Maman Gorky; Memoar Santri No 19

Image

Buku ini mungkin semacam janji. Kepada Yang Maha Esa, Kepada Yang Maha Tinggi atas semua yang telah saya dapatkan selama ini. Sewaktu dulu, sempat saya berserapah, berjanji dengan DIa. Sebetulnya janji itu tidak terucapkan, hanya lambat di sadari bahwa janji yang tak terucap lebih hebat ketimbang janji yang keluar jadi kalimat.

Saya tidak akan menyerah terhadap gairah keilmuan. Sekalipun nantinya saya bekerja dan hidup di luar bidang keilmuan dan minat saya tekuni. Saya tidak akan melepaskan serta merta semua gairah hidup saya. Gairah keilmuan. Menulis dan Membaca.

Tuhan memang tidak pernah ingkar terhadap JanjiNya. Beberapa tahun setelahnya, saya nyaris mendapatkan semua yang saya impikan selama ini. Impian saya sederhana. Dan impian itu sedikit demi sedikit terwujudkan. Sungguh keterlaluan bila saya tidak mengucapkan terimakasih kepadaNya.

Buku ini adalah salah satu buktinya, salah satu ucapan terimakasih kepadaNya. Bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan anugerah menulis dan membaca yang Ia titipkan kepada saya. Karena pada dua aktivitas itulah saya mendapati diriNya.

Zaman sekarang, semua hal semakin mudah, dan semakin gampang. Dulu untuk mencetak buku ribetnya minta ampun (sekarang juga sama, kalau lewat penerbit besar). Tapi kreativitas manusia memang tidak terbendung, ditemukanlan cara-cara baru untuk membongkar segala keruwetan, salah satunya adalah dengan munculnya Self Publishing.

Banyak kelebihan dan kekurangan pada penerbitan secara Self Publishing itu. Dan buku saya yang sedang dalam proses produksi, tentu saja terbit dengan pelbagai macam kekurangannya. Harus saya akui (mungkin memerlukan revisi beberapa kali untuk  menemukan kesempurnaan).

Namun tak apalah, tak semuanya mesti sempurna, yang penting adalah kita “berjalan menuju itu”, tidak diam di tempat. Well, setidaknya di akhir tahun ini, saya benar-benar membereskan satu naskah. Itu yang saya pelajari. Tidak loncat kesana kesini untuk mencari inspirasi tapi tak kunjung rampung.

Ini adalah hasil karya pertama saya, mudah-mudahan saya melanjutkan ke karya selanjutnya. Sekalipun orang lain tidak baca. Memang tidak diperuntukan buat mereka. Buku ini untuk anak saya kelak ketika ia dewasa. Sehingga, sebelum ia mengenal tokoh-tokoh hebat lainnya, At least he knows her father.

Dan di satu sore kelak ketika ia dewasa, saya akan menceritakan segalanya. Saya harap tradisi ini ia lanjutkan. Untuk merawat kesadaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s