A Tale For Saga

Siapa yang bisa menerka usia? Hari ini, esok, lusa, atau sekarang? Sang pencipta bisa saja memanggil kita dengan leluasa. Tiada satu manusia atau satu alat pun yang manusia ciptakan untuk menghalangi kematian. Manusia tidak bisa lari akan hal ini, itu adalah hak-Nya. Dan sesungguhnya kewajiban kita meneduninya.

Sungguh, sejatinya aku mesti sadar, bahwa hal yang paling dekat denganku adalah kematian bukan kesuksesan, bukan kekayaan, bukan kecerdasan, bukan kesalahan, bukan berapa banyak teori kebijaksanaan telah ku peroleh, bukan berapa banyak argumentasi yang bisa ku patahkan, bukan berapa banyak orang yang mengenal kredibiltasku sebagai orang yang bisa segalanya, tahu segala macamnya, berapa banyak sudah tulisan yang dimuat di dalam koran, berapa bagus sajak dan mendalam puisi yang bisa diciptakan. Bukan. Bukan itu semua. Tapi kematian!

Kematian adalah suatu kepastian, keniscayaan. Semakin lama kita hidup, seharusnya, semakin sadar, bahwa kita akan mati. Semakin sadar bahwa kita akan mati, maka seharusnya semakin kita mempersiapkan ‘bekal’ untuk mati. Stop sampai disini!

Itu untuk bagi sebagian orang yang percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, bagi yang tidak percaya. Maka tidak perlu mempersiapkan apa-apa. Dan biasanya, orang yang mempercayai bahwa ada kehidupan setelah mati, dia beragama. Apapun itu agamanya, karena setahuku; hanya agama yang memiliki menu kehidupan setelah mati. Yang lainnya tidak.

Lantas kenapa begitu banyak orang yang katanya mereka beragama, tetapi tidak sedikitpun mempersiapkan ‘bekal’ untuk kehidupan setelah mati? Ini memang sangat rancu, karena seharusnya dia mempersiapkan bekal, tapi kenapa tidak? Logika memang tidak jelas, tidak masuk akal. Tapi memang begitulah adanya, kenyataannya tidak menuntut untuk masuk akal. Dan tidak semua yang masuk akal bisa jadi kenyataan.

Seperti halnya rencana, tidak semuanya mesti terlaksana. Kenapa? Karena memang itu seni-nya hidup. Tidak semua mimpi mesti terwujud, adakalanya mimpi dibiarkan mimpi, agar kita tahu, kenapa hidup terus berlanjut.

“Oh ya andaikata dunia tak punya tentara” bilang Iwan fals di salah satu lagunya. “tentu tak ada perang yang banyak makan biaya”. Tentu saja, andaikata dunia tak punya tentara, tak ada kejahatan disana, tapi juga tak ada pengkhotbah, karena tak ada pemerkosa. Mungkin kita berada di surga, bukan dunia. Karena begitulah hakikatnya dunia, berbeda dengan surga.

Kematian bukanlah sebuah ilusi, atau sekedar diksi favorit untuk membuat puisi. Kematian benar adanya, hanya saja manusia dengan tergesa, benar-benar berusaha melupakannya. Kalaulah dulu, Camus, pernah berucap, bahwa “kematian adalah salah satu protes tertinggi manusia atas kehidupan yang penuh darah dan nanah”—betul sepertinya Albert Camus yang mengucapkan itu, tapi lupa lagi, persisnya dalam buku apa aku temukan kata-kata itu—menurutku kematian tidak serumit itu. Menurutku, kematian bisa berubah menjadi rutukan penyesalan serta keinginan untuk kembali membenahi kesalahan.

“Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan” ungkap Gie dalam buku catatannya “yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua”.

Menurutku, nasib terbaik adalah memang dilahirkan. Tersial kedua adalah, mereka yang pengen mati muda hanya karena obsesi keren. Dikiranya asyik gitu mati muda hanya karena Chairil mati, Gie juga mati muda, Kurt Kobain. Padahal selain dari yang telah disebutkan, banyak yang sudah mati, tapi tak ada satupun yang mengingatnya. Dan yang tersial adalah, mereka yang tidak dilahirkan.

