Orang Waras dalam Kereta Api

Kita tidak tahu bagaimana cara ajal menjemput kita. Kita takkan pernah bisa tahu dalam keadaan apa nyawa meregang dari badan. Sungguh kematian adalah persoalan paling biasa seperti halnya makan, buang air besar, sikat gigi, mengisi ulang gas ketika habis, beli baterai bila jam dinding mati, beli pulsa, naik angkot dan aktivitas biasa lainnya. Namun juga memang tidak bisa, karena sekalipun setiap hari di dunia ini ada yang mati, bahkan setiap detik, kita tidak bisa menghitung jumlah pastinya. Tapi tak satupun dari mereka yang kita kenal, itu yang menjadi tidak biasa. Coba anda hitung, dari sekian teman yang anda kenal, berapa dari mereka yang sudah meninggal?

Ya. Terdengar mengerikan bukan ketika ada orang yang bertanya seperti itu, seperti mengharapkan mereka meninggal. Tapi pertanyaan saya serius, jujur ada berapa?

Mungkin Anda tidak ingat, anda jangan terlalu merasa bersalah, anda tidak sendirian, saya juga sama, itu berbanding lurus sebenarnya dengan berapa banyak orang yang berarti dalam hidup kita.

Pertanyaan terakhir ini mungkin relatif bisa anda jawab, setidaknya bisa saya tebak. Orang tua? Tentu mereka sangat penting bagi anda. Pacar? Bisa jadi penting, bisa tidak. Tergantung sejauh mana anda mencintainya. Ukuran jauh, tergantung anda mengukur. Coba bayangkan seperti ini, anda asli orang sini? Baik. Anda tahu sebuah kota kecil yang bernama Garut? Tidak, tentu saja. Kalau Bandung pasti tahu dong. Ya di pulau jawa.

Nah mari kita cek di google, berapa jarak antara Rantau Prapat ke garut, sebentar… nah dapat! 30 Jam perjalanan darat pake mobil, dalam satuan KM, itu sekira 1.959 KM. Dan kalau anda sedikit gila, kita cek berapa jam kalau itu dilakukan dengan jalan kaki. Yap! Dapat 366 jam, berarti sekitar 15 hari, kalau sehari masih 24 jam. Anda baru sampai ke garut.

Apa, Garut? itu tempat kelahiran saya. Suatu saat nanti anda harus ke sana.
Sedang ngobrolin apa sebenarnya kita, kok bisa sampai pada topik itu.
Ha ha ha ha.

Oh ya! Syukur anda mengingatkan, kalau tidak saya langsung akan beralih ke topik lain. Oke jadi…. kedalaman, jauh, atau beratnya cinta anda sebenarnya masih bisa di ukur. Dan mungkin anda akan sedikit terhina kalau ternyata ada lelaki lain yang mencintai perempuan yang sama-sama anda cintai, ternyata jaraknya lebih jauh dari cinta anda. Benar bukan? Jangan mengelak.

Ya. Memang sedikit menyesakkan. Tapi begitulah kenyataannya, karena sadar tidak disadari semenjak lahir, kita sudah diajarkan kebohongan.

Mengapa anda terkejut seperti itu? Apa anda pikir orang tua kita orang suci? Ya memang mereka orang tua kita, yang membesarkan kita semenjak kita tidak tahu apa apa menjadi tahu tentang apa-apa. Tapi mereka juga manusia, mereka bukan Nabi. Sekalipun ada beberapa dari kita, yang memang orang tuanya adalah Nabi.

Siapa? Sepertinya anda tidak pernah belajar sejarah. Anda tahu berapa nabi yang wajib kita ketahui? Betul. Dua puluh lima. Anda masih ingat siapa saja mereka?

Nah … nah berhenti disana. Ismail? Ishak? Bapak mereka berdua adalah Nabi. Betul bukan? Mujur sekali bapak seorang nabi, anaknya pun nabi. Tiada keluarga yang sempurna selain dari keluarga Nabi Ibrahim. Sepertinya kalau kita ditakdirkan lahir pada zaman nabi, mungkin saja salah satu dari kita jadi nabi, tuan.

Kenapa anda tertawa? Ya. Anda jangan terkecoh dengan istilah “kita”. Kita yang saya maksudkan tadi, bukan kita berdua ini. Kita yang saya maksudkan adalah manusia. Memang ada beberapa dari manusia yang bapaknya juga kebetulan seorang Nabi.

Ha ha ha ha. Kita? Elo aja kali. Istilah jaman sekarang emang aneh-aneh.

Baik saya teruskan. Sampai dimana kita tadi. Oiya! Betul, bahkan secara tidak sadar kita sendiri juga yang membangun kebohongan itu. Begini, pernahkah anda mendengar orang tua yang memanggil anaknya dengan sebutan Jelek? Buruk Rupa? Tidak kan? Orang tua selalu memanggil dengan sebutan cantik, tampan, pintar.

Betul. karena ketika dia menyebutkan begitu, sebetulnya dia juga sedang menghina dirinya sendiri. Kecuali itu anak tetangga, kita bebas memanggil dia apa saja. Jadi mereka mengelak dari kenyataan. Tapi, hidung yang pesek atau bibir yang tebal ke bawah tidak akan serta merta berubah proporsinya dengan disebutkan cantik dan tampan, tetap saja seperti itu kecuali operasi plastik.

Itu bijak, bahwa sebisa mungkin kita menghindari kata-kata jelek di depan anak-anak kita, karena anak-anak, apalagi usia mulai usia tiga tahun, mereka begitu cepat menduplikasi segala tingkah laku kita, jadi kita sebagai orang tua mesti sangat hati-hati dalam bertindak, karena itu teladan yang tidak baik. Itu hal lain, tapi apa anda setuju bahwa tidak semua anak itu cakep, tidak semua anak itu cantik? Atau setidaknya, anak andalah yang paling cakep dan cantik?

Anda setuju yang mana? Ya. Jadi kapan anda akan memberitahukan mereka tentang kebenaran itu? Apa anda menunggu anak-anak kita pulang dari sekolah kemudian dengan polos dia bilang, “papa! Ternyata aku tidak cantik. Ada yang lebih cantik lagi daripada aku”

Ha ha ha ha. Ya betul. Tepat sekali. Anak kita tidak akan pernah bilang seperti itu, mereka bahkan tidak pernah berpikir seperti itu. Tapi ketika mereka mulai menyadarinya, itu sudah terlambat karena separuh dari kehidupannya sudah dilalui dengan kebohongan. Kebohongan yang paling dasar adalah menganggap diri kita paling cantik dan tampan di seluruh dunia. Hal lain yang ingin saya sampaikan, bahwa kebenaran terkadang membahayakan bagi orang yang tidak siap menerima kebenaran itu sendiri.

Apakah anda siap menerima kalau ada orang yang mengatakan bahwa tampang anda memang jelek?

Ha ha ha ha. Bagaimana? Ya itu tidak perlu anda jawab. Tapi setidaknya, katakanlah pada anak anda tentang kejujuran, tentang kenyataan hidup. Sebelum terlambat. Dan merutuk diri sendiri karena sampai sekarang masih jomblo dan di bully oleh teman-temannya.

Jadi sebetulnya, manusia-manusia jomblo yang berkeliaran belum mendapatkan pasangan itu murni bukan kesalahan mereka sendiri, tapi kesalahan orang tua mereka, Ada andil orang tua pada nasib mereka yang gak jelas itu, kebohongan yang diwariskan secara turun temurun, terstruktur rapi dalam alam bawah sadar, mengurat, menajam secara episteme, dan menjalar secara sistemik sampai sekarang.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s