Kapan Kita Mendekat?

Setiap pagi, biasanya di tempat kerja saya, suka melaksanakan brifing. Dan entah apa yang ada dalam pikiran MC pada waktu itu, sehingga menunjuk saya untuk memberikan motivasi kepada seluruh karyawan yang hadir. Inilah yang saya sampaikan pada waktu itu;

“Terimakasih kepada pembawa acara yang budiman, yang telah menjebloskan saya pada sebuah dilema”. Semua karyawan yang hadir tertawa, Saya sendiri, tidak tahu di sebelah mana lucunya, mungkin kata ‘menjebloskan’ dan dilema yang membuat mereka terkekeh-kekeh.

“Ya Dilema”. Lanjut saya, “karena saya pribadi tidak bisa sedikitpun memberikan motivasi kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir disini, buktinya tanpa ada orang yang memotivasi pun semuanya hadir sehat wal afiat di sini, semuanya masih lengkap tangan dua, hidung bolong nya di bawah”. Kembali mereka tertawa.

“ya betul, bisa di bayangkan bukan, bila lubang hidung semua di sini di atas”. Mereka kembali tertawa, saya beranggapan mereka sedang membayangkan apa yang terjadi bila lubang hidungnya memang di atas. Terkadang orang-orang memang tidak masuk akal, memikirkan hal seperti itu, yang tidak ada gunanya. 

“Tapi saya tidak akan membayangkan hal itu, karena sulit sekali untuk membayangkannya”. Lanjut saya.  “Baiklah, apa yang akan saya sampaikan kepada Anda semua tentang motivasi?”. Tanya saya, sejenak saya berpikir, dan bertanya kepada semua yang hadir. “untuk apa sebenarnya motivasi?”

Semua orang diam. Mulai serius. Lanjut saya menanyakan, “ada yang bisa jawab”, saya lihat sekeliling, tidak ada yang berani menjawab. “lihat bukan? sebetulnya kita tidak butuh motivasi”. Saya menoleh ke arah pembawa acara. Kemudian satu orang ada yang berani menjawab.

“biar semangat Pak”

“oh gitu ya?” jawab saya, “memang tanpa ada motivasi, kita gak semangat melakukan apa-apa?”

“ya gak juga sih Pak” jawab yang lain. “berarti kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan sekalipun tanpa ada motivasi?”

Nyaris semua orang, mungkin dalam pengamatan saya, mereka menanyakan dalam-dalam pada diri mereka. Sesaat suasana menjadi diam. Saya menjadi tak suka keadaan serta merta berubah seperti itu, menjadi tak terkendali pada dirinya sendiri. Dan secara spontan, saya kembali berbicara, “sebetulnya, bapak-bapak, ibu-ibu semuanya, saya tidak tahu apa yang akan saya bicarakan, tapi mari bicarakan hal yang lain, saya akan ajukan lagi sebuah pertanyaan, kita jawab bersama-sama”.

Setelah beberapa pertanyaan di awal yang sudah diajukan, entah mengapa, hadirin yang ada kemudian menjadi lebih semangat. Kemungkinan besar mereka semangat menantang pertanyaan saya. Sejauh mana kepintaran mereka, dan sejauh mana saya bisa jatuh, akan kebodohan saya.

“baik, saya ingin bertanya pada semua orang yang hadir di sini”. Jeda sebentar. Melihat sekeliling, menanyakan persetujuan mereka, memastikan semua paham apa yang baru saya katakan. Semua mengangguk, tapi untuk memastikan kembali, saya pungkas dengan sebuat pernyataan.

“yang tidak menjawab berarti bukan orang”. Semua tertawa.

Entah mengapa mereka begitu senang sekali ketika disebutkan “bukan orang” mungkin mereka menganggap diri mereka lebih tinggi derajatnya dari malaikat dan hewan.

“Pertanyaan saya sederhana; cukup di jawab dengan jawaban yang sudah saya sampaikan; pada kondisi seperti apa? Senang atau banyak masalah, kita sering meresa dekat dengan Tuhan?