****

Bus ekonomi melaju kencang sangat kencang. Di kiri kanan, kebanyakan hutan. Sempet kaget, tidak biasanya bis ekonomi memutar lagu Black Eye Peas, my Humpp. Biasanya kan dangdutan?. “Gaul juga” gumamku.

Dalam rangka melawan kesendirian, dan biar kelihatan sibuk, kukeluarkan HP sign in ke pesbuk. Baca-baca status orang lain, notifikasi grup, yang entah kapan aku konfirm. Sempat terlintas sebuah pikiran.

Setiap kali aku membaca semua status di facebook, tidak sedikit orang yang memiliki pikiran bijak,  pendapat yang brilian tentang bagaimana seharusnya negara berjalan, sajak yang menuturkan bagaimana seharusnya pemimpin rakyat bertindak, kumpulan prosa yang menceritakan bagaimana seharusnya kita memperlakukan sesama.

Tapi, di saat itu juga, masih saja ada berita yang mengabarkan seorang kakek memperkosa cucunya hanya karena melihat paha Lena Tann terbuka sedikit. Tak seinci pun grafik kemiskinan berkurang, masih saja ada pengemis yang bernyanyi d sisi jalan. Sikap para Pemimpin rakyat tidak ada perubahan sama sekali, mereka tetap saja korupsi. Sekalipun para pengkhotbah berkoar koar, dari mimbar ke mimbar, tak ada yang bisa di unggulkan dari toleransi terhadap sesama.

Membunuh orang lain karena beda paradigma kini ibaratnya mengisi pulsa. Dulu luar biasa, kini biasa saja. Keperawanan juga kini tak lagi berharga. Pemuda yang baru beranjak dewasa di anggap belum lulus  ketika dia belum pernah mencium seorang wanita.

Dunia kini sebenarnya sudah semakin hebat, hanya saja tidak berbanding lurus dengan perubahan moral manusia.
Namun memang tidak sedikit lho orang-orang yang bermoral, mereka punya sikap dan pandangan yang jelas, para pejabat yang mempunyai hati nurani siap memberantas kemiskinan.

Ya. Tentu saja, aku tidak menyangkal itu semua, hanya saja mungkin, orang-orang tersebut masih sedikit. Dan ternyata, lambat kita menyadari bahwa orang bejat angkanya lebih membukit.

Lantas, apa yang mesti kita lakukan untuk mendapatkan dunia yang lebih baik? Padahal kita hidup di bawah matahari yang sama, tidur di malam yang sama, hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama. Lantas kenapa kita tidak memiliki perasaan yang sama terhadap sesama.

Entahlah, semenjak kapan kita lebih mengedepankan bertarung ketimbang menyapa? Apakah karena mulut kita satu dan tangan kita dua, sehingga lebih memungkinkan untuk memukul ketimbang meminta maaf? Atau mengucapkan salam.

Entahlah aku juga bingung. Teman sekolahku saja yang sudah enam tahun bersama-sama, rasanya kini sudah ibarat musuh yang siap menerkam satu sama lain ketika membicarakan perihal sekelompok orang yang berjenggot dan tidak, padahal jadi profesor pun mereka belum, jadi orang kaya pun belum, hanya saja mereka sudah bisa menjadi Tuhan satu sama lain. Kalaupun iya, aku merasa malu diciptakan oleh Tuhan yang seperti itu.

Mereka kadang lupa bahwa mereka mengenal satu sama lain. Padahal alangkah lebih puitisnya, apabila mereka membicarakan masakan apa yang enak dan tidak.

Mereka yang saling mengenal bisa begitu, jadi bisa kamu bayangkan kalau mereka tidak mengenal satu sama lain? Makanya membunuh orang lain karena beda paradigma kini ibaratnya mengisi pulsa.

Dunia semakin berlari. Hidup kini sudah kehabisan waktu hanya sekedar untuk menepi dan merapikan diri.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s