makan roti bakar, lewat di depan outlet Starbucks, tapi nampaknya usaha itu kurang cukup untuk bisa paham ucapan tersebut. Bertanya ke teman, apalagi? Dia juga suka nonton film dari luar, bahasa inggris, perancis, tapi anehnya kebanyakan aktris dan aktor yang main di film itu tidak pake baju.

Dia bilang, “lebih seru kalau tanpa dialog”.

Di dalam kebodohan dan ketidaktahuan itu, akhirnya saya menggantungkan diri pada kitab suci Gougel karena masih penasaran dengan artinya. Dengan terbata-bata. Saya memahami ucapan Einstein itu seperti ini;

“Asing, adalah situasi kita umat manusia di atas bumi ini. Setiap dari kita datang untuk kunjungan yang sangat singkat, tidak tahu kenapa, akan tetapi mungkin terkadang kita menemukan tujuan yang pasti. Tapi jika kita melihat dari sudut pandang kehidupan sehari-hari, ada satu hal yang mesti kita tahu; bahwa satu manusia yang ada di sini mengganti demi manusia yang lainnya.”

Tapi, saya masih tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan terakhir; “that man is here for the sake of other men”

Apakah di artikan “bahwa satu manusia yang ada di sini demi manusia lainnya” atau “bahwa satu manusia yang ada di sini menggantikan manusia lainnya”.

Karena dua penafsiran itu memang memberikan arti yang berbeda.

Arti pertama, bahwa kehidupan satu manusia di dunia ini pada hal sebenarnya, mengandaikan kehidupan manusia lainnya. Seorang ayah, memperjuangkan hidupnya, dengan satu alasan (demi) anak dan istrinya, begitu juga seorang istri, ia juga adalah seorang ibu, anak adalah kehidupannya.

Sedang arti yang kedua, yang menurut saya lebih menarik, satu manusia itu pada dasarnya akan menggantikan manusia lainnya. Ini adalah hukum kosmos yang tidak bisa di perdebat. Seorang presiden, dia tidak akan melulu jadi presiden, dia akan ada yang menggantikan, karena pada dasarnya, kedudukannya sebagai presiden ibarat kunjungan sebentar, sementara, pada awal mungkin ia mempunyai tujuan yang pasti, ingin mensejahterakan masyarakat. Namun di tengah perjalanan, mungkin ia sampai pada satu kondisi tidak tahu kenapa ia menjadi presiden.

Yang jelas, pada suatu saat nanti, dia akan ada yang menggantikan. Hukum dunia berputar. “Something’s gotta change. Things cannot stay the same” begitu lantunan lagu Maroon 5.

Saya pikir, arti kedua ini lebih tepat, sangat kontekstual bagi saudara saya itu, yang dulu saya panggil Manajer Anjing. Namun kini saya tidak tega untuk memanggilnya seperti itu. Saya tidak tahu bagaimana sistem hukum karma itu berlangsung, hanya saja, sekarang waktu mungkin bukan gilirannya. Ketika dulu, dia diberikan waktu dan kepercayaan oleh Tuhan, tidak dia manfaatkan sebaik mungkin. Sayang sekali.

Tidak selamanya orang yang menderita itu bakal terus sengsara, begitu juga sebaliknya. Orang kaya itu biasanya terus kaya. Karena orang sengsara sungkan dan tidak gigih dalam usaha.

Sebentar, sepertinya ada yang salah dengan ucapan saya. Masa orang kaya terus kaya sementara orang miskin terus sengsara? Kok kedengarannya tidak adil?

Tapi mungkin saja benar, karena orang kaya biasanya mereka terus berpikir bagaimana untuk bisa lebih kaya lagi, investasi di sana sini. Sedangkan orang miskin hanya akan berucap mantra abadi; “kapan ya? Kita seperti mereka”. Tanpa usaha. Tanpa semangat. Tanpa nekad.

Hidup memang kedengarannya seperti tidak adil, tapi itulah kenyataannya. Kamu harus berani menyebrang dari kehidupanmu yang sekarang.

***

Berita terakhir yang saya dengar, kini ia menjadi staff personalia di bagian produksi. Kembali ke posisi semula, ketika dimana ia memulai meniti karir. Sungguh luar biasa sekali hukum yang berlaku di dunia ini. Halus, rumit namun mencengkram.

Alla kulli hal, di setiap hela tulisan ini, saya mendoakan agar dia dan keluarganya mendapat yang terbaik, keberkahan dari Tuhan, terlebih kesabaran. Seperti halnya saya yang dulu sabar mendengar ejekannya hehe. Karena pada dasarnya dia baik, hanya saja dia kurang kuat dalam menerima cobaan untuk berkuasa. Sekalipun dia sempat membuat saya terlempar. Merasa jadi sampah. Tapi tak apa. Itu mendewasakan. Sangat mendewasakan. Membuat saya semakin waras dan awas. Semoga saja dia seperti itu.

Karena dulu, dia kurang waras.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s