Kembali saya ulangi pertanyaan saya, karena kedengarannya mereka belum paham. Beberapa orang mengerutkan dahi. Entah mereka berpikir atau pertanyaannya tidak wajar.

“biasanya, kita suka lebih banyak beribadah, saya artikan ‘dekat dengan Tuhan’, ketika kita sedang dalam kondisi aman-aman saja, atau dalam keadaan tidak aman? Pada kondisi kita yang sedang senang, atau banyak masalah?”

Hampir semua orang serempak menjawab, bahwa mereka mengakui lebih banyak ‘dekat dengan Tuhan’ ketika sedang kepepet, banyak masalah, sedang dalam kondisi mencekam, hidup yang sedang terancam.

“baik kita sepakati bersama, bahwa kita merasa ‘lebih dekat dengan Tuhan’ malah dalam keadaan kita yang sedang kepepet ya? banyak masalah?”

Semua orang mengatakan setuju, dengan sebuah keraguan, tepatnya kerancuan. Mereka menyadari ada sesuatu yang salah pada jawaban mereka, hanya saja mereka belum tahu, di sebelah mana salahnya itu.

“baik, mari kita lanjutkan ke pertanyaan ke dua, apakah semua orang di sini mau hidupnya terus terusan berada dalam masalah? Dalam ancaman?”. Serta merta semua menggelengkan kepalanya, kepala mereka sendiri, untungnya. 

Mulailah beberapa orang menyadari kemana arah pembicaraan ini berlangsung, “baik semuanya, bapak-bapak dan ibu-ibu, pada pertanyaan pertama kita sebenarnya bakal merasa ‘dekat dengan Tuhan” bila dalam kondisi kepepet, terancam, banyak masalah. Kenapa? Logis dan wajar saja, karena kita membutuhkan pertolongan, dan pertolongan itu kita mintakan kepada Yang Maha Pemberi Pertolongan.

Logikanya, bila kita tidak berada dalam kondisi seperti itu, kita akan menjauh, bahkan mungkin. Tidak merasa butuh Dia. Dan sialnya, kita baru menyepakati, bahwa kita gak mau hidup kita terus-terusan berada dalam masalah. Berada dalam ancaman. Karena itu gak mengenakan bukan? Siapa orang yang mau hidupnya terus menerus menyerempet bahaya? Segila-gila nya orang, seberani-berani nya orang, pada satu titik, dia pengen aman dan nyaman.

Jadi, sebetulnya, kita gak akan pernah dekat dengan Dia, karena secara tidak disadari, kita sendirilah penyebabnya yang membuat Dia menjauh. Dan malah, penyebab kejauhan kita, keretakan hubungan kita dengan Dia. Kita sendiri yang menyebabkan. Luarbiasa sekali bukan kita ini? 

Jadi, mungkin cara berpikir kita sepertinya tidak waras, dan mesti di rubah. Kalaulah kita bisa ‘mendekat’ tanpa harus ada dulu musibah yang menimpa kita? Kenapa tidak? Dan kalaulah ada musibah yang menimpa kita, sepertinya sudah sewajarnya, kita berterimakasih, karena mungkin dengan perantara musibah tersebut, kita bakal dekat lagi denganNya. Kalau kita tidak lagi dekat dengaNya? Pada siapa lagi kita mendekat? Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita mendekat? Apa mau nunggu musibah dulu? Baru mendekat?”

Pada titik ini, baru saya menyadari, saya seperti sedang berceramah. Lalu tiba-tiba saya berhenti, “maaf semuanya, saya gak mau meneruskan. Kalau di teruskan jadi seperti khutbah jum’at. Nanti di akhirnya saya mesti bilang, jamaaaaahhhhhh”

Semua orang kembali tertawa. Saya menutup pembicaraan saya. Brifing selesai.

Dan secepatnya mereka melupakan apa yang baru saya ucapkan. Jangankan mereka, saya juga sudah lupa, untungnya saya tulis di sini. Mungkin suatu hari nanti bisa saya baca. Lumayan untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa saya pernah bilang kaya gitu pada orang-orang.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s