Write Of Confession

“Menulis adalah pekerjaan peradaban” ungkap seorang teman suatu ketika.

Anda tahu, aku sudah lama meninggalkan kebiasaan itu. Aku sudah tidak lagi beradab. Orang yang tidak beradab bisa disamakan dengan manusia purba. Dia tidak mengenal apa-apa. Emosinya hanya di ujung kemaluan. Gampang memukul, gampang tersinggung. Gampang juga tersanjung. Pendeknya dia tidak berpikir panjang. Karena seseorang yang tidak beradab tidak perlu malu. Kehormatan ada di luar mereka. Tidak ada di dalam kamus kehidupan mereka. Dan seperti itulah aku, bila didefinisikan bahwa orang yang tidak menulis tidak beradab.


Ya, ucapan seorang teman itu banyak benarnya. Sebuah peradaban ditandai dengan bagaimana penduduknya bisa menggunakan alat untuk mempersingkat masa terhadap tujuan yang di capainya. Itulah sebuah teknologi. Asal mula kemunculan pelbagai macam alat-alat canggih. Mulai dari alat untuk makan, sendok, piring. Pisau untuk mengerat dan alat lainnya. Hingga mesin ketik yang mengambil alih peran tangan untuk menulis.

Bahkan, di ujung nanti, aku membayangkan tidak perlu mengetik untuk menulis, cukup berbicara dan dengan terobosan teknologi yang super canggih mesin itu akan menuliskan nya untuk kita. Lambat laun yang tersisa hanyalah pikiran, kepala kita, peran organ tubuh lainnya sudah digantikan dengan mesin.
Kendati demikian, dalam aktivitas menulis, dibutuhkan seorang manusia. Apapun itu alasannya. Human Being. Manusia menjadi lebih berharga, lebih bisa di akui ketimbang mesin. Karena, ya karena sebuah keyboard, mesin tik tidak akan pernah bisa menuliskan satu kata pun tanpa ada seseorang yang menuliskannya. Betul. Karena mereka tidak punya pikiran. Mereka tidak punya otak. Mesin-mesin itu semua hanyalah sampah yang di gerakkan.

Ya benar. Mungkin jutaan orang sudah mengulas ini. Tapi, sekali lagi aku katakan disini bahwa manusia menjadi lebih berharga karena pikirannya. Karena optimalisasi otaknya. Dari kepala manusia muncul pelbagai macam terobosan peradaban. Dan orang yang tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berharga dari otaknya. Seperti itulah nilai hidupnya. Harga hidup seseorang bisa di ukur sampai sejauh mana kepalanya menghasilkan sesuatu.

Well, jauh sebelum sekarang, aku merasa tidak ada yang berharga dalam hidupku. Sampai aku menemukan sesuatu yang bisa membuat hidupku lebih berharga; yaitu menulis. Tak pernah ku lewatkan satu hari tanpa menulis. Apapun itu, aku tuliskan. Yang aku tuliskan sesuatu yang biasa saja, hal yang remeh, pengalaman sehari-hari. Bahkan ketidakberdayaanku menatap hidup.
Bahkan, untuk topik yang terakhir aku sebutkan, sudah kurangkum dalam sebuah cerita yang panjang. Anda bisa menyebutnya novel, tapi aku lebih senang dengan istilah catatan. Sekalipun catatan itu sangat panjang, sampai 300 halaman. Menyerupai novel.

Sejak saat itu, banyak pengalaman yang bisa aku dapatkan dari aktivitas menulis ini. Banyak hal, luarbiasa banyak sekali. Sehingga aku menyimpulkan, bahwa menulis adalah semacam obat bagi kesembuhan mentalku. Dengan menulis pikiranku menjadi lurus. Mungkin anda pernah melihat film, sial aku lupa judulnya, disana peran utamanya mengatakan, “yang paling menyedihkan adalah ketika kita tidak bisa mengutarakan apa yang kita rasakan kepada orang lain”. Sejalan dengan itu Paulo Coelho dalam salah satu quote nya pernah mengatakan, “bahwa yang paling menyakitkan itu bukan ditinggalkan, bukan kehilangan seseorang, melainkan ketika kita tidak tahu harus melakukan apa?”. Saya pribadi menyimpulkan ketika seseorang berada di ujung semuanya, salah satu obatnya adalah ajak dia bicara, untuk ungkapkan segala macam persoalannya.

Begitulah awal mula aku mengakrabi dunia tulis menulis, sekalipun, tidak ada satupun buku yang pernah aku hasilkan dari kebiasaan menulis ini. Hanya beberapa artikel yang di muat oleh koran lokal, tapi dengan pencapaian itu, aku cukup bangga, bahwa kebiasaanku menulis di hargai oleh lain. Sekalipun nominal penghargaannya cukup mengerikan. Hehehe. Ya benar, apa yang bisa di harapkan dari menulis? Kaya raya?

Sekalipun tidak sedikit orang yang jadi kaya karena tulisannya, hanya saja, sayang aku bukan orang yang sedikit itu. Aku adalah kebanyakan orang. Orang kebanyakan. Dan kebanyakan orang tidak pernah jadi kaya karena menulis.

Aku masih ingat bagaimana temanku dulu menceritakan dengan begitu menggebu-gebu, alasannya ia begitu mencintai menulis. Entah sogokan apa yang diberikannya kepadaku waktu itu, yang jelas aku begitu mempercayai bahwa pilihan untuk menulis dan tidak itu seperti pilihan Achiless pergi berperang ke Troy; kalau ia tidak pergi, kejayaan tidak ada didapatnya, namanya tidak akan abadi. Tapi kalau ia pergi, maka ia tak akan kembali. Ia akan mati. Dan tak akan pernah melihat ibunya lagi.

Sampai saat sekarang pun aku masih tidak mengerti tepatnya di sebelah mana hubungan kedua pilihan itu dengan menulis. Serumit itulah pilihan yang diberikan teman kepadaku. Aku tidak diberikan opsi lain.

Dan sekarang seperti yang anda tahu, sekarang aku disini. Duduk di tempat ini. Bukan menjadi seorang penulis, melainkan seorang pedagang. Ya seorang pedagang. Tapi aku akan menulis lagi. Ya, aku harus menulis lagi.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s