Pertemuan

Aku bertemu dengannya, setelah waktu yang cukup lama terpisah, di sebuah taman.

Aku selalu menghabiskan waktu sore di taman itu, selepas pulang kerja. Hanya sekedar menatap kosong jalanan, mencermati kelakuan orang lain yang juga sedang memboroskan waktu menjelang malam. Ada mereka yang sedang bermesraan bersama kekasih hatinya, yang entah akan menjadi jodohnya di masa depan atau tidak, ada keluarga kecil terdiri dari ibu, ayah dan anak yang baru berusia satu tahun setengah yang tengah belajar berjalan. Selain dari itu, ada juga orang yang mengais rezeki di taman ini, penjaja makanan, penjual minuman, dan tidak ketinggalan ada yang menjual mainan. Satu persen dari penghuni taman di sore itu adalah mereka petugas kebersihan yang selalu ada, bukan untuk menghabiskan waktu sore, tapi mereka memang bertugas untuk membersihkan, untuk sembilan puluh sembilan persen orang lainnya yang sering datang ke taman itu, termasuk aku.

Dan bila Tuhan memberi kesempatan, satu persen itulah orang yang memang tidak berkeinginan untuk berada di taman, sejatinya mereka ingin beristirahat sebentar di rumah. Padahal di rumah mereka sendiri, banyak hal yang harus dibersihkan, tapi jalan hidup, memaksa mereka untuk membersihkan taman, sebelum membersihkan rumah mereka.

Sebenarnya tidak serumit itu, aku hanya duduk di taman dan kebetulan orang-orang itu ada di sana. Kebetulan juga, pada saat itu ada seorang perempuan mendekatiku, kemudian menyapa.

“Hei…” ucapnya, ragu memecah meditasi kecilku di sore itu.

“Hei…” juga yang keluar dari mulutku.

Kukira perasaan dan pikiran kami berdua sama. Kami berdua memikirkan hal yang serupa. Ragu. Tidak menyangka. Kaget dan lainnya. Ia pun duduk, tepat di sampingku, tepisah hanya tiga puluh centi meter oleh makanan dan minuman yang ia bawa.

“Waktu yang cukup lama” ia membuka pembicaraan.

Aku tersenyum. Kulihat wajahnya, penampilannya, tidak banyak berubah. “Ya, cukup lama. Tapi, bagaimana kau menemukanku?”

“Apa?” terperanjat, kemudian tertawa manja seperti biasa.

“Bukankah biasanya aku yang mengikuti, dan melacak keberadaanmu?”

Kami berdua tertawa.

***

Sore itu jadi tidak seperti biasanya, aku bertemu dengan perempuan, yang dulu aku tidak pernah sempat mengatakan cinta. Di tempat yang tidak pernah terpikirkan. Jauh sekali. Bagaimana ia bisa sampai di tempat ini?

“Bagaimana kehidupanmu sekarang” ia mengajukan pertanyaan yang, sepertinya tidak perlu ku jawab.

“Bagaimana bisa, kamu sampai ke sini?” tanya ku masih penasaran

“Kamu sendiri kok bisa ada disini?” ia malah bertanya balik.

“Saya kerja di sini,”

“Wahh jauh sekali ya? Aku tak menyangka kamu bisa pergi sejauh ini”

“Wooww, sebentar, sebentar! apa yang barusan kamu katakan?….”

Kami mulai lagi berdebat. Lumayan cukup sengit. Membicarakan hal yang tidak penting.

“Apa?”

“Kita tidak pernah berubah. Kita selalu berdebat.” Ia pun tersadar. Akhirnya kami tertawa lagi.

“apa pekerjaanmu sekarang?..” ia bertanya lagi

“pekerjaan, “

“ya tadi kamu bilang kamu bekerja, apa yang kamu kerjakan disini?”

“bantu saya, apa yang saya kerjakan disini? Sepertinya kamu lebih mengetahui saya ketimbang diri saya sendiri”

Ia menimbang-nimbang, seperti berpikir.

“hmmm, apa ya? Gambaranku tentangmu masih seperti yang dulu, kamu arogan, sombong, tapi juga pintar, tidak bisa mengutarakan perasaan. Tapi juga perasa. Dulu kamu yang aku kenal sering membicarakan tentang seni, tentang filsafat, tentang politik, kamu yang sudah melanglang buana di pelbagai organisasi mahasiswa, kamu begitu suka orasi. Demonstrasi, bahkan sekolah kita dulu, kamu demo. Hmmm? Pekerjaan apa ya? Yang cocok buat orang seperti itu?”

“seperti itulah gambaranmu tentangku”

“kamu tersinggung?… oh maaf, tapi itu belum semuanya..”

Kami berdua tertawa lagi.

“Katakan tentangmu, apa yang kamu kerjakan disini?”

“kamu juga bisa bantu aku, coba tebak apa yang aku kerjakan disini?

“aku tidak terlalu begitu banyak tahu tentangmu, kamu perempuan cantik, pengertian, kekanak-kanakan, kadang ceroboh, tapi dewasa, saya pikir semua pekerjaan hebat cocok buatmu, aku tak bisa menggambarkanya lagi”

“terimakasih. Saya merasa tidak enak dengan yang tadi aku katakan, tentangmu sepertinya itu semua bernada kekurangan.”

“tak perlu, memang seperti itulah diriku bukan?”

Setelah percakapan itu, kami terdiam, kami seakan asyik pada satu titik. Sehingga melupakan keberadaan satu sama lain. Masing-masing dari kami masih menerka, apa yang hendak takdir tunjukan pada kami, tentang pertemuan ini? Tentang pertemuan yang telah sekian lama tidak bertemu.

“kenapa kita bisa bertemu di tempat ini ya?” tanya nya spontan,

“kamu yang beritahu aku?” jawabku singkat.

“kamu jarang kelihatan ketika reuni, atau malah kamu tak pernah datang ya? Kamu seakan lenyap di telan bumi, tak ada orang yang mengetahui keberadaan dan kabar tentangmu, setiap reuni, aku sudah malas meladeni setiap orang yang menanyakan tentang kabarmu,”

“masa?”

“ya, mereka pikir aku pengasuh mu apa?”

“ya maklum kamu adalah kekasihku yang tidak jadi, hahaha”

“sembarangan ya!”

“kamu masih suka bertemu dengan teman-teman yang lain?”

“suka lah, sekalipun ada beberapa yang memang sudah putus komunikasi sama sekali”

“ kamu juga lihat sendiri, setiap orang menjalani kehidupan masing-masing”

“wuah..kamu pintar sekali ya sekarang, siapa dulu yang terus bergulat dengan masa lalu? Hayoo coba? Siapa yang tidak mau berubah”

…….

Kami berbicara tentang banyak hal, tentang semua hal. Seperti dulu pertama kali kami bertemu. Hingga akhirnya dia bertanya,

“kenapa dulu kamu meninggalkan aku?” aku tidak menyangka kalau pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya.

“maaf,…” seperti pura-pura tidak mendengar

“kenapa kamu dulu meninggalkanku..?” ia mengulangi pertanyaannya. Dan setelah kuamati raut wajahnya yang serius, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ku yakin ini dia memang mau membicarakannya.

“bukankah kamu yang tidak mau bertemu denganku, maaf seingatku dulu seperti itu. Ketika aku telpon kamu selalu tidak ada. Bahkan temanmu itulah yang menerima dan ngobrol denganku, dari obrolannya, hanya mengisyaratkan bahwa kamu memang tidak mau bertemu denganku. Aku pun menyerah, dan menjauh dari kehidupanmu.”

“aku takut padamu,”

Aku tercenung mendengar jawabannya.

“ya aku takut padamu, setelah kamu memberikan beberapa kertas yang isinya tentang cerpen bunuh diri, kamu tahu, aku tidak bisa mencernanya, aku tidak tahu pesan apa yang mau kamu sampaikan. Aku jadi semakin bingung. Dan aku putuskan aku tidak mau bertemu lagi.”

Dia seperti hendak menangis, tapi tertahan.

“ya itu kesalahanku. Hanya itu yang bisa aku sampaikan. Aku masih tidak bisa menerjemahkan kata cinta dengan sangat sederhana. Dan kukira itu yang membuatmu takut. Aku sadari itu. Dan kamu tahu, sungguh sangat berat pada waktu itu, aku melewati masa-masa itu. Tapi aku berhasil melewatinya. Aku menemukan pelbagai macam pencerahan, ya mungkin aku terlalu idealis pada waktu itu”

“ya, kamu sudah jauh berubah, kamu sekarang berbeda. Kamu bukan seperti yang dulu lagi, kamu sudah berubah menjadi lebih baik.”

“terimakasih untuk itu. Saya juga mau minta maaf atas perlakuanku padamu dulu, ternyata aku yang kekanak-kanakan. Terimakasih atas semua pengalaman yang telah kau berikan padaku. Tak akan pernah bisa ku lupakan. Bahkan sampai saat sekarang, aku masih mengingat dengan persis bagaimana kamu datang pada waktu sore itu membawa bubur ayam, yang katanya kamu di kasih oleh orang lain. Tapi kamu malah memberikannya padaku, sungguh sangat tidak sopan kalau orang itu tahu”.

“Tapi memang perlakuanku padamu sungguh mengerikan, aku memperlakukanmu seperti dalam dongeng, sedang kamu sudah jauh sadar, bahwa kita tidak hidup dalam dongeng, padahal aku hanya ingin kamu percaya bahwa kehidupan juga bisa lebih baik dari pada dongeng. Dan sepertinya aku gagal menjelaskan itu padamu. Sehingga malah membuatmu ketakutan. Sekali lagi maafkan saya.”

“tak usah meminta maaf, kamu gak melakukan kesalahan kok, yang penting, aku senang akhirnya kita bisa ngobrol seperti dulu lagi. Kita masih bisa jadi teman kan? Sekalipun jelek kalau jadi sepasang kekasih”

“hahahaha” aku tertawa lebar.

“tentu saja, siapa yang tidak mau berteman dengan perempuan secantik kamu,”

“hehehe, mulai…. oiya dari tadi, kamu belum menjawab pertanyaanku, apa pekerjaanmu?”

“begitu pentingkah? Untuk mengetahui apa yang aku kerjakan?”

“hehehe, gak juga, senang bisa bertemu dengan mu lagi”

“ya, sama-sama”

“kelihatannya sudah beranjak malam, sudah saatnya aku kembali ke penginapan, sepertinya teman-temanku sudah lama menunggu” ia pun beranjak dari tempat duduknya, tapi ia kembali menoleh ke arahku

“oiya, kalau kamu punya waktu, aku tidak akan lama di kota ini, besok kamu bisa datang” ia menyebutkan nama hotel, “di ballroom hotel itu aku mau menyampaikan seminar, tapi mungkin kamu tidak bakalan menyukainya, jadi sepertinya tidak usah datang”

“jadi aku harus datang atau tidak?”

“terserah…. “

“saya akan datang, sekalipun seminarnya tidak menarik, mungkin disana ada kopi gratis.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s